
Selamat siang dok." ucap Alan berdiri dan bicara seformal mungkin dan mengulurkan tangannya.
" Siang." ucap Galuh menyambut uluran tangan Alan dengan wajah tidak bersahabat.
" Jika udah siap, mari pulang." ucap Galuh kepada Siska masih dengan wajah datar.
" Masih belum selesai." ucap Siska kepada suaminya.
" Kerjain dirumah apa nggak bisa?" bisik Galuh kepada Siska.
" Ya udah, Lo pulang aja, nanti biar gua selesaikan dan gua kirim ke elo." ucap Alan yang paham bahwa suami sahabatnya ini sedang cemburu.
" Makasih ya Lan, gua duluan." ucap Siska sambil membereskan laptop dan bukunya.
Siska berjalan dengan Galuh meninggalkan Alan yang masih duduk sambil tersenyum memandang mereka.
" Salah orang Lo, cemburu ma gua." gerutu Alan sambil melanjutkan tugasnya.
Alan sibuk mengerjakan tugasnya sampai ia lupa waktu. Setelah selesai, ia mengirimkan tugasnya kepada Siska karena ia tau Siska tidak akan melanjutkan tugasnya. Kenapa ia tidak mengirimkan kepada Feby karena ia tidak ingin memberikan harapan kepada gadis itu. Dan ia juga yakin Dion akan membantu gadis itu mendapatkan tugasnya.
Ditempat lain seseorang mondar-mandir di ruang tamunya. Dia adalah Muhammad Abian Alfaiz suami dari Dita Tiara Arkarna. Dia mondar-mandir sambil memegang telpon genggamnya.
" Udahlah mas, kita cari dokter lain aja, mungkin sahabatmu itu sibuk." ucap Dita mencoba meyakinkan suaminya.
" Tapi dia dokter yang aku percaya, dia rekomended sekali." ucap Abian juga meyakinkan istrinya.
" Apa kamu tidak cemburu jika perutku disentuh oleh sahabatmu yang notabenenya laki-laki." ucap Dita.
" Dia tidak akan macam-macam sayang, karena dia telah disumpah." ucap Abian lagi.
" Tapi aku risih mas, minta cariin aja yang perempuan ya mas." rengek Dita.
" Baiklah, aku akan coba bicarakan dengan Galuh." ucap Abian sambil mencoba menghubungi Galuh.
Belum sempat dijawab Galuh, Abian sudah melihat Galuh melangkah bersama Siska dan ada dua orang wanita dibelakangnya.
" Eh baru gua mau hubungi." Ucap Abian menyalami sahabatnya itu.
" Maaf lambat, tadi jemput Siska dulu ke kampus, Ini kenalkan dokter Dea, dan ini suster Diana." ucap Galuh memperkenalkan dua wanita yang dibawanya.
" Di dokter kandungan Luh?" tanya Abian.
" Iya, karena gua tidak pernah lagi memeriksa pasien secara lansung." ucap Galuh dengan tersenyum malu.
" Kenapa kau kuliah dokter kandungan?" tanya Abian.
" Itu udah terlanjur, tapi diagnosa gua yang bantu, apalagi sekarang gua juga sibuk ngurus rumah sakit." ucap Galuh.
" Walau bagaimanapun, kami tetap dipantau oleh dokter Galuh pak." ucap dokter Dea.
" Yok kita periksa, dimana kita periksa" tanya Galuh kepada sahabatnya.
Abian membawa Galuh dan timnya kekamar tamu dengan diikuti oleh Dita dan Siska.
__ADS_1
" Kapan ibu terakhir datang bulan Bu?" tanya dokter Dea.
" Saya lupa kapan dok." ucap Dita.
" Baiklah kita tes ya Bu." kata dokter Dea sambil mengeluarkan USG mini.
Suster Diana memberi gel diperut Dita sebelum menempelkan alat USG. USG mini lansung terkoneksi ke telpon genggam dokter Galuh. Dokter Dea dan perawat bertugas memeriksa kandungan Dita, sedangkan Galuh duduk agak jauh supaya tidak melihat perut Dita.
" Liat ini Bi." ucap Galuh menunjukkan hasil USG kepada Abian.
" Titik ini adalah calon anakmu, sekarang Dita sedang mengandung 8 Minggu." ucap Galuh.
" Benaran?" tanya Abian antusias kepada Galuh.
" Benar, apa Dita ada keluhan?" tanya Galuh kepada Abian.
" Nggak tau sih." jawab Abian.
" Ibu apakah punya keluhan?" tanya dokter Dea kepada Dita.
" Nggak ada dok, cuma saya makannya banyak aja." jawab Dita agak malu.
" Nggak apa-apa Bu, itu biasa, karena yang makan bukan hanya ibu aja, tapi juga ada bayi ibu." jawab dokter Dea dengan tersenyum.
Dokter Dea menyimpan semua peralatan kesehatan kedalam tas. Lalu berdiri dari ranjang Dita berjalan menuju tempat Galuh dan Abian.
" Udah dok?" tanya Galuh kepada dokter Dea yang baru duduk dikursi yang ada di kamar tersebut.
" Sudah dok, janin sehat tidak ada masalah." jawab dokter Dea.
" Biar saya aja yang ambil di apotik Luh." ucap Abian.
" Baik, kami permisi." ucap Galuh.
" Nggak main disini dulu, kayaknya Siska kangen sama Dita." ucap Abian.
" Iya, dah lama kita nggak jumpa." ucap Dita mendekat.
" Selamat ya." ucap Siska kepada Dita.
" Semoga cepat nyusul." ucap Dita membuat Siska terbatuk-batuk.
" eh kamu nggak apa-apa? yok kita kedapur cari minum." ajak Dita.
Dita dan Siska berjalan meninggalkan yang lainnya masih dikamar tamu. Yang lain juga berjalan menuju ruang tamu.
" Dok kami pamit duluan ya, apa ada yang kami bantu lagi?" tanya dokter Dea.
" Nggak ada, kalian boleh pulang karena ini jadwal libur kalian " ucap Galuh.
" Baik pak " ucap dokter Dea.
Dokter Dea dan suster Diana berpamitan untuk pulang. Abian menatap kearah dapur tapi tidak ada tanda-tanda istrinya keluar dari dapur.
__ADS_1
" Gimana hubungan kalian?" tanya Abian memulai dengan suara pelan.
" Baik, tapi gua rasa Lo nggak usah ikut campur masalah rumah tangga gua " ucap Galuh.
" Lo lupa gue sahabat Lo, dan Dita sahabat Siska, Lo nggak bisa berharap kepada Mira yang jelas tidak menerima Lo." ucap Abian dengan agak pelan.
" Kami sama-sama mencintai." ucap Galuh juga dengan nada kecil.
" Kamu tau, cinta kalian salah, makanya Mira meninggalkan kamu " ucap Abian.
" Kamu yang memaksa dia meninggalkan gua kan?" tanya Galuh dengan menekan katanya.
" Mira sudah besar dan dia sudah punya pikiran jika dia melakukan apa yang gua suruh, sekarang fokuslah sama Istrimu." nasehat Galuh.
" Apalagi kalian dikasih waktu satu tahun sama orang tua kalian, jika kamu tidak ada usaha, maka untuk apa menunggu satu tahun." ucap Abian lagi.
" Ah kamu dengan Siska sama saja." ucap Galuh jengkel.
" Sama dari segi mana?" tanya Abian.
" Ucapan kalian, bahkan Siska cuma kasih waktu dua Minggu." ucap Galuh menerangkan.
" Karen wanita butuh kepastian, dan wanita juga butuh ungkapan." ucap Abian.
" Ungkapan apa?" tanya Galuh.
" Kok Lo jadi bodoh kayak gini ya semenjak menikah, ini kamu sudah jatuh cinta sama Siska, kamu aja yang gengsi." ucap Abian.
" Ngarang Lo." ucap Galuh meninju bahu Abian dengan pelan.
" Ingat cepat katakan cinta padanya, dan peluk dia setiap pagi maka dia akan menyerahkan dirinya seutuhnya padamu." ucap Abian sambil tersenyum.
Abian dan Galuh lansung diam ketika melihat Siska dan Dita keluar dari dapur. Siska duduk disebelah Galuh sedangkan Dita duduk disebelah Abian.
" Ayo dimakan dan minum sajiannya." ucap Dita.
" Ini Dita yang buat loh." ucap Abian dengan bangga.
" Benaran ini Dit? kamu udah pandai masak kue?" tanya Siska.
" Gua les sis, jadi lumayan lah biar bisa menyenangkan perut suami." ucap Dita sedikit malu-malu.
" Kamu bisa belajar sis sama Dita, biar suami senang." ucap Abian tersenyum.
" Dia udah sibuk sama kuliah, aku bisa kok masak atau pesan." ucap Galuh membela istrinya.
" Tetap aja beda." ucap Abian mencoba memanasi sahabatnya.
" Iya nanti aku belajar." ucap Siska tersenyum kepada semua.
" Pulang kita lagi?" tanya Galuh dengan lembut.
Siska hanya mengangguk, sebenarnya Siska agak takut berada dalam satu ruangan dengan Galuh. Ia takut berada dalam satu kamar dengan Galuh tanpa kepastian.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan tuan rumah. Mereka melanjutkan perjalanan ke apartemen tempat mereka tinggal