
Abian berjalan keluar dari rumah sakit dengan emosi. Ia berjalan dengan uring-uringan.
" Bisa - bisanya ia bermesraan dirumah sakit dengan pria lain" gerutunya sambil masuk kedalam mobilnya.
Abian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hatinya seperti merasa terbakar melihat kemesraan Dita dengan Alan.
" Kenapa aku marah seperti ini, nggak mungkin aku cemburu kan?" tanyanya pada dirinya sendiri.
" Ah mana mungkin aku cemburu sama wanita manja itu." katanya bicara sendiri.
Abian sudah sampai di Arkarna Group. Ketika dia masuk, semua karyawan menegurnya dengan ramah. Banyak karyawan wanita histeris dengan wajah tampannya Abian.
" Sempurna, gagah dan kaya raya." ucap salah satu karyawannya.
" Iya, aku mau jadi istri keduanya pun tak apa -apa." kata karyawan yang lain.
Mereka berhenti ngegosip ketika pandangan Abian menatap mereka dengan tajam. Melihat wajah Abian yang dingin, mereka lansung bergegas ke meja masing-masing. Abian berjalan menuju ruangannya. Abian yang masuk uring-uringan membuat karyawannya merinding. Abian melihat sekretarinya sudah duduk di mejanya.
" Jika ada Rendi datang, suruh lansung masuk aja." kata Abian dengan tegas.
Rendi adalah teman sekaligus asisten kepercayaannya sejak berdirinya Abian Work. Meskipun perusahaan itu dipimpin oleh ayahnya tapi Abian tetap mempercayakan Rendi untuk membantu ayahnya. Sedangkan untuk di Arkarna Group, Deni sudah mulai bergabung kembali.
Abian hanya memandang kota Jakarta dari kaca ruangannya. Ia tidak mood mengerjakan apa-apa. Tiba-tiba masuklah Deni keruangannya.
" Bisa ketuk pintu nggak." katanya dingin.
" Maaf pak, ada apa gerangan memanggil saya pak?" tanya Deni serius.
" Tolong kamu buat racangan proyek kita terbaru, nanti siang kamu temui klient dari Paris." perintah Abian.
" Baik pak, apalagi pak?" tanya Deni.
" Suruh Rosa mengantarkan laporan proyek bersama Abian Work." perintah Abian.
" Baik pak, jika nggak ada lagi saya permisi pak." ucap Abian pamit undur diri.
Abian kembali memandang kota Jakarta setelah Deni keluar. Lalu ia berjalan menuju meja kerjanya untuk mengambil Hp. Ia mencari nomor seseorang.
" Halo, assalamualaikum." sapa wanita diseberang sana.
" Waalaikumsalam, dit nanti malam bisa ketemu diluar nggak? ada yang mau aku omongin." kata Abian.
" Emang nggak bisa dirumah aja?" jawab wanita diseberang sana.
" Ya bisa, cuma mending diluar, aku ingin bahas masalah kontrak kita." jawabnya sambil menjelaskan.
" Baiklah, nnti jam berapa?" tangan perempuan seberang sana.
" Setelah isya aja, nanti aku kirimkan alamatnya." katanya.
" Baik, nanti kabari lagi, aku sibuk." katanya menutup panggilan telepon.
" Dasar istri nggak sopan, main tutup aja tanpa salam." katanya sendiri.
Lalu Abian dikagetkan oleh teman-temannya Galuh dan Rendi
" Masuk ketuk pintu dong." tegur Abian setengah kesal.
" Sejak kapan itu berlaku buat kami." jawab Galuh.
" Eh gimana jika aku sama istri, aku bukan bujangan kayak kalian lagi." kata Abian.
__ADS_1
" Iya tau yang udah punya istri" ejek Rendi.
" Dan sekarang lagi uring-uringan karna nggak dapat jatah dari istri." ejek Galuh sambil tertawa.
" Sok tau kalian, Kamu ngapain kesini luh, Rendi mau bahas proyek loh." kata Abian menatap Galuh.
" Ya gua gangguin kalian lah." kata Galu dengan tertawa.
" Emang kamu nggak ada pasien?" tanya Abian.
" Aku sedang libur, suntuk sendirian." jawab Galuh.
" Makanya cari istri." kata Abian.
" Iya tau yang sudah punya istri." ejek Galuh dan Rendi bersamaan.
Tiba - tiba Pintu ruangan Abian diketuk.
" Masuk." perintahnya.
" Selamat siang pak." jawab wanita yang membuat Abian uring-uringan siang ini.
" Siang, silahkan duduk." kata Abian nampak dengan wajah datar.
" Apakah kedatangan saya menggangu?" tanya Dita.
" Tidak, ayo kita mulai rapatnya, Luh kamu mau diusir atau bagaimana?" tanya Abian.
" Sana kamu keliling kantor, mana tau dapat cewek cantik." usir Rendi.
" Sialan kalian." kata Galuh lalu berlalu dari ruangan Abian.
Merekapun memulai meeting mereka membahas proyek antara Abian work dengan Arkarna Kontruksi. Rendi sibuk mempresentasikan laporan proyek secara keseluruhan. Tapi Abian tidaklah fokus. Dari mulai rapat pandangannya hanya tertuju kepada Dita. Namun sayangnya Dita sangat cuek sekali. Abian semakin emosi melihat Dita mengacuhkannya. Setelah selesai rapat, Dita berdiri dari tempat duduknya.
" Nggak usah pak, saya mau ketemu seseorang, jadi nggak kekantor." jawab Dita.
" Laki - laki apa perempuan?" tanya Abian dingin.
" Janji sama Alan pak, bapak kenalkan?" tanya Dita dengan agak tersenyum.
Mendengar nama Alan disebut, Abian lansung menarik tangan Dita dengan keras.
" Hei jadi ngumpul nggak?" tanya Rendi agak sedikit bingung karena dicuekin.
" Kalian berdua aja yang ngumpul." teriak Abian lalu menutup pintu ruangannya.
Abian membawa Dita pulang kerumah mereka yaitu rumah Dita. Dita hanya diam sepanjang perjalanan. Dia malas berbicara dengan Abian. Ia hanya melihat kearah luar jendela. Mereka dimobil dalam keadaan diam. Sesampai dirumah mereka lansung kekamar.
" Kita harus bicara." kata Abian dengan wajah dingin.
" Loh katanya nanti malam, kenapa jadi sekarang, aku ada janji sama Alan." kata Dita agak sedikit emosi.
" Ini lebih penting dari pertemuan kalian." kata Abian sedikit terbawa emosi.
" Menurutmu, jangan egois kenapa sih." ucap Dita kesal.
" Egois kamu bilang, dimana letak egoisnya aku." kata Abian mencekal tangan Dita yang mau keluar.
" Kan bisa nanti, kenapa sih buru - buru banget." ucap Dita mencoba melepaskan tangan Abian.
" Masalah nggak boleh dibiarkan berlarut - larut." jawab Abian.
__ADS_1
" Yang nggak sabar pengen bersama, baiklah mari kit bahas perceraian kita, aku sudah siap." tantang Dita.
" Siapa yang mau bercerai?" tanya Abian dengan wajah sedikit kaget.
" Ya kitalah, siapa lagi, apalagi sekarang ibu udah mau pisah, jadi nggak ada penghalang lagi kan." ucap Dita dengan mata berlinang. Ia mencoba menahannya agar air matanya tidak jatuh.
" Hei, dengarkan aku dulu." Abian mencoba memegang tangan Dita dengan lembut.
" Apalagi?" jawab Dita berubah sendu.
" Hei, kenapa bersedih?" Abian bertanya dengan lembut.
" Emang ada larangan bersedih, kamu iya senang." kata Dita merengut.
" Iya senang dong, nih rasain." Abian membawa tangannya ke dadanya.
Dita menyentuh dada Abian dengan agak malu. Ia merasakan jantung laki - laki itu berdetak lebih kencang.
" Ayo kita hapus kontrak kita dengan pernikahan sebenarnya." ucap Abian menatap manik mata Dita.
" Bukannya kamu mau menikah dengan Mira?" tanya Dita menatap Abian.
" Berita darimana itu? kamu dapat berita hoaks darimana?" tanya Abian.
" Aku dengar sendiri, ibu bahkan mau bercerai demi cinta kalian." jawab Dita sendu kembali.
" Itu takkan pernah terjadi, kamu ingat waktu kita dikantor, aku bilang bahwa aku serius jadiin kamu istri?" tanya Abian.
Ditapun mengangguk.
" Aku nggak tau sejak kapan, yang aku tau sekarang aku sayang sama kamu." kata Abian serius.
" Ini benaran bang?" tanya Dita masih belum percaya.
" Panggil mas, jangan Abang ah." kata Abian.
" Biasa juga dipanggil Abang." kata Dita.
" Dan kadang kamu panggilnya KAMU." kata Abian dengan sedikit menekan kata kamu.
" Jadi ucapan Abang tadi benaran?" tanya Dita.
" Mas sayang." ucapan Abian membuat pipi Dita memerah.
" Kenapa pipinya memerah begini?" tanya Abian pura - pura bertanya.
Dita semakin malu setelah Abian memergoki bahwa pipinya bersemu merah. Dia lansung menyembunyikan wajahnya didada Abian.
" Sayang, tengok mas dulu." Abian menjauhkan wajah Dita dari dadanya.
" Mas sayang sama kamu, kamu jangan pinjam bahu laki - laki lain lagi, bahu mas selalu ada tempat untuk kamu menangis, mas cemburu." kata Abian menatap Dita dengan cinta.
" Iya mas." jawab Dita.
" Ingat mas nggak suka milik mas di sentuh oleh orang lain." kata Abian menyentuh pipinya Dita.
Dita yang disentuh pipinya makin malu. Wajahnya makin memerah karena menahan malu. Abian yang melihat itu makin tersenyum. Ia bahagia bahwa wanita itu malu - malu didepannya. Iapun mendekatkan wajahnya ke wajah Dita. Abian mengecup bibir ranum Dita.
" Manis." ucapnya yang sudah kecanduan bibirnya Dita.
Dita semakin malu ketika bibirnya dikecup Abian. Ia hanya menundukkan kepalanya tanpa berani menatap Abian.
__ADS_1
" Mas ini lelakimu, jadi tatap mata mas nggak usah malu." ucap Abian .
Dita menatap mata Abian. Dita bisa melihat dengan jelas Dimata Abian terpancar cinta untuk dirinya. Ia melihat tatapan memuja kepada dirinya. Mereka kembali berciuman dengan saling membalas.