
Siska melihat perubahan wajah Galuh ketika menerima telpon. Ia juga penasaran ketika Galuh masuk kekamarnya ketika menerima telepon.
" kenapa dia harus sembunyi - sembunyi nelponnya." gerutu Siska sambil makan roti bakarnya.
Siska tiba - tiba menjadi tidak berselera untuk makan roti bakarnya. Ia berdiri dari kursinya lalu berjalan mengendap-endap didepan pintu kamar Galuh.
"Telpon siapa ya?" tanyanya kepada diri sendiri.
Siska mengintip di balik pintu kamar Galuh yang tidak tertutup rapat. Galuh tidak menyadari bahwa dirinya sedang diintip Siska.
" Pokoknya saya tidak mau tau, kalian harus cari kemana keberadaan Mira, kalian selidiki juga Abian, saya yakin dia terlibat dalam menyembunyikan Mira." ucap Galuh membuat hati Siska tersakiti kembali.
" Ternyata dia masih mencari gadis itu, segitu cintanya kamu ma dia." ucap Siska meninggalkan pintu kamar Galuh dengan mata berlinang.
Siska berjalan kekamarnya dengan langkah lunglainya. Hatinya benar-benar sakit ketika perjuangannya tidak berarti apa-apa. Ia membaringkan tubuhnya di ranjangnya lalu menangis.
Galuh telah selesai menelpon anak buahnya lansung keluar menuju meja makan. Ia tidak menemukan Siska disana.
"Kemana dia? makanya juga belum dihabiskan." gerutu Galuh sambil berjalan kedepan pintu kamar Siska.
" Sis, kok rotinya nggak dihabisin?" teriak Galuh dibalik pintu.
" Lagi nggak napsu makan." jawab Siska dengan malas.
" Kamu kenapa? sakit?" tanya Galuh masuk tanpa izin dari Siska.
Siska kaget ketika membuka pintu kamarnya. Ia segera menghapus air matanya dengan tangannya. Galuh mendekat dan duduk diranjang Siska.
" Kamu sakit?" tanya Galuh sambil menempelkan tangannya kekening Siska.
" Apaan sih, main masuk tanpa izin dulu." kata Siska tangan Galuh dari keningnya.
" Kamu kenapa?" tanya Galuh heran dengan perubahan sikap Siska.
" Nggak apa-apa, cuma sedikit pusing aja." ucap Siska mengalihkan pandangannya kearah lain.
Galuh berlari keluar dengan berlari membuat Siska hanya menatap kepergiannya. Tidak lama kemudian Galuh kembali membawa alat - alat medis. Dia duduk disebelah Siska dan mengecek suhu badan Siska.
" Suhunya normal." ucap Galuh melihat hasil alat pengukur suhu badan. Galuh mengambil tangan kanan Siska lalu melilitkan manset alat pengukur tensi. Lalu ia memompa alat tersebut sampai akhirnya keluar hasil yang diinginkan.
" Suhu normal." ucap Galuh.
" Ya kamu kan dokter kandungan, mana bisa mendeteksi penyakit ku."ucap Siska kesal.
" Hei, meskipun aku dokter kandungan, aku juga bisa dikit - dikit jika hanya demam atau pusing, kamu lupa keluargaku dokter semua." kata Galuh senyum pamer.
" Ah pamer." ucap Siska.
" Kamu kenapa sih? kok sewot aja sih." kata Galuh.
" Nggak ada apa-apa, lagi nggak enak badan aja." kata Siska.
__ADS_1
" Ya udah, istirahat aja." kata Galuh beranjak dari tempat duduknya.
" Bang, boleh kita bicara?" tanya Siska ragu.
Galuh yang sudah melangkah beberapa langkah berbalik lagi ke ranjang Siska.
" Bicaralah." ucap Galuh dengan lembut.
"Apa ini yang terbaik?" tanya Siska dalam hatinya.
" Kenapa jadi bengong kayak gini?" ucap Galuh melihat Siska hanya diam.
" Gimana kita bercerai aja." ucap Siska sambil menunduk. Hatinya begitu ketar - ketir untuk mengucapkan kata-kata keramat itu.
" Kenapa?" tanya Galuh yang tak kalah kaget mendengar ucapan Siska.
" Aku rasa kita tidak akan berhasil, jadi tidak usah menunggu 1 tahun segala." ucap Siska masih tidak berani menatap Galuh.
" Aku berjanji dengan papa dan mama bahwa akan menjalani 1 tahun dulu, setelah memang tidak ada kecocokan, kita bisa berpisah dengan cara baik - baik." ucap Galuh mulai agak kesal dengan sikap Siska yang tiba-tiba.
" Aku yang akan menjelaskan kepada orang tua kita, bahwa aku sudah tidak sanggup lagi." ucap Siska mulai menatap Galuh.
" Kenapa sih? baru sebulan lebih udah menyerah gitu aja, kan kita sama-sama berjanji sama orang tua kita dalam satu tahun." ucap Galuh mengingatkan kejadian di rumah Siska ketika dia menjemput gadis itu.
" Percuma, untuk apa menunggu satu tahun jika hasilnya akan tetap begini." ucap Siska mulai emosi.
" Kenapa harus emosi segala sih? nggak bisa bicara baik - baik?" tanya Galuh lembut sambil tersenyum.
" Kita belum mencoba, kenapa sudah pesimis, kita nggak tau kedepannya seperti apa, bersabarlah sedikit." ucap Galuh memandang Siska.
" Untuk apa mencoba selama itu, udahlah bang lebih cepat kita akhiri malah lebih bagus " ucap Siska akhirnya menangis.
" Hei kenapa harus menangis?" ucap Galuh memeluk Siska.
" Nggak usah sok manis deh bang, sekarang aku maunya kita cerai." kata Siska melepaskan dirinya dari pelukan Galuh.
" Dulu kamu yang ngejar-ngejar aku, sekarang kenapa kamu pengen mengakhiri." ucap Galuh dingin. Ia merasa sakit hati dan tidak terima dengan permintaan Siska. Harusnya ia yang meninggalkan gadis itu, tapi sekarang malah berbalik.
" Itu dulu, nggak selamanya orang itu bisa berpikiran sama" ucap Siska.
" Tapi bertahanlah dulu, setidaknya 5 bulan lagi." ucap Galuh.
" Untuk apa waktu selama itu jika hanya aku yang berjuang sendiri." ucap Siska mulai meninggi.
" Kamu berjuang sendiri? jadi yang aku lakukan tadi pagi apa namanya? tanya Galuh merasa kecewa ketika usahanya diabaikan.
" Usaha apa? usaha mencari gadis pujaan hatimu, pulang jam malam - malam hanya meluangkan waktu untuk mencari dia." ucap Siska dengan datar.
"Kamu." ucap Galuh dengan wajah terkejut.
" Kenapa? kaget? aku pernah kerumah sakit tapi kamu sudah pulang dari sore, dan aku datang lagi besoknya ternyata kamu juga pulang sore, aku ikutin kamu, kamu hanya kesana - sini tanpa tujuan." jawab Siska membuat Galuh merasa bersalah.
__ADS_1
" Bahkan hati ini kamu sibuk menyuruh bawahan mu mencari gadis itu dengan mati - Matian, jika kamu mencari gadis itu dengan cara seperti itu, untuk apa hubungan kita dipertahankan." ucap Siska lagi.
" Aku hanya...." ucap Galuh terputus karena Siska bicara lagi.
" Kamu hanya memperjuangkan cinta kamu, ya itu tidaklah salah, sekarang aku lepaskan kamu untuk mencari kebahagiaan kamu, lepaskan aku lalu pergilah sesuka hatimu." ucap Siska Siska menyeka air matanya.
" Aku tidak akan melepaskan kamu sebelum masanya." ucap Galuh.
" Jika kamu tidak melepaskan kamu, biarlah aku yang melepaskan diri." ucap Siska berdiri dari ranjangnya.
" Jangan coba-coba dengan aku." ucap Galuh mencekal tangan Siska.
" Kamu mengancam aku?" tanya Siska.
" Terserah kamu mikirnya seperti apa?" ucap Galuh mendudukkan Siska kembali disebelahnya.
" Jika kamu tidak bisa menemukan gadis itu, aku bantu kamu mencarinya, aku akan tanya kepada Dita, tapi tolong ceraikan aku." pinta Siska.
" Jangan coba-coba, sekarang jangan bahas itu lagi, kasih aku waktu 5 bulan lagi." ucap Galuh masih memegang tangan Siska.
" Nggak mau." ucap Siska dengan wajah datar.
" 4 bulan." tawar Galuh lagi.
" Nggak mau." ucap Siska bersikeras.
" Ok, 3 bulan." tawarnya lagi.
Siska menggelengkan kepalanya.
" 2 bulan." tawarnya dengan frustasi.
" 2 hari" jawab Siska sekenanya.
" Gila 2 hari, 1 bulan deh." tawar Galuh lagi.
" 2 hari atau tidak sama sekali." ucap Siska.
" Nggak bisa secepat itu juga kali, 2 Minggu deh please...." tawar Galuh dengan nada memohon.
" Ok, tapi tinggal terpisah." jawab Siska.
" Nggak bisa gitu, jika terpisah kita tidak akan bisa menyatu." ucap Galuh makin frustasi.
" Tujuan kita bukan untuk bersatu, tapi hanya mengulur waktu untuk berpisah." ucap Siska.
" Buang jauh-jauh pikiran berpisah dibenak kamu,saat ini yang kita pikirkan senang - senang dan kencan layaknya suami istri." ucap Galuh.
" Apa yang kita lakukan dengan kencan?" tanya Siska yang mulai tidak mengerti.
" Mulai malam ini, kita akan tidur seranjang dan sekamar." ucap Galuh.
__ADS_1
Siska lansung membekap mulutnya ketika kaget mendengar ucapan Galuh.