Diary My Sekolah [S1-S2]

Diary My Sekolah [S1-S2]
Suara Hati Putra : Kelas 2 Cha. 1


__ADS_3

Tak terasa aku sudah naik kelas begitu cepat, setelah usai melaksanakan MOS yang diwajibkan bersama adik kelas baru. Kini, aku sudah menjadi kakak tingkat mereka. Lumayan berkuasa juga aku di sekolah, apalagi kedudukan ku lebih tinggi dari kelas satu.


Untuk menguji coba anak-anak baru satu jurusan ku. Kami membuat ke isengan yang sangat absurd di mohon untuk tidak menirunya ya ! Aku bersama teman-teman gesrek ku menyeret mereka menuju ke belakang kelas sekertaris. Dimana itu sarangnya asap rokok.


" Anak Penjualan gak akan di akui kalau gak nakal !". Pekik ku yang disaksikan adik kelas baru.


Tampilan rapi serta malu-malu kucing. Memang tampilan anak pemula pada umumnya, sedikit di poles saja pasti memancarkan kenakalan melebihi ku !


MOS usai, aku masih saja mengospek mereka dengan menyodorkan sebatang putung rokok utuh beserta koreknya. Bukannya penolakan malah mereka mengiyakan. Cukup senang juga aku mengerjai anak-anak polos ini.


" Put, aku ke kelas duluan ya ?!". Alif menepuk bahu ku dan beranjak menjauh.


Aku sekarang tengah tersenyum geli menatap anak polos ini begitu lihai menghisap rokok. Ternyata memang menyimpan bakat terpendam.


" Hei, kalian !!". Tunjuk ku. " Sudah sanalah, buang rokok itu !". Ujarku memerintah. Mereka pun segera melaksanakan nya.


Usai mereka mengundurkan diri, aku begitu menyaksikan didepan mata yang tak jauh dari aku bertengger menghisap beberapa rokok yang tersisa. Terlihat drama romansa antara Ayu dan Heru. Masih pagi, mereka begitu mesra? Menyebalkan sekali menatap terang-terangan begini !


Dia pun berjalan sedikit, baru beberapa langkah. Aku berinisiatif segera menghadang langkahnya.


" Kamu gapain ?". Tanyanya melihat ku, menatap curiga.


" Hah ?". Jawabku seolah kaget. Dan kesekian detik aku baru lah sadar, kalau rokok ini belum ku buang. Ah. Sial memang nasibku ini !


" Apa itu? ". Tanyanya melirik kebawah.


" Ga-gak gak papa kok". Jawabku lalu menyembunyikan rokok tadi ke belakang.


" Bohong. Sini aku mau lihat ! ". Tuturnya berusaha mengambil rokok tadi yang di sembunyikan di belakangku. Bukanya dia dapat malah terkena api nya. Maafkan aku ! Aku tidak sengaja. Lagian untuk apa kamu mau tahu urusanku ! Hanya benda inilah pelampiasan ku.


" Aw !!!". Ringisnya memegang jari, terlihat perih menjalar ke tubuhku.


" Maaf !". Ucapku ikut memegang jarinya berniat untuk sedikit memberi angin kecil agar panasnya tak terasa. Tapi malah dia menjauh dari ku.


" Jangan dekat-dekat !". Keluh Ayu. Ku kesal juga, kenapa dia kian menjauh bukannya menjauh tapi malah aku terus mendekati nya.


" Kamu ada hubungan apa sama Heru ?". Tanyaku menyelidiki.


" Hah gak ada !". Sahutnya masih mengibas jari yang terkena api kecil dari rokoknya.


" Bohong !!!!!". Teriak ku sepontan.


" Astaga gapain sih teriak gak jelas. Ketahuan kamu nanti disini lagi merokok ". Ujarnya terdengar peduli.


" Bodok amat !!!". Usul ku lagi, padahal senang banget ada yang peduli begini.


" Put, dengarkan aku. Terakhir aku bilang apa. Kamu perbaiki sikapmu". Sarannya kedua kali. Mungkin saran ini akan ku pertimbangan kan.


" Buat apa baik. Kalau kamu tetap gak mau sama aku?". Imbuh ku lagi. Bosan berbasa-basi. To the point aja deh !


" Apaan sih. Udahlah". Dia pergi dari ku tapi tidak jadi karena aku berhasil memojokkan nya di tembok kelas.


" Aku akan ubah sikapku !". Ku menatapnya lekat dan makin dekat. Namun dia langsung duduk agar terhindar dari ku. Apa? Aku tidak berniat buruk kok ! Dia melihat ku lalu pergi meninggalkanku begitu saja.


Setibanya aku didalam kelas, sosok ku disambut oleh teman-teman yang bisa dikatakan tidak waras, merokok didalam kelas. Dikarenakan jadwal kelas belum dirilis berarti kata lainnya adalah jam kosong.


Aku duduk di bangku yang sudah aku pilih di barisan belakang. Melamun meratapi nasib asmara yang tak kunjung berkembang layaknya bunga. Malah terasa semakin menunduk layu. Beberapa kali, aku mendengar tawaran sebatang demi sebatang rokok.


" Ntar aja !". Ucapku memelas.


Namun, sialnya juga tanpa sadar anak-anak mengerjai ku. Demi menghindar tawaran, aku sudah duduk didepan kelas sambil memikirkan rencana apalagi yang ku layangkan untuk gadis bernama Stella Ayu Wijaya tersebut.


" Putra ! Apa-apaan kamu beraninya merokok didepan kelas?". Suara Guru berkoar didepanku.


Lamunanku menjadi sirna seketika. " Loh, saya tidak me-". Ku lirik Putung rokok yang tersisa sedikit menancap di bibirku. " I-ini bukan punya saya, Pak !". Kataku membela diri sendiri.


" Ikut saya !". Bentaknya menjewer sebentar daun telinga kiri ku. Cekikikan tawa jelas di kelasku, awas saja kalian. Mengerjakan tidak tahu batas aturannya.


Baru saja kaki ku melangkah memasuki sekolah dan posisiku berada di kelas dua. Malah sambutan dari ruang BK kembali menertawakan sikapku yang seolah tidak berubah.


Kata-kata penjelasan yang sudah sangat hafal untukku, larangan sikap tak baik ? Aku tahu, aku sudah besar tidak perlu bilang berulang-ulang. " Iya, Pak !". Sahutku mengiyakan agar seluruh pidato selesai.


Bukannya di selesaikan, malah diperpanjang contohnya seperti membuat kartu SIM. Aduh ! Sampai jam sekolah usai, mulut Pak Guru dihadapan ku masih saja mengoceh.


" Dengar tidak?". Ucapnya bertanya, memasang tatapan geram.


Mengangguk. " Dengar , Pak. Kan telinga saya berfungsi !". Sahutku. Entah kenapa juga aku tidak menggubris kalau itu bukan ulahku ! Percuma sih, Guru tidak akan percaya.


" Kalau begitu, pakai telinga mu. Kalau dilarang ya jangan di lakuin terus. Kamu masih sekolah, rokok gak baik buat kesehatan mu !". Menambah ceramah nya lagi.


" Iya, Pak. Sudah ya, jam pulang sekolah tu. Saya mau pulang. Ada urusan di rumah !". Beranjak keluar, aku tidak peduli Beliau kembali mengumpat. Setidaknya pulang ini aku harus melihat wajahnya.


Aku segera kekelas mengambil barang ku dan menuju parkiran motor. Meskipun terlihat motor matic biasa, tapi aku nyaman dengan dia. Sejak dahulu sudah bersama ku rasanya belum ingin beranjak menggunakan yang lain.


" Seperti nya dia berada dia didepan ?!". Ucapku mulai melajukan motor ke badan jalan dengan kecepatan pelan.


Ya, akhir nya aku melihat dia duduk disana. Dan penglihatan ku tertuju pada gantungan kecil pada tasnya. Sebuah hadiah yang cocok untuk dia, kucing mungkin binatang yang umum di sukai. Senangnya, pemberian ku di letakkan di tas yang sekarang dipangkuan nya.


Sekejap aku memberhentikan motor di depannya. Ternyata ekspresi kagetnya itu lucu juga. Aku pun mengulas senyum dan mengajukan jempolku. Lalu melaju kan kembali motor matic hitam ini dengan kecepatan tinggi.


" Yes !!! Huuuhhhh !". Sorak ku tak jelas di tengah jalan. Hal kecil seperti itu ternyata bisa membuat orang kesenangan ya?


Sesampainya didalam kamar, aku turun kembali untuk mengisi perut yang sudah berkumandang merdu didalam. Seperti biasa, makanan sudah disiapkan tepat saat aku duduk di kursi sendirian.


" Makasih ya, Bi. Ternyata hadiah nya beneran di pakai ". Celetukku bahagia. Terlihat pelayan disamping ku tersenyum sumringah sambil mengambilkan aku nasi dan pelengkap lainnya.


" Syukurlah, Tuan". Jawabnya selesai beraktivitas dan mundur beberapa langkah. " Tadi teman Tuan Putra ke sini, katanya mereka bertemu di tempat biasa ". Jelas nya.


" Em". Ujarku singkat. Teman? Kategori teman dalam lingkungan ku hanya sebatas nama. Apa artinya pertemanan sesungguhnya, aku belum bisa mendeskripsikan begitu detail.


Jangan menyamakan aku dengan mereka, walau aku akui kalau diri ini juga terhasut jalan yang sesat. Setidaknya semua yang ku lakukan sekarang bisa mengisi rasa kesepian di rumah besar bagaikan komplek pasar ! Ramai akan perabot bukan manusia nya.


Ku sudahi makan siang ku, kemudian melanjutkan dengan bergelut di atas kasur yang empuk. Aku sudah menganti bajuku dan menatap layar ponsel. " Bagaimana bisa aku mendapat nomornya?". Pikirku, nomor Ayu sampai sekarang belum juga tersimpan di kontak ponselku.


Rey : Malam jadi gak?


Aku : Jadi, sabar Napa. Belum juga malam !


Imo : Jangan telat, malam ini kita ngumpul !


" Dua anak ini, selalu saja kompak". Gerutu ku begitulah saat membaca pesan adik kelasku saat SMP. Sebelas dua belas saja sikap kami, entah sekarang masuk SMK mungkin tidak akan berubah !


Tak terasa, malam sudah datang saja. Aku bersiap jam 7 malam. Kebebasan ku di mulai saat Papi dan Mami tengah sibuk diluar sana. Ku ambil kunci mobil yang biasa aku gunakan saat malam hari, siapa yang mau melarang? Tidak akan ada. Kasihan juga itu mobil bertengger di bagasi hingga usang.


Aku sudah duduk di tempat biasa kami berkumpul, bukan tempat aneh-aneh hanya sebuah cafe ala anak muda yang betah menongkrong lama-lama.


" Ujung-ujungnya aku yang menunggu mereka !". Ujarku geram, duduk sendirian menanti waktu terus berputar.


Beberapa menit sudah hilang, teman-teman ku mulai lengkap duduk disisi kanan dan kiri. Perbincangan ngawur mulai terdengar. Aku mengangguk tanda mengerti namun tidak begitu ingin aku sahut karena kepala ini masih penuh memikirkan sosok gadis manis duduk di jurusan sekretaris.


" Woi, Put ! Ngelamun aja. Kelamaan jomblo lu !". Seru Alif.


" Jangan ngatain diri sendiri !". Balasku santai menyantap makanan.


" Woi kupret ! Gimana barangnya ada gak? Susah ni, aku sudah kehabisan !". Imo alias Bimo berkomentar, memecah keramaian.


" Eh sapi ! Ini tempat umum, jangan nyebut itu, wah parah lu !". Sangkal Alif.


Beri tanda kutip ketika mereka menyebut barang ! Aku tahu, beberapa kali aku sudah memakainya. Namun akhir-akhir ini kembali lagi, rasanya ingin berubah agar bisa lebih dekat dengan dia.


Hal transaksi diam-diam di lingkungan pergaulan ku sudah menjadi hal biasa. Kali ini, Bimo dan Rehan tengah mencari barang tersebut pada Alif juga yang lainnya. Cafe menjadi ramai, akibat suara berisik mereka. Aku jadi tidak berkonsentrasi memikirkan pujaan hatiku yang belum bisa ku gapai hatinya.


" Permisi ! Ini minumnya !". Suara gadis disusul gelas berisi beraneka macam minuman diletakkan di atas meja.


" Makasih !". Balasku melirik gelas.


" Idih, sejak kapan si kupret ini belajar bilang terima kasih?". Suara tawa keras mulai bergema. " Pasti ada yang aneh ni sama dia !". Timpal Rey menunjukku. Dia Rehan, adik kelasku saat SMP atau bisa dibilang sahabat dekat Bimo. Kedua makhluk ini sama-sama brengseknya .


" Nama kamu siapa?". Rehan bertanya pada pelayan yang terlihat masih sangat belia.


Menunduk malu. " Silvi, saya anak pemilik Cafe". Jawabnya mengundang rangkulan senggolan yang menurutku iseng.


" Sudah punya pacar belum?". Imo menambah pertanyaan. Mereka masih saja asik menggoda perempuan lain. Ah ! Membosankan.


Menggeleng kepala. " Belum. Bukan kah kalian masih sekolah? Kok merokok?". Titah si gadis yang tadinya ku anggap pemalu dan sekarang malah berbalik.


Mendengar ucapan nya dengan nada cukup tinggi, kami pun jadi saling menatap heran. Gadis itu sepertinya seumuran dengan kami, dia masih berdiri didekat ku menunggu jawaban pasti dari salah satu mulut kami.


" Hmmm... Hmmpppp.. hahaha. Santai aja, aku gak sekejam itu melaporkan kalian ke ruang BK sekolah. Silahkan di nikmati !". Tertawa begitu santainya didepan ku kemudian melanjutkan aktivitas melayani pengunjung.


" Woi, tu cewek gak asing deh !". Sela Rey mulai merasakan aura curiga.

__ADS_1


" Tapi kalau di lihat-lihat, itu cewek oke juga. Ya gak?". Seru Alif meminta pendapat, tampang standar tapi hatinya seperti buaya darat.


Semua mengangguk kecuali aku, memasang wajah biasa saja. Bagiku tiada lain selain Ayu, sederhana bukan? Karena wajahku datar saat ditanya. Muncullah ide gila membuatku jengkel. Mereka mulai menjodohkan ku dengan gadis pemilik cafe ini.


" Gak ! Kita ke sini bukan membicarakan itu kan?". Ujarku memastikan ulang rencana utama.


" Di antara kita, cuma lu yang jomblo, Imo sama Alif cap playboy kelas dewa. Biar ceweknya di ajak selingkuh juga mau". Jelas Rehan. " Gak tahu juga mereka pakai mantra apaan ?!". Sindirnya melirik Alif juga Bimo.


" Sialan lu kambing !". Balas Bimo yang kulihat tidak terima.


" Sesama binatang, jangan ngatain !". Sangkal Rehan kembali. Suara cekikikan pun berhasil memecah seantero Cafe.


" Seru banget? Bahas apaan?!". Suara berasal dari sisi kanan ku, ketika ku toleh ternyata si topik utama sudah mampir duluan.


" Eh, Silvi. Ini bahas teman kami lagi jomblo". Temanku yang lain ikut menjawab.


" Memangnya kenapa jomblo, kan bukan aib juga". Jawabnya. Memang bukan aib sih menurutku, mereka saja yang heboh.


Alif pun tersenyum. " Aib buat teman kami tu". Kodenya melihat ke arahku. Dan gadis itu sudah duduk di sampingku menggunakan kursi kosong yang sempat di ambilnya.


" Sialan lu nyet !". Ujarku mengejek. " Sudah ah, aku pulang saja. Jadi bahas hal gak penting !". Mulai beranjak dari kursi.


Kaki ku belum jauh dari meja itu berdiri, entah kenapa terasa seseorang memegang tanganku. " Kok pulang? Aku baru saja duduk. Jadi kesinggung tahu !". Oceh gadis berbaju biru lagi tengah duduk di meja sambil tangan menggenggam lengan ini.


" Ekhem !". Kode yang terpancar dari mulutnya Rehan.


Karena tak enak hati omongan Silvi, aku pun duduk kembali mengikuti kemana arahnya pembicaraan. Terkadang asik terkadang garing untukku pribadi. Namun, aku berpikir lagi, kalau di rumah jadinya sepi. Aku pun menikmati ke garingan dan keasyikan mereka daripada dirumah hanya duduk melamun tak jelas.


_________


Tubuhku lelah, sumpah tidak ada gunanya aku hari ini hanya sibuk memandangnya dari jauh. Ku rebahkan lagi raga ku di atas kasur. Seharian di sekolah hanya sibuk mendapat hukuman dari Guru. Tidak mengerjakan tugas, bolos pelajaran praktek dan yang terakhir di kejar Guru Killer  yang  rotannya panjang dibawa kemana-mana berburu siswa yang tidak ikut shalat Dzuhur berjamaah.


Aku jalankan aktivitas dirumah seperti biasa, makan kemudian membersihkan diri lalu tidur sejenak untuk mengumpulkan tenaga ku nanti malam. Setiap malamnya aku tidak absen untuk keluar rumah, jadi hari ini tidak ada alasan tidak ikut ngumpul bareng mereka.


Malam kembali tiba, mentari berganti bulan. Aku pun sudah bersiap diri menjalan kan hidup bebas dari rumah besar ini, menggunakan mobil untuk menjemput Bimo, Alif juga Rehan ke rumah mereka.


" Mana si Alif? Di telepon gak di angkat ?!". Gumam Bimo usai menelepon yang di maksud.


" Coba deh ke Gang. Merpati dekat situ. Pasti tu anak disana !". Oceh Rehan menjelaskan arah jalan.


Dalam perjalanan yang asik mengobrol hanya mereka berdua, aku masih sibuk dengan kemudi yang ku bawa. Daun telinga ku kembang kempis tak sengaja mendengar, topik hangat adalah perempuan. Tidak heran memang sih, kan sudah terkenal buaya nya.


" Anggi lu kemanain ?". Tanya Imo, mereka duduk di bangku belakang.


" Gampang, dia tetap sama aku !". Jawabnya santai seketika aku mengintip bayang mereka lewat cermin.


" Rey, jadi beneran ortu mu beli mobil itu?". Aku membuka suara.


Rehan pun melirik. " Ada di rumah, katanya hadiah karena aku masuk SMK tanpa campur tangan dia". Jawabnya santai.


" Serius?". Memastikan kembali. " Keren dong. Dan lu ,Mo?". Melirik mata Bimo melalui cermin lagi.


Tersenyum sinis. " Gampang, ntar juga mobil Rehan jadi milik ku pribadi". Ocehnya bangga.


Bimo dan Rehan, siapa yang tidak kenal mereka . Bukan hanya buayanya yang dikenal namun tajir nya pun di atas  pemerintah daerah. Tapi entah kenapa malah memilih SMK biasa seperti ku? Hadiah yang sebatas mobil pun menjadi lumrah, beda dengan Alif lahir dari keluarga sederhana namun ya gitu. Gayanya saja ! Makan dan lain-lain pasti kami yang selalu bayar, namanya juga teman.


" Eh tu, si kupret  !". Tunjuk Bimo dari dalam mobil.


Dari luar gang sempit dan gelap itu, kami sempat melihat Alif di seret paksa oleh orang yang tidak ku kenali. Spontan saja kami turun dan menyusul nya. Aku berlari paling unggul daripada Rey dan Imo. Sinar lampu yang tak seberapa membuat mataku sedikit mengerti tentang keadaan didepan sana.


" Woi !!!". Sorak ku begitu nyaring. Langkah kaki sudah aku percepat hingga aku sudah berlari mengejar si pelaku.


Apa yang ku saksikan adalah pengeroyokan Alif dengan 3 tersangka. Mereka memukul nya habis-habisan di tempat sepi dan gelap, sebelum memasuki perumahan. Kini, Alif ku hampiri. Wajahnya penuh lebam sampai baju pun sedikit koyak.


Tiga makhluk biadab tadi ku habisi satu persatu dengan tangan kosong ku. Bukannya sombong, aku hebat dalam perkelahian seperti ini. Tak sampai semenit, mereka pun tersungkur di badan jalan. " Pergi kalian !". Pekik ku emosi.


Mereka sedikit meringis kesakitan. " Tunggu pembalasan ku !". Tunjuk salah satu dari mereka. Dari bawah cahaya lampu warna jingga, wajahnya sudah aku rekam lekat.


" Panggil bos lu !!!! Gak bakalan aku takut!!!". Teriakku keras mungkin urat dileher sudah tercetak jelas dan wajah ini merah padam.


Ketika pelaku mencoba melarikan diri, aku menolong Alif tanpa berkata-kata aku sudah membopongnya berjalan memasuki mobil. Dipertengahan jalan, Bimo dan Rehan berlari dengan nafas terengah-engah.


" Agh... Haffttt !!!". Suara mereka serempak bersandar pada tembok pagar area gang.


" Woi, bantuin sapi !!!!". Ujarku menyindir keduanya. Dengan helaan nafas terkesan berat dan lelah, akhirnya mereka ikut membantu ku menopang tubuh Alif.


" Lu kenapa sih, Lif ?!". Tanya Rehan.


" Bantu dulu, ceritanya ntar aja !". Sambung ku.


Jam istirahat sekolah tiba, tapi sebelum bel berbunyi pun aku sudah keluar kelas sejak tadi. Usai sebatang dua batang rokok aku pun ke kantin untuk mengisi perut ini. Semenjak pengeroyokan tempo lalu, Alif tidak bisa hadir ke sekolah dikarenakan harus istirahat. Sedangkan Bimo dan Rehan, kami jarang sekali ngumpul bersama di sekolah kecuali di luar sekolah tidak pernah absen.


Usai menyantap makanan, aku berniat melewati didepan kelas Ayu. Kebetulan saat bel berkumandang aku hanya melihat wajah-wajah temannya dari kantin. Pikirku mungkin dia ke kelas. Sepintas pemikiran itu sirna, saat aku melihat si Heru membopong Ayu dengan keadaan pucat pasi.


" Ayu kenapa ?". Tanya ku yang datang mendekat.


" Badannya panas, mau aku bawa ke UKS ". Sela Heru.


" Hah serius ???? Aku bantu sebelah ya ". Pinta ku menolongnya.


Heru di kanan dan aku di kiri nya. Sedikit melirik dia yang kakinya terus berusaha berjalan sedikit-sedikit. UKS sekolahku lumayan jauh dari kelasnya. Saat di perjalanan mataku melebar, wajah kami begitu dekat, hatiku juga merasakan debaran yang kencang. Aku yakin sekali ini adalah rasa dimana seseorang jatuh cinta.


" A-a-a-a ". Ujarnya terbata-bata dengan nada begitu pelan.


" Apaan sih diam aja !". Ceplosku terkesan mengomel.


" Ehhh kenapa marah-marah sama orang sakit ?". Bantah Heru menyindirku.


" Siapa yang marah sih?". Tutur ku, bisa tidak membedakan marah sama panik? Dasar otak udang !


" Elo !!!". Ucapnya mendesis.


" Jangan manas-manasin. Lagi gak mau ribut". Kata ku lagi. Lihatlah cewek di tengah kita ! Gak mungkin aku beradu jongos dengan mu.


" Oke". Jawab Heru judes.


Didalam kelas aku terus was-was memikirkan keadaan nya di ruang UKS. Meskipun aman disana tapi bisa saja laki-laki bernama Heru diam-diam menjenguknya.


Aku tidak bisa bolos atau sekedar ijin ke toilet sebentar. Aku juga sudah mencobanya tadi, namun Guru kali ini tidak membiarkan ku lolos dari dalam kelas yang terkunci rapat serta rotan panjang di atas mejanya.


Kesabaran ku mulai kehabisan, kali ini tinggal hitungan detik bel pun berbunyi. Tapi Guru yang bersangkutan masih terus menjelaskan. Telinga ku mulai jengah mendengar nya mengoceh. Seketika aku mulai terperangah dengan suara bel khas sekolah ku.


Ku tinggikan lenganku ke udara setinggi mungkin. " Pak, istirahat di mulai. Saya mau menjenguk teman saya di UKS !". Sangkal ku berani.


" Oh, baiklah . Kalian silahkan istirahat". Balasnya terkesan cuek.


Akhirnya telah lama aku ingin bebas. Langkah ku begitu buru-buru menuju UKS, namun dipertengahan jalan aku melihat Heru dengan santai nya berjalan seperti dugaan ku dia pasti menjenguk Ayu. Ku ambil jalan pintas agar lebih cepat mendahului nya.


" Ayu !!!". Aku berkoar di ambang pintu UKS yang tertutup tidak juga rapat. Ruangan ini memang menyejukkan, di sediakan bed untuk tiduran dan satu set meja dan kursi dikhususkan penjaganya.


" Ya". Jawabnya begitu.


" Gak papa kah?". Ujarku setelah berhasil menemukan letak dia rebahan.


" Iya gak papa kok". Imbuhnya yang terlihat pucat.


" Syukurlah. Sudah makan gak. Kalau gak aku belikan ya !". Tawarku, jujur saja aku begitu khawatir sejak tadi. Rasanya ingin menemani dia disini seharian.


" Gak usah. Teman-teman ku sudah belikan aku cemilan kok ". Selosor nya sedikit membuat ku kecewa. Kali ini saja, cobalah terima tawaranku.


" Oh gitu ya !!". Kataku masih berdiri tepatnya di ujung bed UKS .


"Permisi !!!". Seseorang memasuki UKS lagi." Keadaan mu gimana?". Masuk lah cowok itu dan melirikku kaget  di dekat. " Elu?".


" Gapain kesini?". Tanya ku bernada tidak suka. Sejak kapan juga aku menyukai rival ku sendiri.


" Mau lihat dia ! ". Tuturnya santai.


" Oh". Jawabku kembali menoleh gadis yang ku sukai.


" Lu sendiri?". Membalikkan pertanyaan padaku seorang.


" Jenguk dia". Menjawab tanpa melirik wajahnya yang menyebalkan, kalau bukan UKS sudah ku ajak ribut deh !


" Kalian kalau mau kelahi diluar aja . Aku mau istirahat !!". Sela Ayu berkata baring dan menutup seluruh kepalanya dengan selimut.


" Ni gara-gara lu , dia jadi marah". Kata ku lagi.


" Bodok !!!". Wajahnya melihat ku dingin  " Ayu, cepat sembuh yaa".


" Sok manis lu  !!". Ocehku tidak suka. Segampang itukah dia mengutarakan hatinya sedangkan aku susah sekali ! Aku iri !!!

__ADS_1


" Bodok amat !!". Celetuknya begitu menyinggung ku.


" Ngajak kelahi kah?". Ku susul dia dengan berdebat terus-menerus . Bahkan saat jauh dari UKS  pun kami masih adu argumen.


________


Hari ini sungguh nikmat yang diluar biasa, seluruh guru yang mengajar mata pelajaran di kelasku tidak hadir. Hanya segenap tugas beruntun tak ada habisnya diberikan. Bukan jadi penghalang untuk malas-malasan, rebahan atau sekedar bermain di kelas. Mau bolos juga malas, paling niat berlalu lalang didepan kelas Ayu untuk sedikit mengintipnya.


Bahkan sangking nikmatnya waktu bercanda bareng teman sendiri dan di temani beberapa bungkus rokok yang tersembunyi di laci meja, aku masih asyik tanpa peduli keluhan cewek yang tak suka dengan aroma asapnya.


" Put, lu gak istirahat? Tumben?". Isa mulai berkomentar.


Menghembuskan asap dengan kelihaian yang ku miliki hingga terbuai oleh rokok itu sendiri. " Ntar, habisin ini dulu !". Kataku setelah mengeluarkan asap tersebut dari lubang hidung.


Waktu pun habis entah berapa lama, aku sudah menghabiskan sebungkus kemasan yang selalu setia menemani ku di sekolah kecuali dirumah. Aku tidak berniat mati cepat hanya ada yang melapor aku merokok didalam rumah ke Papi.


Bersama yang lainnya, aku beranjak dari dalam kelas dengan santai. Tips menghilangkan aroma asap ketika memulai pembicaraan,mulut ku sudah mengecap permen rasa jeruk terkadang stok permen telah jauh hari aku siapkan didalam tas ranselku.


Aku melihat dari jauh saat itu ada Ayu melewati kantin sekolah, sedang menunduk seperti pura-pura tidak melihatku. Ketika namanya ku elukan dan  melambai tangan namun dia masih saja   tidak melihatnya. Saat didepan kelas X AK, aku berlari menyusulnya segera mungkin.


" Kamu kenapa?". Tanyaku penuh arti.


" Gak papa". Dia berjalan cepat namun sayangnya di daerah pipi itu terlihat begitu memerah panas. Tidak lama ku pandang, Ayu sudah menutupnya kembali.


" Apa ini?". Bertanya sembari memegang lengannya.


" Gak papa". Cecar nya terkesan panik.


" Bohong !!!!!". Pekik ku didepan kelas orang. Aku tidak peduli apapun kalau sudah akrab mulai merasuki jiwa ku.


" Aduh pake teriak. Malu tahu !!!". Jawabnya lalu berjalan lagi.


" Jujur sama aku dong Ayu !". Ku coba enghadang tubuh itu kesan kemari, agar kekhawatiran ini tidak begitu memuncak.


" Aku ke UKS mau minta obat. Jangan ganggu aku". Gerutu nya jengkel.


" Oke kalau gak mau jujur. Aku ke kelas Heru pasti dia tahu masalah ini !!!".  Tutur ku dilanda kepanikan yang mengguncang diri. Heru adalah salah satu laki-laki yang mungkin amat peduli dengan Ayu, entah dia yang berbuat salah atau apa. Setidaknya aku mendapat informasi.


Hatiku mendidih merasakan tak enaknya menatap netra wajah nya yang sempat ku temui. Kini langkah kakiku membawa aku ke kelas Heru Pramono Anwar. Ketika sudah di perbatasan pintu kelas, ku sapu sudut pandang kelas namun tidak ku temui batang hidung cacing tanah tersebut.


" Heru mana?!". Seru ku pada sisa-sisa siswa di kelas.


" Gak tahu !". Seloroh cewek didepanku.


Sepintas aku memikir ulang kejadian demi kejadian, beberapa orang terdekat Ayu sudah ku rekam wajahnya. Tak lama, muncul seseorang tak asing untukku.


" Kamu teman Ayu kan?". Tanya ku memastikan ulang pada sosok cewek berbaju olahraga memasuki kelas.


Menoleh. " Aku?". Menjeda omongan. " Iya. Ada apa?". Tanyanya balik.


" Jadi kamu tahu kenapa Ayu pipinya merah?". Celetukku tegas.


Sekali aku bertanya dia hanya terdiam. Dua dan tiga kali aku memaksa hingga seorang laki-laki mendekatiku dengan tampang tidak sukanya.


" Kami tidak tahu Heru, dia mungkin ke kantin. Kalau masalah pipi Ayu, tadi ada yang menamparnya ". Dia memaparkan tanpa jeda.


" Siapa?".


" Ceweknya Rehan !". Gumamnya lagi.


Mataku berputar searah jarum jam dan kepala ini sudah ku tugaskan untuk berpikir sejenak. Naman Rehan hanya satu orang disekolah ini, yaitu teman sekaligus adik kelas ku SMP hingga SMK kini. Apa maksudnya dengan Rehan? Aku tidak tahu menahu kalau buaya itu berurusan dengan gadisku.


Kelas multimedia adalah tujuan ku, mencari topik hangat yang sudah naik daun di sekujur telingaku. Aku tidak sabar mendengarkan penjelasan semua ini, bisa-bisanya dia memainkan perasaan gadis yang amat ku sukai.


Langkah cepat ini berhenti di depan kelas di mana Heru sudah beraksi kasar padanya. Bukan nya aku menghalangi sebagai contoh kakak kelas yang baik justru aku memasang badan di garis depan untuk menghajarnya.


" Apa-apaan lu Put. Ini urusan ku, bukan urusan mu !". Heru berkoar ditengah kelas yang sudah seperti kapal pecah.


Ku tarik kerah baju si pelaku yang terbaring di atas lantai. " Aku gak nyangka, ternyata cewek yang lu cerita sama Imo itu adalah Ayu?!". Seru ku mengerang keras. Wajah membekas biru menguburkan rasa iba dihatiku.


" Put, a-aku ". Ujarnya ingin menjelaskan.


" Kalau dia kau sakiti begitu dalam dan sampai dia nangis. Habis lu !!". Ancam ku meluncur tegas. Tanganku sudah jijik mengait kuat di kerah bajunya.


" Putra, Heru !!!". Suara itu begitu meninggi hingga aku mengerjap kecil dan menoleh ke asal suara yang menggaung.


" Gapain kesini?". Tanya Heru.


" Kalian gapain?".


" Latihan drama ni". Goda ku. Drama perkelahian antar siswa yang tak pantas bagiku kamu dekati.


" Heru, Putra kalau kalian begini terus. Aku tidak akan berteman lagi sama kalian atau menegur kalian !!". Bentak nya berkacak pinggang.


Seolah rentetan kata itu menelisik jiwa ku, jadi selama ini aku sudah di anggapnya teman. Dari teman ke sahabat terus jadi pacar dan terakhir akan menjadi suaminya. " Tapi yu?". Kata ku.


" GAK !!!!". Jawabnya tegas.


" Oke. Kali ini kami maafkan lu". Kata Heru menunjuk si pelaku. Tidak ada tempat pelampiasan kalau bukan pada si laki-laki yang tak pandai menjaga hati sehingga Anggi begitu buta, salah memukuli orang.


" Ayok kita pergi dari sini". Perintah ku bagai seorang pemimpin.


" Ayok yu !!". Heru pun ikut menyetujui nya.


" Tunggu !!". Aku dan Heru  diam saat melirik Ayu membantu Rehan berdiri.


" Ak-".


" Aku minta maaf atas nama mereka berdua. Dan maaf juga aku tidak tahu kalau kamu ada pacar. Jadi anggap saja kita tidak kenal. Aku tidak mau di labrak cewek mu atau di tampar 2x". Menundukkan sedikit kepala di depannya sebagai tanda maaf. " Tunggu. Kalian berdua yang membuat kursi mereka berhamburan kan?". Tunjuknya pada Heru dan aku di depan kelas.


" Iya yu ". Jawab ku memelas.


" Rapikan kembali ". Titahnya layaknya bos mafia jahat, tatapan tajam dan bulat membesar mengarah pada kami.


" Hah !!!". Memasang wajah kaget.


" Sudah ikuti saja nyonya besar". Timpal Heru.


Heru mulai merapikan kursi-kursi di ikuti aku. Sedangkan dia  mengawasi kami dengan teliti. Sebagian sudah mulai rapi. Saat itu Rehan masih berdiri menatapnya. Aku yang memanas lalu menyenggolnya dengan sengaja. Aksi itu di lihat oleh Ayu, jiwa jaim ini pun muncul untuk meminta maaf setengah hati.


" Rey kamu gak papa kah?". Tanya cewek, dia Anggi kekasih Rehan sejak dahulu. Semasa SMP mereka sudah bersama.


" Apaan sih !". Rehan mengeluh.


" Sudah bereskan?". Tanya Ayu.


" Sudah !!". Aku dan Heru menjawab bareng.


" Tunggu !!!! Pasti lu kan penyebab Rey babak belur gini?". Ucapnya mulai mendekati Ayu. Dengan sigap dan cepat Aku bersama Heru berdiri di depannya ibarat tameng. Anggi pun terhenti.


" Anggi !!! Kelakuan mu keterlaluan. Dibelakang ku kamu menampar dia? Dia gak tahu apa-apa". Jelasnya.


" Rey, ku harap kamu tidak kasar sama cewek. Mohon maaf kami permisi ya. Maaf sudah membuat keributan disini". Jelas Ayu menutur dengan ramah meskipun aku tahu dia amat kesal. Dia memegang tangan ku dan Heru lalu membawa kami keluar dari kelas.


Sudah jauh dari kelas Rehan. Dia menepis tangan kami. Dia juga tidak membalikkan badannya untuk melihat kami yang lagi berdebat.


Usai sudah sekolah aku masih saja menyimpan dendam yang tersulut rapi dihati. Rehan? Malam ini akan aku beri dia pelajaran sesuai dengan apa yang dia perbuat pada Ayu.


Aku : Lif, lu dimana?


Alif : Di rumah, ke sini aja sekalian jengukin aku. Jangan lupa bawain makanan enak !


Aku : Sialan lu !!! Ya sudah jam 8 aku ke sana. Ada hal penting yang harus aku selesaikan dulu.


Berpergian dengan tangan kosong melompong tapi hati yang mendidih hingga ke ubun-ubun kepala. Mobil ku berhenti ditempat biasa Rehan juga teman-temannya berkumpul untuk sekedar menikmati barang tersebut.


Ku banting pintu mobil dan ku dobrak pintu rumah yang tak layak huni bagai pondok usang di makan rayap. Kerasnya suara daun pintu yang terjatuh membuat diri mereka satu persatu terhentak kaget.


" Lu kenapa sih,Put. Masuk aja pake ngelepasin pintu ! Susah diperbaiki nya !". Oceh Imo membetulkan pintu yang engsel atas sudah terlepas.


" Mana Rehan ?". Gertak ku.


" Apaan sih pake teriak?". Bimo sudah berdiri dihadapan ku. Menatap binggung atas tingkah ku.


Jengah sekali aku menatap wajahnya, bagai kan langsung melihat Rehan didepan mata. Ku tarik baju kaosnya setinggi dagu ku. " Mana Rehan? Aku harus memberi nya pelajaran !". Pekik ku keras.


" Apaan sih, Put. Aku gak ngerti !". Jawabnya.


Ku telisik mata dan wajahnya yang ketakutan padaku begitu lekat. " Dengar ya kalian berdua, sampai aku tahu Ayu menjadi barang taruhan. Aku gak segan membuat kalian bernafas pake tabung ! AGHHHH !!!". Ku tepis baju kaos itu sampai Bimo tersungkur di bawah lantai yang kotor.


" Hanya karena cewek jelek itu, lu berani mukulin sahabat lu sendiri, Put?!". Keluh Bimo yang ku sorot matanya tajam.

__ADS_1


" Jelek?". Jeda ku kembali menarik kasar baju nya untuk berdiri paksa. " Sejelek-jeleknya penilaian mu lebih jelek lagi sifatmu. Gak pantes kalian di bilang sahabat!!! Cihhh". Ku lidahi dia didepan mataku. Mau marah? Terserah ! Aku bisa hidup sendiri tanpa teman sampah seperti itu.


Bersambung.....


__ADS_2