![Diary My Sekolah [S1-S2]](https://asset.asean.biz.id/diary-my-sekolah--s1-s2-.webp)
"Suruh Pak San ke rumah saya pagi ini, saya tunggu !!". Pinta ku menyuarakan dari via telepon.
"Baik". Jawabnya dari sebrang sana yang sudah ku pastikan bagian kantor.
Usai memutuskan sambungan telepon, aku meletakkannya kembali dan meminta asisten rumah tanggaku menaruhnya ditempat semula.
Pagi ini, aku menggunakan baju praktek dengan warna kebangsaan Penjualan yaitu kuning dan celana hitam sekolah. Kini aku telah memulai sarapanku dengan lahap walaupun kekecewaan ku masih membekas.
Papi dan Mami sudah berangkat kerja sejak pagi, aku tidak peduli dengan keadaan juga keberadaan mereka. Yang terpenting mereka tidak lupa dimana tempat pulang yang benar.
Tak butuh waktu lama, ketika suapan terkahir mulai ku suap seseorang telah tiba di rumahku. Pak San adalah asisten yang aku percayai untuk mengurus segalanya selama aku sekolah.
"Pagi Tuan". Sapanya berdiri kokoh di sampingku.
"Pagi, apa kamu sudah sarapan?". Tanyaku mengambil lagi nasi juga lauk di hadapanku.
"Sudah Tuan". Jawabnya tergugup.
Aku melirik tubuhnya itu dengan seksama. "Makanlah, aku akan mengobrol kalau kamu mau makan bersama ku". Sindirku. Mau menjawab sudah atau belum makan, aku akan tetap menyuruhnya sarapan bersama ku.
Pria berpakaian rapi tersebut beranjak dari diamnya dan duduk berhadapan denganku, mengambil nasi juga lauk yang di siapkan. Aku melihat sekilas, seperti nya dia berbohong padaku kalau memang dia belum sarapan.
"Dengar ya, aku mau meminta tolong padamu tapi ini rahasia kita". Kata ku membuka suara.
******
Hari ini hari aku terakhir di bagian gudang barang, rutinitas pagi telah ku lakukan sesuai instruksi sang pengawas tidak tahu diri itu. Aku tidak tahu kenapa bisa aku menerima pegawai yang kerjaannya tidak serius.
Dari kejauhan aku benar-benar mengumpat didalam hatiku dengan pakaian seperti ini aku tidak bisa membantah perintahnya yang ada malah emosi.
Jam istirahat siang dimulai waktunya mengisi ulang tenaga dengan makanan yang tersedia dan sekarang giliran bagian gudang. Setiap bagian punya waktu istirahat masing-masingnya tidak bisa semua karyawan istirahat berbarengan.
"Siang semua, sebelum kalian makan saya akan memberitahu kan bahwa ada kebijakan baru dari direktur utama". Pekiknya didepan kami. Saat itu kami sedang berdiri berbaris mengambil piring makan siang.
"Kebijakan?". Ujar seseorang.
"Hari ini saya akan memberikan satu kertas dan sebuah spidol pada masing-masing pekerja". Jelasnya dan para koki pun memberikan kertas pada kami. "Silahkan tulis nama makanan juga minuman yang ingin atau kalian sukai tapi jumlahnya terbatas hanya 3". Jarinya memberi kode angka tiga.
"Kita lagi main game apaan ini?". Sela seseorang berbisik.
"Silahkan tulis ! Dan dari ketiga menu kalian, saya akan ambil voting terbanyak kemudian akan saya sajikan saat kalian makan nanti". Tambahnya lagi.
Ternyata semua sangat semangat dengan kebijakan itu, syukurlah mereka menyukai nya. Aku tersenyum dan mencari keberadaan Pak San dan dia berdiri di sudut sana, jari jempol sudah ku arahkan.
"Kerja bagus!". Ucapku tanpa suara.
"Put, tulis makanan kesukaanmu kenapa melamun?". Senggol nya.
" Eh, iya". Jawabku langsung menulis.
Usai menulis, kami kembali berbaris dengan teratur dan memberikan kertas itu pada kepala koki.
Sekarang giliran ku. "Ini". Aku meletakkan nya di dalam baskom besar kemudian dengan piring masih di tangan,kami mengambil makan siang lalu menyuapnya sembari senyum terus terlukis indah.
"Eh, apa itu tidak terlalu memanjakan mereka Tuan?". Tanya Pak San padaku.
"Aku tidak memanjakan siapa-siapa tapi aku ingin mereka nyaman bekerja di tempat itu, dari riwayat mereka bukankah sudah bekerja cukup lama?". Tanyaku menyelesaikan sarapan pagi.
"Baiklah". Jawabnya singkat.
"Dan satu lagi?". Kataku melirik Pak San yang tengah menyiapkan makanan namun terhenti.
"Kebijakannya lumayan lebih demokratis mau mendengar pendapat kita". Salah satu teman pekerja lain berkomentar.
Semoga apa yang aku lakukan ini benar setidaknya mereka bertahan bekerja disini. Kalau aku mendadak mengangkat pangkat mereka mungkin saja ada yang protes secara blak-blakan.
Aku melahap suapan demi suapan makanan yang tersaji lengkap tanpa satu potong pun tertinggal. Ku cari target utamaku di ruang makan namun tidak terlihat.
Tak lama aku sudah kembali bekerja dengan yang lainnya, perut begitu kenyang dan tenaga kembali pulih. Mengantuk sih, tapi aku harus kuat mengambil lembur untuk sekalian mempelajari usahaku sendiri.
"Dimana pengawas kalian?".Tanya seseorang dari depan pintu gudang.
Aku melirik, batinku kembali berapi-api seperti sudah di mulai acara utamanya. Aku mengikuti beberapa pekerja yang mendekati sang asisten bos mereka. Nampak perempuan yang di cari ikut pula berjalan menghampiri nya.
"Ada apa, Pak?". Tanyanya heran.
"Saya kecewa atas kerjamu lihatlah ini". Seseorang dibelakang Pak San memberikan sebuah tablet pada perempuan tersebut.
Matanya ku lihat membesar mungkin bisa saja detik itu jatuh ke bawah bahkan mulutnya membulat besar seperti kaget.
"Apa pekerjaan mu kurang banyak?". Tanyanya pada perempuan tersebut. Dia hanya menoleh tertunduk, mungkin sudah tahu letak kesalahannya. "Alangkah baiknya kita ke bawah, membicarakan tugas baru mu". Tutur Pak San menunjukkan jalan keluar ruangan.
__ADS_1
"Maafkan saya, saya tidak bermain ponsel terus". Ucapnya memohon.
Seseorang menerobos pandanganku, dan itu laki-laki yang aku biasa panggil dengan sebutan kak. "Maafkan istri saya,dia sungguh-sungguh tidak bermain ponsel". Bantahnya.
Aku binggung, ada kata istri didalam kalimat sangkalnya tadi. "Istri?". Gumamku.
"Saya minta maaf, dia hanya menerima video call anak kami. Itu saja, tidak lebih". Ungkapnya membiarkan perempuan tadi berdiri lekat di belakang punggungnya.
"Tapi peraturan tetap peraturan, ponsel di larang dalam aktivitas bekerja". Sela nya.
"Istri? Kalian sepasang suami istri?". Tanyaku mendekat. Kenapa hanya aku yang terlihat kaget? Kenapa mereka tidak?!.
Pria bernama Reno menoleh. "Iya, dia istri ku". Kembali melirik Pak San dan mengabaikan ku. "Saya minta maaf, saya akan mengantikan hukuman istri saya".
"Kenapa?". Tanyaku lagi.
"Dia sedang hamil muda,saya mohon biarkan dia bekerja duduk disini mengawasi pekerja nya". Imbuhnya meyakinkan kami.
Pak San terlihat binggung, aku memicingkan mataku sambil berpikir sedikit keputusan apa yang pantas. "Siapa yang kalian video call selama ini?". Tanyaku lagi.
Suasana menjadi hening, perempuan bernama Rini tersebut keluar dari perlindungan sang suami. Dia mencoba mengambil ponselnya yang kebetulan sedang bergetar.
Dan terlihat jelas sudah, aku dan Pak San sudah salah hari ini. Dia bukanlah sedang bermain tapi lagi menghubungi anaknya yang mohon maaf anak itu berjenis kelamin perempuan dengan keterbatasan mental juga fisiknya.
Entah kenapa rasanya canggung begini, seperti nya ada yang mengiris bawang di dekatku. Jangan-jangan Pak San?!. Penjelasan itu cukup jelas bagiku untuk mempertimbangkan nya lagi.
"Lalu kenapa waktu itu kamu menceritakan istrimu yang aneh-aneh padaku?". Aku masih binggung.
"Maaf saat itu kami ada sedikit percekcokan". Ucapnya tulus.
Aku menggeleng kepala membiarkan mereka sejenak, aku memundurkan langkah ke belakang dan mengambil ponsel untuk memberitahu kan rencana ku pada Pak San.
*******
Esoknya aku pindah ke bagian lantai bawah, disini tempatnya lumayan sejuk dan pastinya tidak akan panas. Lantai ini khusus untuk perlengkapan baju-baju juga aksesoris lainnya.
Aku sudah meminta Pak San memindahkan ku pada bagian butik yang rumornya terkenal karena ke jutekan pelayanan disini.
Khusus hari ini aku berdandan rapi menggunakan baju putih hitam serta jas sebagai luarannya, karena bagian ini sangat penting. Rapi juga menarik kemudian berdiri didepan menyapa para pengunjung yang akan datang.
"Putra ke sini kamu !!". Titahnya padaku yang melambai.
"Kamu berdiri di sini, perhatikan yang lain bekerjanya seperti apa. Pelajari dan ikuti". Suruhnya padaku dan suara itu tidak salah-salah, membengkakkan gendang telingaku.
Ibu-ibu tadi beranjak entah kemana, aku berdiri di tempatnya dan menyambut sesuai yang dilakukan mereka.
"Mbak,ini bayar disitu kan?". Seorang wanita bertanya pada wanita lainnya yang mana salah satu pegawai ku.
Ku lirik hingga kening menyatu dan mataku mengecil.
"Itu disana, enggak lihat?". Ocehnya bernada judes.
Apa itu gaya promosi baru? Bukankah Indonesia di kenal negara paling ramah dan murah senyum? Apa wanita itu ompong sampai tidak bisa senyum? Benar-benar tidak beres.
"Mas,ruang pas nya penuh. Apa tidak ada lagi ruang ganti?". Pelanggan lain bertanya padaku membawa beberapa lembar baju.
Aku baru saja sedetik senyum, wanita di sampingku sudah menyahuti nya. "Tidak ada ! Kalau enggak pas di badan tukar saja yang muat". Jawabnya lagi-lagi nadanya sadis lebih sadis dari wanita psikopat.
"Eh,ya sudah terimakasih". Ia pun pergi menjauh, meletakkan baju yang tadi di sembarang tempat dan keluar dari butik.
"Dasar enggak tahu diri, dimana ngambil disitu kembalikan nya. Bikin nambah kerjaan !". Ocehnya bergumam, aku mendengar jelas kalimat panjang itu.
Betapa terkejutnya aku kalau semua pegawai wanita di sini sifatnya semua sama, judes dan jutek no senyum ! Apalagi kasir, aku menyimak dengan diam betapa aneh nya pelayanan disini.
Aku menghela nafas berat menyaksikan setiap hari dengan wajah kusut. Untung saja jam bekerja disini tidak selelah seperti di gudang kemarin.
Dengan pasrah, aku mengikuti sistem para pekerja yang unik ini sampai masa tugasku disini mau habis. Dan anehnya ada saja yang belanja dengan pelayanan buruk ini.
Sepulang bekerja aku kembali mendiskusikan kerjaan bersama Pak San. Kami membicarakan beberapa toko butik yang berada di sana.
"Tolong kamu siapkan voting nya pada pelanggan usai mereka berbelanja". Titah ku lagi padanya.
"Baik". Menunduk sopan.
"Sebagai imbalannya,berikan sebuah bingkisan atau souvernir dari supermarket ini seperti maskot atau apalah yang banyak disukai". Jelasku menambahkan.
Rapat kecil itu usai pukul 9 malam dan pastinya aku menyerahkan sisanya pada Pak San seorang.
Dan akhirnya voting di mulai kurang lebih 3 Minggu sesuai masa aku bertugas disini. Hasil voting tersebut sudah dijelaskan oleh Pak San dan membuatku binggung.
"ButikQ memperoleh suara terbanyak karena barang mereka berkualitas nomor satu". Jedanya. "Sedangkan butik yang lainnya lebih unggul di bidang pelayanan".
__ADS_1
"Apa kamu menyuruh mereka melayani seperti itu?". Tanyaku padanya.
"Tidak, itu bukan saya yang berkuasa tapi mungkin sang desainer nya sendiri yang turun tangan". Tambahnya lagi.
"Beritahu pada desainer nya, kita tidak bisa membuat reputasi usaha ini buruk. Setidaknya perbaiki pelayanan mereka kalau tidak lebih baik kembalikan uang sewa mereka selama ini". Ucapku menjelaskan, bukannya aku takut rugi. Rasanya kurang afdol saja jikalau orang tua membeli di sambut dengan wajah seram seperti hantu.
Aku meninggalkan tempat itu dengan keadaan yang masih sama membiarkan Pak San bekerja dengan bijak.
Selanjutnya bagian lantai paling atas, yaitu cafe atap. Sesuai namanya, ini hanya sebuah cafe bernuansa anak muda dengan sajian beraneka macam menu. Ini hanya buka dari sore hingga malam saja.
Aku bernafas lega, tidak harus bangun pagi lagi dan bisa beristirahat sejenak dikamar merebahkan otot-otot ku yang sudah pegal. Namun kalau di hitung-hitung, sisa masa PKL ku tidak lama lagi dan tugasku masih banyak yaitu sebuah laporan.
"Bagaimana?".Tanyaku memelas, membenamkan wajah di atas bantal.
Selang beberapa menit aku menerima panggilan telepon dari Heru, sebenarnya aku ingin tidur jadi tidak jadi gara-gara anak ini menceritakan hal yang sama sekali tidak ku duga.
Aku disini tidak memikirkan untuk berpaling dan tetap menyukainya malah dia sedang bersenang-senang bersama pria lain disana. Belum tentu juga pria itu baik karena batas pengenalan hanya tiga bulan.
Ku matikan sambungan telepon Heru dan segera menanyakan langsung pada yang bersangkutan. Sayang aku kembali mengingat sesuatu seperti nya hal penting yang sudah ku lupakan.
"Astaga,bukankah Ayu ulang tahun?". Gerutu ku.
Bagaimana mau di rayakan kalau yang berulang tahun sedang jauh disana. Aku segera meletakkan ponsel di telingaku menunggu Ayu bersuara.
Stella Ayu Wijaya: Kenapa Put?
Putra Setia Agung :Kamu nakal yaa disana? Heru sudah cerita.
Stella Ayu Wijaya: Apaan sih sok tahu?
Putra Setia Agung : Kalau kamu dilamar cepat sama orang. Bagaimana nasib kami berdua.
Stella Ayu Wijaya: Apaan sih Put? Enggak ada yang begitu.
Putra Setia Agung: Awas bohong !!!
Stella Ayu Wijaya: Kamu enggak lagi kerja?
Putra Setia Agung: Enggak ini ! Oiya, hadiah mu nanti ya tunggu pulang
Stella Ayu Wijaya: Hadiah apa? Hari ini aku dapat hadiah 2 loh dari cowok disini.
( Kebetulan sama-sama lagi ulang tahun hari ini,๐ )
Putra Setia Agung: Hah. Apa !
Stella Ayu Wijaya: Hp apel sama boneka.
Putra Setia Agung: Asem. Ditikung duluan !
Stella Ayu Wijaya: Hahahaha. Udah ah aku mau-
Putra Setia Agung : Mojok?!
"Siapa yu yang telepon?". Suara itu terdengar olehku.
"AGHHHHH !!".
Putra Setia Agung : Kenapa yu?
" Siapa sih yang telepon?". Tanyanya lagi.
Putra Setia Agung: Suara cowok mana it-
"Sial,telepon ku dimatikan begitu aja". Umpatku kesal. Seperti nya dia sedang bersenang-senang disana.
*******
Aku melakoni peran anak PKL dengan baik dan berusaha sebaik mungkin karena ini adalah usahaku juga. Bahkan laporan PKL yang tadinya belum ku sentuh, sekarang sedikit demi sedikit terisi dan tersusun.
Berharap salah hati agar semua ini selesai dan lekas kembali sekolah, aku rindu dia. Di telepon kadang susah entah karena apa mungkin saja sibuk atau kelelahan.
Hari ini Pak San memberi kejutan untuk seluruh karyawan yang bekerja, dengan stelan baju PKL sekolah ku kini aku berjalan didepannya.
Kami mengunjungi gudang terlebih dahulu, dimana tempat aku mendapat sedikit pelajaran dari Reno. Aku tidak sendang memainkan drama namun kali ini aku memperkenalkan diri sebagai bos besar mereka.
Tidak lupa juga sebuah butik dengan rumor dan isu yang buruk kini sudah tidak ada lagi, karena mereka tetap mempertahankan pelayanan tidak biasa itu akhirnya aku mengembalikan seluruh uangnya untuk tidak berlapak di tempat ku.
Dan akhirnya usai sudah masa PKL dengan wajah para karyawan begitu kaget dengan perkenalan diriku.
" Perkenalkan ini dia....".
__ADS_1