
Malam harinya orang tua Galuh datang kerumah Siska. Siska kaget melihat kedatangan kedua orangtuanya Galuh. Ia nampak pucat karena tadi tidak menjelaskan ucapannya kepada orang tua Galuh. Ia memang ingin memiliki Galuh tapi bukan dengan cara begini.
" Mati gua, apa yang bokap lakuin low mereka tau gua hamil." gerutu Siska pelan.
Orang tua Galuh beserta Galuh sudah duduk diruang tamu Siska. Galuh memandang Siska dengan tatapan tajam. Galuh orangnya humble tapi karena menyangkut masa depannya ia terpaksa memasang wajah dingin.
" Silahkan diminum." tawar mama Siska sambil tersenyum.
Mama dan papa Galuh meminum teh yang disajikan tuan rumah.
" Kenalkan saya Hendra dan ini istri saja Hesti, maaf dengan bapak siapa?" tanya papanya Galuh.
" Saya Edi dan istri saya Wina, apa maksud bapak kesini?" tanya papa Siska.
" Emang anak bapak tidak menyampaikan sebelumnya tentang kedatangan kami?" tanya papa Galuh.
" Tidak ada, Siska kamu lupa ya?" tanya papanya ke Siska.
" Maaf pa, mungkin sebelumnya Siska minta maaf" ucap Siska menundukkan kepalanya.
" Nggak apa-apa, mungkin Siska lupa." ucap mama Galuh tersenyum.
" Jadi apa ini maksud kedatangan bapak dan ibu?" tanya papa Siska .
" Kami datang kesini untuk melamar anak bapak dan ibu, dan sebaiknya Menurut kami pernikahan dilakukan secepatnya mengingat ada anak diantara mereka." ucap papa Galuh.
" Maksudnya apa ini?" papa Siska mulai emosi.
" Maafkan anak saya, anak saya akan bertanggung jawab." ucap papa Galuh.
" Maaf boleh saya bicara?" tanya Galuh.
" Kamu diam aja." kata papa Galuh.
Galuh berusaha memberi kode kepada perempuan yang duduk di seberangnya. Tapi perempuan itu masih menundukkan kepalanya.
" Ini ada apa sebenarnya?" tanya papa Siska yang masih belum mengerti situasi saat ini.
" Anak bapak hamil sama anak saya." ucap papa Galuh dengan hati - Hati.
" Mohon maaf semua, ini ada kesalahpahaman." ucap Siska dengan takut - takut.
" Kamu nggak usah takut Siska, Galuh akan bertanggung jawab." ucap mama Galuh lembut.
" Siska benar kamu hamil?" tanya papanya dengan emosi.
" Maafkan Siska pa, ini salah paham." jawabnya ketakutan.
" Salah paham apa, benar kamu hamil?" Ayahnya lansung dengan nada tinggi.
" Enggak pa, Siska nggak hamil, ini salah paham." jawab Siska ketakutan.
" Kamu jujur sama papa." ucap papanya Siska.
__ADS_1
" Kamu nggak usah menutupi lagi nak, nanti makin lama perutmu makin besar." ucap mama Galuh.
" Benar kamu hamil nak?" tanya mama Siska dengan lembut. Ia begitu kaget mendengar penuturan tamunya malam ini.
" Nggak ma, maaf Tante, om tadi salah paham." ucap Siska sambil menunduk. Ia baru menyadari kesalahannya yang asal bicara malah jadi boomerang bagi dirinya sendiri.
" Salah paham bagaimana? kamu ngomong yang jelas." kata papanya masih dengan nada tinggi.
" Sebelumnya saya mohon maaf kepada om dan Tante." ucap Siska memandang papa dan mama Galuh lalu beralih ke Galuh yang hanya diam saja.
" Saya tidak hamil, tadi dirumah sakit saya hanya asal bicara sama Galuh." ucap Siska lagi.
" Kamu yakin dengan ucapan kamu? apa Galuh mengancam kamu?" tanya mamanya Galuh.
" Ma, masa mama tidak mengenal anak mama." ucap Galuh mulai bersuara.
" Kamu diam dulu Galuh, silahkan teruskan Siska." ucap papa Galuh.
" Saya hanya bercanda om waktu dirumah sakit, om boleh bawa saya ke dokter kandungan jika tidak percaya." ucap Siska lagi.
" jadi benar kamu tidak hamil?" tanya mama Galuh.
Siska hanya mengangguk lalu menundukkan kepalanya. Ia merasa malu pada keluarga Galuh.
" Haduh belum apa-apa sudah memalukan didepan calon mertua" gumam Siska dalam hatinya.
" Jadi kamu benar tidak hamil nak?" tanya papa nya Suka mulai melunak.
" Nggak pa, papa periksa aja sama dia jika nggak percaya." tunjuk Siska kepada Galuh.
" hmhm." jawab Siska hanya mendehem.
" Nggak usah, papa lebih percaya anak papa daripada dia." ucap papa Siska membuat Galuh makin gondok.
" Siapa juga yang mau om percaya saya." gumamnya dalam hati.
" Ok begini saja, karena kami sudah datang kesini maka niat kami melamar anak bapak tidak berubah." kata papa Galuh.
" Itu bagus, mungkin dengan begini jalannya." ucap papa Siska.
" Tapi pa..." kata Siska terputus.
" Saya setuju pak Hendra, karena mereka sudah mengenal mungkin lebih cepat lebih baik." ucap papanya Siska.
" Pa Siska masih kuliah." kata Siska memohon. Dia memang suka Galuh tapi dia tidak ingin menikah sekarang.
" Banyak kok yang kuliah udah nikah." ucap mama Siska.
" Jadi apakah lamaran kami diterima pak?" tanya papa Galuh.
" Ya, saya setuju sekali, biar ada yang jagain anak saya, saya agak takut dengan pergaulan anak zaman sekarang." ucap papa Siska.
" Ok, kira - kira kapan untuk acara pernikahannya pak?" tanya papa Galuh.
__ADS_1
" Saya maunya secepatnya, jika bisa Minggu depan " jawab papa Siska dengan yakin.
" Yang benar aja pa."ucap siska dengan wajah menegang.
" Pa, nggak bisa begitu, papa nggak bisa seperti ini, kami tidak saling menyukai " kata Galuh yang tadi banyak diam.
" Awalnya belum mencintai, tapi nanti dengan seiringnya waktu kalian pasti akan saling mencintai, bukan begitu pak Edi." ucap papa Galuh.
" Ya betul dr 6qsekali,dulu saya dengan istri juga dijodohkan, sekarang kami masih bersama dan tentunya saling mencintai." ucap papa Siska.
" Pa, Siska masih pingin bebas." ucap Siska.
" Wanita seumur kamu sudah cocok menikah jika sudah ada jodohnya." jawab mama Siska.
" Oke, nnti biar wedding organizer istri saya yang urus semua keperluan menikah mulai dari baju sampai makanan biar lebih gampang." ucap papa Siska.
" Eh mamanya punya usaha W.O nya, boleh tu, biar nggak cari - cari lagi." ucap mama Galuh.
" Mohon maaf boleh kami ngobrol berdua?" tanya Galuh kepada orang tua mereka yang hadir disitu.
" Silahkan." kata papa Siska berbarengan dengan papanya Galuh.
Siska dan Galuh berjalan ke taman belakang rumahnya Siska. Di taman ada kursi - kursi yang ditata untuk tempat santai. Disebelah kanan taman terdapat sebuah kolam renang. Siska duduk di kursi taman sedangkan Galuh hanya berdiri.
" Jadi ini gimana?' tanya Siska agak panik.
" Ini yang kamu mau kan?" tanya Galuh dengan wajah datar.
" Mana tau bakalan begini." ucap Siska tidak mau disalahkan sendiri.
" Coba dari tadi siang kamu jujur pasti nggak akan begini." ucap Galuh kesal sama gadis didepannya.
" Coba aja kamu bisa untuk meyakinkan orang buta kamu, dan kamu bisa menghalangi mereka kerumah saya pasti juga nggak akan begini." kata Siska tidak mau kalah.
" Jadi kamu menyalahkan saya." kata Galuh menatap tajam Siska.
" Ya sama - sama dong, seenaknya cuma nyalahin orang." jawab Siska tidak terima disalahkan sendiri.
" Ya udah jadi gimana?" tanya Galuh kepada Siska.
" Kita kabur aja gimana?" tanya Siska kepada Galuh.
" Ide kamu nggak ada yang lebih bagus lagi, itu akan buat orang tua kita malu." jawab Galuh nampak makin kesal.
" Trus gimana dong, gua nggak mau nikah kontrak ya kayak Dita sama Abian." ucap Siska.
" Ah mereka ujung - ujungnya suka sama suka juga " ucap Galuh merinding jika nasibnya sama dengan Abian.
" Jadi gimana dong? kok kita gosip pula." ucap Siska.
" Ya udah, kita coba aja dulu nikah, Nanti jika tidak cocok kita cerai aja." ucap Galuh.
" Tapi ini pernikahan loh masa buat main - main." ucap Siska kurang setuju.
__ADS_1
" kita tidak ada pilihan lain, gua juga masih mencintai perempuan lain " ucap Galuh menatap langit sambil membayangkan wanita yang dicintainya.
" Ah terserah Lo, pokoknya gua masih pingin hidup bebas." jawab Siska agak sedikit sakit hati. Laki - laki yang akan menjadi suaminya terang - terangan mengaku mencintai wanita lain. Jauh didalam hatinya ia merasakan sakit hati.