
Dua Minggu
Dita nampak sibuk menyiapkan sarapan paginya. Ia pagi ini membuat sandwich tuna kesukaan Abian. Dan menu yang juga tidak ketinggalan adalah nasi goreng. Abian dari kecil sudah biasa dengan sarapan nasi goreng. Jadi setiap pagi harus ada nasi goreng di meja makan.
Abian turun dari lantai dua menuju meja makan dengan pakaian rapi. Ia tampak gagah dengan kemeja putih di balut dengan setelan blazer hitam.
Abian duduk dimeja makan dengan tersenyum melihat perubahan istri manjanya.
" Hmmmm kayaknya enak sayang." Abian memakan sandwich sambil menunggu Dita mengambilkan nasi untuknya.
" Segini cukup mas?" tanya Dita ketika mengambil nasi goreng untuk suaminya.
" Udah sayang." jawab Abian.
" Enak nggak mas?" tanya Dita.
" Enak banget sayang, ini kayak rasa buatan chef aja." puji Abian.
" Bohong aja." cibir Dita karena tau suaminya berlebihan dalam memuji sarapan buatannya.
" Benaran sayang, nanti siang sudah ada yang gantiin kamu, kamu udah boleh nggak kerja." ujar Abian.
" Siapa mas?" tanya Dita.
" Ada kemaren terpilih seleksi, jadi kita percayakan pengelolaan Arkarna Kontruksi ke dia, kan masih dalam pantauan mas." ucap Abian.
" Ya mas, nanti Dita mau fokus les masak aja." jawab Dita yang memang sudah memulai kes memasak.
" Kamu makannya banyak kali beberapa hari ini." ucap Abian heran melihat porsi makan istrinya lebih banyak dari biasanya.
" Nggak tau mas, aku gendut ya mas sekarang." ucap Dita sambil menambah nasi goreng kedalam piringnya.
" Ini udah 2 piring loh, dan sandwich udah habis juga 2." ucap Abian tertawa.
" Mas ketawain dita gendut kan." ucap Dita dengan sebal.
" Kamu makin seksi kok low berisi kayak gini " ucap Abian masih tertawa.
" Nggak tau ah, badan ini kok melar kayak gini, mana Dita nggak bisa nahan selera lagi." ucap Dita.
" Kamu hamil nggak yang?" tanya Abian mulai mencoba mengingat sesuatu.
" Masa iya, mas kenapa berpikir begitu?" tanya balik Dita.
" Kayaknya bukan ini kamu nggak ada datang bulan deh." ucap Abian meyakinkan ingatannya.
" Masa iya? mungkin terlambat." ucap Dita.
" Kita itu tiap malam gituan loh, jadi mas ingat kamu datang bulan apa nggak." ucap Abian.
__ADS_1
" Iya ya, ah yang gituan kamu ingat." ucap Dita menggoda Abian.
" Kamu jangan memancing ya, nanti nggak bisa keluar kamar kamu mas buat." ucap Abian tersenyum jahil.
" Emang mas nggak kerja?" tanya Dita.
" Biar aja Deny yang urus disana sementara." ucap Abian menggoda balik.
" Mau mu mas, nantilah mas Dita beli tespek mas." ucap Dita.
" Mungkin kita ada baiknya ke dokter kandungan." ucap Abian.
" Dita nggak mau ke Galuh ya mas." ucap Dita manyun.
" Kenapa? dia dokter bagus loh disini." ucap Abian.
" Nggak mau, dia penjahat wanita." ucap Dita.
" Hey, masih aja marah sama dia, Galuh nggak salah, jika nggak ada cinta mau bagaimana lagi." ucap Abian.
" Tapi Galuh bisa belajar mencintai mas dengan perlahan kayak mas ke Dita." ucap Dita nggak mau kalah.
" Mas beda sayang." ucap Abian dengan lembut.
" Apa bedanya, kita sama - sama nikah terpaksa." ucap Dita.
" Kamu terlalu mengejar mas, sementara Siska ogah-ogahan, trus mas juga ada rasa sedikit sama kamu dulu waktu kecil." ucap Abian tersenyum mengingat pertemuan pendek mereka waktu kecil.
" Iya, kita pernah beberapa tahun di SD yang sama, aku tau kamu, aku selalu memperhatikan kamu waktu masih gembul." ucap Abian tersenyum.
" Ah ngejek ini." ucap Dita mencubit tangan suaminya.
" Benaran, kamu seksi waktu gembul." ucap Abian mencoba menahan sakit cubitan Dita.
" Coba sekarang gembul, pasti mas lari." ucap Dita tersenyum.
" Nggak sayang, kamu makin seksi, ini mau gembul lagi nih " ucap Abian mencubit pipi Dita.
" Kenapa mas menghilang keesokan harinya setelah menolong Dita dulu?" tanya Dita penasaran.
" Sewaktu menolong kamu itu hari mas disekolah itu, ayah tidak sanggup bayar yang sekolah disitu, jadi mas pindah sekolah." ucap Abian mengingat kembali masa kecilnya.
" Pantesan mas dicari - cari sudah tidak ketemu." ucap Dita nampak berpikir lagi.
" Tapi Siska juga sangat mencintai Galuh loh mas." ucap Dita lagi.
" Iya, dia setengah hati, masih malu mengakui Galuh sebagai suaminya." ucap Abian mengingat percakapannya dengan Galuh.
" Mira sekarang gimana mas?" tanya Dita.
__ADS_1
" Mira baik, biarlah dia disana menenangkan diri, jika dia sudah pergi dan masih berjodoh dengan Galuh, kamu tidak boleh marah lagi, mas sudah sembunyikan dia dari Galuh." ucap Abian mengingat bagaimana dia menyuruh Mira keluar negeri untuk Julian beberapa hari yang lalu.
" Yah terserahlah mas, jika udah usaha berjauhan dan ternyata mereka berjodoh, nggak tau lagi mau gimana, semoga mereka menemukan jalan hidupnya masing-masing." ucap Dita.
" Yupz, bagaimanapun Mira adalah bagian keluarga kita, jadi kamu jangan terlalu cemburu lagi sama dia." ucap Galuh menasehati.
" Iya mas, Dita juga malu sama Mira karena sikap Dita waktu itu sama dia." ucap Dita sendu ketika mengingat kesalahannya kepada Mira.
" Ya udah, mas mau kekantor dulu." pamit Abian kepada Dita.
Dita mengecup punggung tangan Abian lalu Abian mencium Kening Dita dan turun ke bibir. Dia hanya mengecup bibir Dita sekilas. Abian meninggalkan Dita didepan pintu rumah.
...****************...
Ditempat lain Galuh uring-uringan ketika masih tidak menemukan keberadaan Mira. Ia menarik curiga kepada sahabatnya bahwa semua ada campur tangan Abian. Namun sampai sekarang Abian seolah tidak bersalah. Galuh tidak menemukan bukti bahwa Abian yang menyembunyikan keberadaan Mira.
Galuh tidak berangkat kerumah sakit hari ini karena libur. Siska keluar dari kamarnya dengan baju kaos dan celana pendek. Ia nampak baru bangun tidur. Semenjak menjemput Siska dari rumahnya Galuh berjanji tidak akan terlalu cuek lagi dengan Siska. Namun Galuh juga tidak bisa berbohong bahwa hatinya masih ada Mira.
" Mau sarapan?" tanya Galuh menatap Siska berjalan kemeja makan.
" Iya, lapar." ucap Siska duduk dimeja makan sebelah kursi tamu.
" Tunggu sebentar, aku order dulu." ucap Galuh sibuk dengan Hpnya.
" Sesekali kamu yang masak gimana bang." ucap Siska tersenyum dari meja makan.
" Oke, tapi cuma sarapan roti bakar, mau?" tanya Galuh.
" Boleh juga." ucap Siska kesenangan.
Galuh meletakkan hpnya dimeja kursi sofa lalu berjalan menuju dapur. Antara kursi tamu, meja makan dan dapurnya berada di dalam satu ruang tanpa sekat. Galuh sibuk membakar roti sedangkan Siska hanya duduk menonton Galuh. Galuh menghidangkan roti yang sudah dibakar memakai pemanggang roti listrik.
" Tugas kamu bikin teh." ucap Galuh.
" Nggak kopi susu bang, biasa abang minum kopi susu." ucap Siska.
" Nggak setiap hari juga, kadang abang selang selling juga, kadang cuma minum air putih aja malah." ucap Galuh menerangkan kebiasaan paginya.
Dita membuat dua cangkir teh untuk Galuh dan dirinya. Ia memang tidak pernah mengerjakan pekerjaan dapur tapi masih bisa jika untuk membuat secangkir teh dan semangkok mie instan.
" Tara, udah siap bang." ucap Siska meletakkan teh buatannya dimeja makan ukuran minimalis.
" Enak juga teh kamu." ucap Galuh setelah menyesap teh buatan Siska.
" Roti abang juga enak." ucap Siska memuji buatan Galuh.
" Tinggal masuin doang." ucap Galuh terkekeh.
" Semua enak jika berasal dari tangan kamu bang." ucap Siska tersenyum.
__ADS_1
Tiba-tiba Hp Galuh berbunyi di meja kursi sofa. Galuh berjalan mengambil Hpnya. Mukanya menegang ketika melihat siapa yang menelepon. Ia mengambil Hpnya lalu berjalan meninggalkan Siska menuju kamarnya.