Dia Lelakiku

Dia Lelakiku
BAB 43


__ADS_3

7 bulan kemudian


Abian panik ketika mengetahui istrinya mau melahirkan. Ia segera membawa Dita kerumah sakit milik Galuh. Dita kesakitan duduk di job belakang bersama Abian. Ia dari tadi mencakar suaminya bahkan memegang tangan suaminya dengan genggaman erat. Ia tidak sadar bahwa genggamannya membuat suaminya kesakitan.


" Mas Sakit." rintihan Dita menahan kesakitan.


" Pak bisa lebih cepat lagi." perintah Abian.


" Baik pak " ucap sopirnya padahal ini sudah lebih cepat dari biasanya. Tapi ia tidak berani membatah atasannya itu.


" Kamu udah telpon dokter Galuh mas?" tanya Dita.


" Oh iya,lupa." jawab Abian sambil mengeluarkan hpnya.


Dita kesal melihat suaminya ini karena bisa - bisanya ia tidak menelepon Galuh saat ia sedang kesakitan begini. Galuh tidak mengangkat telpon dari Abian.


" Nggak diangkat yang, jadi gimana?" tanya Abian kepada Dita.


" Mas ini aku lagi kesakitan, masa kamu suruh aku yang mikir." kata Dita kesal melihat suaminya yang lelet hari ini.


" Mas telpon dokter Dea aja ya?" tanya Abian bertanya balik.


"Masssss." teriak Dita kesakitan ditambah agak sedikit kesal.


Abian lansung menghubungi dokter Dea yang menjadi dokter Dita. Ia menyuruh agar dokter Dea standby dirumah sakit karena ia tidak mau dilayani oleh dokter lain. Dokter Dea tetap menyarankan agar menelpon dokter Galuh karena ia sedang tidak dinas. Ia takut akan menyalahi prosedur rumah sakit karena ada dokter lain yang berjaga saat ini.


" Saya akan tetap kerumah sakit, namun terlebih dahulu bapak telpon dokter Galuh agar bisa menyiapkan segala sesuatunya." ucap dokter Dea.


" Baiklah, terimakasih." ucap Abian menutup telponnya.


Ia mencoba menelpon Galuh lagi namun juga tidak diangkat oleh Galuh.


Ditempat lain Galuh sedang memeriksa istrinya yang sedang lemas ditempat tidur. Siska tampak menahan kesakitan memegang perutnya yang buncit.Siska dinyatakan hamil setelah satu bulan mereka tidur bersama. Saat ini kandungan Siska sudah 7 bulan.


" Sayang kita kerumah sakit aja ya, sepertinya kamu mau melahirkan." ucap Galuh.


" Tapikan ini baru 7 bulan sayang." ucap Siska menahan sakit.


" Air ketuban kamu sudah merembes, ini waktunya kamu melahirkan sayang." ucap Galuh menggendong Siska menuju mobilnya.


Galuh membawa mobil dengan kencang dengan posisi Siska duduk disebelahnya.


" Bang sakit." rintihan Siska.


" Iya sayang, tahan sebentar ya demi anak kita." ucap Galuh dengan wajah agak panik. Galuh tidak panik seperti Abian karena ia paham apa yang akan ia lakukan. Tetapi ia tetap tidak tega melihat istrinya kesakitan. Galuh telah sampai dirumah sakit, lalu turun memapah istrinya. Melihat Galuh turun dari mobil para perawat yang berjaga di UGD segara membawa brankar. Siska dibantu oleh tiga perawat menuju ruang melahirkan.


Tidak lama kemudian Galuh melihat Abian keluar dari mobil dengan panik. Galuh memanggil perawat untuk membawa Dita. Dua orang perawat datang membawa brankar. Dita didorong oleh 2 perawat menuju ruang bersalin.


" Untung kamu disini, tolong urus prosedur istri ku Luh." ucap Abian masih panik.


" Saya coba telpon dokter Dea, tapi biar diperiksa dokter lain dulu." ucap Galuh paham kepanikan sahabatnya.

__ADS_1


" Tadi aku sudah menelepon dokter Dea, karena dia tidak bertugas malam ini, dia minta urus prosedur agar rumah sakit mengizinkan." ucap Abian.


" Baik, saya akan urus, tapi mohon maaf saya tidak bisa menemani soalnya Siska juga mau melahirkan." ucap Galuh.


" Loh kan Siska belum waktunya." ucap Abian.


" Dia melahirkan prematur karena ketubannya pecah dini,aku tinggal dulu ya." ucap Galuh berlari ke ruangannya.


Galuh sadar tidak membawa hp, ia menelpon dari telepon di ruangannya. Ia menelpon kepala pelayanan medik agar mengurus prosedur izin untuk dokter Dea membantu proses kelahiran pasien bernama Dita. Setelah selesai Galuh bergegas menuju ruangan bersalin istrinya.


Siska sudah ditangani oleh perawat dan seorang dokter kandungan. Dokter yang berada didalam melihat Galuh yang masuk.


" Apakah dokter yang membantu proses melahirkan?" tanya dokter tersebut melihat atasannya masuk.


" Lanjut aja dok, saya akan menemani saja." ucap Galuh sambil mengusap kepala Siska.


" Tapi tadi pasien ingin dokter yang membantu proses kelahirannya." ucap Dokter itu.


" Sayang jangan abang ya, abang hanya akan kasih aba - aba ya." ucap Galuh kepada istrinya.


" Kayak abang ke dokter Dea? tapikan abang bisa langsung aja bang, aku bukan perempuan lain." ucap Siska sambil menahan kesakitan.


" Tapi kan lucu, masa surat keterangan lahirnya ditandatangani oleh bapaknya sendiri." ucap Galuh yang mulai tidak menyukai profesinya hari ini.


" Salah sendiri milih dokter kandungan." ucap Siska masih mau berdebat ketika masih dalam keadaan sakit.


Galuh tidak menyangka akan seperti ini ketika ia dulu mengambil profesi dokter kandungan. Apalagi akhir - akhir ini Galuh sengaja berpatner dengan dokter Dea agar tidak secara lansung menangani proses kelahiran normal.


" Baiklah, saya akan membantu sesuai keinginan istri saya, terimakasih dok atas bantuannya." ucap Galuh.


Galuh menstimulasi istrinya agar lebih rileks lagi.


" Ambil atur nafas dan rileks ya." ucap Galuh dengan lembut.


Siska menghitung sampai tiga untuk mengambil nafas panjang. Ia telah diajarkan oleh suaminya sebelumnya untuk mengambil nafas panjang yang katanya agar bayinya mendapatkan oksigen yang banyak.


Galuh melihat Siska sudah rileks dan bernafas secara teratur. 10 menit kemudian Galuh melihat sudah pembukaan sepuluh.


" Oke, tarik dagu keatas dada, liat perut dan pastikan posisi nyaman." ucap Galuh.


Siska melakukan perintah Galuh.


" Ambil nafas panjang dari hidung lalu tahan ya, oke kencangkan otot - Otot perut lalu dalam hitungan 10 mengejan ya." perintah Galuh.


Dalam hitungan sepuluh Siska mulai mengejan . Siska mengejan tiga kali dalam satu kontraksi sesuai perintah Galuh. Galuh sebenarnya agak panik membantu persalinan istrinya sendiri namun ia berusaha untuk tenang agar istrinya rileks. Tidak lama kemudian terdengar suara bayi melahirkan. Galuh lansung memberikan kepada perawat agar diperiksa.


Sementara diruangan yang lain, Dita menangis dan berteriak kesakitan.Abian harus bersabar karena tangannya habis kena cakar oleh Dita.


" Sakit sayang." ucap Abian kesakitan.


" Ini lebih sakit mas, kamu cuma kena cakar aja udah mengadu." ucap Dita makin kesakitan.

__ADS_1


" Ayo Bu, rileks ya Bu agar dimudahkan." ucap dokter Dea.


Dita mencoba mengatur nafasnya agar rileks. Dita mengejan beberapa kali dan akhirnya lahirlah putra mereka.


Setelah beberapa jam kemudian, bayinya sudah dimandikan dan diantar kekamar inap.Abian lansung mengazadni putranya. Ia menggendong putranya dengan gembira.


" Sayang putra kita ganteng kayak papanya." ucap Abian memuji bayinya.


" Siapa namanya mas?" tanya Dita.


" Daffin Faaz Ilman yang artinya seorang anak laki - laki penyayang dan disayangi orang yang sukses serta berilmu." ucap Abian.


" Daffin Faaz Ilham Arkarna mas, masih ada darah Arkarna loh." ucap Dita sambil tersenyum melihat putranya yang gagah.


Abian dan Dita melihat pintu masuk karena ada yang masuk. Ia melihat ayah, ibunya dan bapak tirinya datang menjenguk. Wajah mereka tampak gembira karena mendapatkan cucu pertama.


" Ibu bawakan bubur, biar tubuhnya cepat pulih." ucap ibu Abian mengusap kepala Dita.


" kamu ganteng sekali nak, sini ayah gendong." ucap ayah Abian antusias.


" Bisa nggak yah, nanti encok pula." jawab Abian dengan nada bercanda.


" Kamu sepele ya, ayah lebih dulu makan kerak daripada kamu." ucap ayahnya sambil mengendong Abian junior.


" Bukannya kita barengan makan keraknya yah, dulukan ayah putra orang kaya mana pernah makan kerak." canda Abian lagi.


" Sudahlah, ayah tidak mau diganggu." ucap ayahnya tersenyum.


" Gimana kabar Siska ya mas?" tanya Dita.


" Siska jauh lebih baik daripada kamu sayang, karena dia melahirkan rileks banget apalagi ditangani oleh suaminya lansung." ucap Abian teringat cerita Galuh ketika bertemu diluar.


" Benaran, kirain dokter Galuh cuma nemani, anaknya gimana mas?" tanya Dita.


" Anaknya masih dalam inkubator sayang karena lahir prematur, tapi bayinya sehat kok." ucap Abian menjelaskan.


" Nggak nyangka akan melahirkan berbarengan dengan Siska." ucap Dita terharu.


" Nanti kita jodohkan mas." ucap Dita antusias.


" Sayang, anak belum sehari kok udah main jodoh - jodohkan segala, nanti dia nggak mau gimana? tersiksa loh yang." ucap Abian.


" Jadi kamu tersiksa karena dijodohkan sama aku?" tanya Dita kesal.


" Bukan gitu sayang, tapi......." ucapan Abian dipotong ibunya karena paham kondisi Dita yang belum pulih.


" Abian jangan ajak istrimu berdebat, dia belum terlalu pulih, dan jangan bikin istri baru melahirkan stress, kamu harus bisa buat mood Dita bagus agar terhindar dari baby blues." ucap ibunya.


" Baby blues?" tanya Abian.


" Iya, itu kondisi ibu membenci anaknya sendiri bahkan dengan tidak sadar membunuh bayinya sendiri karena dia merasa tidak disayangi lagi oleh suami, keluarga dan lainnya." ucap ayah tirinya yang dari tadi hanya diam aja.

__ADS_1


" Oke, oke terserah padamu sayang, tapi jika putra kita nggak mau jangan dipaksa ya." ucap Abian mengalah.


Dita tersenyum penuh kemenangan mendengar Abian mengalah. Apalagi ia tau bahwa mertuanya memihak kepadanya saat ini.


__ADS_2