Dia Milik Ku

Dia Milik Ku
ara sedih


__ADS_3

"Awas"ucap ara sambil mendorong ian pelan agar membuka jalan untuk dia keluar menuju arah pintu dan keluar.


"eh ara,araaaaaa"teriakan fian menggelar di kantor itu,sambil mengejar ara,yang sudah masuk ke lift.


tak


tak


tak


terdengar suara sepatu dari fian yang terdengar begitu keras dari arah tangga menuju kelantai dasar, bahkan saking cepatnya,beberapa lantai tangga nya terloncat oleh kaki nya.sedangkan para karyawan yang melihat nya kaget.


"ada apa dengan bos kita?"tanya para karyawan


"apa ada hal yang begitu gawat?"ucap nya lagi ke arah para karyawan lain.


di lantai dasar


"hah hah hah,ara,hah"ucap fian setelah sampai di lantai dasar dengan nafas tersengal-sengal,bahkan saking cepat nya,pintu lift yang khusus untuk nya dan eki yang terdapat ara di dalam nya belum terbuka.


tink' pintu lift terbuka dan keluar lah ara dengan langkah nya yang cepat menuju represionis,fian yang melihat nya langsung menghampiri nya dengan cara sedikit berlari,padahal dia masih capek,terdengar dari nafas nya yg belum stabil.


"permisi mba,ini di daerah mana nya?"tanya ara tenang menormalkan diri walaupun masih terlihat oleh represionis kalau wajah nya sedang menahan marah.


"di daerah xxx,kenapa nya nona?"jawab sang represionis dengan sopan sambil menanyakan.


"kaya nona yang pagi tadi dengan bos,walaupun wajah nya gak terlihat,tapi seperti nya dia" ucap represionis


"oh makasih mba"ucap ara ingin pergi


"mau kemana ha ha ar ha"ucap fian yang baru datang sambil mencekal tangan ara pelan takut kanya tadi,dengan nafas yang belum teratur.


"terserah ara"jawab ara ketus menepis tangan fian yang memegang nya yang tidak mau lepas.


grep' fian malah memeluk ara di sana,tanpa memperdulikan sekitar.


"araaa,ian mohon ar,jangan kanya gini,ian gak sengaja ara,maaf nya"ucap fian sambil memeluk ara dengan erat


"hiks,hiks"terdengar isakkan kecil dari ara di pelukan fian


"ara gak mau ketemu ian lagi,ara gak mau"ucap ara menggoyang goyang kan tubuh nya sendiri,berharap fian melepaskan pelukan nya.


"araaa"gumam fian pelan,melepaskan pelukan nya.

__ADS_1


"tatap aku ar"ucap fian dingin sambil mengangkat dagu ara lembut, seketika pandangan kedua nya bertemu,dengan mata ara memerah karna tangis ,sedangkan mata fian menatap mata aran dingin.


"kau tak ingin melihat ku lagi ar?"tanya fian dingin menatap ara yang mulai takut melihat fian.


ara hanya diam


"jawab ara?"tanya fian lagi sedikit berteriak tapi tidak terlalu keras


"hiks hiks"hanya terdengar isakkan tangis dari ara.


sedang kan para karyawan di sana melihat yang di lakukan bos nya itu hal yang biasa bagi mereka semua terutama eki yang melihat dari kejauhan di dekat lift,ternyata dia dari tadi melihat pertengkaran mereka, tapi yang menurut mereka aneh,bos nya ini gak pernah marah marah terhadap perempuan,kecuali para pegawai nya yang lalai bekerja,dan bos nya juga gak pernah terlihat bawa perempuan.


"ikut aku"ucap fian dingin sambil menarik tangan ara dengan tidak menyakiti nya keluar gedung memasuki ara kedalam mobil.


ting' suara hp eki pertanda ada pesan


isi pesan


"kau yang handel semua kerjaan saya ki" dari tuan kevin


"baik"jawab singkat eki membalas pesan dari bos nya


"nona,nona,kau menambah pekerjaan ku saja,sedang santai nya saja tuan memberikan pekerjaan nya kepada ku,apa lagi ini nona"ucap nya sedih mengingat perintah bos nya.dan pergi keruangan kerja nya mengerjakan pekerjaan yang seharusnya di kerjakan.


di perjalanan di mobil fian


"emang ingin nya kemana"jawab fian masih saja dingin tanpa menatap ke arah ara walaupun hanya sebentar.dan itu membuat ara makin sedih lagi.


"bahkan dia saja ketika bicara tak melihat ara sebentar saja"ucap ara sedih melihat fian sebentar,tanpa di sadari ara, ternyata fian terkadang memerhatikan gerak gerik ara walaupun gak terlalu lama,karna dia juga harus memerhatikan jalan di depan nya,takut menabrak sesuatu di arah depan.


tiba tiba perasaan ara berubah,seakan dia tidak bisa menghirup udara dengan baik,dadanya sesak.


"ian,ara mau pulang"ucap ara pelan bahkan sampai tidak terdengar jika fian tak menajamkan pendengaran nya.


fian diam mendengarkan


"ian,ara mau pulang"lanjut ara


"itu lagi itu lagi yang ara bicarakan,AKU BILANG JANGAN PER.."ucapan fian terhenti mendengar suara ara.


"ian,jangan bentak bentak dengan suara keras, please,hari ini aja nya"ucap ara terdengar lirih di telinga fian.


"ara,ara,kau kenapa?,ara"ucap fian menyadarkan ara yang mulai gak sadar itu,setelah memberhentikan mobil nya di pinggir jalan.

__ADS_1


"da-dada ara hah,se-sesak i-an"ucap ara mulai sesak di dadanya


"hahhhh"ara mulai sesak


"a-apa sesak?"tanya fian kaget bergegas menancap kan gas mobil nya menuju rumah sakit.


"bertahan ara,jangan buat ian panik"ucap fian lagi sambil melaju kecepatan tinggi


"i-ian"ucapan terakhir dari ara sebelum pingsan.


"araaaa"panik fian melihat ara yang sudah tidak sadarkan diri.


setiba di rumah sakit


"DOK,DOKTER,DOKTER"teriak fian menggelegar di rumah sakit sambil menggendong ara dengan kedua tangan nya.dokter yang mendengar suara teriakan langsung menghampiri sumber suara.


"eh tuan fian"ucap dokter pria kaget melihat fian di rumah sakit nya


"jangan kaget gitu,cepat periksa dan obati ara ku"ucap fian membentak dokter di depan nya,dan beberapa suster.


"i iya,ayo tidurkan di ranjang kamar ini dulu,biar kami periksa"jawab sang dokter menunjuk ke arah ruangan kamar pasien yang terletak di belakang nya.


"untuk satu orang kan?"tanya fian sempat sempat nya.


"iya"jawab nya singkat,dia juga tau kali,kalo fian gak mau berbagi ruangan dengan siapapun.


"tuan keluar dulu,biar saya periksa"ucap dokter sopan ke arah fian ketika ara sudah di tidurkan di ranjang nya.


"kau memerintah ku"kesal fian menjawab sang dokter


"bukan begitu..."jawab sang dokter terhenti


"cepat periksa,kalo dia kenapa napa,awas kau"ucap fian mengancam sang dokter


"iya iya"jawab sang dokter pasrah,karna kalau


di lanjutkan bisa bisa dia di pecat sang pemilik rumah sakit,yaitu fian.


setelah selesai memeriksa ara,para suster yang ada di sana pun di suruh keluar oleh sang dokter, tinggallah mereka berdua di ruangan dengan ke adaan sunyi.


.


.

__ADS_1


.


bersambung 🍁


__ADS_2