![Diary My Sekolah [S1-S2]](https://asset.asean.biz.id/diary-my-sekolah--s1-s2-.webp)
Hari ini bersama Era aku mencari peralatan untuk Masa Orientasi Sekolah yang akan di adakan hari Senin depan. Lumayan naik motor di siang hari begitu menyengat. Dari toko ke toko mencari kertas karton saja selalu kehabisan.
" Ra, haus ni. Rehat dulu yuk !". Ucapku pada Era yang masih berkonsentrasi membawa motornya.
" Ya sudah, kita singgah di warung situ aja ya. Sekalian makan !". Ocehnya melajukan motor matic ke dekat warung makan.
Motor sudah terparkir didepan warung bertenda kan spanduk membentang lebar bertulis menu-menu yang dia sediakan. Era dan aku sudah duduk menghela nafas lega yang begitu menikmati angin sepoi-sepoi.
" Ra, pesan apaan. Aku seperti nya tergoda sama mie setannya deh !". Ujarku melirik si Era yang sibuk membaca lembaran menu.
" Aku sama deh tapi level paling tinggi ya". Jawabnya. " Eh, sekalian es jeruk jangan terlalu manis !".
" Oke !". Aku berjalan mendekati si Abang yang jualan, dia tengah sibuk menyiapkan pesanan lain karena di sini lumayan ramai. " Paklek' pesan mie setan dua, yang satunya level paling pedas dan yang satu level 3 aja sekalian tambahin ayam goreng ya. Minumnya es jeruk dua sama air es ". Ucapku menjelaskan.
" Yang paling pedas kan Mbak yang satunya?". Tanya si penjual melirik ku.
" Iya teman saya pesan paling pedas, kalau saya yang biasa aja !". Ucapku sambil senyum.
" Siap Mbak !". Menunduk. Aku pun pergi duduk kembali ke bangku berhadapan dengan Era.
" Nyari kertas karton susah bener ya. Karung di rumah banyak, tali aja harus warna pink. Terus belum lagi buat topinya sama papan nama harus serba pink semua. Eh, pita rambut bagaimana?". Tanya Era menatap ku. ( Jaman aku dulu, peralatan MOS masih wajib gak tahu kalau sekarang ).
" Di kepang dua terus di kuncir sampai kebawah. Karetnya harus pink ! Sudah ada gak kamu beli?". Nanya balik.
" Belum, ntar buatnya dirumah kamu aja ya. Rumah ku jauhan dari sini. Oke ?!". Berkedip mata mencoba merayuku. Aku hela nafas panjang lalu menjawabnya dengan kedipan sebelah mata.
Kedipan mata itu sengaja aku arahkan pada Era dan hanya bergurau mengisi waktu untuk menunggu pesanan tiba, tapi setelah ku lirik lurus ke depan alias di belakang Era. Sial ! Aku berhadapan dengan cowok teman sebangku ku. Dia tengah makan disana entah sama siapa. Menatapku tapi senyam-senyum.
" Coba deh lihat ke belakang. Itu anak yang membuat keributan pas tes tertulis". Selosor Era memberi kode.
" Apaan sih, Ra !". Ucapku tak ingin masuk ke dalam permainan gosip mengosipnya. Tapi kepalaku malah menoleh ke belakang. Sedetik dua detik entah berapa detik, aku mulai merekam wajah si cowok yang di ghibahi seantero sekolah. Dia nampak makan sendirian dan wajah itu kapan sembuhnya masih ada goresan.
" Seperti nya dia tampang preman ya, wajahnya babak belur !". Ucap Era mendeskripsikan penampilan si cowok itu. Aku kembali ke posisi ku. Sayangnya aku kembali memperhatikan disebrang sana, cowok itu masih saja nyengir-nyengir.
" Ra, ganti posisi ya. Aku di situ. Soalnya kalau di sini mataku sakit !". Memberi alasan non logika, meskipun begitu Era mau saja di minta tukar posisi.
" Silahkan Mbak, ini level 3 plus ayam goreng". Dia menyodorkan pada Era namun sudah ku rebut karena itu pesanan ku. Aku tidak mau juga lidah ku terbakar. " Ini level tertinggi. Dan ini minimum nya ". Ucap si Abang meletakkan di posisi tengah.
" Makasih !". Jawab Era.
__ADS_1
Pertama-tama tiup dulu mie nya karena asap berterbangan ke atas menandakan mie nya masih panas. Aduk hingga merata sama cabai nya. Ku lirik Era seperti nya dia begitu lapar hingga tidak mengikuti arahan ku makan. Dia langsung saja melahap makanan itu tanpa berhenti. Layaknya sekali sedot gitu !
" Ra, pelan-pelan ntar ke selek ! Itu pedas !". Nasehat ku tidak di dengarkan.
Uhuukkkk uhukkk uhukkk !!!
" Ayuu ! Ini huuuaaahhh...hu...ahhh... Le-level be-be haaaahhhh berapa?!". Era mengibas lidah yang panas dan pedas lalu menyeruput es jeruk miliknya. Air mata nya mulai berjatuhan.
" Itu level 25 Mbak. Paling tinggi segitu kalau orang pesan. Cabai nya mau satu kiloan !". Jelas si Abang mendengar keluhan Era. Wajahnya memerah seperti asap sudah keluar dari kedua telinganya.
Sumpah ! Aku tidak kuat untuk tidak tertawa. Mie ku memang tidak begitu pedas beda dengan Era punya. " Aku cuma nyampaikan pesanan mu. Kan mie setan level tertinggi, ya sudah Paklek nya buatin paling pedas !". Jelasku.
" Ta-tapi huaahhh huuu... Gak 25 ju-juga ". Era kembali meneguk es hingga kedua minumanku habis dilahap nya.
" Pedas gak? Bentar aku ambil air di meja sebelah. Kamu ngabisin air ku !". Gerutu ku beranjak dari bangku.
Ku cari meja kosong yang teko airnya masih berisi lumayan penuh. Bersyukur orang pada pergi alias selesai makan. Tangan ku sudah tertuju pada teko air terbuat dari plastik namun entah siapa namanya si cowok berwajah luka lebam ikut meraih si teko.
" Ini punya ku !". Ujarnya.
" Maaf, teman saya lagi terbakar. Jadi bolehkan saya duluan !". Kataku sedikit sopan.
Karena tidak ingin mengundang masalah, yang waras lebih baik ngalah saja. Aku kembali ke tempat duduk tanpa membawa apapun sedangkan Era sudah mendapatkan minuman lagi. " Kamu pesan lagi? Kok gak sekalian pesankan aku punya?". Sahutku kembali menyuap mie ke mulut. Masih konsentrasi makan tidak melirik kemanapun, dan akhirnya habis juga.
" Sudah. Kamu ngapain ke sana? Modus ya mau kenalan sama dia?". Ucapan Era mengundang tatapan sinis dari ku. Sudah makanan pedas mulutnya ikutan pedas.
" Gak !". Jawab ku dengan lantang. Era malah membalas kata gak ku dengan memainkan alisnya dengan genit. Ah, anak ini aku tahu maksudnya ! Pasti suzon duluan sebelum memastikan keadaan hatiku sendiri. " Bayar semua minuman tadi, karena yang minum kamu !". Ketus ku masih jengkel.
Era kembali menyedot segelas es jeruk yang baru saja di letakkan di atas meja. " Bercanda kali, jangan judes gitu !".
Sedikit lagi makanan ku sudah habis tinggal ayam gorengnya saja. Eh ! Kedua mata itu menatap siapa? Sepertinya bukan aku kan? Celingak-celinguk sana sini, tidak ada yang dia perhatikan selain aku? Tapi kenapa dengan tatapan begitu tajam. Salah ku apa? Masa iya salah karena rebutan teko, bukan kah aku sudah mengalah ?
" Hei ! Kenapa, ada apa? Ngelamun apaan?". Ku dengar temanku satu itu bicara dan sempat berbalik dimana tempat mata ini tertuju.
Ku tepis pandangan di ujung sana, entah berapa lama kami saling bertatap diam dan memandang. " Ra, ngapain? Kamu lihat apaan. Awas loh, lehermu gak kembali !". Kata ku melihat anak itu kepalanya menoleh ke belakang.
Melirik ku. " kamu lihat apaan sih? Jangan-jangan.....". Menunjuk genit. " Cowok itu ya, setahu aku pelanggan di bagian sana tidak ada yang ganteng-ganteng banget kecuali dia, ya lumayan lah". Jelas Era pada ku.
" Aku terpanah aja melihat Abang jual bakso tadi. Masih lapar ". Beranjak dari bangku lalu pergi membayar. " Ber-".
__ADS_1
" Berapaan Bang, 5 mie sama". Melirikku. " Kamu minum ada berapa gelas tadi?". Si cowok peminjam pulpen yang hobi tertawa itu tiba-tiba ikutan membayar.
" Eh". Ucap ku kaget tidak sempat berpikir.
" 5 Mas, es jeruk 4 sama air es 1". Jawab si Abang penjual.
" Berapaan Bang? Makanan mereka saya bayarin !". Ujarnya memberi uang lebih yang terlihat dengan nominal besar. Aku baru mengerti maksudnya apaan.
" Eh, kenapa kamu yang bayar?". Tanyaku menatapnya.
" Gak papa kan? Hanya mencari pahala di siang hari ! Sudah ya, semoga ketemu karton pink nya. Di toko Cahaya stok nya masih banyak kok !". Mengambil kembalian lalu pergi yang di susul teman-temannya.
" Eh, a-anu ". Mulut ini terasa susah banget untuk menghentikan langkahnya. Kalau begitu aku juga kepikiran mencari pahala di siang hari. " Paklek' ! Apa orang itu sudah bayar?". Tanyaku berbisik pada sosok cowok dengan muka lebam dan tengah makan sendirian.
" Belum Mbak". Jawabnya singkat.
" Ya sudah ini, saya bayarkan buat dia saja. Cukup kan segini?". Tanya ku memberi sejumlah uang.
" Cukup Mbak ! Makasih ya".
Orang yang ku bayarin keburu beranjak dari warung seperti nya ingin membayar. Aku menarik Era cepat tanpa menjelaskan perihal apa aku begitu ingin cepat lari dari sana. Era sudah memasang kunci lalu menjauh dari sana. Terlihat cowok itu seperti memangil ku dari jauh, tidak peduli deh. Dia tidak akan mengenali ku.
\=\=\=\=\=><\=\=\=\=\=\=
Menjelang sore kami sudah menyiapkan papan nama juga tas dari karung yang ku buat berbentuk ransel, tersisa topi kerucut dengan hiasan helaian tali di ujungnya. Di selingi makan cemilan yang sudah disiapkan Ibu.
Lumayan juga pekerjaan itu menyerap tenaga dan waktu. Selesai sudah pekerjaan sekolah tinggal di gantung untuk melengkapi acara MOS nanti. Hari sudah beranjak gelap, Era pun pamit pada ku serta membawa alat-alatnya untuk digunakan di hari Senin nanti.
Malam hari aku teringat pada dua renteng permen dengan dua rasa berbeda. Serenteng ku simpan dikamar dan serenteng nya lagi aku ingin berikan pada Elli.
" Ini buat Ade !". Ku ulurkan permen yang menjuntai kebawah.
" Wah, makasih Kak. Tapi, gak papa Elli makan permen?". Tanya si bocah itu.
" Ya gak papa. Habis di makan minimal gosok gigi biar gak sakit gigi atau gak ntar gigi nya ompong !". Ejekku.
" Nanti Elli sikat gigi, makasih ya kak !". Ucapnya tersenyum lalu kembali merebahkan diri di kamar. Seperti nya dia kegirangan mendapat hadiah kecil, meskipun bukan dari aku.
" Apa aku harus berterima kasih pada dia karena sebuah permen?". Aku berpikir sejenak sambil membayangkan diriku berterima kasih lalu di ketawain lagi." Ogah ! Lebih baik gak usah saja. Aku terima kasih sama Allah saja, karena dia sudah memberikan Elli kebahagiaan melalui permen !". Ucapku menatap langit kamar.
__ADS_1