Diary My Sekolah [S1-S2]

Diary My Sekolah [S1-S2]
27. Ketahuan


__ADS_3

Mata yang perlahan ku buka, jari - jari yang perlahan aku gerakan sedikit. Aku seperti pernah mengalami ini. Teringat waktu itu aku pernah tidak sadarkan diri.


Beberapa hari setelah aku sadar. Keadaan ku sudah sedikit membaik sudah bisa bicara dengan lancar dan menggerakkan tubuhku. Aku tidak melihat Heru di dekatku lagi. Mungkin dia sibuk kerja. Hanya ada Ayah dan Ibu selalu menjaga ku. Aku pun belum mendapat kunjungan dari Putra dan Reina. Kata Ibu, Mami dan Papi saja menjenguk ku.


Papi Putra sudah tahu semua cerita malam itu. Kata Ayah bercerita padaku, Putra di keluarkan dari Perusahaan sekaligus Reina. Mereka di paksa tinggal di lingkungan kecil untuk belajar menghargai hidup dan tidak berfoya-foya. Putra juga kaget mengenai Gery, dari awal Putra tidak tahu kalau Reina pernah menikah. Keluarga Reina menutupi semua dengan rapat, setelah menikah Gery sudah di bawa Reina kerumah itu.


Bagaimana Putra tidak tahu masalah Gery, sedangkan dia bahkan jarang di rumah, bertemu dan kenal dengan Gery Mahesa. Bahkan Mami dan Papi yang tahu, tidak bisa menceritakan kenyataan nya. Papi yang sibuk dan Mami di paksa Reina menutupi informasi itu.


" Bu ".


" Ya kak !".


" Besok kakak mengajar aja ya. Bosan di sini terus".


" Kata Dokter kakak lusa baru boleh balik".


" Bosan Bu ".


" Jadi Ibu harus apa biar kakak gak bosan".


" Gak tahu Bu".


Asik berbincang pada Ibu. Aku di kunjungi sahabat-sahabatku mereka banyak membawakan ku makanan dan semacam nya. Menghibur ku bercerita pada ku dan Ibu. Sedikit membuat ku lupa atas trauma yang aku alami.


*****


Esok pagi nya tanpa sepengetahuan Ibu dan Dokter Ohta yang merawat ku. Aku lari dari Rumah Sakit dengan membawa barang-barang ku. Aku bosan di ruangan sendiri terus lalu pulang ke rumah dan berganti baju kerjaku kemudian ke sekolah. Aku rindu sekolah sudah hampir 3 hari aku ijin tidak mengajar. Sesampainya aku di sekolah. Ku menyapa guru-guru disana dan masuk ke ruangan ku. Kembali menjalani rutinitas ku .


Pulang sekolah aku tidak bareng Elli. Aku naik taksi dan langsung menuju rumah. Bukannya istirahat aku mandi dan bersiap-siap jalan mengambil mobil di bengkel. Aku pergi jalan-jalan untuk refreshing kepala ku yang penuh dengan masa lalu.


Aku ke taman kota tempat tinggal ku. Duduk di sana sambil jajan. Oiya, aku hanya luka di bagian kepalaku karena terbentur. Dan sedikit luka-luka di wajah terkena semak yang tajam. Aku menikmati tanpa peduli telepon dari Ohta atau Ibu.


Sore ini orang pada ramai di taman. Aku duduk menikmati tiap detik menyantap minuman dan cemilan yang di beli. Ada seorang anak kecil perempuan menghampiri ku yang imut matanya besar dan rambut yang lurus hitam tebal.


" Kenapa. Kamu tersesat?". Kataku.


" Sayang. Jangan jauh-jauh jalannya?". Ucap seseorang pada anak tadi didepan ku.


" Anu... Apa kamu ora-".


" Ayu kah?". Melihat ku.


" Hah? Rehan?". Kaget ku.


" Kamu gapain disini? ".


" Jalan-jalan aja. Kamu gapain?".


" Lagi ngajak kesayangan jalan-jalan".


" Anak mu kah. Lucu banget". Ucapku gemas mencubit pipinya.


" Iya anak ku"..


Bertemu dengan Rehan di taman secara kebetulan. Kami berbincang mengenai masa dulu dengan si imut duduk terus di pangkuan Rehan. Aku menceritakan kuliah dan pekerjaan ku. Rehan pun begitu, dia melanjutkan usaha mendiang orang tuanya yang telah meninggal saat dia kuliah.


Demi itu, dia berhenti kuliah lalu menjalankan usaha orang tuanya. Menikah dengan Anggita dan mempunya anak bernama Deifa. Anggi meninggalkan mereka berdua dan menikah dengan Bimo, yang dulu sangat dekat dengan Rehan. Terlihat raut wajah nya sedih saat menceritakan masa lalu nya.


" Yang sabar Rey". Kata ku.


" Iya. Oiya apa kamu kenal Naka ?".


" Naka jurusan Perbankan?"


" Iya".


" Kenal kok ".


" Dia itu anak dari Papi ku bersama wanita lain".


" Hah?". Kagetku.


" Karena itulah Mami ku meninggal saat tahu kenyataan nya dan disusul Papi. Sekarang kami hidup berdua di rumah yang besar tapi sepi ".


" Kalau kamu kerja, kamu bawa Deifa juga kah?".


" Iya. Tapi di jaga sama asisten ku".


" Gitu yaa".


" Gimana sama Putra?".


" Hah? Kamu gak tahu dia sudah menikah dengan wanita lain ".


" Serius? 2x mencampakkan mu dong?".


" Sudah jangan dibahas oke ".


" Heru ?".


" Dia baik kok. Cuma lagi sibuk kerja aja ".


" Jadi masih kosong ni?". Ejeknya padaku.


" Apaan. Jangan ngulang kek masa lalu ya". Balasku.


" Hahaha. Gak kok ".


Karena waktu sudah hampir malam aku pamit pada Rehan dan Deifa. Rehan meminta nomorku dan ku berikan dengan syarat tidak mengulang kesalahan di masa lalu. Aku tancap gas menuju rumah. Sampai di rumah, aku di sambut Ibu dan Elli yang terus marah-marah padaku karena lari dari Rumah Sakit.


****


Beberapa hari setelah nya, malam ini malam Minggu. Aku bersiap-siap untuk bertemu dengan Rehan dan Deifa. Mereka mengajakku jalan. Setelah bersiap lalu turun ke bawah menunggu Rehan menjemput ku.


" Kakak mau kemana?".

__ADS_1


" Jalan Bu ".


" Sama siapa? Heru?".


" Sama Rehan Bu. Waktu itu kakak ketemu dia sih di taman ".


" Apa gak papa kakak bertemu dia?".


" Bu seperti Rehan berbeda. Mungkin karena dia sudah punya anak dan di tinggal istri nya". Jelasku.


" Begitu ya..". Ibu dan aku menunggu Rehan di sofa ruang tamu.


" Assalamualaikum".


" Walaikumsalam". Ucap aku dan Ibu. Ternyata Rehan datang dengan Deifa yang dia gendong.


" Bu. Apa kabar?". Tanya nya.


" Baik aja. Duduk dulu nak". Ucapnya Ibu lalu Rehan duduk.


" Iya Bu ".


" Gimana orang tua mu. Sehat kah?".


" Anu Bu-". Aku menyentuh Ibu.


" Maaf Bu, mereka sudah tiada saat saya kuliah".


" Maaf ya Ibu gak tahu. Oiya kalau mau jalan. Jalan aja takut kemalaman".


" Baik Bu".


Kami pamit pada Ibu. Tingkah Deifa yang imut membuat Ibu seperti gemes dan mengendong nya sebentar. Bukannya Deifa menangis malah dia menyenderkan kepalanya di pundak Ibu ku. Deifa berada di pangkuan ku dan tenang duduk di atasku. Sambil memainkan rambut ku.


" Rey ".


" Ya ".


" Apa kamu gak ada niat nyari istri lagi?".


" Gak tahu. Aku gak mikir ke sana ".


" Tapi sepertinya Deifa butuh Mama". Kataku.


" Aku belum menemukan yang pas aja ".


" Gimana mau menemukan yang pas. Kamu sibuk kerja".


" Iya sih, kenapa? Kamu mau jadi istri ku?". Lihat ke aku.


" Gak mau !!!".


" Ceplos mu itu loh... Nyakitin ".


Tak lama sampailah kami di tempat makan dan mobil berhenti. Rehan bilang padaku kalau mereka belum makan. Turun dari mobil dan berjalan bersama. Aku mengendong Deifa, seperti nya dia nyaman malah memeluk ku.


" Kamu terlihat seperti Mama nya"


" Hehehehe". Aku hanya membalas perkataan Rehan dengan tawaku. Tidak ingin menjawab yang lain takut panjang.


Aku gantian pada Rehan menyuapkan Deifa makan. Mata ku melirik ke depan,aku mencoba berpikir sejenak, seperti nya aku kenal dengan orang di sana yang tak jauh dari meja ku. Ku zoom lagi penglihatan ku.


" Heru ?". Kataku melihatnya.


" Kenapa yu?".


" Heru gak ngasih tahu aku kalau sudah balik".


" Emang kenapa yu?".


" Bentar ya Rey. Aku kesana bentar aja. Habis kan makanan nya". Kataku dengan tegas. Berjalan ke depan menuju meja Heru.


" Heru?".


" Ayu. Kamu nga-ngapain?".


" Kok gak ngasih tahu kalau balik".


" Ak-aku".


" Em. Aku tahu, ya sudah. Lanjut lah aku gak ganggu". Ucapku geram.


" Ayu dengarkan dulu penjelasan ku. Dia it-". Memegang tangan ku.


" Gak usah Ru. Gak penting jelasin ke aku. Aku juga bukan siapa-siapa". Jawab ku melepaskan tangannya dan berjalan menuju meja Rehan dan Deifa lalu duduk.


" Ayu kamu gak papa?".


" Gak papa kok. Udah habis makanan nya?". Tanyaku


" Sudah ni. Kita langsung jalan aja ya ".


" Iya". Aku menggendong Deifa sedangkan Rehan membayar ke kasir. Heru hanya melihat dari jauh.


Rehan hanya diam melihat ku asik bermain dan bercanda bareng Deifa dalam mobil. Sudah jam setengah 9 malam,.aku terus menepuk bahu nya dengan lembut. Dia tertidur di pelukan ku.


" Rey. Kita kemana? Seperti nya anakmu tidur". Ucapku.


" Iya. Apa kita balik aja ya ?".


" Balik aja kali, kasian dia capek".


" Makasih ya sudah bantuin aku ngurus Deifa". Sambil menyetir


" Sama-sama Rey ".

__ADS_1


" Ayu ".


" Emm". Ku melihatnya.


" Bolehkah, kamu berikan aku kesempatan kedua?".


" Maksudnya?".


" Dulu aku jahat berbuat curang. Kali ini aku akan lebih baik lagi mengambil hati mu".


" Em.... Rey, aku tidak melarang siapapun dekat dengan ku. Asal dengan cara baik dan gak nyimpang".


" Jadi boleh ni?".


" Emmm... ".


Akhirnya mobil sampai di rumah Rehan. Kami mengantar Deifa dulu baru mengantarkan ku pulang. Aku masuk ke kamar Deifa dan membaringkan nya di kamar, dia tertidur pulas.


" Lucu yaa anakmu".


" Ya dong siapa dulu. Papa nya". Godanya padaku.


" Iya iya". Sambil senyum. Keluar kamar dan lalu masuk ke mobil. Mengobrol sedikit dan tak lama sampai lah aku di rumahku dan aku pamit pulang padanya.


*****


Esoknya sama sekali aku tidak mendapatkan kabar dari Heru. Pikirku benar saja, dia sudah memiliki kekasih tanpa sepengetahuan aku. Apa susahnya jujur? Aku juga tidak marah.


Aku hanya di rumah hari Minggu, duduk dan nonton anime kesukaan. Sambil ngemil dan bahkan belum mandi. Ibu pamit ke pasar bersama Elli. ( Kebiasaan sampai detik ini ).


Jam 10 pagi aku mandi lalu bersiap-siap untuk jalan sebentar ingin belanja. Soalnya baju kerja ku itu-itu saja yang ku pakai. Sudah siap, aku berangkat menggunakan mobil lalu cus ke Mall.


#PAKKKKKK


Aku di tampar. " Semua gara-gara kamu kami hidup melarat begini". Omel Reina yang tiba-tiba saja melabrak ku.


Aku hanya diam.


" ka.u tunggu saja pembalasan ku !!!". Tunjuk nya padaku. Terlihat dia masih tetap cantik meskipun tanpa dandan dan menggunakan daster batik.


" Reina. Aku gak tahu salah ku dimana. Ini karena suami mu !!". Ucapku.


" Jangan nyalahin dia. Dia malam itu mabuk dan di beri obat sama anak-anak lain untuk bisa tidur dengan ku ".


" Maksudnya?".


" Semenjak nikah di paksa, dia sudah tidak mau menyentuh ku. Jijik sama aku ".


" Reina sud-".


" Aku mendekati nya hanya karena hartanya doank. Kalau miskin gini aku lebih baik cerai dengan dia". Katanya padaku begitu nyaring.


" Reina tenanglah. Ini tempat umum".


" Bodok amat !!!".


" Rei ada Pu-". Aku melihat dibelakang Reina ada Putra berdiri dari tadi dan mungkin mendengar kata-kata nya.


" Jadi gini ya maksud mu?". Ucap Putra.


" Sayang, sejak ka-".


" Gak usah basa-basi. Kalau mau ce-". Lebih baik aku pergi mumpung lagi berantem. Aku tidak jadi belanja dan masuk ke mobil lalu jalan menjauh dari mereka.


" Ganggu mood aja". Omelku dalam mobil sendiri.


Aku berjalan menyusuri jalan menuju rumah. Di lampu merah tidak sengaja aku melihat mobil Heru bersebelahan dengan ku. Kacanya terbuka lebar, terlihat jelas Heru dan cewek kemarin. Wanita itu begitu manja pada nya. Heru tidak melarangnya. Kaca ku tertutup, dan aku turuni lalu memandang Heru. Heru melihatku dengan mata yang besar dan benggong.


Sungguh tidak jelas laki-laki jaman sekarang. Menembak ku ujung-ujungnya sama cewek lain. Untuk apa begitu? Lampu hijau langsung tancap gas dan membuang muka pada Heru. Mood yang benar-benar hancur hari ini. Aku kembali ke rumah dan membaringkan tubuh ku di kamar.


" Kak ".


" Masuk aja ".


" Kak ".


" Kenapa dek? Curhat kah?".


" Bukan kak ?".


" Jadi apa?".


" Tadi pas jalan sama Ibu. Elli melihat Kak Heru masuk ke hotel bareng cewek".


" Emm... Biarin dek itu urusan dia. Kakak sudah bertemu dia 2x sampai detik ini tidak menghubungi kakak ".


" Kakak gak marah?".


" Kesel aja sih gak jujur dari awal. Udah ahhh jangan dibahas lagi. Kakak mau rehat bentar ". Ucapku masih berbaring.


" Ya deh.... Oiya kak, tadi di toko buku lagi bazar. Banyak manga Jepang di jual diskon".


" Hah serius sampai kapan?". Tanyaku duduk.


" Sampai malam ini aja kak ".


" Oke malam kakak ke sana. Mau ikut?".


" Gak mau. Mau belajar. Dahhh kakak". Elli pergi begitu saja.


Aku membaringkan tubuhku sejenak untuk mengumpulkan tenaga hingga malam berburu hobi. Singkat cerita, malam hari sudah siap lalu cus berangkat ke toko yang Elli sebut. Tak lama sampai, aku masuk ke tokonya dan banyak banget orang berburu buku.


Sudah dapat tumpukkan buku. Aku mengantri di kasir. Tersedia 3 kasir aku berdiri di kasir 2. Entah nomor antrian berapa, aku dengan sabar menunggu giliran ku sambil melihat orang-orang yang berkunjung.


" Heru !!!". Ucapku.

__ADS_1


Ya, aku melihat dia di kasir 3 lagi mengantri. Tapi dia tidak melihatku. Sudah sampai giliran, aku membayarnua cepat dan pergi dari toko itu. Sudah sampai rumah aku langsung ke kamar membaca komik yang ku beli. Belum juga ku ganti baju ku.


" Assalamualaikum". Ucap seseorang di luar rumahku. Suara nya terdengar dari dapur.


__ADS_2