Diary My Sekolah [S1-S2]

Diary My Sekolah [S1-S2]
21. Liburan Bag. II


__ADS_3

Selesai mereka tampil di atas panggung, ku balikkan tubuhku. Heru tidak ada didekatku, aku keluar dari rombongan penonton mencari terus sekitar lapangan yang sebesar lapangan bola tersebut. Namun hasilnya nihil. Mulai panik, gelisah dan khawatir. Ponsel ku pun hampir habis baterai nya, ketika aku menghubungi Heru tidak di angkat padahal aktif.


Beberapa menit aku berdiri ditengah lapangan, aku mulai kebingungan. Karena aku tidak hafal jalanan di kota ini. Apalagi ponsel yang aku harapkan telah habis baterai nya. Satu-satunya cara, aku menunggu di parkiran motor yang berada di sebrang jalan. Karena parkiran yang ada telah penuh.


Penduduk kota ini sangat ramai, kendaraan tidak ada hentinya lewat. Bahkan orang-orang di lapangan pun banyak untuk menyebrang. Entah kemana petugas yang menjaga tampak hilang. Pikiranku mulai tidak karuan, ku mencoba mengikuti kerumunan orang yang ingin menyeberang jalan.


Syukurlah, aku berhasil menyeberang dan ku cari motor Heru ditempat kami memarkirkan motor. Aku ingat betul tempat nya, dibawah pohon dengan tanda 2 garis pink. Tapi nihil sekali, tidak aku temui motornya. Sekarang sudah pukul 9 malam. Aku berdiri di situ menunggu Heru datang. Orang-orang pada memandang ku, aku sangat sangat resah rasanya ingin nangis dan teriak. Tapi aku takut, aku tidak begitu mengenal orang disini.


" Heru. Kamu dimana sih ? Aku takut gak bisa pulang". Keluhku menoleh kiri kanan.


Tak lama itu. " Hei !!". Suara di samping ku. Pikirku itu Heru,ku lirik sumber suara.


" Her-...... Rehan !!!". Kagetku.


" Tersesat ya. Kasihan. Ayok balik sama aku". Ajaknya padaku.


" Gak mau ! Mana Heru ?".


" Mana aku tahu. Ayok pulang sama aku !!". Paksanya menarikku. Tidak peduli orang melihatnya kasar padaku.


" akuuu gak MAUUUU !!!". Bentakku sambil berusaha menarik tanganku.


" Cepat. Aku cuma ngantar kamu doank. Gak sampai nyulik kamu". Bisiknya.


" GAK MAUUUU !!!". Kataku yang masih usaha menarik tanganku meskipun terus diseret untuk masuk ke mobil. Pikiran ku masih kacau dan mulai menjatuhkan air mata. Berhubung tempat parkiran itu tidam terang, jadi tidam ada yang tahu kalau aku menangis.


" Lepasin dia !!!".


" Oh .. bisa juga Lo lolos dari mereka". Balas Rehan.


" Heru !!!". Panggil ku dengan suara nampak jelas paraunya.


" Lepasin dia. Kalau mau ngambil hatinya jangan pakai cara kotor !!". Bentak Heru.


Rehan mula kepancing kata-kata Heru. Tanganku pun terlepas dari nya. Aku melerai mereka berdua, dibantu orang-orang yang lewat. Akhirnya, Rehan kabur menggunakan mobilnya dan beberapa orang suruhan nya. Dasar cowok curang !!!.


" Kamu gak-".


" Kemana aja sih, aku takut kamu hilang". Spontan ku peluk Heru dan sedikit menangis kembali.


" Maaf ya, kita tadi terpisah". Mengelus ku dengan lembut.


" Jangan jauh-jauh, ku takut Ru !!". Ku lepas pelukan ku tadi.


" Takut aku kenapa-kenapa?". Tanya Heru sumringah.


" Bukan, aku takut gak bisa pulang !!". Jawabku ceplos.


" Teganya...ya sudah kita balik yuk !". Ajak Heru.


" Motor mu dimana?".


" Agak jauh sih, kita jalan kaki gak papa ya ".


" Em. Gak papa kok !!". Berjalan keluar dari tempat parkir yang gelap. Jalan yang kami telusuri pun mulai terang. Dengan kaget, ku berhenti di ikuti Heru .


" Wajahmu kenapa?". Tanyaku


" Tadi saat kita terpisah, aku mencoba mencari mu ke depan penonton tapi tidak ketemu. Pikirku lebih baik nunggu diparkiran". Jelas Heru.


" Intinya wajah itu kenapa Ru !!!".


" Aku di seret orang tidak ku kenal di tempat gelap. Lalu di gebukin. Motorku pun ikut dibawa !".


" Maaf Ru, karena aku lah kamu jadi begini".


" Tenanglah, ini gak seberapa. Kita balik ya".


Kami pun pulang, hatiku masih sedikit cemas entah habis ini apalagi yang dia lakukan ke mereka. Heru mulai menenangkan ku. Akhirnya, aku telah sampai ke rumah.


" Apa nanti alasanmu kalau wajahmu gitu?".


" Gampang !!! Tidurlah, jangan mikir yang berlebihan oke !". Heru senyum padaku


" Iya hati-hati ya pulangnya. Kasih tahu aku kalau sudah sampai !". Kataku.


" Oke My Girl !!".


****


Liburan ku disini tersisa seminggu lagi, demi menjaga mereka berdua. Aku jarang bertemu mereka, akan lebih aman kalau mereka di rumah. Pagi ini, aku ingin berkunjung ke hotel Bunda Heru. Untuk makan bersama. Tapi Ayah, Ibu dan Elli tidak bisa ikut. Ayah kerja sedangkan Ibu dan Elli pergi belanja.


Rencana ku untuk belanja hari terakhir aku disini. Aku pergi menggunakan ojek online, kalau meminta Heru takut kenapa-kenapa. Di perjalanan sangat padat jadi lumayan macet. Beberapa menit, aku sudah sampai didepan hotel tempat Heru menginap. Aku masuk hotel ternyata Heru sudah menunggu ku di depan hotel.


" Duduk sini, kita tunggu Ayah sama Bunda masih siap-siap !". Kata nya menepuk sofa menandakan aku harus duduk didekat nya.

__ADS_1


" Oke !!". Kataku lalu duduk.


" Gimana Ari mu?".


" Dia kerja. Jam istirahat kerja aku mau ke sana".


" ih gapain?".


" Jalan-jalan. Rindu masa PKL". Jawabku.


" Pasti mau mojok !". Kata Heru yang masih memainkan hp nya.


" Gak kok, aku rindu makanan disana jadi kak Ari membawa ku. Kamu gapain sih, hp mulu !". Ku mengintip ke arah hpnya, Heru pun menjauhi ponsel nya dari pandangan ku.


" Kepo !".


" Oke !".


Tak lama Ayah dan Bunda Heru sudah tiba, kami berjala menuju mobil. Aku ngikut saja, Beliau membawa ku. Mungkin ada mereka, Heru akan aman. Ngobrol biasa di dalam mobil, karena Ayah nya Heru sangat seru dan lucu. Heru terus-menerus sibuk dengan ponsel nya. Aku malas menegurnya.


Sudah sampai di tempat makan. Aku turun, karena malas sama Heru yang sibuk sama ponsel nya melulu, diriku berjalan di samping Bundanya. Duduk pun di tengah mereka.


" Gimana kabar Ayah nya Ayu? Masih sibuk kerja kah?" Tanya Ayahnya.


" Iya om. Katanya deadline". Jawabku.


" Ibu sama Elli kok gak ikut ?". Tanya Bunda.


" Katanya mau belanja, soalnya persediaan dirumah menipis Bun". Jawabku.


" Heruuuuuu... Kenapa hp terus?". Tanya Ayahnya.


" Bentar yah !". Jawab Heru.


" Kalau kamu begitu, yang didepan mu bakal hilang di ambil orang". Kata Ayah memandang Heru. Heru pun mendengar nya langsung melihat kami.


" Dia gak bakal hilang !!!". Jawab Heru.


" Emang apa yang hilang Om?". Tanyaku.


" Gak papa kok ".


" Ayu mau gak jadi anak Bunda?". Tanya Bunda melirikku.


" Hah maksudnya Bunda apa?".


" iya Bunda tahu. Cuma nanya aja !!".


" Ayu gak paham. Tapi bunda sudah Ayu anggap seperti ibu Ayu sendiri". Kataku sambil senyum.


Makanan pun datang yang memenuhi meja. Melihatnya saja aku sudah sangat lapar tapi karena ada orang tua Heru, aku harus sopan jangan gegabah. Jadi aku ambil sedikit ke piring ku.


" Jangan jaim gitu. Makan aja. Kamu kan perut karet !". Ejek Heru pada ku. Mata ku memandang nya tajam.


" Ayu makan nya banyak kah?". Tanya Bunda


" Iya Bun. Waktu jalan aja makan terus. Semua di coba nya". Balas Heru .Dasar Heru. Membongkar rahasia ku. Awas aja nanti.


" Gak papa, makan aja . Jangan malu oke". Kata Ayah.


" Betul tu. Jangan sok jaim gitu !!!! Uwekkkkkkk😝". Heru menjulurkan lidahnya ke aku. Ku balas dong. Tapi dia malah tertawa tidak jelas. Padahal mukanya saja masih ada bekas luka-luka yang waktu itu.


" Kalian tu gak berubah ya. Saat kecil sampai sekarang masih suka berantem". Sahut Ayah sambil menyuapkan makanan.


" Ayah !!!!". Balas Bunda menepuk pundaknya pelan.


" Saat kecil?". Aku sedikit berpikir.


" Gak sayang. Kata ayah kalian tu seperti anak kecil yang suka berantem". Jawab Bunda.


" Ohh gitu. Heru sih yang duluan usilnya". Sela ku lagi.


" Biarin wekkkkkkkk😝 ".


" Udah ya, makan dulu keburu dingin". Kata Bunda.


Kami kembali menyantap makanan. Aku tetap harus sopan meksipun makan ku diluar batas namun tetap ramping. ( Hingga kini masih ramping, belum bisa gemuk-gemuk ). Tak lama, makanan yang disajikan pun habis. Ku pandang jam masih jam 10 pagi. Ayah pun membayar makanan tadi, lalu kami masuk mobil.


Keliling menemani Bunda belanja untuk dibawa oleh-oleh pulang nanti. Lusa mereka pulang. Setelah puas berbelanja, kami kembali masuk mobil ditunggu Heru dan Ayah yang berada di luar mobil sambil meminum es. Lumayan belanja nya memakan waktu lama, sekarang pukul 12 pas, aku meminta ijin untuk di antarkan ke RS . Akhirnya, ayah mau mengantar ku . Sampailah aku didepan RS , lalu pamit pada bunda Ayah sama Heru, anak itu masih sibuk main ponsel bikin jengkel. Awas saja gak akan aku tegur besok-besok.


Mobil Ayah Heru masih ku lihat belum berjalan. Aku mendengar suara panggilan namaku. Ternyata Kak Ari ada di belakang ku. Kami mulai menyebrang jalan, karena jam istirahat kerja dan pulang sekolah. Sungguh padat. Didepan ku masih ada mobil Ayah Heru. Ku perhatikan,mereka seperti melihatku.


Kak Ari pun menarikku karena jalanan sudah mulai sepi. Di bimbing kak Ari, kami menyebrang jalan. Ku lihat motor melaju kencang dari arah kanan seperti ingin menabrak kak Ari. Segera ku tolak kak Ari ke depan.


# BRAKKKKKKKK

__ADS_1


Entah apa yang terjadi padaku, rasanya tidak sanggup bergerak. Hanya mendengar teriakan namaku. Setelah itu aku tidak mendengar nya lagi. Mungkin saja aku tertidur.


Saat itu, aku berada di tempat yang kosong dan putih. Aku berjalan lurus ke depan dan makin jauh melewati tempat putih tadi. Aku menemukan taman bunga kesukaan ku, mawar maroon yang indah. Taman yang luas, ku rebahkan diriku. Sungguh nyaman disini.


Berbaring di kelilingi bunga indah dan matahari pun tidak terik, angin sepoi-sepoi sungguh indahnya sambil memandang langit biru yang terus bergerak. Aku tidak sengaja mendengar suara teriakan kucing.


Entah dari mana mereka datang. Ku perhatikan dengan baik, ternyata kucing-kucing yang banyak mendatangi ku adalah kucing-kucing dulu yang aku pelihara namun sudah mati. Mereka aku pungut di jalan, entah berapa jumlahnya aku terus membawa kucing yang terlantar di jalan.


" Ya Allah aku rindu Naru !!". Aku mengendong Naru, salah satu nama kucing ku. Karena terus-menerus mati, aku sudah tidak berani mengambil kucing lagi. Rasanya ditinggal itu sangat sedih.


Aku bermain bersama mereka, mereka sangat nurut padaku. Berjalan saja mereka mengikuti ku. Sungguh imutnya tingkah mereka, membuat ku betah disini. Aku lelah, aku pun tertidur dengan dikelilingi mereka.


Tak lama aku bangun, langit sudah berubah di penuhi bintang dan bulan didepan ku menerangi pandangan. Di penuhi kunang-kunang yang berkelap-kelip di seluruh taman bunga. Sungguh pemandangan malam yang indah. Membuat pikiran ku tenang.


Aku tidak tahu berapa hari sudah aku ditaman. Aku merasa saat ini ada yang memanggil ku entah dari mana. Ku coba mencari suara tadi belum juga ketemu.


" Ternyata aku sudah tiada. Maafkan aku Ibu, Ayah. Aku belum bisa membuat kalian bahagia. Karena aku pergi duluan ".


Aku mulai terpuruk, tapi kucing-kucing ku menghibur ku, sedikit membuat ku tersenyum. Mereka berlari dari ku lalu ku kejar mereka yang rasanya makin jauh dari taman bunga.


" Ayu jangan tinggalkan aku !!!".


Suara itu seperti berasal dari belakang ku. Ku balik tubuh, ternyata ada Heru dan Kak Ari. Kenapa mereka disini?.


" Dek, jangan pergi. Kamu kuat !!".


Aku begitu tidak tega melihat mereka menjatuhkan air mata. Padahal mereka ku lihat sangat tegar. Ku balik lagi pandangan ku ke depan dan berjalan menjauh.


#BRUKKKKKK


" Kamu kuat, kamu harus tetap hidup. Sampai kapanpun aku tetap sayang kamu !". Putra didepan ku dan memelukku, sungguh pelukan yang nyaman buat ku. Apa karena hatiku masih mengharapkan dia? Mungkin saja. Hanya dia yang bisa membuat ku nyaman.


****


Tak lama, mataku sedikit demi sedikit ku buka. Ku gerakan sedikit jari-jari ku. Ahh, ternyata tubuhku masih sakit. Entah aku dimana, aku hanya merasa aku kembali ke dunia ku. Aku melihat Ayah dan Ibu di dekatku menangis tersenyum.


" Ya Allah syukurlah, kakak sudah sadar". Kata Ibu.


" Kakak gak papa kan? Ayah tahu kakak kuat !!". Kata Ayah.


" Yah !!!". Panggilku, aku ingin menanyakan kak Ari tapi mulutku sulit berbicara banyak.


" Ya kak, kakak tertidur selama 3 hari di rumah sakit. Tenang aja, kak Ari gak kenapa-kenapa sayang". Jelas ayah padaku.


" Ayu kamu gak papa?".


" Dek gimana, sakit kah?". Mereka berkumpul didekat ku. Aku bersyukur semua baik-baik saja. Namun, aku mencari seseorang yang tidak ada di antara mereka.


" Put- ut-ra !!". Kataku.


" Ayu, Putra masih dijalan ke sini !". Kata Heru.


Singkat cerita,


Tubuhku berangsur membaik. Namun tidak bisa banyak gerak. Kata Ibu aku mengalami luka yang lumayan. Aku terlempar jauh saat di lokasi, itu cerita ayah Heru padaku yang melihatku. Aku sudah bisa berbicara kembali, semua kabel dan alat-alat di tubuhku lepas hanya tersisa infus di tanganku.


Putra hanya sebentar mengunjungi ku waktu itu lalu balik lagi melihat istrinya. Melihatnya saja aku sudah merasa sedikit baikan. Heru pun tidak jadi balik pulang, karena ingin menjaga ku bersama Ibu,Ayah ,Elli dan kak Ari.


Saat malam hari yang menjaga ku Heru dan Kak Ari. Mereka duduk di sebelah kanan kiri ku. Kondisi ku masih terbangun dengan posisi duduk di atas kasur.


" Maafin aku, karena aku kalian celaka dan tidak tenang !". Kataku pelan.


" Kenapa nyalahin diri sendiri dek, gak papa kok !!". Jawab Kak Ari.


" Lebih baik kamu jujur, apa sebenarnya yang kamu sembunyikan?". Kata Heru.


" Gak ada apa-apa ".


" Kenapa hanya didekat kami, kamu terus mengalami hal buruk?". Tanya Heru.


" Ru, jangan gitu. Ayu masih sakit !!". Balas kak Ari padanya.


" Kalau dia gak jujur, kita gak bakal tahu. Dan dia terus celaka !". Kata Heru.


" Aku sudah berjanji, kalau kalian celaka. Aku akan mencelakakan diri ku sendiri. Aku tidak mau kalian terlibat !!!".


" Janji sama siapa?" .Tanya Heru.


" Aku bersyukur Putra dan Silvi baik-baik saja disana !!". Kata ku.


" Dek, apa maksud mu. Cobalah jujur !".


Aku hanya diam tidak menjawab pertanyaan mereka. Tingkah Heru mungkin kesal padaku lalu dia pergi keluar dari ruangan ku.


Hari ke hari pun berlalu, Heru tidak ada kabarnya mungkin saja dia sudah pulang. Karena luka yang cukup parah di bagian kaki, aku agak kesulitan berjalan. Namun, hari ini aku ingin berbelanja karena esok aku balik . Aku belanja di temani kak Ari, dengan sabar dia membantu ku berjalan. Aku tidak memakai tongkat atau bahkan kursi roda.

__ADS_1


Berjalan biasa saja tapi masih pincang. Aku merasa sudah mulai puas belanja. Seperti nya Rehan belum kapok, masih saja mau mencelakakan orang terdekat ku. Kali ini makanan kak Ari yang di berikan obat tidak jelas. Untung saja seorang pengunjung memberitahu kami.


__ADS_2