
Dita baru saja pulang dari Paris setelah dua minggu menghabiskan liburannya. Namun baru saja sampai rumah, ia dibuat begitu kesal karena melihat Abian sudah berada dirumahnya. Dita mencoba cuek dengan keberadaan Abian. Ia melewati Abian begitu saja sambil menenteng barang bawaan. Abian yang didiamkan Dita merasa geram. Abian mengikuti Dita kekamarnya dan lansung memasuki tanpa izin. Ia mengedarkan pandangannya kesemua penjuru kamar. Kamar yang berwarna krem yang pernah ia tempati kurang lebih dua Minggu. Dita yang melihat Abian berdiri diam dikamarnya lansung emosi
" Ada apa?" tanyanya dingin.
" Sejak kapan kamu berubah menjadi talenan datar juga?" tanya Abian sedikit tersenyum.
" Itukan kata - kata aku." kata Dita dalam hatinya.
" nggak usah bertele-tele, silahkan ke intinya saja." ucap Dita menatap dingin. Abian melihat mata yang dulu penuh cinta sekarang berubah menjadi tatapan benci.
" Arkarna group mengalami masalah karena Arkarna Kontruksi mengalami pailit." kata Abian menjelaskan.
" Trus apa hubungannya dengan aku?" tanya Dita cuek sambil melihat kukunya.
" Jelas ini ada hubungannya karena ini perusahaan keluarga kamu, jika itu bangkrut artinya kamu juga akan miskin." jelas Abian.
" Ah mana mungkin, itu hanya akal - akalanmu ajakan." Dita masih sibuk dengan kukunya.
" Silahkan kau berkunjung kekantor, dan asal kau tau sekarang saudara sepupu jauh kamu mengajukan permohonan untuk menggantikan papamu sebagai CEO karna mereka menganggap kamu tidaklah pantas sebagai seorang pemimpin." kata Abian lagi.
" Tapi aku tetap tidak peduli." kata Dita yang masih tidak menatap Abian.
" Engkau bisa tidak peduli, tapi bagaimana nasib karyawan di Arkarna Kontruksi, ribuan orang akan kehilangan pekerjaan." kata Abian geram melihat gadis manja itu yang tidak paham sama sekali sampai sekarang.
" Disana masih ada Deni." kata Dita masih fokus juga dengan kukunya.
" Bicara itu pandang lawan bicaramu." kata Abian datar.
" Ini nggak ada hubungannya denganmu, sekarang udah selesai kan? silahkan keluar bapak Muhammad Abian Alfaiz." kata Dita juga tak kalah dingin.
" Suka - suka hatimu lah, emang dasar manja dan nggak guna." kata Abian pedas sambil meninggalkan kamarnya Dita.
Setelah Abian pergi, Dita mulai merenung. Ia memang tidak paham sama sekali tentang perusahaan. Ia juga tidak mau perusahaan papanya hancur begitu saja. Ia yang masih jet lag lansung membaringkan tubuhnya di ranjangnya. Ia tertidur dengan nyenyak tanpa menyadari bahwa Abian kembali kekamarnya. Abian lansung duduk ditepi ranjang Dita. Ia melihat gadis yang sudah dua minggu tidak dilihatnya. Ia tidak bisa melihat gadis itu lagi dari jauh semenjak keberangkatan gadis itu ke Paris. Ia tersenyum melihat gadis itu tertidur cantik. Ia mencondongkan tubuhnya dan mendekati wajah Dita. Lalu ia mengecup bibir Dita.
" Manis." ucapnya dengan senyum.
Abian lalu berbaring disebelahnya Dita. Ia memeluk tubuh gadis itu dengan erat. Ia merindukan aroma tubuh gadis itu. Iapun tertidur disebelah gadis itu. Seminggu mengurus Arkarna Kontruksi membuat ia tidak bisa menikmati tidurnya.
Ditempat lain Alan berkumpul dengan Siska dan Feby. Mereka memang janjian ditempat biasa. Hari ini tanpa kehadiran Dion dan Dita. Alan nampak gelisah diwajahnya.
" Kamu ini kenapa ajak kita ngumpul?" tanya Siska.
" Ini masalah Ditam" kata Alan datar.
" Emang Dita kenapa? dua minggu yang lalu dia masih ketemu kamu sebelum ke Paris." ucap Feby.
" Ada dana bocor di Arkarna Kontruksi, dan ini menyebabkan Arkarna Kontruksi pailit, dan di Arkarna group juga terjadi perebutan perusahaan, ada yang ingin menyingkirkan Dita sebagai pewaris." kata Alan panjang lebar.
__ADS_1
" Kamu dapat berita darimana?" tanya Siska.
" Semua karyawan Arkarna Kontruksi sudah tau, jika Dita tidak bisa menduduki Arkarna group maka ia hanya akan dapat Arkarna Kontruksi yang pailit." kata Alan menjelaskan.
" Wah nggak bisa gitu dong." kata Siska.
" Apa yang bisa kita lakuin?" tanya Feby.
" Gua pun bingung kata Alan, mungkin kasih Dita semangat." kata Alan.
" Kenapa nggak coba minta tolong sama papamu sis?" tanya Feby.
" Bisa aja, tapi walau bagaimanapun ini mengharuskan Dita bisa memimpin Arkarna group." kata Siska.
.
" Ku rasa kita harus minta tolong sama suaminya Dita, secara dia juga punya hak atas Arkarna group." kata Siska.
" Kamu yakin dia mau bantu?" tanya Feby.
" Aku akan minta bantuan bang Galuh." kata Siska.
" Galuh sahabatnya Abian?" tanya Alan.
" Iya, hanya dia yang bisa membujuk sahabatnya itu." kata Siska.
" Berbeda cerita jika Abian suka sama Dita, pasti dengan suka rela dia akan bantu." kata Feby.
Abian terbangun dari tidur siangnya. Ia melihat Dita masih tertidur lelap. Ia mengecup bibir Dita sekali lagi. Setelah Itu ia bangun dari tidurnya dan lansung keluar dari kamar Dita. Ia harus pergi sebelum wanita itu bangun. Abian melajukan mobilnya ke rumahnya. Lalu sampai dirumah ia melihat Mira sudah berada diruang tamunya sambil bercerita dengan ayahnya. Abian lansung duduk di sebelah Mira. Ayahnya yang melihat Abian datang langsung masuk kedalam kamarnya.
" Darimana Bang?" tanya Mira.
" Yah habis kerjalah, mau darimana lagi." jawab Abian.
" Tapi tadi tidak ada dikantor." ucap Mira.
" Kan kerja bukan berarti dari kantor." jawab Abian yang mulai tidak suka dicurigai.
" Jadi kapan nak lamar Mira ke keluargaku?" tanya Mira dengan senyuman.
" Kasih waktu seminggu, ini sibuk banget ngurus Arkarna Kontruksi." kata Abian yang keceplosan.
" Kenapa kamu yang urus itu perusahaan?, kamu mulai suka dia?" kata Mira mulai kesal.
" Yah karena perusahaan itu punya pengaruh terhadap perusahaan ku." jawab Abian juga mulai kesal.
" Alasan, kamu bisa aja cari klien lain untuk perusahaan mu." kata Mira.
__ADS_1
" Kerjasama kedua perusahaan belum selesai, jika kamu tidak bisa percaya aku nggak usah ada lamaran segala." kata Abian emosi.
" Loh kok kamu yang marah sih? harusnya aku yang marah sama kamu." kata Mira.
" Buat apa hubungan kita lanjut jika tidak ada kepercayaan." kata Abian.
" Apa kamu bisa meyakinkan aku, apa kamu bisa membuat aku percaya sama kamu." kata Mira tak kalah sengit.
" Sudahlah, aku capek mau istirahat." kata Abian meninggalkan mIra diruang tamunya.
Mira yang terlihat emosi hanya diam bergeming tanpa berniat pergi dari situ. Ia hanya duduk menunggu Abian keluar.
" Sebentar lagi pasti dia keluar." harapnya dalam hati. Tapi Abian juga tidak kunjung keluar. Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar berbunyi. Mira melihat yang keluar, ternyata itu adalah ayahnya Abian. Ayahnya Abian tau bahwa mereka tadi berantem kecil karena kamarnya berada paling depan.
" Pulanglah dulu, Bian memang lagi pusing, nanti jika udah tenang dia akan baikan ndiri." kata ayahnya Abian.
" Baiklah om, saya permisi." ucap Mira segera pamit. Mira berjalan keluar rumah Abian dengan hati yang kesal. Lalu sesampai diluar pagar langkahnya terhenti karena panggilan ayah Abian.
" Tunggu Mira, siapa gadis yang kalian bicarakan tadi?" tanya Ayahnya Abian.
" Mungkin kita bercerita disana aja om." kata Mira sambil menunjuk sebuah warung nasi tidak jauh dari rumahnya Abian.
" Baiklah." kata ayahnya Abian.
Merekapun berjalan menuju warung tersebut. Tidak butuh waktu yang lama akhirnya mereka sudah duduk disana sambil memesan makanan.
" Sebenarnya Abian sudah menikah kontrak om." ucap Mira membuka pembicaraan.
" Nikah kontrak." kata pak Faiz. Yah Faiz adalah nama ayah Abian.
" Iya dia terpaksa menikahi Putri dari Rama Arkarna karena meninggal dunia." ucap Mira.
" Rama Arkarna." kata Faiz mengulang ucapan Mira.
" Kenapa?om kenal?" tanya Mira.
" Siapa yang tidak kenal dengan keluarga kaya raya tersebut." kata Pak Faiz sambil tertawa.
" Kamu tau dia sudah menikah,lalu kenapa kamu masih ingin dia?" tanya pak Faiz.
" Disini wanita itu yang merebut Abian dari aku, tapi kenapa om tidak marah karena Abian tidak memberi tahu om." kata Mira.
" Dia pasti punya alasan sendiri." kata pak Faiz tersenyum.
" Om tetap merestui mira sebagai menantu om?" tanya Mira meyakinkan dirinya.
" Om akan ikut kemana hati anak om berlabuh." kata pak Faiz.
__ADS_1
" Makasih om, Abian memang sangat menyukai aku om, dia beberapa tahun mengejar aku, jadi Ju rasa di pasti akan kembali ke aku seperti janjinya." kata Mira tersenyum.
" Baik jika begitu, ayo makan" ajak pak Faiz dengan tersenyum.