Dia Lelakiku

Dia Lelakiku
BAB 9


__ADS_3

Pagi ini Abian duduk dikursi kebesarannya sambil memijit kepalanya yang sedikit pusing. Ia yakin sekali bahwa maksud dari pak Rama mengundangnya ke kantornya ada hubungannya dengan anak semata wayangnya. Ia harus bisa menyiapkan mentalnya karena ini akan berimbas dengan perusahaannya. Abian tau bahwa keluarga Arkarna mempunyai pengaruh yang kuat. Pak Rama bisa saja dengan mudahnya menghancurkan perusahaannya. Abian berencana akan pergi menemui pak Rama ketika jam makan siang nanti. Abian berjalan keluar bertujuan ingin melihat karyawannya bekerja. Namun ketika melewati divisi keuangan dia begitu kaget melihat Dita sudah masuk. Bahkan gadis itu sempat - sempatnya tersenyum dan mengerlingkan matanya ke Abian. Abian dengan cepat mengalihkan pandangannya.


" Bagaimana gadis itu masih bersikap kayak gitu setelah kejadian kemarin malam." kata Abian dalam hati.


" Selamat pagi pak Abi." ucap Dita dengan semangat.


Semua yang ada diruangan itu menatap Dita dengan heran. Berani - beraninya anak magang bersikap seperti itu ketika jam kerja. Abian hanya terlihat datar tanpa membalas senyuman Dita bahkan sapaannya sekaligus.


" Dita, kamu ikut saya keruangan saya." ucap Abian dengan wajah datar..


Dita berjalan menuju ruang Abian dengan wajah sumringah. Abian yang melihat Dita masuk dengan sumringah jadi makin kesal.


" Kamu kenapa masuk? kan saya sudah kasih kami izin sampai sembuh" ucap Abian dengan wajah datar.


" Tangan saya sakitnya tak berapa pak, tapi hati saya yang sakit luar biasa." jawab Dita yang masih tersenyum.


" Ya jika hati kamu yang sakit silahkan aja kamu tambah liburnya." ucap Abian.


" ya nggak bisa gitu dong pak, saya harus tetap profesional." jawab Dita lagi.


" Mau kamu apa sih?" tanya Abian.


" Jangan tanya mau saya pak, mau saya banyak, termasuk menjadikan bapak sebagai lelaki saya." jawab Dita masih sumringah.


" Dimana - mana laki - laki yang mengejar wanita, kamu nggak malu ya sebagai perempuan." ucap Abian makin geram.


" Semua orang punya prinsip dan pandangan masing-masing, jadi saya tidak akan mendengarkan pendapat orang lain." jawab Dita dengan enteng.


" Iya, tapi saya paling tidak suka dengan wanita yang nggak ada harga dirinya kayak kamu." ucap Abian dengan kasar.


Dita tersentak mendengar ucapan Abian tapi ia berusaha menyembunyikannya.


" Saya yakin cepat atau lambat bapak akan jadi lelaki saya, permisi." ucap Dita pamit undur diri.


" Termasuk dengan cara merengek ke papamu?" tanya Abian dengan suara meninggi. Dita yang sudah sampai dipintu membalikkan badannya kembali.


" Saya tidak akan pernah melibatkan orang tua saya, permisi." Dita membuka pintu dengan agak kesal. Abian yang melihat Dita keluar ruangannya semakin kesal


...****************...


Siang harinya Abian sudah berada diruangan pak Rama. Ia sudah duduk di kursi meja kerja pak Rama.


" Begini pak Bian, saya akan ngomong tho the points aja tanpa bertele-tele,nikahi Dita." ucap pak Rama dengan wajah datar.


Abian yang mendengar ucapan pak Rama sangat terkejut. Abian mengepalkan tangannya karena saking tegangnya.


" saya tidak bisa pak karena saya tidak mencintai anak bapak." ucap Abian masih dengan sopan.


" Saya tidak mau alasan dan bantahan, saya ingin kamu menikahi anak saya secepatnya, jika tidak...." ucapan pak Rama dipotong oleh Abian.


" Jika tidak maka bapak akan memutuskan hubungan bisnis kita, begitupun saya juga tidak peduli karena saya tidak bisa bapak beli sesuka bapak, saya masih punya harga diri." kata Abian dengan nada menekan.


" bukan hanya memutuskan hubungan kita, tapi saya bisa saja membuat kamu bangkrut." ucap pak Rama dengan datar.


" Saya tau bapak punya kekuasaan, tapi saya akan berusaha untuk bangkit lagi, seratus kali bapak menghancurkan saya maka seribu kali saya akan bangkit, mohon maaf jika ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan maka saya mohon undur diri." pamit Abian dengan kesal.


Abian sudah tau akan terjadi seperti ini. Dia tidak mentolerir orang menekannya atau bahkan mengancamnya. Meskipun perusahaannya tidak hanya sebagian kecil bagi perusahaan Arkarna, tapi ia tidak akan menyerah. Baginya itu adalah bagian dari harga dirinya.


...****************...


Ditempat lain Dita dan teman - temannya sedang duduk di kafe seberang jalan kantor Arkarna Kontruksi. Mereka sudah janjian dari seminggu yang lalu, mereka sudah jarang ketemu karena kesibukan masing-masing.


" Jadi benar kamu magang dikantor cowok dingin itu?" tanya Siska kepo.

__ADS_1


" Yah begitulah " jawab Dita sekenanya.


" Trus gimana PDKT mu, lancar tidak?" tanya Siska lagi.


" bahas yang lain ajalah, malas bahas dia." kata Dita tampak tidak bersemangat


" Kamu lansung ditolak mentah-mentah?" tanya Feby tertawa.


" eh kenapa kamu menyimpulkan seperti itu." kata Dita agak emosi.


" yah dari mukamu itu." jawab Feby lagi.


" Tenang aja, waktu masih panjang. Dia akan tetap jadi milikku jadi lelakiku." kata Dita dengan semangat.


" udahlah Ditalan, ngapain kamu ngejar-ngejar cowok dingin kayak gitu jika ada cowok hangat seperti aku." kata Alan mulai merayu Dita.


" oek hangat, mau muntah gua rasanya." ejek Siska.


" namanya juga usaha, ah kamu ini mana tau apa-apa." jawab Alan.


" ah usaha tapi jangan memaksa juga keles." kata Feby.


Dita memandang wajah Feby ketika Feby berbicara .


" Kenapa kamu Mandangin aku kayak gitu." tanya Feby ke Dita.


" Kamu juga boleh usaha kok atau melihat usaha orang lain." kata Dita yang membuat semua temannya bingung.


" Maksudnya apa sih?" kata Feby bingung.


" Nggak ada maksud apa - apa." cengir Dita.


" eh gimana magang kalian? lancar semua." kata Dion yang dari tadi diam.


" Kenapa kamu lemas, magang dikantor papaku harusnya enak." ucap Dita.


" jika ada kamu yang notabenenya anak bos ya enak, ini...." ucap Alan terputus.


" kami sih aman- aman aja karena semua karyawan sudah tau aku anak bosnya." kata Siska cengengesan.


" Aku sih nyaman karena semua yang disana baik." jawab Dion.


" Nggak ad yang nanya kali." kata Feby.


Mereka semua tertawa karena Dion belum ditanya sudah mengumbar duluan.


" Low Dita enak magangnya,iya nggak dit?" tanya Siska.


" Apanya yang enak, ruang divisi itu galak - galak, baru sehari aja gua kerja, tangan gua udah jadi korbannya " ucap Dita memperlihatkan tangannya.


" Itu kena air panas? " kata Feby.


" lebih tepatnya kopi, mereka suruh - suruh gua kayak pembantu aja gua." jawab Dita kesal mengingat hari pertama magang.


" Itu judulnya berkorban demi cinta." ucap Siska tertawa terbahak-bahak.


" apaan sih." ucap Alan.


" hahaha, ada yang cemburu buta, udahlah Lan mending sama yang lain aja, Dita itu hatinya sudah ada abinya Abian." Siska semakin kencang tertawanya.


" Alan juga semakin kencang caranya untuk mendapatkan Dita." ucap Dion.


" Lalu Feby dengan semangat mengejar Alan." Siska tertawa puas membuli teman - temannya.

__ADS_1


" Dan Dion juga berusaha mengejar Feby." kata Dita


Semua mata tertuju kearah Dita mendengar ucapannya.


" Kenapa melihat gua seperti itu." ucap Dita.


Mereka lalu tertawa terbahak-bahak melihat situasi yang mulai menegang karena ada yang buka - bukaan kartu masing-masing. Lalu pandangan Feby melihat ke jalan. Ia melihat Abian yang keluar dari Arkarna Kontruksi.


" eh itu abinya Dita ngapain dari kantor papamu?" tanya Feby.


Semua pandangan mereka tertuju kearah yang sama dengan Feby.


" Biasalah paling masalah kerjaan." kata Dita.


" mungkin ngobrolin pernikahan." ucap Siska tertawa sambil mengejek.


" cie cie mertua sama menantu udah akur." ledek Dion


" Ah kalian ini bikin mood gua jelek, dahlah aku mau kerja." Alan meninggalkan mereka.


Dionpun pamit undur diri karena mau kembali ketempat dia magang. Feby, Siska dan Dita masih diam ditempat.


" Gimana jika kita ikuti dia?" usul Siska.


" Tapi ini 20 menit lagi jam kerja loh." kata Febby.


" ah tenang aja, nggak akan ada yang berani menegur kita." kata Siska santai.


" Jomlah" kata Dita ikut bersemangat sampai dia lupa jika dia juga sedang magang.


Merekapun bersemangat mengikuti Abian diam - diam. Dita menyadari jalan yang mereka lalui ini adalah menuju kantor Abian.


" Ini mah kantor dia, ngapain kita ikuti." kata Dita.


" Iya, kirain dia nemuin temannya yang cakep itu." ucap Siska.


" oh si Galuh, dia kerja dirumah sakit keluarganya." kata Dita.


" Jadi Lo tau dia kerja dimana?" ucap Siska bersemangat.


" Iya, taunya pas ngobati luka ini." ujar Dita melihatkan tangannya.


" Ohw jadi dia dokter, oh makin semangat gua ngejar sih dokter ganteng." ucap siska.


Mereka tidak sadar jika mobil mereka sudah berhenti dikawasan kantor Abian. Feby yang masih fokus menyetir melihat Abian turun dari mobilnya lalu berjalan menyeberangi jalan menuju rumah makan Padang.


" eh si doi mau makan siang."kata feby.


" Ternyata doi suka makan nasi Padang." kata Siska tertawa lagi


" Ngikutin masuk nggak?" tanya Feby.


" Nggak usahlah, dengan warung yang tidak terlalu besar bisa - bisa kita ketahuan." kata Siska.


" eh tapi kita bisa pura - pura makan siang juga." ide Dita.


" Dita sayang tetap aja bakalan ketahuan." kata Siska.


Dita memperhatikan Abian tanpa mengedipkan matanya. Lalu ia begitu kaget ketika melihat Mira juga ada disana. Hatinya semakin panas melihat Abian tersenyum ke Mira. Ia bahkan tidak pernah mendapatkan senyuman itu. Dita tanpa berpikir panjang lansung ke warung nasi Padang. Dia lansung duduk di meja tempatnya Abian makan. Mira dan Abian terkejut melihat Dita yang datang tiba - tiba dan duduk tanpa minta izin.


" Bang Abi, kok makan nggak ajak - ajak." kata Dita


Abian hanya menatap tajam kearah tanpa membalas perkataan Dita. Sedangkan Mira meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2