
Galuh dan Siska sudah sampai di apartemen ketika mau magrib. Setelah bebersih mereka sholat magrib sendiri - sendiri dikamar masing-masing. Setelah sholat magrib Galuh duduk di ranjang kamarnya sambil main hp. Ia membuka email untuk mengecek pekerjaan. Galuh sebenarnya cucu dari pemilik rumah sakit tempat ia bekerja. Kakeknya adalah komisaris utama rumah sakit. Dan papanya adalah Direktur rumah sakit. Galuh dipersiapkan untuk menggantikan papanya nanti. Ia lebih banyak mengurus pekerjaan wakil direktur umum daripada menjadi dokter kandungan.
Setelah selesai membaca dokumen yang dikirimkan oleh asistennya, dia berjalan keluar kamar. Ia tidak melihat tanda-tanda Siska keluar dari kamarnya. Galuh duduk menonton Tv sampai waktu isya datang. Dia menunaikan shalat isya dikamarnya.
Sedangkan penghuni kamar sebelahnya, hanya duduk diam setelah selesai isya. Ia agak takut jika malam ini Galuh mengajaknya untuk tidur sekamar. Siska sudah mulai kelaparan, namun ia enggan keluar dari kamarnya. Ia grogi untuk sekedar bertemu dengan Galuh.
Galuh yang telah selesai shalat berjalan kedapur. Ia memasak apa yang ada dikulkas. Dikulkas hanya tersedia ayam. Galuh memasak sop ayam dengan kentang dan wortel. Selama ini memang Galuh yang memasak dan menyediakan sarapan. Terkadang Galuh hanya memesan online jika sedang sibuk. Galuh tidak menyewa jasa pembantu rumah tangga. Sedangkan untuk baju dia biasa antar ke Loundry. Untuk bersih-bersih apartemen, ia menggunakan jasa cleaning servis harian.
Setelah soup ayam, telur dadar masak, ia berjalan menuju kamar Siska. Ia mengetok pintu kamar Siska yang tertutup rapat.
tok tok tok
" Sis, ayo makan." ucap Galuh sambil mengetok pintu.
" Iya, bentar." jawab gadis yang didalam kamar.
Tidak lama kemudian Galuh melihat Siska keluar dari kamar memakai piyama polos warna pink. Gadis itu tampak cantik meskipun tanpa makeup sama sekali. Galuh kaget ketika Siska menyenggolnya ketika melewatinya.
" Enak sekali baunya bang." ucap Siska yang baru duduk dimeja makan.
"Jika nggak enak mana mau kamu makan." ucap Galuh tersenyum mendekati meja makan.
Galuh mengambilkan nasi untuk Siska lengkap dengan soup dan telurnya.
" Harusnya kan aku yang ambilin kamu bang, ini terbalik." ucap Siska tersenyum malu. Ia menyadari bahwa tidak pernah melayani Galuh semenjak menikah dengannya. Yang ada Galuh yang melayani dia meski laki - laki itu mencintai gadis lain.
" Nggak apa-apa, ratu cukup makan dan cuci piring." ucap Galuh tersenyum lagi.
" Aman bosku, soal cuci piring serahkan pada hamba." ucap Siska agak grogi karena dibilang ratu.
Mereka makan dengan diam. Soup buatan Galuh memang enak. Siska yang biasa makan sedikit menjadi tambah nasi.
" Nggak takut gendut?" tanya Galuh tersenyum melihat Siska nambah nasi lagi.
" Biar ajalah, begini juga kamu tetap nggak suka dokter." ucap Siska sambil melanjutkan suapannya.
" Tumben dadar telurnya pakai minyak bang." ucap Siska sambil memasukkan dadar telur kepiringnya lagi.
" Sebenarnya kurang sehat ada minyak, tapi ini demi kamu, ya udah abang dadar pakai minyak tadi" ucap Galuh yang mulai mengikuti selera Siska. Galuh agak menjaga menu makanannya yang sehat tapi tidak disukai oleh Siska.
" Bagus gini bang, enak dan makyus, kapan lagi menikmati hidup." kata Siska sambil menguyah.
" Makanan yang sehat membuat tubuh kita sehat, tubuh yang sehat juga menikmati hidup " ucap Galuh tidak mau kalah.
__ADS_1
" Ah abang nggak tau enaknya mie instan, enak loh." ucap Siska dengan tersenyum.
" Tapi kurang sehat, jika mau mie makanlah yang ia sis." ucap Galuh.
" Iya iya, Pi nggak janji jika nggak ada pak dokter." ucap Siska tersenyum.
" Iya, sekali - sekali nggak apa-apa." ucap Galuh mengalah.
" Bang boleh tanya nggak?" tanya Siska yang sudah habis nasi dipiringnya.
" Boleh, mau tanya apa?" tanya Galuh sambil tersenyum manis.
" Kamu masih mencari Mira?" tanya Siska. Ia tau jawaban Galuh akan menyakiti hatinya karena ia tau tadi pagi laki-laki itu masih mencari keberadaan Mira.
" Kenapa tanya begitu?" tanya Galuh balik.
" Cukup jawab bang, Abang belum izin bertanya loh." ucap Siska membuat Galuh geram dengan gadis itu.
" Jadi sebelum bertanya harus izin dulu?" tanya Galuh.
" Seharusnya gitu karena hubungan kita belum intim dan harmonis." jawab Siska masih senyum.
Siska terkejut melihat Galuh beranjak dari kursinya dan memeluknya dari belakang.
" Maksud....ku...." ucap Siska grogi dipeluk Galuh.
" Kenapa hmmmm?" tanya Galuh senang melihat Siska yang grogi.
" Abang jangan mengalihkan pembicaraan dengan memelukku kayak gini." ucap Siska dengan jantung berdebar- debar.
" Abang nggak tau dengan semua ini, saat ini dia memang masih ada dihati Abang, tapi saat kamu tadi sing bersama laki-laki lain makan siang tadi, abang marah sekali." ucap Galuh masih diposisi memeluk Mira.
" Abang cemburu?" tanya Siska.
" Abang tidak bisa menyimpulkan secepat itu, rasanya abang ingin menonjok laki - laki itu, apalagi melihat kamu tertawa bersamanya hati abang rasa terbakar." ucap Galuh lagi.
Galuh membawa Siska berdiri dan berjalan menuju kursi yang tidak jauh dari meja makan. Ia duduk dan mendudukkan Siska dipahanya.
" Abang nggak tau apa yang Abang rasakan sekarang, tapi bisakah kita memulai menjalani pernikahan kita dengan serius, Abang akan belajar mencintai mu, tadi ketika kamu bilang bercerai Abang takut sekali, Abang sudah memutuskan hanya menikah sekali seumur hidup, dan Abang janji tidak akan mencari dia lagi." ucap Galuh menatap manik mata Siska yang duduk dipangkuannya.
"Kamu mau memulai hubungan kita?" tanya Galuh kepada gadis yang hanya diam dipelukannya.
Siska mengangguk sebagai tanda bahwa ia setuju. Ia sangat mencintai lelaki yang memeluknya dari awal mereka bertemu. Ia mau menunjukkan perjuangannya dalam mencintai suaminya.
__ADS_1
" Aku akan berusaha agar menjaga apa yang sudah menjadi milikku." ucap Siska dalam hatinya.
" Abang nggak ada rasa sama aku?" tanya Siska sendu.
" Abang sayang sama kamu, buktinya selama kamu tinggal disini, abang selalu memperhatikan makan kamu dan lainnya." ucap Galuh dijawab dengan anggukan oleh Siska.
" Tapi abang nggak tau apakah itu cinta, berilah abang waktu untuk membuktikan apakah itu cinta." ucap Galuh penuh keyakinan.
" Jika itu tidak cinta?" tanya Siska agak takut.
" Abang akan belajar lagi untuk mencintaimu." jawab Galuh lagi.
" Jika bertahun-tahun begitu, masa bertahun-tahun akan belajar terus." ucap Siska memonyongkan bibirnya.
Galuh tersenyum melihat Siska yang memanyunkan bibir merahnya. Pandangannya tertuju pada bibir merah Siska yang menarik menurutnya malam ini. Ia mengecup bibir Siska dengan cepat. Siska terkejut ketika bibirnya dikecup Galuh.
" Maaf, bibirmu menarik perhatian bibir abang jika monyong kayak gitu " ucap Galuh tersenyum membuat Siska membeku seketika.
" Kenapa diam? mau dicium lagi?" tanya Galuh mencoba mendekatkan bibirnya tapi dicegah oleh Siska.
" Jangan curi ciuman gitu dong." ucap Siska.
" Kan udah jadi istri, apa suami mencuri ciuman jika mencium istrinya sendiri." ucap Galuh tersenyum.
" Apakah dikatakan suami jika ada gadis lain disini." tunjuk Siska kedada Galuh.
" Jangan menggoda sis." ucap Galuh merasa geli ketika telunjuk Siska bermain di dadanya.
" Malam ini kita sekamar?" tanya Siska.
" Yah sebagai permulaan hubungan kita, malam ini kamu tidur dikamar abang." ucap Galuh menarik tangan Siska menuju kamarnya.
" Bang piringnya belum dicuci loh." ucap Siska menyadari belum mencuci piring selesai makan.
" Besok aja, ada yang lebih urgent." ucap Galuh terus menarik Siska kekamarnya.
Galuh menduduki Siska diranjangnya lalu mengecup bibir Siska. Ia bukan hanya mengecup sebentar tapi *******. Siska membalas ******* bibir Galuh karena sejatinya ia sangat mencintai lelaki ini. Ketika ******* mereka terlepas Siska berkata
" bang bolehkah...." ucapannya terputus karena telunjuk Galuh dibibirnya mengisyaratkan diam.
"apakah abang boleh meminta hak Abang?" tanya Galuh yang dijawab oleh anggukan dari Siska sambil tersenyum.
Galuh tau jika Siska ingin meminta haknya sebagai istri. Namun ia tidak mau merendahkan harga diri istri dimalam pertama mereka. Ia akan mengambil jalan permainan malam hari ini dengan baik.
__ADS_1