
Mira sudah duduk di kafe yang dijanjikan oleh Abian. Dia sangat gembira akhirnya dia bertemu juga dengan Abian. Setelah sekian lama Abian menghindar dari dirinya akhirnya mau bertemu lagi. Mira juga masi tidak tau penyebab Abian menghindarinya. Abian tampak muncul memakai baju kemeja putih dengan paduan jas biru Dongker. Dia nampak makin gagah setelah berapa lama tidak bertemu. Abian menghampiri Mira yang sudah duduk dimeja paling ujung. Mira tersenyum manis ditujukan ke Abian.
" Akhirnya kamu mau juga menemui ku." ucap Mira.
" Udah pesan makan?" tanya Abian.
Mira menggeleng tanda belum memesan apapun.Abian melambaikan tangannya ke arah pelayan. Pelayanan wanita datang dengan membawa menu ditangannya. Abian melihat menu yang ada didepannya.
" Saya nasi goreng sama jus alpukat, kamu pesan apa bang?" tanya Mira.
" Aku nasi pecel Benhil sama capuccino dan air mineral."ucap Abian. Pelayan mencatat apa yang mereka pesan.
" Saya ulangi nasi goreng satu, jus alpukat satu, nasi ayam Benhil satu, capuccino satu dan air mineral satu." ulang pelayan tersebut.
Pelayanan meninggalkan meja mereka. Abian lansung melihat hpnya. Ia pura - pura sibuk dengan Hpnya. Ia tidak akan memulai pembicaraan sebelum selesai makan malam selesai.
" Kok sibuk banget sama hpnya, masih banyak kerjaan?" tanya Mira dengan lembut.
" Iya nih." kata Abian melihat Mira sebentar lalu fokus lagi ke Hpnya.
" Kabarnya perusahaan Abang ada kemajuan, selamat ya." ucap Mira tetap memandang Abian tanpa menoleh sedikitpun.
" Yah Alhamdulillah berkat doa dan kerja keras semua karyawan." jawab Abian meletakkan hpnya dalam saku. Ia memandang wanita yang telah mengisi hatinya.
" Kamu kenapa?" tanya Mira dengan senyuman manisnya. Abian terpaku melihat senyuman wanita itu. Ia terkesima sesaat melihat senyumnya Mira. Namun dengan cepat ia mengalihkan pandangannya kearah lain.
" Kok ditanya diam sih?" kata Mira dengan sedikit manyun.
" Maaf, tadi kurang fokus aja." kata Abian tersenyum memandang Mira. Tidak lama kemudian seorang pelayan datang mengantarkan makanan mereka.
__ADS_1
" Yok makan." ajak Abian yang langsung menyantap makanan yang ada didepannya.
Merekapun makan dalam diam. Setelah selesai menghabiskan makanannya, Abian diam - diam memandang Mira yang tengah asik menghabiskan makanan didepannya. Ia nampak begitu cantik dimata Abian. Wanita yang mandiri, pintar dan cantik menurutnya pas untuk mendampingi dirinya sampai tua. Namun nasib berkata lain. Mira yang menyadari dipandang Abian tersenyum manis. Ia juga telah menghabiskan makanannya. Ia menyesap jus alpukat dengan anggun. Abian yang melihat Mira telah selesai mulai gugup. Ia bingung mau mulai darimana bicaranya. Mira yang melihat Abian gugup memulai pembicaraan.
" Katanya mau ngomong sesuatu."
" Sebelumnya aku minta maaf, maaf untuk segalanya." kata Abian mulai serius. Ia bingung bicara karena takut menyakiti hati wanita ini. Namun ia harus menyampaikannya agar cepat selesai.
" ada apa?" tanya Mira menatap Abian dengan serius.
" Mungkin hubungan kita cukup sampai disini." ucapan Abian bagaikan petir ditengah panasnya hari.
Jantung Mira terasa mau copot mendengar ucapannya yang tiba-tiba. Air mata Mira lansung turun tanpa komando. Badannya lansung gemetar. Mereka diuntungkan dengan posisi meja paling sudut sehingga tidak ada yang menyadari wanita itu menangis. Abian yang melihat reaksi Mira menjadi kasihan. Ia memegang tangan Mira yang diatas meja dengan lembut.
" Maaf jika ini menyakitkan." ucap pria itu dengan tatapan memohon.
" Kenapa?" tanya Mira disela tangisnya.
" Apa kurangnya aku?" tanya Mira melepaskan tangannya dari Abian.
" Dimata ku kamu sempurna." jawab Abian.
" Bohong." kata Mira dengan senyum sinis.
" Aku nggak bohong, cuma kita memang nggak bisa bersama." jawab Abian dengan nada sendu.
" Apa alasannya?" tanya Mira.
" Aku nggak bisa jawab sekarang." kata Abian membuang muka ketempat lain.
__ADS_1
" Tatap aku jika bicara." ucap Mira mulai emosi.
Abianpun kembali menatap manik mata perempuan itu yang berlinang air mata. Hatinya begitu sakit karena pada kenyataannya dia yang berjanji akan menjaga wanita itu tapi dialah yang menyakitinya.
" Kenapa kamu melamar aku jika pada akhirnya begini." kata Mira penuh berapi-api.
" Aku minta maaf, tapi kita memang tidak bisa melanjutkan hubungan kita, karena..." Abian lansung terdiam karena tidak bisa melanjutkan omongannya.
" Karena apa? apa kamu tidak mencintaiku?" tanya Mira dengan memandang Abian dengan tajam.
Abian tidak mungkin menyebutkan alasannya meninggalkan Mira. Ia tidak mau hidup ibunya terganggu karena hubungan mereka.
" Ya aku sudah tidak mencintaimu."jawab Abian.
" Bohong." sanggah Mira.
" Ini nggak bohong, aku sudah mencintai orang lain." kata Abian
" Apakah itu Dita?" tanya Mira dengan deg degan.
Anggukan Abian membuat Mira makin bersedih. Air matanya makin deras. Apa yang ia takutkan selama ini memang terjadi. Badannya seperti kehilangan kekuatan. Rasanya ia sudah tidak kuat untuk duduk disini lagi bersama pria itu.
" Dulu aku menolak kamu karena aku takut seperti ini, kamu seorang pemimpin pasti akan memilih wanita kaya dari kalangan yang sama seperti dirimu bahkan dia lebih kaya, dan pada akhirnya kamu juga meninggalkan aku karena wanita yang lebih kaya, selamat." kata Mira mencoba kuat didepan pria yang sudah menghancurkan hatinya. Dia mengulurkan tangannya untuk ucapan selamat. Abian tidak tega melihat wanita ini menangis ingin sekali memeluknya. Namun urung dilakukannya karena ia tidak ingin menyakiti wanita ini lebih dalam lagi. Bagaimanapun perasaannya kepada wanita didepannya, hubungan mereka tetap tidak akan bisa diperjuangkan. Jadi Abian memilih mundur dan mencoba untuk hidup bersama dengan Dita. Mira yang melihat Abian diam tanpa membalas uluran tangannya segera menarik tangannya. Ia mengeluarkan uang seratus ribu satu lembar lalu meletakkan diatas meja.
" Meskipun saya miskin saya masih mampu untuk bayar makan malam saya hari ini." katanya yang masih emosi meninggalkan Abian sendiri.
Abian terpaku ditempat duduknya. Hatinya menangis mendengar kata-kata terakhir wanita itu. Wanita yang ia janjikan madu tapi ia malah memberikan racun. Ia bangkit dari tempat duduknya lalu menuju kasir. Setelah membayar tagihannya ia berusaha mengejar gadis itu. Namun ia sudah tidak melihat gadis itu diluar kafe. Ia mengambil mobilnya lalu berusaha untuk mencarinya sekitar kafe. Namun ia juga tidak menemukan. Ia memacu mobilnya menuju pulang. Namun tidak lama kemudian dia melihat Mira terduduk disebuah halte. Ia nampak menundukkan kepalanya. Badan Mira tampak bergetar. Abian tau bahwa wanita itu menangis. Ia juga tau bahwa wanita itu sangat terpukul. Abian hanya diam didalam mobil menunggu wanita itu. Ia tau jika wanita itu tidak akan mau dipaksa naik mobilnya. Wanita yang satu ini harga dirinya sangat tinggi. Itulah salah satu alasan kuat Abian begitu mencintainya. Sebuah Trans Jakarta menepi dihalte. Wanita itu menghapus air matanya dengan cepat. Ia berusaha untuk tidak menangis dijalan. Abian melihat Mira menegakkan kepalanya seakan-akan tidak terjadi apa - apa. Mira lansung naik ke bus yang berhenti.
" Itu yang aku suka dari kamu, kamu begitu dewasa dan tegar." ucap Abian tersenyum.
__ADS_1
Lalu Abian mengikuti bus yang ditumpangi Mira. Dua puluh menit berlalu akhirnya bus itu berhenti di halte depan perumahan dimana Mira tinggal. Mirapun melangkahkan kaki nya menuju kosnya. Ia mencoba untuk tidak menangis selama diperjalanan. Memori - memori perjalan cinta mereka terekam dengan jelas di ingatannya. Ia luluh dengan laki - laki yang mengejar-ngejar nya setahun lebih. Dan setelah dekat dalam waktu lama lalu berpacaran akhirnya dia ditinggal oleh laki - laki itu. Hatinya sungguh hancur sekali. Saat iya sudah yakin dengan cintanya tapi malah ini yang didapatkannya. Malam ini hatinya sudah hancur lebur.