Dia Lelakiku

Dia Lelakiku
BAB 40


__ADS_3

Mulai malam ini, kita akan tidur seranjang dan sekamar." ucap Galuh.


Siska lansung membekap mulutnya ketika kaget mendengar ucapan Galuh.


" Jadi malam ini mau tidur di kamarmu atau di kamarku, silahkan kamu putuskan sendiri, aku tunggu keputusannya malam ini." kata Galuh beranjak dari ranjang Siska sambil menenteng alat kesehatan yang dibawanya.


Galuh menghilang dari pintu kamar Siska. Siska masih diam terpaku dengan apa yang diucapkan Galuh barusan.


" Enak aja tidur denganku, sementara hatinya pada gadis lain, mana bisa." gerutu Siska lansung berdiri dan menutup pintu kamarnya.


" Kayaknya dikunci aja deh, nanti dia main masuk aja tanpa izin." gerutunya lagi sambil mengunci pintu kamarnya.


" Pokoknya aku tidak akan mau tidur jika dia belum menyukai aku, enak aja dia." gerutunya dengan kesal.


Siska mengambil Hpnya diatas nakas yang ada dikamarnya. Ia membuka salah satu aplikasi sosial. Setelah bosan, ia melihat jam. Ia bersiap - siap karena kuliah siang. Setelah selesai mandi dan selesai berpakaian rapi, ia melangkahkan kaki menuju kampus. Ia keluar dari kamar dan mendapati Galuh duduk di sofa nonton.


" Aku mau kuliah" pamit nya kepada Galuh sambil berjalan.


" Aku antar." ucap Galuh.


" Nggak usah bang, aku bawa mobil sendiri aja." ucap Siska.


" Udah, biar aku antar mumpung lagi libur." ucap Galuh tanpa mau dibantah.


Galuh menarik tangan Siska menuju basemen apartemennya. Mereka menaiki mobil hitam merek BMW M5. Mereka hanya diam sepanjang perjalanan. Siska hanya memandang jalanan disebelah kacanya. Sedang Galuh bingung harus memulai bicara darimana. Lalu tidak terasa merek sudah sampai di kampus Siska. Siska mau turun dari mobil tetapi tidak jadi karena tangannya ditahan oleh Galuh.


" Kenapa lagi?" tanya Siska agak sedikit manyun.


" Salam dulu sebelum keluar." kata Galuh mengulurkan tangannya.


Siska menyambut uluran tangan Galuh lalu mengecup punggung tangan Galuh. Lalu Galuh mengecup kening Siska. Wajah Siska memerah karena malu ketika dikecup Galuh. Hatinya berdetak kencang tidak karuan. Siska bergegas keluar sebelum Galuh mengetahui wajah merahnya. Galuh tersenyum melihat wajah merah Siska. Apalagi ketika Siska dengan cepat keluar dari mobilnya. Galuh melajukan mobilnya meninggalkan kampus Siska.


" Diantar suami, cie cie." ucap Feby yang menghampiri Siska.


" Biasa ajalah." kata Siska meninggalkan Feby.


" Eh barengan dong." ucap Feby mengejar Siska.


Mereka sudah sampai dikelas dan lansung duduk dikursi nomor dua dari depan. Mereka duduk bersebelahan dan didepan Siska ada Alan dan di depan Feby ada Dion.

__ADS_1


" Bu Melin tidak datang, katanya tadi ada urusan mendadak, ada tugas dari beliau nanti say kirimkan di group dan kirim ke Bu Melin ya." ucap ketua kelas atau dikenal juga dengan sipen.


" Wah, kok nggak ada kabar ya sebelumnya, padahal hari ini cuma kuliah beliau satu - satunya." ucap Dion agak kesal.


" Namanya juga urusan mendadak." ucap Feby.


" Aku pulang dululah, ada yang mau aku kerjakan." ucap Dion berdiri.


" Gua juga mau pulang, mau tidur ah, Dion bikinin tugas gua sekalian ya." ucap Feby sambil tersenyum.


" Aku sibuk, usaha sendiri." ucap Dion meninggalkan teman - temannya.


" Dasar si pelit, Lan bikinin tugas gua ya." ucap Feby mencoba merayu Alan.


" Gua nunggu tugas dari kamu aja" ucap Alan senyum mengejek.


" Kenapa sih kalian mulai pelit sekarang, udah mau lulus makin pelit aja." ucap Feby meninggalkan teman - temannya.


" Kebiasaan teman cewek nih sama aja semua, menggantungkan nasib perkuliahan sama teman cowok." ledek Alan kepada Siska.


" Gimana jika kita ngobrol-ngobrol sambil ngerjain tugas di cafe biasa." ajak Siska kepada Alan.


Siska mengikuti langkah Alan dari belakang. Ia malas untuk pulang ke apartemen karena ia yakin Galuh ada disana. Mereka naik ke mobil Alan untuk menuju kafe yang tidak jauh dari kampusnya. Merek duduk dimeja yang agak ditengah sehingga bisa terlihat dari luar. Seorang pelayan datang menghampiri mereka.


" Saya pesan hot choco late sama Nutella banana toast, kamu apa lan?" tanya Siska.


" Saya pesan Kwetiau seafood dan lemon tea." ucap Alan sambil tersenyum kepada pelayanannya.


" Nggak usah tebar pesona." kata Siska setelah pelayan meninggalkan mereka.


" Gua emang nggak tebar pesona, tapi memang mereka mengakui pesona gua." ucap Alan sambil tersenyum.


" Tapi emang iya sih, buktinya teman kita kesemsem sama Lo." ucap Siska tersenyum.


" Teman yang mana lagi? Dita udah nolak gua." ucap Alan jadi sendu.


" Kenapa harus Dita, kan ada Feby." ucap Siska.


" Gua nggak bisa terima Feby." ucap Alan.

__ADS_1


" Apa semua cowok sama ya, tidak mau memberikan kesempatan dulu, selalu mengejar apa yang di inginkan." ucap Siska.


" Mau curhat neng." ucap Alan sambil tertawa ngakak.


" Jangan ketawa lo." ucap Siska manyun.


" Tapi gua nggak lah sama Feby, gimana ceritanya gua bersaing dengan Dion." ucap Alan tersenyum lagi.


" Maksud Lo?" tanya Siska.


" Dion udah lama suka sama Feby, tapi dia ragu karena Feby suka sama gua, ditambah lagi Dion pesimis karena dia merasa tidak berasal dari kalangan orang kaya." ucap Alan.


" Sejak kapan Lo tau?" tanya Siska.


" Sejak semester awal dia udah suka, cuma dia tidak yakin aja pada dirinya sendiri, sekarang dia sedang berjuang memperbaiki nasibnya." ucap Alan.


" Kenapa gua nggak tau ya, Dion emang mandiri anaknya, dia punya kemauan tinggi, gua yakin dia bisa sukses karena diantara kita dia yang pintar." ucap Siska sambil tertawa.


Alan juga ikut tertawa karena ucapan Siska benar adanya. Dion memang yang paling gigih diantara mereka semua. Pesanan mereka sudah datang, mereka makan sambil bahas tugas kuliah dan membicarakan diri mereka sendiri. Dan kadang mereka sambil tertawa terbahak-bahak. Semua pengunjung mengira mereka pasangan yang sedang kuliah bareng dan nugas bareng.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata memperhatikan mereka. Mereka tidak sadar bahwa ada yang memfoto mereka dari meja lain. Dia yang tidak lain adalah Bella adiknya Galuh. Dia kesal dengan Siska yang tertawa dengan lelaki lain dengan leluasanya. Ia juga kesal melihat lelaki yang bersama kakak iparnya. Ia mengenal lelaki yang bersama dengan kakak iparnya itu.


Bella mengirimkan foto Siska dan Alan kepada kakaknya. Ia ingin melihat seperti apa reaksi kakaknya Galuh.


" Dari foto ini akan tau siapa yang kau cintai bang." ucap Bella dengan pelan sambil tersenyum sendiri.


Lalu sesuai dengan prediksi Bella, ia melihat Galuh berjalan dengan tergopoh-gopoh menuju kafe. Bella mengambil buku dan pura - pura membaca. Dia ingin tau cerita berikutnya antara kakaknya dengan kakak iparnya.


" Kau tidak akan lepas dari kakak ipar bang." ucap Bella tersenyum dibalik bukunya.


Siska yang melihat Galuh berjalan menuju mejanya dan Alan menjadi panik.


" Mati gua, dia tau darimana gua ada disini." gerutunya dengan wajah agak sedikit pucat.


" Kenapa?" tanya Alan menoleh kebelakang dan dia menemukan Galuh berjalan mendekati mereka.


" Selamat siang dok." ucap Alan berdiri dan bicara seformal mungkin dan mengulurkan tangannya.


" Siang." ucap Galuh menyambut uluran tangan Alan dengan wajah tidak bersahabat.

__ADS_1


" Jika udah siap, mari pulang." ucap Galuh kepada Siska masih dengan wajah datar.


__ADS_2