
Abian tampak tergesa-gesa masuk kedalam rumah. Ia langsung menuju kamar Dita. Semenjak Dita pulang tiba - tiba membuatnya tidak tenang makan siang dengan Mira. Sesampai dikamarnya Mira, ia agak geram dengan gadis itu. Ia yang kuatir dengan keadaan gadis itu tapi gadis itu tertawa sambil menelpon. Ia masuk kekamar tapi Dita masih sibuk dengan telponnya. Dita tidak perduli dengan kedatangan Abian. Abian yang merasa di cuekin membaringkan tubuhnya lalu memeluk pinggang Dita yang duduk di ranjang. Dita mengakhiri teleponnya dengan seseorang.
" ih lepasin ahm" kata Dita berusaha melepaskan tangan Abian dari pinggangnya.
" Biarin aja seperti ini." kata Abian memindahkan kepalanya ke pahanya Dita.
" Ih apaan sih, awas ah." Dita berusaha melepaskan diri dari Abian.
" nggak puas sama pacarmu." ejek Dita dalam hati.
" Nggak usah mikir yang macam-macam." ucap Abian lembut.
" Siapa yang mikir macam - macam, dah ah awas, aku mau tidur." Dita mendorong tubuh Abian.
Abian membaringkan Dita kedalam pelukannya lalu menghirup tubuh gadis itu yang sudah menjadi candunya seminggu ini.
" Tidur nggak usah peluk - peluk kenapa sih?" ucap Dita.
" Jika nggak dipeluk gini kamu susah tidur." jawab Abian.
" Siapa yang mau tidur sore - sore gini." kata Dita semakin ketus.
" Tadi kamu sendiri yang bilang pengen tidur." ucap Abian.
" Tau ah gelap." kata Dita dengan ketus lagi.
" Sama suami nggak boleh galak - galak." ucap Abian memegang tangan Dita.
" Cuma suami kontrak." ucap Dita lagi.
" Jadi maunya benaran?" tanya Abian dengan senyuman.
" Ogah, Selama kamu jadi suami kontrak, aku akan memperlakukan kamu sebagai suami." kata Dita.
" Termasuk memberikan yang itu?" tanya Abian tersenyum mesum.
" Dasar talenan mesum." kata Dita mencubit perut Abian. Abian meringis kesakitan karena cubitan Dita.
" Apa kamu bilang? talenan?" tanya Abian yang kaget mendengar gadis ini menyebut dirinya talenan.
" Iya talenan datar, kenapa? nggak suka." tanya Dita semakin berani.
" Sekali lagi sebut suami dengan tidak sopan maka Abang akan hukum loh." kata Abian.
" Talenan datar." kata Dita lagi. Abian yang mendengar Dita mengejeknya lagi lansung mencium bibir Dita yang dari kemaren tampak menarik baginya.
" Itu hukumannya jika mengejek lagi." kata Abian.
Dita kaget yang mendapatkan ciuman dari Abian.
" Itu ciuman pertama Dita, hik hik." Dita mulai merengek.
Abian yang mendengar ciuman pertama makin tersenyum. Dita yang melihat Abian senyum lansung memukul Abian memakai bantal.
" Dasar jahat" Dita semakin kencang memukulkan bantal ke tubuh Abian.
__ADS_1
Abian membalas pukulan istrinya dengan menggelitik tubuh Dita. Dita yang tubuhnya di gelitikin Abian merasa sangat geli sekali sehingga tertawa terbahak-bahak.
" Ampun bang, ampun." mohon Dita sambil tertawa terbahak-bahak.
" cium dulu tapi." kata Abian mendekatkan pipinya.
" Nggak mau." ucap Dita berlari kekamar mandi Karena berhasil kabur.
Abian hanya tersenyum melihat Dita yang sudah mulai tertawa lagi saat bersamanya. Lalu ia melihat hp Dita berbunyi. Di Hp itu tertera nomor Galuh membuat wajah Abian memasang wajah datar kembali. Abian merijec panggilan tersebut. Dita yang keluar melihat Abian memegang hpnya berjalan mengambil hpnya dari tangan Abian.
" Jangan ikut campur privasi orang lain." kata Dita ketus.
" Sejak kapan kamu berkomunikasi sama Galuh?" tanya Abian dingin.
" Sejak kamu ngomongin aku berdua dengan pacar kamu dibelakang ku." jawab Dita juga dengan dingin.
" Kamu bebas cari lelaki manapun tapi jangan sahabat aku." kata Abian dengan tatapan dingin.
" kamu tidak berhak mengatur aku, kamu itu hanya suami kontrak" ucap Dita lalu berlalu didepan Abian.
...****************...
Abian yang merasa tidak puas dengan jawaban Dita pergi menemui Galuh malam hari. Ia lansung menuju rumah Galuh dengan agak emosi. Sesampai dirumah Galuh, pintu lansung dibuka oleh Galuh sendiri. Abian yang emosi lansung meninju perut Galuh tanpa bertanya apa - apa. Galuh yang tiba-tiba dipukul lansung tersungkur.
" Jauhi istri aku." kata Abian emosi.
" Istri?" kata seseorang yang kaget mendengar ucapan Abian.
Dia adalah Bela yang lansung berlari keluar karena mendengar suara bel. Galuh yang paham situasi akhirnya membawa Abian keluar dari rumahnya. Mereka berdua menuju kafe biasa mereka nongkrong.
" Kamu main pukul aja tanpa bertanya apa - apa, cemburu buta hah." ejek Galuh kepada sahabatnya.
" Kamu mencintai istrimu." ucap Galuh membuat pernyataan.
" Nggak gitu, aku hanya tidak ingin orang memandang rendah aku, orang taunya dia istri aku." ucap Abian membela diri.
" Orang mana? siapa yang tau pernikahan kalian?" tanya Galuh lagi dengan senyum mengejek.
Abian baru menyadari bahwa pernikahan dia dilakukan dirumah sakit tanpa ada yang tau.Bahkan ayahnya sendiri juga tidak tau jika dia sudah menikah dengan Dita.
" Sudahlah, mulutmu tidak mengakui tapi hatimu yang terdalam dan tubuhmu menyukai Dita." ejek Galuh lagi.
" Tidak, gadis yang aku cintai adalah Mira bukan Dita gadis manja" kata Abian membela diri.
" Kamu tidak mencintai Mira, tapi kamu menyukai dia karena kesamaan hidupmu dengan dia, kesamaan kalian yang banyak menyebabkan kamu menyukai dia, itu bukan cinta." kata Galuh meyakinkan sahabatnya.
" Terserah kamu ngomong apa, tapi jangan dekati Dita setidaknya sampai aku dan dia bercerai." kata Abian.
" Kamu tidak akan bercerai dengan Dita, percaya sama saya." kata Galuh.
" Hey saya lebih tau apa yang menjadi pilihanku." jawab Abian.
" Lepaskan salah satu Bian, kamu jangan menyakiti mereka." ucap Galuh.
" Kenapa? kamu suka dengan Dita?" tanya Abian.
__ADS_1
" Jika iya emang kamu mau melepaskannya?" tanya Galuh.
" Yah saya pasti akan melepaskannya Karena disini hanya ada Mira." tunjuk Abian ke dadanya.
" terserah kamu, kamu jangan menyesal suatu hari nanti." kata Galuh mulai emosi meninggalkan Abian dikafe sendirian.
Abian yang kesal juga keluar dari kafe. Ia melajukan mobilnya menuju rumahnya yang seminggu lebih ia tinggalkan. Abian masuk kedalam rumah masih dengan wajah kesal. Ayahnya yang melihat Abian datang dengan wajah kesal lansung menegurnya.
" Kamu kenapa pulang - pulang dengan muka kayak begitu." tanya ayahnya. Abian yang memang memiliki hubungan yang kurang baik dengan ayahnya hanya diam tanpa menjawab pertanyaan ayahnya. Ia masuk kekamarnya dengan kesal. Lalu Abian membaringkan tubuhnya di ranjang kamarnya. Abian resah dikamarnya sendirian. Ia mencoba memejamkan matanya namun ia juga tidak bisa tidur. Abian membalikkan badannya ke kanan, namun ia juga resah. Tiba - tiba Hpnya berdering. Di melihat yang menelponnya adalah Dita. Ia mengangkatnya dengan cepat.
" Halo assalamualaikum." sapa Abian
" waalaikumsalam, dimana?" tanya Dita diseberang sana.
" Dirumah, kenapa?" tanya Abian.
" Nggak pulang?" tanya Dita.
" Ini udah dirumah, mau pulang kemana lagi?" tanya Abian karena masih kesal.
" Dita nggak bisa tidur karena takut." rengek Dita dengan manja.
" kan ada bibi." ucap Abian lagi.
" Tapi tetap aja takut, low nggak Dita kerumah Abang ya." kata Dita.
" Nggak usah, masak dirumah sendiri takut sih." kata Abian mulai meninggi.
" Ya udah maaf ganggu." tiba - tiba teleponnya dimatikan sepihak oleh Dita.
" Kebiasaan main matikan aja." gerutu Abian.
Abian mencoba memejamkan matanya kembali. Bayangan Dita kembali dibenaknya. Rasanya ia tidak bisa memejamkan mata sebelum memeluk wanita itu. Ia segera bangun dari tempat tidurnya dan lansung mengambil kunci mobilnya. Ia melihat sudah pukul 11 malam. Ia membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Abianpun juga sama, ia tidak bisa juga tidur malam ini. Abian berlari masuk kekamar Dita. Ia melihat Dita meringkuk disudut kamarnya sambil menangis terisak. Hati Abian sakit melihat gadis itu menangis lagi. Abian segera mendekati gadis itu lalu membawanya kepelukannya.
" Maaf jangan menangis lagi, Abang ada disini." bujuk Abian.
Ia memeluk gadis itu dengan erat lalu mengusap punggungnya dengan lembut.
" Abang nggak akan tinggalin Dita sebelum Dita bisa sendiri." kata Abian lagi.
" Dita takut." tangisnya semakin pecah.
" takut kenapa lagi?" tanyanya lembut.
Abian melepaskan pelukannya lalu mengusap air mata istrinya.
" Cup cup jangan nangis lagi." bujuk Abian.
" Abang jahat, tadi marah - marah sama Dita." katanya dengan manja.
Abian lupa siapa wanita yang dihadapinya. Wanita manja yang belum bisa melakukan apa - apa sendiri. Ia memandang manik mata hitam gadis itu. Rasanya ia tenggelam dalam pandangan gadis itu. Tidak lama kemudian Abian mendekatkan wajahnya ke wajah Dita. Ia mengecup bibir Dita untuk kedua kalinya hari ini. Lalu ia memandang matanya Dita kembali.
" Bolehkah?" tanya Abian yang mulai berhasrat melihat bibir wanita itu.
Ditapun yang terlena dengan tatapan lembut Abian memberikan anggukan. Abianpun mencium bibir Dita dengan lembut. Ia menghisap bibir wanita itu yang terasa manis baginya. Awalnya ciuman itu lembut lalu berubah menjadi menuntut. Dita terbuai dengan ciuman Abian yang memabukkan mulai membalasnya. Merekapun melepaskan ciumannya Untuk mengambil nafasnya. Abian tersenyum yang melihat bibir merah istrinya agak membengkak.
__ADS_1
" Manis ." ucapnya lalu kembali mencium Dita dengan berhasrat.
Lama - kelamaan ciuman panas itu berubah menjadi sentuhan memabukkan bagi keduanya. Malam ini terjadilah malam yang indah bagi mereka berdua. Mereka menghabiskan waktu dengan mengarungi samudera cinta berdua sampai berkeringat. Malam ini malam yang indah dan malam yang panjang bagi insan yang dimabuk cinta.