![Diary My Sekolah [S1-S2]](https://asset.asean.biz.id/diary-my-sekolah--s1-s2-.webp)
" Pah. Makan dulu hp nya nanti aja ".
" Bentar Mah". Masih sibuk main Hp di meja makan
" Apa sih di Hp itu. Cewek?". Tanyaku kesel.
" Gak sayang !".
" Ya sudah simpan dulu. Mamah buang mau kah?". Kataku.
Putra lalu meletakkan hp di meja dan makan malam bersama ku. Oiya, aku dan Putra sudah menikah berjalan 1 tahun lebih dan sekarang aku di beri hadiah paling indah dan paling ku harapkan. Aku mengandung anak kami sudah berusia 7 bulan. Aku juga sudah berhenti menjadi guru honor dan tidak memanjangkan kontrakku. Untuk fokus mengurus keluarga baru ku.
" Sayang gimana nanti 7 bulanannya?". Tanya Putra.
" Mamah sudah cari orang untuk mengurusnya Pah".
" Ya sudah. Tapi sebelum acara 7 bulanan nanti Papah mau ijin ".
" Kemana?".
" Ada kerjaan diluar kota sayang. Boleh kan?".
" Gak !!".
" Kok gak?".
" Gak mau. Mau nya Papah di sini ".
" Bentar aja sayang. Gak sampai seminggu kok !".
" Gak !!".
" Ya deh ! Papah gak berangkat ".
" Oke !".
Malam makan selesai. Di bantu pelayan rumah, kami membersihkan meja makan. Sedangkan Putra langsung ke ruang kerjanya. Kami tinggal di rumah sendiri. Terkadang orang tua Putra berkunjung ke rumah kami.
Esok hari seperti biasa bangun pagi menyiapkan sarapan pagi dan perlengkapan kerja untuk Putra. Sarapan sudah siap, aku tinggal ke kamar atas membangunkan Putra yang masih tertidur lelap.
" Sayang bangun". Aku mencolek nya.
" Emmmm". Balasnya tapi menghadap kanan.
" Sudah siang nanti telat ".
" Emm 5 menit lagi". Tanya masih terpejam.
Aku turun kembali kebawah dan makan sarapan bersama Mbak yang membantu ku memasak alias pelayan di rumah. Namanya Bu Desi. Umurnya tua dari aku. Sarapan sudah selesai, sekitar jam 9 Putra juga belum bangun dengan sengaja aku tidak membangunkannya.
" Mamah kok gak banguni papah !". Berlarian dari lantai atas.
" Sudah !!". Jawab sesantai mungkin sambil memegang remote tv.
" Papah telat betul ini ".
" Ya sudah !". Kataku.
Dia masih saja sibuk membetulkan baju kerja nya. Aku sengaja tidak membantu, iseng gak papa kan? Di bangunkan juga banyak alasan.
" Papah gak sarapan sama mamah gak papa ya. Papah buru-buru".
" Sudah kok Mamah sarapan tadi sama Bu Desi ".
" Ohhh jadi gitu ya. Ngerjain papah pagi-pagi". Mendekatiku yang duduk di sofa lalu menggelitik ku.
" Pah. Ya iya iya. Ampun". Kataku tertawa geli.
" Biarin. Hukuman !".
" Nanti telat loh !". Tangannya berhenti. " Itu di meja bekal Papah".
" Oke. Papah jalan dulu ya ".
" Em tapi ingat awas bohong. Jangan berangkat !".
" Ya My Sauw ". Ku cium tangan suami yang sangat aku cintai ini. Dia pun membalas mengecup keningku, hidung ku lalu turun ke bibir ku.
" Udah ah. Nanti telat !!".
" Ya bawel !!".
Acara di rumah semakin dekat. Sudah ku persiapkan semua di rumah. Pagi itu, acara sudah di mulai sialnya, mood ku tidak baik. Putra bahkan tidak mengangkat telpon ku. Aku curiga dia mengingkari janji nya untuk tidak berangkat. Padahal aku sudah menyiapkan baju samaan untuk hari ini.
Banyak tamu yang pertanyaan suami ku dimana? Aku hanya senyum menjawab. Aku sendiri saja tidak tahu dia dimana. Selesai acara menjelang siang hari. Aku terus menelpon Putra. Nomor aktif tapi tidak di angkat danIbu mencoba menasehati ku untuk mengerti keadaan Putra yang masih sibuk.
Aku marah dan kecewa, masuk ke kamar dan ku kunci kamarku dari dalam. Meskipun Ibu dan Mami mencoba ijin masuk, aku tetap tidak memperdulikan nya. Entah berapa hari aku berkurung di kamar. Menatap ponsel terus menerus berharap ada kabar dari Putra.
" Bu. Ayok makan ini sudah 2 hari gak makan. Nanti anaknya kenapa-kenapa Bu".
" Saya gak mau makan Bu kalau suami saya belum pulang". Kataku.
Ibu dan Mami berkunjung ke rumahku tapi masih belum ku buka kan pintu kamar. Entahlah, mungkin karena tidam makan. kepala ku pusing. Aku mencoba bangun dari tempat tidur, tapi penglihatan ku semakin kabur. Ku sentuh gelas di pinggir meja lalu terjatuh.
" Kakak. Buka pintunya sayang ".
" Ayu buka. Kamu kenapa?".
Aku egois melupakan anak di dalam perutku butuh asupan. Aku menyiksa diriku karena amarah yang tidak jelas. Aku berdiri mencoba berjalan perlahan-lahan dengan memegang dinding kamarku. Pintu kamar ku terus digedor-gedor Mami dan Ibu. Aku sudah tidak kuat lagi dan akhirnya aku terjatuh ke bawah lantai.
****
" Bu !!". Panggilku yang terbaring di kamar rumah sakit.
" Ya sayang ".
" Apa Putra belum pulang?".
" Sudah Ayah telepon. Tapi katanya mau selesai kerjaan dulu. Jangan gitu sayang. Gak baik buat anak kalian. Marah boleh tapi jangan berlebihan". Kata Ibu di dekatku.
" Em ".
" Untung saja anak kalian baik-baik saja".
Esoknya aku keluar dari rumah sakit. Putra masih saja belum juga balik. Karena hari semakin bosan di rumah. Aku membereskan baju ku untuk ke rumah Ibu dan Ayah, mengajak Bu Desi sekalian.
Sudah seminggu berlalu aku di rumah Ibu. Mengecek kondisi kandungan pun bersama Ibu. Entah kemana Putra berada. Aku berada di kamar menonton anime sambil ngemil.
" Sayang ".
" Ya Bu ".
__ADS_1
" Putra di luar ".
" Biarin Bu. Ayu mau tidur ".
" Loh. Kemarin nyari-nyari sekarang gak mau".
" Kakak mau tidur Bu ".
Esok malamnya. Putra kembali menjemput ku pulang. Aku masih berada di kamarku, malas keluar kamar.
" Mah !!". Suara Putra berada depan kamarku.
"...."
" Maafin Papah donk ".
" Gak !".
" Kok gitu. Papah berangkat lagi ni !".
" Pergi aja ! Istri sekarat aja gak pulang ".
" Jangan gitu nah. Gak enak di lihat Ibu sama Ayah ".
" Asal yang lihat bukan orang lain !!". Jawabku
" Papah tu sibuk kerja. Kan buat mamah juga. Buat beli-beli make up dan yang lain".
" Jangan bawa-bawa make up segala !!".
" Mah. Buka cepat !!".
" Gak !!".
" Papah tahu mamah masuk rumah sakit. Tapi papah gak bisa tinggalin kerjaan juga ".
" Terserah !!!".
" Kita ke Jepang yuk !".
" Gak ! Mamah lagi hamil !!". Balasku padahal dalam hati senang banget.
" Serius gak mau?".
" Ya !".
" Buka dulu donk. Papah mau kenali seseorang".
" Siapa ?".
" Istri kedua papah !!". Ucap Putra
Mendengar kata itu, aku langsung beranjak dari kasur dan berjalan cepat membuka pintu. Bahkan lupa kalau lagi hamil. Ku buka kunci kamar memasang wajah sangat emosi.
" Mana istri nya. Sini aku jambak !!". Kataku emosi berkacak pinggang.
" Ini di depan papah !!". Jawabnya dengan senyum.
" Hah !! Jangan bercanda?".
Ku balik tubuhku tiba-tiba saja Putra memelukku dari belakang dan menutup pintu kamar lalu mengunci nya. " Diam !!! Kalau gak papah perkosa". Bisiknya di telinga ku.
" Terserah !!!".
" AGHHHHH gak lucu. Lepas !". Kataku.
" Maaf nah ya sayangku. Papah tu ngejar kerjaan biar bisa sama mamah terus sampai nanti lahiran ".
" Alah alasan ".
" Kalau gak percaya. Belah lah dada Papah !!". melepaskan pelukannya lalu membuka bajunya
" Ogah !!". Aku kembali duduk dan menonton anime.
" Kan gitu ! Ngambek nya lama-lama. Janji deh kalau anak kita sudah besar dikit. Kita ke Jepang ya ".
" Bohong !".
" Seriusan Papah ini ".
" Em". Jawabku.
Akhirnya sore aku pulang dengan segala macam rayuan di ajukan padaku. Aku bersama Putra dan Bu Desi kembali ke rumah. Betul saja, tiap hari nya Putra selalu di rumah terkadang mengerjakan kerjaan di ruang kerja dan mengirimnya melalui email.
Bulan ke bulan. Aku dan Putra sibuk membeli perlengkapan bayi pertama kami. Kata dokter, jenis kelamin nya laki-laki. Aku berharap itu perempuan biar enak di dandani. Saling cekcok saat membeli perlengkapan. Apalagi soal warna. Putra mau biru sedangkan aku merah muda.
Hari Minggu pagi, kami lagi jalan keliling membeli perlengkapan bayi. Karena lelah berjalan kaki. Aku pun minta Putra membawa ku ke tempat makan di salah satu Mall di daerah tempat tinggal kami.
" Sayang ".
" Em". Jawabnya.
" Pengen ayam". Kataku dengan manja.
" Iya kita pesan ya ".
" Asik !!!". Ucapku senyum. ( Aku bersyukur, sampai sekarang rengekan ku diturutin ).
Biasanya aku tidak di ijinkan makan di luar kecuali di rumah. Putra sangat khawatir dengan gizi makanan instan apalagi tidak tahu cara pembuatan nya. Aku sangat di larang keras, tapi kali ini aku pasang badan dengan manjanya pada suamiku. Akhirnya dia mau menuruti ku. Pesanan datang, aku makan dengan lahap karena tenaga ku sudah hampir habis.
" Put !!". Panggil seseorang dari belakang ku.
" Hey". Balas Putra.
" Apa kabar?".
" Baik. Duduk dulu ".
" Ya. Eh ayu apa kabar?".
" Em. Baik kok Ru ".
" Kapan ni lahiran?". Tanya nya.
" Kapan sayang?". Tanyaku pada Putra.
" Lah dia yang lahiran nanya ke aku. Kan Agustus".
" Oiya lupa hehehe". Kataku senyum.
" Hehehehe gak ada yang berubah dari kalian ya. Gimana kabar istri Lu?". Tanya Putra.
__ADS_1
Cewek yang waktu itu aku bertemu di kantor. Mereka memang pacaran di saat aku sudah menjadi pacar Heru dulu. Artinya dia selingkuh. Namanya Rina Amelia, cewek cantik sekaligus sekretaris nya di kantor. Mereka sudah menikah sesaat aku sudah meresmikan hubungan ku bersama Putra . Dan sama, Ame lagi hamil anak pertama berusia 3 bulan.
" Sehat kok". Jawab Putra.
" akenapa Lo acara 7 bulanan Ayu gak datang? Kabur Lo?". Ejek Heru.
" Kerjaan !!".
" Ah. Acara penting masih aja nyari duit. Sepanjang acara mukanya manyun terus". Tunjuk Heru padaku.
" Em. Betul tu !". Sahutku mengajukan jempol dengan buliran remahan ayam goreng.
" Kalian berdua sama aja ".
Tak lama obrolan terhenti dan Heru pamit pulang. Meskipun masa lalu, tetap harus berteman apalagi dia teman sejak dulu. Kami pun sudah memaafkan kesalahannya. Selesai makan, aku pulang. Putra menelelon supir untuk membantu kami membawa barang-barang bawaan. Hingga masuk mobil aku dibantu suamiku masuk. Karena rasanya perut ini semakin membesar.
*****
Hari-hari berikutnya, kondisi ku tidak enak badan. Seperti demam. Aku tidak mengkonsumsi obat. Hanya di kompres saja. Putra juga sudah memanggil kan dokter nya ke rumah untuk memeriksa ku. Aku hanya demam dan butuh istirahat. Saat sakit itu, Putra benar-benar sangat menjaga ku.
" Pah !!".
" Ya Mah ".
" Papah sini tiduran sama mamah". Ucapku saat itu Putra duduk di sisiku sambil memainkan hp nya terusan.
" Ben-".
" Ponsel terus. Ya sudahlah". Kataku menutup seluruh tubuh ku dengan selimut tebal. " Bikin bete aja". Ucapku dalam selimut.
Tiba-tiba saja Putra sudah di dalam selimut menatapku. Meskipun gelap, aku melihat wajahnya melihat matanya. Dengan cepat dia mencium ku dan memelukku membuat ku tertidur.
Esoknya aku sudah baikan. Hari lahiran semakin dekat. Keluarga banyak berdatangan melihatku di ruangan inap rumah sakit. Aku hanya menunggu kapan rasanya mau melahirkan. Aku bersyukur semua nya lancar. Aku mendengar suara tangisan keluar dari mulut mungil anak kami. Di adzan kan dan dimandikan, aku melahirkan degan operasi sesuai saran dokter.
" Behzad Hafiz Putra". Kwta Putra padaku saat mengendong nya.
" Artinya ?".
" Behzad itu Jujur, Peduli. Hafiz itu Peduli dan Putra nama Papahnya "
" Nama yang bagus".
" Ya sayang ".
~Singkat cerita~
Behzad sudah menginjak usia 3 tahun. Bandel-bandel nya sering latihan di rumah, saat putra tidak ada.
" Sayang jangan lari nanti jatuh". Kataku.
Beranjak malam dekat isya biasanya Putra pulang kerja. Saat Putra membuka kamar, dengan wajah kaget melihat pertama kalinya Behzad mencoba membaca huruf Arab dengan suaranya yang lucu dan memakai baju muslim kesukaannya.
Baru beberapa huruf di baca, melihat Putra di depan pintu. Pelan-pelan dia singkirkan buku ngaji nya lalu berlari memeluk kaki papahnya.
" Aaaaa.... Imutnya anak mamah". Kataku.
Beberapa hari kemudian. Elli menelepon ku untuk berkunjung ke rumah ku. Dia baru saja menyelesaikan kuliahnya dan pulang sebentar ke rumah melihat ponakannya.
" Kakak !!!". Katanya.
" Assalamualaikum dulu dek ".
" Ya kak. Assalamualaikum ".
" Walaikumsalam ".
" Mana Behzad kak?".
" Lagi main tu. Masa gak lihat !!".
Seharian Elli berada di rumahku bermain bersama Behzad, menyuapkan makan, shalat bersama, dan semuanya bersama. Hingga tidak ada ruang buat ku mengendong Behzad. Dia pun manja pada Elli. Hingga pukul setengah 8, Putra sudah pulang dan masuk ke kamar. Ku susul dia ke kamar untuk mengajak makan bersama Elli.
" Pah. Mandi dulu, kita makan sama-sama ya mumpung ada Elli". Kataku membukakan baju nya.
" Ya Mah".
" Gimana kerjanya? Berat gak?". Kataku.
" Berat Mah. Tapi gak seberat gendong mamah". Rayu nya.
" Jadi ngatain Mamah gendut gitu?".
" Gak sayang".
" Jadi?".
" Seperti nya. Papah pengen ".
" Apa ?".
" Anak perempuan". Bisiknya ke telinga ku dan membuatku geli dan ketawa kecil.
" ih udah ah. Mandi dulu baru makan ".
Baru melangkah selangkah saja. Putra memelukku dan mencoba mencium ku membuat ku merinding. Lagian dia telanjang dada, membuatku semakin hangat dan hanyut dalam dekapannya. Beberapa detik saja aku sudah hanyut.
" Kak. Makan". Suara Elli di depan pintu. Untung saja pintu itu tertutup.
Ciuman tadi kami hentikan tiba-tiba dan kembali ke aktivitas . " Mamah tunggu di bawah !!".
" Em papah mandi dulu".
Tak lama. Kami makan bersama. " Kak Putra . Elli mau bicara serius?". Katanya pada Putra membuatku melirik mereka.
" Nikah nya nanti aja. Kerja dulu". Jawab Putra
" ih siapa juga mau nikah ".
" Jadi?". Balas Putra lagi.
" Seperti nya di tempat kerja Elli ada yang mirip banget".
" Mirip siapa? Naruto?". Balas ku.
" Mah. Apaan sih. Mana ada yang mirip Naruto". Sahut Putra.
" Mirip sama Gery Mahesa dia bekerja di tempat Elli".
" HAHHHHHHHH". Kami kaget.
° Selesai °
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
( Maaf ini cerita pertama yang ku buat dengan ala kadar nya. Kata-kata nya masih membosankan ya? . Baru belajar. Untuk pemilihan karakter, sebenarnya ingin bersama Heru tapi karena dari kehidupan nyata karakter nya pergi tidak jelas. Sedangkan Putra memang terlihat badboy di cerita tapi sebenarnya tidak juga sih 😋 . Nanti InsyaAllah di buat lanjutannya di sini, cuma mau selesai kan sequel si Adik dari Ayu ).