
" Dita jaga sikap." ucap Abian dengan wajah dingin.
" Apaan sih, kamu belain dia? kamu belain mantan pacarmu?" tanya Dita kesal
" Galuh benar, kamu tidak boleh ikut campur, aku bisa menegur Mira lewat ibu atau ayahnya." ucap Abian.
" Bilang aja kamu mau ketemu dengan perempuan itu." ucap Dita dengan kesal.
" Kamu masih tidak percaya dengan mas?" tanya Abian dengan nada kecewa.
" Bukan seperti itu, maksud aku..." ucapan Dita terputus karena menatap wajah Abian yang dingin dan datar.
" mampus gua, beruang sudah marah" ucap Dita dalam hati.
" Mas bukan begitu maksud Dita, Ya Dita salah, Dita minta maaf." ucap Dita berusaha membujuk suaminya.
" Minta maaflah kepada Mira." ucap Abian.
" Kenapa harus minta maaf kepada perempuan itu." ucap Dita kesal.
" Karena apa yang kamu tuduhkan belum tentu benar." ucap Abian.
" Kenap kamu yakin seperti itu?" tanya Dita.
" Pertama kamu bilang bahwa dia merusak hubungan kita, dia tidak ada merusak rumah tangga kita, kamulah yang merebut Abang dari dia." ucap Abian.
" Kok jadi salah Dita?" ucap Dita manyun.
" Karen memang kamu mencuri hati mas ketika hati mas bersama dia kala itu, jadi minta maaf ya, bagaimanapun dia adik mas berarti adikmu juga." ucap Abian menasehati istinya dengan lembut.
" Dia yang merebut mas, mas itu dari kecil sudah milikku." ucap Dita.
" Itukan ucapan kamu sepihak aja waktu itu " cibir Abian kepada istrinya.
" Mas mau nanti malam tidur diluar?" tanya Dita membuat wajah Abian berubah.
" Yah mas milik kamu, tapi apa yang kamu lihat itu juga belum tentu benar loh sayang." ucap Abian dengan lembut.
" Yah Dita nanti minta maaf." ucap Dita memeluk suaminya dengan manyun.
Dita menghirup aroma yang ia sukai dari tubuh suaminya.
" Mas pas kuliah nanti, Dita berhenti kerja ya." ucapnya dengan manja.
" Hmmmmm" jawab Abian hanya dengan mendehem karena ia geli dengan posisi Dita mulai menciumi dadanya.
__ADS_1
" Kok cuma hmmm, jawab dong mas." ucap Dita.
" Geli sayang, ini kantor loh." ucap Abian mencoba menghentikan Dita.
Dita hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya. Dia emang senang menggoda suaminya ketika berada dikantor.
Sedangkan ditempat lain Siska masih menangis dikamarnya. Dia dan Galuh memang pisah kamar semenjak menikah. Ia cepat menghapus air matanya ketika mendengar pintu apartemennya berbunyi. Dita berpura-pura membuka buku pelajarannya. Ia kaget ketika mendapati Galuh membuka kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
" Ada apa?" ucap Siska.
" Kamu jangan ngadu macam - macam ya sama temanmu." ucap Galuh dengan agak emosi.
" Ngadu apa?" tanya Siska masih tidak paham maksud ucapan Galuh.
" Nggak usah pura - pura nggak ngerti, Lo ngomong apa aja ke Dita?" tanya Galuh.
" Gua nggak ada ngomong apa - apa ke Dita, bahkan Gua belum ketemu Dita semenjak kita kita nikah." jawab Siska.
" Bohong." ucap Galuh dengan keras.
" Terserah kamu percaya apa nggak." ucap Siska yang masih berusaha menenangkan dirinya karena mendengar suara keras Galuh.
" Kamu tau apa yang dilakukan Dita ke Mira, dia menyiram Mira didepan umum." ucap Galuh masih dalam keadaan kesal.
" Semua salah kamu dari awal, coba kamu tidak bersandiwara ketika ngejar-ngejar aku, pasti pernikahan ini tidak akan terjadi." ucap Galuh.
" Kamu hanya membuat hidup aku suram, kamu tau Mira sudah membuka hatinya buat aku, tapi dengan posisi kamu dalam hidupku membuat aku nggak bisa ngapa-ngapain, dan seolah-olah Mita jadi wanita yang jahat, padahal kamu yang jahat yang egois, hanya peduli perasaan kamu tanpa peduli dengan perasaan orang lain." ucap Galuh ditujukan ke Siska.
Siska hanya diam mendengar ucapan Galuh yang kasar kepadanya. Hatinya begitu sakit mendengar ucapan kasar Galuh yang merendahkan dirinya.
"Jika sampai Mira kenapa-napa, maka jangan harap kamu bisa bahagia." ucap Galuh dengan emosi lalu meninggalkan Siska dikamarnya.
Air mata Siska lansung meluncur ketika pintu kamarnya tertutup keras oleh Galuh. Siska sudah tidak tahan mendengar ucapan Galuh. Ia sudah tidak tahan dengan pernikahan ini.
" Aku sudah berusaha agar kamu bisa mencintai aku, tapi ternyata kamu tidak bisa bahagia." ucap Siska sambil menangis.
Siska mengambil kopernya diatas lemari. Ia memasukkan baju - bajunya kedalam koper. Setelah memasukkan beberapa helai baju, ia keluar dari kamarnya. Ia tidak melihat Galuh diruang tamu. Ia langsung pergi meninggalkan apartemen Galuh tanpa berpamitan.
Sekitar 20 menit berlalu, Siska sampai dirumahnya. Papanya yang duduk diruang tamu kaget melihat anaknya pulang membawa koper.
" Ada apa ini Sis? kok bawa koper segala?" tanya papanya.
" Pa, Siska capek, Siska mau nginap disini dulu." jawab Siska meninggalkan papanya.
" Kamu ada masalah dengan Galuh? jika ada masalah diselesaikan, bukan kabur sis." ucap papanya melihat Siska masuk kekamarnya.
__ADS_1
Malah harinya Galuh keluar dari kamarnya. Perutnya terasa lapar karena belum diisi dari siang. Galuh memakan makanan yang sudah dipesannya dengan online. Perasaannya masih tidak karuan, apalagi sekarang Mira memblokir nomor teleponnya.
Galuh telah selesai makan dan duduk diruang tamu sambil nonton Tv. Galuh sesekali melihat pintu kamar Siska.
" Udah makan belum ya dia." ucap Galuh pelan.
Sudah 1 jam Ia duduk di depan Tv namun tidak ada tanda Siska keluar.
" Harusnya aku yang marah kenapa dia yang ngambek segala." ucap Galuh berdiri menuju pintu kamar Siska.
Galuh mengetok pintu kamar Siska.
" Sis, udah makan?" tanya Galuh dengan lembut.
Galuh memang marah kepada Siska namun ia tidak bisa marah lama - lama kepada gadis tersebut. Galuh yang tidak mendapat jawaban dari dalam kamar, ia mengira bahwa Siska sudah tidur.
" Mungkin udah makan dan tidur." ucapnya sambil berjalan kekamarnya lagi.
Galuh mengambil hp di nakas sebelah ranjangnya.Galuh melihat ada 3 panggilan tidak terjawab dari papa mertuanya. Galuh mencoba menghubungi mertuanya kembali karena takut ada hal yang penting.
" Halo, assalamualaikum Luh." jawab lelaki di seberang sana.
" waalaikumsalam pa, kenapa nelpon pa?" tanya Galuh penasaran.
" Kamu berantem sama Siska?" tanya Papa Siska.
Pertanyaan papa Siska membuat Galuh merasa bersalah.
" apa dia ngadu ke papa nya" gumam Galuh.
" Halo Galuh, kamu dengar papa " ucap Papa Siska.
" Ya dengar pa, biasa pa ada masalah kecil." jawab Galuh.
" Maafin Siska jika kekanak-kanakan, sekarang kamu susul istrimu kesini ya, cepat selesaikan masalah kalian." ucap papanya Siska.
" Loh Siska disana pa?" tanya Galuh yang masih belum tau keberadaan Siska.
" Iya, tadi dia pulang setelah ashar, dia bawa koper." ucap papanya Siska.
" Ya pa, Galuh susul." ucap Galuh sambil berjalan kekamarnya Siska.
Galuh tidak menemukan siapapun didalam kamar itu.
" Sial beraninya dia keluar dari apartemen ini." gerutu Galuh bergegas mengambil kunci mobil.
__ADS_1