Dia Lelakiku

Dia Lelakiku
BAB 27


__ADS_3

Abian bangun dari tidurnya ketika mendengar azan subuh. Ia bergegas untuk menunaikan shalat subuh. Setelah sholat ia melakukan rutinitas biasa yaitu membaca Alquran. Lalu setelah itu melakukan bersih-bersih. Ketika selesai sarapan, Abian ingin pamit kepada Ayahnya. Namun ayahnya menahan Abian.


" Duduklah, kamu ada masalah apa dengan Istrimu? kenapa masih pulang kesini?" tanya ayahnya.


" Emang aku nggak boleh pulang kesini ya?" tanya Abian balik.


" Meskipun ini rumah kamu yang beli, tetap aja kamu sudah nggak boleh pulang kesini, kecuali kamu pulang dengan istrimu " kata ayahnya sambil menatap anaknya.


" Abian pengen fokus aja yah, banyak kerjaan." jawab Abian dengan tenang.


" Apapun masalah kalian, kamu tidak boleh meninggalkan rumah, tetaplah dirumah yang sama, kamu bisa menenangkan diri diruangan yang lain agar rumah tangga kalian awet." nasehat ayahnya.


" Ya ayah." jawab Abian patuh.


" Trus satu lagi, kamu dengan Mira bagaimana? apakah masih mencintainya?" tanya ayahnya dengan hati - hati.


" Aku nggak tau yah, yang jelas cinta itu masih ada, tapi diakan juga udah nggak ada jadi aku akan berusaha mengikhlaskannya." jawab Abian sendu ketika kembali mengingat berita tadi malam.


" Ya kamu memang harus mengikhlaskan dia." jawab pak Faiz. Namun tiba-tiba di ingat perkataan Abian.


" Tunggu dulu, maksud kamu dia sudah nggak ada ini apa?" tanya pak Faiz agak kaget dengan pernyataan Abian barusan.


" Mira sudah meninggal yah." ucap Abian dengan sedih


" Dapat kabar darimana? tadi malam masih baik - baik aja." ucap ayahnya penasaran.


" Dari ibu, tadi malam meninggal, ini mau kesana melayat yah." kata Abian.


" Innalilahi wa innailaihi Raji'un, semoga dia tenang disana,ayah ikut kamu ya." ucap ayah sambil berdiri.


" baiklah, aku tunggu disini yah." ucap Abian.


Ayahnya Abian lansung kekamarnya untuk mengganti pakaian. Abian kaget ketika membuka Hpnya. Banyak panggilan masuk tadi malam ketika ia tertidur. Dan salah satunya adalah panggilan dari istrinya. Lalu ia juga melihat banyak panggilan dari Galuh.


" ada apa Galuh menelpon?" tanyanya dalam hati.


Abian mencoba menghubungi Galuh kembali.Ia penasaran kenapa Galuh menelponnya malam - malam sampai 20 kali.


" Halo assalamualaikum, dimana kamu?" tanya Galuh.


" Dirumah, ada apa?" tanya Abian santai.


" Mira cariin kamu, semalam dia sudah sadar, ini masih nungguin kamu." ucapan Galuh membuat Abian terkejut.


" Maksudnya?" tanya Abian dengan wajah masih bingung.

__ADS_1


" Ya Mira masih mengganggap kamu pacarnya, memorinya kembali ke beberapa bulan yang lalu." jawab Galuh menjelaskan.


" Jadi Mira nggak meninggal?" tanya Abian.


" Ya Allah doamu Bi, saya tau kamu ingin melupakannya tapi jangan doain dia meninggal dulu dong, gimana dengan hati gua nanti." ucap Galuh diseberang sana.


" Jadi semalam ibu kasih kabar." kata Abian masih belum paham.


" Semalam ibumu kasih kabar bahwa Mira sudah sadar dan mencari mu, paham." kata Galuh lansung menutup teleponnya.


" Halo, halo." ucap Abian namun ia menyadari teleponnya sudah diputuskan oleh sepihak.


" Dasar sahabat laknat." ucap Abian dengan agak keras.


" Yok berangkat, siapa yang laknat?" tanya ayahnya yang baru keluar memakai baju hitam.


" Yah sebaiknya ayah ganti baju deh." ucap Abian memandang ayahnya dengan ekspresi mau ketawa.


" Kenapa emangnya?" tanya ayahnya.


" Itu yah, aku salah info yah, Mira bukan meninggal tapi sadar dari koma." ucap Abian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Huh kamu ini, tadi malam memang dia sadar, tapi ayah pikir setelah sadar terjadi apa gitu." kata ayahnya sambil duduk.


" Aku mau kerumah sakit, ayah mau ikut nggak? tapi ganti baju dulu." kata Abian.


" Takut ketemu ibu ya?"tanya Abian tersenyum menggoda ayahnya.


" Emang ibumu hantu." jawab ayahnya juga tersenyum. Ia senang akhirnya dari sekian lama anaknya mau tersenyum juga padanya.


" Mana tau lebih seram dari hantu." kata Abian lagi.


" Huss itu ibumu, bicara yang sopan walau bagaimanapun dia yang melahirkan kamu." kata ayahnya.


" Ikut nggak? biar CLBK." ejek Abian lagi.


" Ngawur kamu, dah sana pergi " usir ayahnya.


" Ciee yang salah tingkah." ujarnya bercanda lagi.


" ingat jangan main hati disana, udah punya istri." nasehat ayahnya.


Abian tidak menjawab ucapan terakhir ayahnya. Ia lansung berangkat menuju rumah sakit. Perjalanan menuju rumah sakit sekitar 1 jam dari rumahnya. Ia lansung masuk keruang inap Mira. Didalam ada ibunya dan keluarga Mira. Melihat Abian yang datang Mira dan ibunya tersenyum. Berbeda dengan adiknya Mira mereka tidak ada ekspresi.


" Akhirnya kamu datang juga bang." kata Mira tersenyum bahagia.

__ADS_1


" Apa kabarnya, dah mendingan?" tanya Abian tersenyum.


" aku sudah baikan bang, sini." ajak Mira kepada Abian agar duduk disampingnya.


Abian agak segan melangkahkan kaki menuju tempat yang ditunjuk Mira. Ketika dia sudah duduk Mira lansung merangkul tangan Abian.


" Aku kangen loh bang." kata Mira tersenyum bahagia.


Melihat Mira merangkul Abian,adik - adiknya merasa geli sendiri. Mereka meninggalkan ruangan itu dengan agak kesal. Berbeda dengan ibunya, dia tampak tersenyum bahagia.


" Mira, ibu pinjam Abian sebentar ya, Bian ibu mau ngomong sebentar, ayo keluar." ajak ibunya.


Abian mengikuti ibunya berjalan keluar dari kamar inapnya Mira. Ia duduk disebelah ibunya yang berada di koridor depan kamar Mira.


" Ada apa Bu?" tanya Abian.


" Kamu masih cinta sama Mira?" tanya ibunya menatap Abian.


" Kalau cinta kenapa? kalau tidak kenapa?" tanya Abian.


" Sebenarnya kamu bisa aja menikah dengan Mira meskipun ibu adalah ibu tiri Mira karena kalian tidak mahram." kata ibunya menjelaskan.


" Lalu ibu mau seperti apa pandangan orang-orang?" tanya Abian.


" Ibu bisa berkorban demi kalian, ibu bisa berpisah dengan ayahnya dan kamu bisa menikah dengan Mira tanpa bayang - bayang ibu." kata Ibunya tersenyum.


" Jika itu yang terbaik menurut ibu, silahkan." kata Abian berdiri dengan agak emosi. Ketika ia mau bicara lagi ia melihat Dita sudah berada didekat mereka.


" Maaf mengganggu, cuma mau jenguk Mira." kata Dita tanpa memandang Abian.


" Kamu tidak usah masuk, Mira tidak boleh diganggu." jawab ibunya.


" Baik." jawab Dita berbalik arah." Yok Lan, kita pulang" ucap Dita menarik tangan Alan.


" Istri macam apa yang menarik tangan lelaki lain didepan suaminya." kata ibu Abian dengan agak sinis.


" Mertua macam apa juga yang menjodohkan anaknya dengan anak tirinya padahal status anaknya sudah menikah." kata Dita menghentikan langkahnya.


" Kamu cuma istri kontrak,dengan posisi Mira sekarang apakah kamu yakin akan dipertahankan oleh Abian." jawab Ibunya.


" Ibu, sudahlah, ayo masuk." kata Abian membawa ibunya masuk. Ia tidak mau ada keributan di rumah sakit.


Dita yang masih diluar mencoba melangkahkan kakinya. Hatinya benar-benar hancur. Air matanya sudah memenuhi pelupuk matanya. Alan menggenggam tangan Dita dengan lembut. Ia membawa Dita duduk dikursi dan menyandarkan kepala Dita dipundaknya.


" Menangislah jika kamu ingin menangis." ucap Alan .

__ADS_1


Dita menangis dipundaknya Alan. Ia sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Tidak jauh dari tempat mereka ada sepasang mata yang melihat dengan tajam.


"


__ADS_2