Diary My Sekolah [S1-S2]

Diary My Sekolah [S1-S2]
37. Ayu dan Heru : Bagian 3


__ADS_3

Finally !!!!


Hari yang bikin hati setiap hari deg degan adalah hari pengumuman kelulusan tes tertulis. Tubuhku panik tak henti-hentinya, bersama Era aku menunggu di sekolah. Belum lama aku duduk di taman sekolah, sudah ada himbauan untuk semua peserta berkumpul di lapangan sekolah.


Bergandeng tangan kami berdiri mendengarkan untaian kalimat dari Guru yang berbicara. Seluruh siswa nampak hening tak bergeming. Tak lama, kami sudah di bubarkan dan di persilahkan melihat hasil pengumuman yang tertera di Mading sekolah. Letaknya sengaja di taruh di pinggiran lapangan sekolah.


Karena tubuh ku ini kecil dan kalah adu sama tubuh yang besar, aku mengalah pada orang-orang berlemak banyak. Entah berapa menit ku menunggu di belakang sedangkan Era masih berusaha masuk dalam kerumunan siswa. Lama sudah aku menunggu orang tak ada hentinya bertumpuk disana.


Dengan ucapan semangat didalam hati, aku berusaha masuk dalam lautan manusia yang bau-bau nya mulai menyengat apalagi matahari begitu terik. Eh kok rasanya mudah sekali melewati mereka yang berdesak-desakan? Nyatanya aku sudah didepan sekali, bersama senyum kecil ku pancarkan lalu mencari nama ku di sudut dinding Mading.


Namaku ! Namaku ! Namaku ! Sambil mata terus ku arahkan ke atas sana, susah juga karena jari ku tak sampai ke atas paling hanya menggapai pertengahan Mading. Gila ! Aku tidak konsen di belakang berisik apalagi dorong-dorongan. Mataku kehilangan batas mana sudah ku baca.


" Hei buruan ! Aku mau lihat ! Yang sudah minggir dong !". Sahut anak lelaki, aku hanya mendengarkan suaranya tidak tahu siapa yang bicara.


Badanku mundur maju hingga beberapa kali menubruk Mading, takut saja papan yang berdiri tegap jatuh bersamaan dengan aku yang di dorong-dorong. " Aduh, antrian sembako gini amat ya !". Keluhku semakin risih.


Sialnya aku, mentang-mentang kecil seenaknya saja di dorong. Baru juga berniat melangkah menjauh dari kerumunan orang aku sudah terjerembab jatuh di lantai lapangan. Untung aku jatuh kalau tidak mereka tidak henti berdesakkan.


" Pulpen. Kamu gak papa?". Tanyanya melihatku.


" Em". Karena insiden kecil itu, Era melihat dan menolongku untuk berdiri membawa ku jauh dari sana. Dalam perjalanan, akhirnya aku lega juga bisa menghirup oksigen yang melimpah.


" Duduk dulu. Tadi lihat gak nama kamu?". Tanya Era duduk di samping ku.


Aku menggeleng kesal sambil membersihkan pasir dan batu kecil yang menempel pada kaki ku.


" Ya sudah, aku cari air dulu ya. Kamu tunggu disini. Kita bareng aja lihatnya nungguin mereka sedikit bubar. Oke ?!". Pinta Era tersenyum dan pergi meninggalkan ku entah kemana.


Selang beberapa menit saja, teman sebangku ku datang menghampiri. Dia duduk di sebelah ku dan beraksi lagi minum sebotol air. Masih teringat betapa bahagianya dia menertawakan aku cuma karena saus doang !


" Sudah lihat namamu?". Membuka suara. Aku tidak tahu dia bicara pada siapa. Ku lirik sana kemari tidak ada orang didekatnya kecuali aku.


" Kamu bicara sama aku?".


" Iya masa sama tiang? Nama kamu siapa ntar aku coba lihat ". Ucapnya santai.


" Stella Ayu Wijaya !". Ujarku masih tidak suka padanya. Habisnya, dia menjengkelkan masa iya namaku di ganti Pulpen !.

__ADS_1


Berdehem seketika lalu berdiri tegak seperti menghampiri Mading, aku berteriak menyebut nama Era untuk sekalian dicarikan. Cowok itu tidak merespon apapun, tapi tidak mungkin telinganya rusak. Toh, berbicara padaku lancar saja.


Terlihat dari tempat dimana aku duduk, cowok itu dengan mudahnya melihat pengumuman yang tertera rapi disana. Ah, kalau tahu dari tadi dong bantuin aku jadi gak perlu ada adegan jatuh segala. Sakit gak seberapa malunya luar biasa !


Cowok itu sudah kembali, aku berpura-pura melihat ke arah lain tepatnya meniup kecil daerah kakiku berharap tidak ketahuan. Langkahnya berhenti tepat di ujung kaki ku.


" Kamu sama teman mu lulus, kamu urutan ke 88 dan temanmu urutan ke 10 !". Sahutnya.


Eh apa aku tidak salah dengar? Aku melupakan satu hal yaitu rasa jengkel ku. Dan berlompat-lompat kegirangan sampai lupa tangan siapa yang aku sentuh. Untuk kesekian detik aku lupa, aku sempat melihat wajahnya yang ikutan senyum namun tak bergeming. Setelah kesadaran ku pulih, ku tepis tanganku sendiri dan memundurkan sedikit tubuh ini.


" Maaf, aku lupa !". Ujar ku sedikit menunduk.


Balasan menohok nya ada tertawa tanpa sebab. " Haha, gak papa. Buruan tukar kartu ujian mu sama formulir di sana !". Tunjuk nya pada ku.


Memicingkan kedua mataku. " Makasih, tapi itu rame banget ya ?!".


" Rame. Sudah ya, aku mau tukar kartu ku dulu. Hati-hati nyungsep lagi !". Celetuknya pergi melambai tak jelas padaku. Cowok itu terus saja berkata kurang pas di hatiku. Dasar !


Ketika si cowok yang tidak ku ketahui namanya sudah pergi, Era nampak menyodorkan sebotol air mineral dingin. "Lama bener, dari mana ?". Tanya ku melihat dia ikut-ikutan minum.


" Buruan, kita ambil formulir nya. Kita lulus". Ungkap ku pada sahabat yang satu ini.


Era sempat melonggo tak percaya, aku menyeretnya ke tempat formulir itu berada. Masih sama saja tempat nya masih ramai. Beberapa menit aku berhasil menerobos himpitan orang-orang lalu yey ! Aku dapat formulirnya dan namaku beneran tertera di kertas itu. Bersama dengan Era kami kesenangan tak henti nya. Akhirnya bisa masuk juga ke sekolah favorit.


Karena urusan sudah selesai, aku hanya menunggu di jemput Ayah sedangkan Era naik motor sendiri. Aku ingin ikut, tapi tidak enak kalau tidak ada helm. Ayah di telepon katanya masih ada urusan, aku kembali harus menunggu lama kedua kalinya.


" Katanya anak yang kelahi sama Guru waktu itu, masuk dari belakang !". Suara cewek bergosip didekat ku.


" Ya gak masalah kan, orang tuanya sudah berada ! Lagian dia aja yang drama, kartu nya sudah ditemukan malah dia pulang ke rumah !". Balas si cewek yang duduk bersama cewek 1.


Aku menghela nafas ku dan pergi dari tempat asal ku duduk. Mencari tempat duduk yang lain untuk menunggu sang Ayah. Sebenarnya ingin sekali ku komentari pembicaraan tadi, tapi rasanya malas juga.


Yang aku tahu masuk dari belakang itu tidak selamanya mengandalkan uang untuk sekolah melainkan ada pertimbangan khusus lainnya seperti nilai atau kedisiplinan si calon siswa yang ingin masuk. Dasar asal saja kalau bicara !


" Membosankan !". Gumam ku. Tidak ada hal yang harus ku lakukan, ku buka formulir dan membacanya dengan teliti.


" Kamu belum pulang?". Suara yang tak asing untuk ku sekian kalinya.

__ADS_1


Mendongak melihat sumber suara. " Belum".


" Kenapa, nunggu jemputan?". Balasnya ikut duduk di sebelah ku.


" Em !". Tanpa melirik tanpa berucap panjang lebar.


" Lapar gak? Mau permen?". Ujarnya.


Hentikan ! Aku malas banget bicara sama kamu. Aku tidak menyahuti perkataan si cowok hobi tersenyum dan tertawa itu.


" Kalau lapar ya makan tu di warung depan. Kalau mau permen juga kamu beli aja sono di warung sebelah nya !". Ocehnya sembari di bumbui tawa.


Apaan sih ! Garing tahu gak ketawa-ketiwi tidak jelas. Ogah banget aku meladeni nya bicara makin ngawur kalau aku layani.


" Kamu marah sama aku? Memangnya salah ku apa? Yang marah itu harusnya aku bukan kamu, dari tadi aku di cuekin !". Celetuknya lagi.


Siapa juga sih yang marah, aku hanya malas saja meladeni mu cowok kurang jelas. " Apa kamu punya rumah?". Ucapku masih tanpa melirik.


" Punya kenapa mau meminta alamatku?". Balasnya balik.


" Kalau punya kenapa tidak pulang dari tadi, kenapa harus di sini mulu !". Melirik tajam sedetik lalu memasuki kertas formulir ke dalam tasku.


" Terserah aku dong ! Ulurkan tangan mu !". Perintahnya meletakkan tas di pangkuan dirinya.


" Untuk apa. Mau ku gebukin?". Balasku judes. Kurang mood sih melayani orang ini di tambah Ayah lama bener.


" Buruan kalau gak aku di sini terus loh". Menoleh dan menatapku sambil memainkan alisnya.


Aku berharap kamu cepat pergi ke kutub Selatan. Ku ulurkan tangan ku yang di arahkan ke sebuah bungkus permen sedikit terlihat bungkusnya dari luar tasnya. " Pegang yang kuat !". Pintanya. Aku genggam permen itu.


Dia berdiri sambil memegang tasnya yang resleting sedikit terbuka dan menonjolkan si permen tangkai. Kemudian melangkah pelan-pelan sambil memegangi tasnya.


" Eh !". Aku terheran dan kebingungan. Permen nya masih menyatu dengan yang lain. Kenapa dia membeli permen ber-renteng ? Aku tak sadar juga kenapa harus senyum yang ku pancarkan bukan wajah kesal.


Aksinya memang sedikit mengundang orang melihat, aku saja sampai heran. Aku menarik terus uluran permen dan pada akhirnya telah habis dia pun pergi melambai membawa motornya ke jalan raya. Banyak banget tidak mungkin ku habiskan semua.


" Bagi ke Elli pasti dia suka !". Ucapku tersenyum memandang si permen bukan orang yang memberi ku manisan ini.

__ADS_1


__ADS_2