
Dita membuka matanya dengan perlahan. Dia meraba ranjang disebelahnya mencari keberadaan suaminya. Namun ia menemukan ranjang sebelahnya kosong. Ia mengucek matanya lalu duduk dari tidurnya.
" Hooaaanmmmm" Dita menguap sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar.
Ia tidak melihat Abian dikamarnya. Ia juga tidak mendengar suara gemericik air dikamar mandi. Ia melihat jam yang ada didinding kamar. Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi.
" Kemana perginya dia pagi ini? apa dia tidak pulang?" tanyanya dengan suara pelan lebih kepada dirinya sendiri.
Dita lansung berdiri dari ranjangnya untuk kekamar mandi. Ia membersihkan dirinya lalu bersiap untuk sholat subuh. Setelah sholat subuh, Dita berjalan keluar dari kamar. Ia sudah melihat ayah mertuanya sedang sibuk didapur. Ia menghampiri mertuanya yang sedang sibuk.
" Pagi ayah, apa yang Dita bantu?" tanya Dita mengagetkan ayah mertuanya.
"kamu cukup duduk aja nona manis." jawab ayah mertuanya sambil tersenyum.
" Ayah jangan gitu." jawab Dita tersenyum malu karena tidak bisa apa - apa, " yah tadi malam bang Abi nggak pulang ya?" tanya Dita lagi.
" Pulang, namun pergi lagi, banyak tugas Mungin dikantor." jawab ayahnya santai.
" Memang kantor lagi banyak kerjaan sih, yah izin kedepan ya." ucap Dita bangkit dari duduknya.
Ayah mertuanya diam sebentar memandang kearah Dita yang berjalan keluar. Ia tau anaknya masih belum sepenuhnya menerima Dita. Ayahnya juga merasa bersalah dengan menceritakan bagian dari masa lalu mereka. Tidak lama laki - laki tua separuh baya itu tersenyum melihat menantu nya membawa sapu.
" Udah siap - siap aja, kenapa jadi bersih - bersih?" tanya mertuanya tersenyum.
" Nggak apa-apa ayah, biar belajar jadi istri yang benar." ucap Dita sambil tersenyum.
__ADS_1
" Itu bukan tugas istri, Itu tugas pembantu, masa istri CEO tidak diberikan asisten rumah tangga oleh pak CEO sih." kata ayah mertuanya dengan tersenyum lepas.
" CEO nya maunya diurus istri sendiri yah." kata Dita bercanda.
Mereka tertawa bersama - sama lalu menyelesaikan tugas masing-masing. Ayah Abian merasa senang dengan kedatangan Dita. Ia merasa suasana rumahnya lebih hidup dengan kehadiran Dita. Setelah selesai dengan tugas-tugas masing-masing, mereka lansung menyantap sarapan paginya. Pagi ini dimeja ada mie goreng, ada roti bakar. Dita memakan mie goreng buatan mertuanya.
" Ayah sudah seperti koki aja, masakan ayah selalu enak." ucap Dita sambil mengunyah makanannya.
"Ah bisa aja kamu memuji ayah ya." jawab ayahnya.
Setelah selesai sarapan, Dita membantu mertuanya membereskan piring kotor. Lalu ia kekamar untuk bersiap-siap menuju kantor. Setelah 30 menit dia keluar dengan rapi. Ia memakai kemeja putih lengan panjang dengan perpaduan rok span formal 7/9. Ia menguncir rambut rambutnya yang panjang menambah kesan feminimnya. Dia berpamitan kepada ayah mertuanya sebelum kekantor.
" Yah doakan semoga hari ini berjalan dengan lancar ya." ucap wanita itu menyalami ayah mertuanya.
Dita sudah dijemput oleh sopirnya pak Anton dari tadi pagi. Ia masuk kemobil dan duduk dibelakang. Disepanjang perjalanan Dita hanya melamun. Ia agak merasa takut, apalagi posisinya Abian tidak berada disebelahnya. Ia telah sampai dikantor Arkarna Group. Hari ini pemilihan CEO berdasarkan voting suara dari kepemilikan saham. Papanya Dita mempunyai saham 40%, 30% kepemilikan dari sepupunya pak Rama yang bernama Agus yang tidak lain papanya Andi. Sisanya pemilik saham yang lain terpecah menjadi beberapa orang kepemilikan. Arkarna Group adalah perusahaan keluarga besar Arkarna yang dibangun oleh kakek buyutnya Rama Arkarna yaitu Arkarna. Kakek buyutnya Arkarna mempunyai tiga orang putra yang bernama Roy Arkarna dan Sandi Arkarna dan Ian Arkarna. Roy Arkarna mempunyai anak bernama Reno Arkarna. Sedangkan sandi Arkarna mempunyai anak laki-laki bernama Bima Arkana. Reno Arkarna adalah papa dari Rama Arkarna sedangkan Bima adalah papa dari Agus Arkarna. Dulunya Arkarna membagi sahamnya dengan adil kepada ketiga anaknya yaitu 30% dan 10% dimiliki oleh orang-orang tertentu. Sebelum bergabung dengan Arkarna Group, Rama Arkarna mendirikan perusahaan sendiri yang diberi nama Arkarna Kontruksi. Karena menggantikan papanya menjadi CEO di Arkarna Group, Rama Arkarna menjadikan Arkarna Kontruksi menjadi anak perusahaan dari Arkarna Group. Berkat kelihaiannya Rama Arkarna, ia telah mempunyai 40% dari Arkarna Group.
" Kamu yakin bisa menang melawan saya." kata Agus Arkarna dengan sejuk mengejek.
" Siapa pemilik saham yang mau memilih kamu yang tidak bisa apa-apa" ucap Maria istrinya Agus.
" Kita lihat aja nanti." kata Dita berusaha menyembunyikannya kekuatirannya.
Dita berjalan menuju kursi yang telah disediakan. Ia semakin kuatir karna sampai saat ini Abian juga belum menampakkan batang hidungnya. Rapat pemilihan CEO sudah dimulai. Untuk sementara Agus Arkarna dengan voting tertinggi karena sudah mendapat persetujuan dari pak Arif sebanyak 5% dan dari pak Joe sebanyak 10%. Artinya dari 45% kepemilikan saham sudah menyetujui Agus Arkarna yang memegang posisi CEO. Dita yang sudah tegang dari tadi, rasanya pagi ini dia mau menangis. Ia memang tidak mengerti apa-apa mengenai semua ini. Ia hanya mempercayai semuanya Abian. Ia menahan supaya air matanya tidak keluar. Apalagi ketik melihat senyuman ejekan dari rombongan Agus Arkarna.
" Muhammad Abian Alfaiz dimanakah kamu?" tanya Dita menggerutu.
__ADS_1
" Sepertinya pemegang saham yang lain tidak hadir, maka, akan kita putuskan berdasarkan suara terbanyak ya" ucap bapak yang berdiri di depan.
" Maaf saya terlambat." ucap salah seorang laki-laki.
Dita merasa tersenyum dan lega melihat kedatangan laki - laki itu. Dia adalah Muhammad Abian Alfaiz yang baru masuk keruang meeting.
" Saya memberikan 5% Saham kepemilikan saya ke ibu Dita Tiara Arkarna." ucapnya dengan lantang dan tegas.
Dita dan Agus cukup kaget mendengar Abian mempunyai saham di perusahaan mereka. Agus tidak pernah tau bahwa ada 5% saham Group Arkarna jatuh ke tangan suami dari Dita Arkana.
" Saat ini kedudukan sama, maka kita tunggu pemilik saham yang satu lagi." ucap bapak yang memimpin rapat.
" Satu lagi? bukannya ada beberapa orang lagi." ucap Agus kaget karena ia tidak tau ada perubahan kepemilikan saham.
Dita dan Abian juga sama tegangnya karena ia juga tidak tau satu pemegang saham ini. Abian sudah mencoba mencari taunya namun tetap tidak menemukannya. Tidak lama kemudian masuklah seseorang yang dikenal oleh Abian dan Dita. Agus yang melihat pria itu juga melongo kaget. Ia tidak menyangka bahwa pria itu masih hidup. Pria yang sudah dia hancurkan melalui Rama Arkarna.
" Kau." ucap Agus Arkarna memegang dadanya.
" Saya akan memberikan 10% kepemilikan saham saja kepada Dita Tiara Arkarna." ucapnya tegas sambil tersenyum ke arah Dita.
" Ok, berarti kita sudah tau CEO yang terpilih adalah Ibu Dita Tiara Arkarna, Kepada ibu Dita Arkarna dipersilahkan memberikan kata sambutannya." ucap pria moderator rapat hari ini.
Dita berjalan dengan anggun menuju podium. Ia berusaha untuk menyembunyikan rasa gugupnya.
" Assalamualaikum, selamat pagi bapak/ibu semua, terimakasih kepada pemilik saham yang sudah mempercayai saya, namun saya merasa ada yang lebih pantas dari saya, untuk itu saya akan memberikan jabatan saya kepada orang yang tidak lain suami saya yaitu Muhammad Abian Alfaiz." ucap Dita sambil tersenyum.
__ADS_1
Abian yang disebut namanya kaget seketika. Ia tidak menyangka bahwa istrinya akan memberikan amanat sebesar ini kepadanya.