
Dari pulang makan siang sampai sekarang sikap Dita agak lebih pendiam. Ia juga lebih banyak melamun. Begitupun dengan Abian, ia juga banyak diam. Abian yang memang dasarnya tidak banyak bicara, jadi bingung mengahadapi sikap Dita yang seperti ini. Ketika malam malam mereka hanya diam tanpa suara. Dita hanya makan sedikit malam ini, ia tampak tidak berselera. Setelah selesai, Dita meninggalkan Abian sendiri dimeja makan yang masih sedang makan. Abian menyusul Dita ke kamar. Ia tau gadis itu dalam keadaan mood yang tidak baik. Jadi menurutnya lebih baik didiamkan saja agar nanti baik sendiri. Abian membaringkan tubuhnya di sebelah Dita. Lalu gadis itu memunggunginya. Iapun memunggungi balik. Lalu tidurlah mereka dalam keadaan sama - sama diam.
...****************...
Sudah 3 hari Abian dan Dita saling berdiam, mereka juga enggan saling bertegur. Pagi sarapan bersama dengan diam, lalu ketika pulang kerja juga sudah diam. Abian yang merasa didiamkan merasa bosan dengan sikap Dita. Ia akhirnya memilih pergi meninggalkan rumah untuk pulang kerumahnya. Dirumahnya dia bisa mengerjakan pekerjaan dengan fokus. Jika berdua dikamar dengan Dita membuat di uring-uringan. Dan selalu tidak fokus mengerjakan pekerjaan. Sedang sibuk dengan laptopnya, tiba - tiba Hpnya berdering. Dia kaget ketika yang menelponnya malam - malam begini adalah ibunya.
" Halo, assalamualaikum." sapa Abian.
" Waalaikumsalam, Bian hik... hik..." terdengar suara ibunya menangis.
" Kenapa Bu?" tanya dengan malas.
" Mira Bi,,M Mira....." jawab ibunya menangis histeris.
Diseberang sana juga terdengar heboh dengan suara tangisan.
" Kenapa dengan Mira?" tanya Abian.
"Apakah kau meninggalkan kami mir?" Bathin Abian.
Hp Abian jatuh dari tangannya terpelanting kelantai. Ia tidak menyangka bahwa ia akan kehilangan Mira secepat ini. Ia tidak menyangka ia akan menjadi pembunuh gadis yang sangat ia sayangi. Abian duduk melamun tanpa berniat mengambil hpnya kembali.
" Apa aku kerumah sakit aja sekarang?" tanya Abian pada diri sendiri.
" Atau besok aja melayatnya, aku ngantuk banget hari ini." ucapnya ragu. Lalu ia membaringkan tubuhnya yang penat. Tidak lama kemudian iapun tertidur dengan lelapnya.
Sedangkan ditempat lain ada seorang wanita sedang asik urung - uringan. Dia merasa kesal dengan kepergian suaminya tanpa pamit.
" Talenan datar nggak bermoral, pergi tanpa pamit, pulang tanpa suara." gerutunya sambil memainkan Hp.
Ia mencoba untuk menghubungi hpnya Abian. Namun Abian tidak menjawab telepon dari Dita. Dita semakin kesal tidak karuan.
" Sesibuk itukah sampai tidak mau angkat telepon dari aku." gerutunya makin kencang.
Dita melempar Hpnya keatas kasurnya. Ia benar-benar begitu kesal malam ini. Tiga hari dia merajuk tapi tidak ada usaha Abian membujuknya.
Lalu tiba-tiba dia melihat hpnya berdering. Ia mengangkat tanpa melihat orang yang menelpon.
" Halo, assalamualaikum." sapa Dita kegirangan.
" Dit, Abian Diman? bilang sama dia Mira baru sadar dan mau ketemu." ucap Galuh dari seberang sana.
__ADS_1
" Bang Abi baru saja keluar." jawab Dita mulai gemetaran.
" Ohw jadi dia lagi dijalan, pantas ditelpon nggak diangkat, oke makasih." jawab Galuh memutuskan sambungan telponnya.
" Waalaikumsalam." jawab Dita gemetaran lagi. Tanpa terasa air matanya menetes.
"Apakah tandanya pernikahanku sudah berakhir." kata Dita dengan suara yang mulai melemah.
Dita menangis sekuat tenaga. Akhirnya ia menyadari bahwa cinta memang tidak bisa dipaksakan. Meskipun ia kaya dan dengan mudahnya mendapatkan Abian, tapi tidak dengan hatinya Abian. Dita tetap tidak ada tempat di hati Abian. Gadis biasa aja dan mandiri itu sudah memenuhi ruang hati Abian.
...****************...
Dirumah sakit ayah Mira, ibunya dan adik - adiknya menangis bahagia. Sudah hampir sebulan akhirnya mir bangun juga dari komanya. ketika baru bangun Mira lansung menanyakan keberadaan Abian.
" Abian mana Bu?" tanya Mira.
" Dia belum datang hari ini." jawab ayahnya bingung dengan sikap Mira yang masih menanyakan Abian.
" Biar ibu coba hubungi ya." kata ibunya dengan sedikit menangis.
Ibunya mencoba menghubungi Abian, lalu terdengarlah suara anaknya dari seberang sana.
" Halo, assalamualaikum."
"Kenapa Bu?" tanya anaknya.
" Mira Bi...Mira...." ucapannya terputus karena suasana yang heboh disana .
" Mira kenapa Bu." tanya anaknya lagi
" Kamu ngomong aja lansung sama Mira." jawab ibunya sambil memberikan Hp ketangan Mira.
" Halo, Assalamualaikum bang." sapa Mira sambil tersenyum. Namun tidak ada jawaban dari seberang sana.
" Halo bang." sapa Mira lagi. Namun juga hening.
" Kok bang Bian diam aja Bu." kata Mira mulai bersedih.
" Mungkin gangguan sinyal, sini ibu coba hubungi lagi." kata ibunya mencoba membujuknya.
Ibunya menelpon Abian berkali-kali namun tidak ada respon apapun dari Abian. Mira mulai menangis melihat Abian mengacuhkannya. Galuh yang kebetulan disana merasa tidak tega dan langsung menghubungi Dita.
__ADS_1
" Kata Dita Abian sudah keluar, mungkin bentar lagi dia sampai." kata Galuh mencoba membujuk Mira.
Mira mulai tersenyum lagi ketika mendengar penjelasan dari Galuh. Namun sudah dua jam menunggu Abian juga tidak kunjung datang kerumah sakit. Mira mulai menangis ketika orang yang ditunggu tidak juga datang.
" Bagaimana ini yah." tanya adik Mira Bernama Mita.
" Bujuklah Mira, sepertinya Abian tidak akan datang kesini." ucap ayah sedih mengingat kisah percintaan anaknya.
" Yah bukannya masih boleh ya jika anak tiri menikah dengan saudara tirinya." jawab adik Mira yang bernama Gio.
" Tapi Abian juga sudah menikah." jawab ayahnya.
" Bian tidak menyukai perempuan manja itu mas, dia masih menyayangi Mira " jawab ibunya
" Jika begitu tunggu apalagi yah, yang penting untuk kebahagiaan kak Mira yah." ucap Mira.
" Tapi bagaimanapun Abian itu satu ibu dengan kalian, gimana jadinya? kita harus bertanya kepada orang yang lebih ahli agama." kata ayahnya bijak.
" Secepatnya yah, jangan buat Mira lama menunggu, nanti Mira shock pula." kata Gio.
" Atau apakah kita bercerai aja yah?" tanya ibunya.
Pertanyaan ibunya membuat orang yang ada disana memandangnya dengan tajam. Ibu yang paham dengan maksud dari tatapan anak dan suaminya dengan cepat memberikan jawaban.
" Ini semua demi Mira mas." jawabnya mulai gugup.
" Demi Mira atau kamu?" tanya ayah Mira dengan nada sedikit tinggi.
" Kamu pikir pernikahan itu suatu candaan atau mainan." katanya lagi emosi.
" Jika Mira bersama Abian, maka tingkat kesembuhannya makin besar mas, lagian sekarang Abian sudah kaya raya, itu akan menyenangkan bagi kita semua." ucap ibunya mencoba menjelaskan.
" Kamu mau berpaling karena Faiz adalah keturunan Arkarna." kata ayahnya emosinya meningkat.
" Aku tidak akan kembali kepada Faiz, aku cukup bersama anakku Abian " jawab ibunya.
" Jadi ibu akan meninggalkan kami demi kekayaan Abian." kata Gio juga mulai emosi.
" Pantas Jika Abian sangat membenci ibu, ibu memang perempuan tua matre." kata Mita mulai mengingat sikap Abian kepadanya.
" Pergilah kemana yang kamu mau, saya tidak akan menahan kamu, silahkan pergi." ucap ayahnya Mira dengan sedikit emosi.
__ADS_1
Semua yang ada diruangan itu terdiam tanpa kecuali Galuh dan Mira.