
Dita sudah lama tidak jumpa dengan teman-teman kuliahnya. Semenjak cuti kuliah dan kerja di Arkarna Kontruksi, dia sudah tidak sempat untuk sekedar ngumpul dengan teman-temannya.
Siang ini Dita sudah di kafe tempat mereka biasa berkumpul. Dita, Alan, Dion sudah ditempat namu Siska belum datang juga. Feby mencoba menghubungi Siska.
" Gimana by?" tanya Dita kepada Feby.
" Siska belum bisa datang, katanya dia lagi ada keperluan." ucap Feby.
" Ah sayang sekali ya, padahal kita jarang ngumpul." ucap Dita dengan agak sedih.
" Kapan kamu mulai kuliah lagi? tanya Dion.
" Semester depan udah masuk lagi " jawab Dita.
" Gimana kamu membagi waktu nanti jika udah mulai kuliah?" tanya Alan.
" Guru coba sebisa mungkin" jawab Dita juga masih bingung.
" Udah biar aja suamimu yang ngurus perusahaan dulu sampai kamu tamat." ucap Feby.
" Lagian dia juga keturunan Arkarna." ucap Dion.
" Tapi Arkarna Kontruksi adalah perusahaan papa sendiri, aku ingin mengurus dengan tangan sendiri." jawab Dita.
" Sejak kapan kamu mau, dulu bahkan cita - citamu hanya sebagai ibu rumah tangga." ucap Dion lagi.
" Mungkin sekarang berubah." jawab Dita tertawa mengingat cita - citanya sendiri.
" Kamu belum isi?" tanya Feby.
" Sudah, tadi pagi isi nasi." jawab Dita tau maksud ucapan sahabatnya.
" Kalian belum gituan gitu setelah berapa bulan nikah? " tanya Feby.
" Kamu udah macam Siska aja, kepo." kata Alan menatap Feby.
" Dit gimana rasanya menikah dengan pria dingin seperti itu?" tanya Feby lagi.
" Abian tidaklah dingin dirumah, dia hangat sama istrinya, bahkan orangnya pencemburu." kata Dita tersenyum mengingat suaminya.
" Artinya dia sangat menyayangi kamu Dit." Kata Dion ikut bahagia mendengar cerita temannya.
Tidak lama kemudian datanglah makanan yang mereka pesan. Mereka mulai memakan pesanan mereka.
" Eh nanti kita kerumah Siska yok, dah kangen aku sama dia." ajak Dita kepada teman-temannya.
" Ah kami mah hampir tiap hari." jawab Feby.
" Katanya dia tadi keluar, nanti percuma kesana." kata Alan.
" Betul itu." sahut Dion.
" Kita bisa menunggu sebentar mungkin." kata Dita.
" Seandainya dia pulang malam gumana?" tanya Dion.
__ADS_1
" Memang suamimu nggak marah nanti?" tanya Feby.
" Amanlah dia." kata Dita.
" Kamu benaran bahagia Dita?" tanya Alan yang masih curiga dengan pernikahan temannya.
" Yupz, aku bahagia lan." ucap Dita tersenyum.
" Saran Dit, kamu udah menikah jadi jangan banyak habiskan waktu diluar, temani suami dirumah." nasehat Dion.
" Kamu nggak suka aku bersama kalian?" tanya Dita.
" Bukan gitu, status kita sudah berbeda, bagaimana pun kamu istri orang, dan kamu wajib memprioritaskan suami kamu yang notabenenya punya hak atas diri kamu." kata Dion.
" Kan Dita juga sekali - kali ngumpul bareng kita Yon, pasti ngerti lah suaminya." ucap Feby kepada Dion.
" Tetap aja, istri juga harus mengerti dimana posisinya, jangan sampai suami cari angin segar diluar sana." ucap Dion tersenyum kepada teman - temannya.
" Emang kayak gitu ya lan pemikiran laki - laki?" tanya Feby kepada Alan.
Dion menatap Feby yang bertanya kepada Alan. Hatinya terasa seperti dicubit. Gadis itu lebih mendengarkannya jawaban Alan ketimbang dirinya.
" Yah pada dasarnya laki - laki sama, mereka ingin miliknya dalam jangkauan mereka, dan kewajiban istri yaitu patuh pada suami." jawab Alan.
" Aku nanti akan jadi istri yang seperti itulah, ngomong - ngomong kamu ada masakin Abian?" tanya Feby.
Dita hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak pernah mengurus keperluan Abian. Bahkan ia bangun lebih lambat dari Abian.
" Belajarlah jadi istri yang baik, mulai dari yang kecil dulu, urus pakaiannya, menyediakan makanan suami wajib loh." nasehat Dion seperti seorang ayah.
" Masak memang bukan kewajiban istri, tapi menyediakan makanan adalah kewajiban istri." ucap Dion.
" Jika mau menyediakan makanan tapi belum masak, makanan apa yang disediakan?" tanya Feby kepada Dion.
" Kamu bisa minta tolong asisten rumah tangga yang memasak atau cukup order." ucap Dion tersenyum penuh arti kepada Feby.
" Beruntung kali wanita yang dapat kamu Yon sebagai suami." ucap Dita sambil mengedipkan mata kepada Dion.
" Jika ada yang nolak Dion, rugilah wanita itu." kata Alan tersenyum kearah Dita.
Alan tau jika Dion sangat menyukai sahabatnya Feby. Namun ia juga tau bahwa Feby juga ada rasa kepadanya. Namun Alan belum bisa move on dari Dita sepenuhnya.
" Ah bisa aja kalian." ucap Dion malu.
" Makasih ya atas nasehat kalian semua, semoga persahabatan kita sampai tua." ucap Dita.
Tiba-tiba Hp Dita berbunyi, disana tertera nama suaminya.
" Halo, assalamualaikum mas." ucap Dita dengan lembut.
"Waalaikumsalam, Masih lama sayang? mas udah didepan." ucap lelaki diseberang sana.
" Baik mas, ini udah siap." ucap Dita.
" Ya udah mas tunggu ya, assalamualaikum." ucap suaminya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam." ucap Dita sambil tersenyum bahagia.
" Cie cie yang sudah panggil MAS." kata Feby tertawa mengejek.
" Ah kamu bisanya mengejek aja kayak Siska." ucap Dita.
" Nggak sabar juga panggil mas." ucap Feby.
" Nih ada Dion, panggil aja mas." jawab Alan tertawa.
" Kenapa harus ke Dion, kan kita seumur." jawab Feby dengan muka dingin.
" Alan mengada - ada dia tuh." ucap Dion mencoba mencairkan suasana. Dia tahu Feby tidak suka dengan ucapan Alan.
" Aku pamit dulu ya gaes" ucap Dita kepada teman-temannya.
Dia berjalan keluar dari Kafe menuju mobil milik Abian. Abian tersenyum ketika istrinya masuk kedalam mobil.
" Mas udah makan?" tanya Dita yang baru duduk di mobil.
" Udah, tadi makan siang sama klien." ucap Abian tersenyum. Abian menggulirkan tangannya kepada Dita.
" Assalamualaikum cinta." ucap Abian tersenyum.
" Waalaikumsalam juga cinta." jawab Dita sambil menyambut uluran tangan Abian.
Dita mencium punggung tangan suaminya dan setelah itu Abian mencium kening Dita. Lalu ciumannya turun ke bibirnya Dita.
" Manis." ucap Abian dengan lembut.
Dita memerah ketika Abian menatapnya setelah mencium bibirnya.
" Kok pipinya merah gitu sayang? mau nambah lagi ya?" tanya Abian tersenyum menggoda istrinya.
" Mana ada, ayo jalan." ucap Dita mencoba mengalihkan pandangannya.
Abian lansung menancap gas mobilnya. Abian lansung menuju tempat yang ia tuju.
" Kita kemana mas?" tanya Dita.
" Kita ke butik, kamu temani mas sore ke pesta temannya mas." ucap Abian.
" Kok dari pagi nggak ngabarin?" tanya Dita.
" Dia sengaja nggak ngundang mas, tapi tadi mamanya kasih tau." ucap Abian tersenyum ketika dia mengingat ekspresi sahabatnya ketika melihatnya.
" Siapa yang menikah mas? kok kesannya dia mau menutupi dari kamu." tanya Dita menatap suaminya yang fokus menyetir.
" Galuh, nanti kamu bakal juga terkejut siapa mempelainya." ucap Abian.
" Emang siapa mas?" tanya Dita penasaran.
" Liat aja nanti." kata Abian masih merahasiakan mempelai wanitanya kepada istrinya.
" Iss pakai rahasia segala." ucap Dita ngambek.
__ADS_1
Abian tersenyum melihat sikap istrinya yang manja. Namun ia tetap tidak memberi tau istrinya.