![Diary My Sekolah [S1-S2]](https://asset.asean.biz.id/diary-my-sekolah--s1-s2-.webp)
Esoknya~
" Kak seperti nya kakak kena demam !". Ucap Elli.
" Em". Jawabku masih terbaring di kasur ku.
Entah jam berapa. Elli menyuapkan ku makan sedikit demi sedikit lalu minum obat dan kembali tidur. Malam itu aku makan di suapin Putra.
" Elli mana?". Posisi duduk di kasur.
" Keluar temani Gery ".
" Hemmm.. udah Put. Aku kenyang". Ucapku saat Putra menyendok kan makanan ke arahku.
" Sekali lagi ya. Buka mulutnya...aaaaaaa".
"Emm" Makanan itu sudah masuk dalam mulutku.
"Aaaaa. Emmmm...Pinter !! Biar sembuh".
" Iya ". Telepon ku berbunyi. Aku biarkan 3x berdering kemudian ku angkat.
Aku: Hal-
Heru: Kemana sih. Sibuk betul?
Aku: Aku sakit Ru.
" Siapa, Heru?". Tanya Putra padaku. Ku balas dengan anggukan.
Heru: Kenapa bisa sakit. Putra gak ngejaga kamu ya disana?.
Aku: Eng-
" Ehh Heru. Lo pasti iri kan. Aku berdua sama ayu di sini. Hahaha". Putra ikut berbicara di telepon ku.
" Put .. sssstttt". Kataku.
Heru: Ehhh sial Lo ya Put. Awas aja Lo tunggu balasan ku.
Aku: Jangan di ambil hati. Putra bercanda Ru. Aku di sini berempat kok.
Heru: Ya tapi kamu berduaan terus sama dia. Kapan sih baliknya?.
Aku: Aku seminggu di sini.
Heru: Lama bener . Aku nunggu jawaban mu.
" Ehh curut !! Gak ada jawaban apa-apa. Ayu akan jadi istri ku !!". Ucap Putra di telepon
" ihhh ribut. Ku usir ni !!". Ucapku pada Putra lalu dia diam duduk ke posisi awal.
Heru: Gak bakal jadi istri mu. Lihat aja entar !!.
Aku: Heru. Sudah lah jangan di ambil hati. Aku mau istirahat dulu ya.
Heru: Tapi ak-
" Putra kamu keluar. Aku mau tidur !!". Perintahku. Putra pergi dari kamar ku.
Esoknya kondisi ku mulai sedikit membaik. Aku mengajak Elli jalan-jalan dan kami berpisah dari Putra dan Gery. Aku mengajak Elli berkunjung ke toko pernak-pernik khas pulau tersebut.
" Ini lucu buat oleh-oleh". Kataku sendiri.
" Hebat ya Lo. Ngerebut Putra secepat ini". Ucap seseorang di dalam toko.
" Sejak kapan kamu disini". Balasku saat melihat dia berdiri di samping ku.
" Aku tahu lagi pulau ini. Putra dulu selalu membawa ku di sini". Balasnya berpura-pura melihat barang di toko.
" Membawa mu?".
" Iya. Masa gak tahu sih, kami kan sering tidur bersama". Ucapnya berbisik di telinga ku.
Aku diam mematung dan Reina pergi begitu saja. Setelah ku merasakan sakit hati lagi.
" Kak !!". Elli mendekati ku
" Em".
" Jalan lagi yuk".
Jalan berkunjung ke toko lainnya setelah aku bosan, aku kembali ke hotel. Elli masih duduk bermain sendiri di pantai. Aku berjalan ke hotel sendiri. Memasuki lift sendiri, entah kenapa lift nya berhenti di lantai 4 sedangkan kamar ku di lantai 8. Berhenti tiba-tiba dan lampu nya padam.
" kenapa ini ?". Tanyaku sendiri kebingungan.
Segera ku pencet tombol darurat di lift yang aku naiki sambil menunggu petugas datang. Aku mencoba menelpon Elli tidak mengangkatnya. Begitu pula Putra, entah dia lagi ngapain di saat begini. Hampir sejam menunggu, sudah gak kuat. Aku mulai berkeringat dan kekurangan udara. Penglihatan ku semakin tidak kuat dan kabur.
****
" Akhirnya kakak bangun juga". Kata Elli yang ku lihat di depanku.
" Adek !". Aku bangun dari tidur ku.
" Tadi yang gendong kakak kak Putra !!".
" Emm. Terus dia dimana dek?".
" Keluar katanya kak !!".
Aku bangun dari kasur ku, seperti nya sudah malam lanjut makan bersama Elli dan Gery. Putra juga belum balik ke hotel. Saat Elli dan Gery sudah tertidur aku masih menunggu nya pulang ke hotel.
Tapi nihil, aku semakin ngantuk menunggu nya di dekat meja resepsionis. Aku kembali ke kamarku melihat jam sudah jam 2 malam. Aku tidur, mungkin pikirku esok dia bakal pulang. Esoknya aku bangun dan bersiap-siap sarapan, hanya ada aku Elli dan Gery.
" Bu, kemana ya Ayah?". Tanya Gery saat makan.
" Gak tahu. Coba deh kamu hubungi".
" Sudah Bu, tapi gak aktif !!". Balas Heru.
Aku pun mencoba menelepon nya, betul saja nomornya tidak aktif. " Dia kemana ya. Aku tidak hafal daerah sini". Ucapku.
" Kalau ayah gak ada, gimana kita pulang".Ucap Gery lesu.
" Tenang, gak mungkin Ayah mu meninggalkan kita begitu saja". Balasku menenangkan Gery.
Hari-hari kami lalui rasanya sepi. Diam di kamar masing-masing apalagi Gery tampak murung. 1 hari sebelum pulang, aku mulai resah memikirkan cara pulang. Sedangkan helikopter harus di pesan, uangku bahkan tidak cukup untuk 3 orang. Aku terus menerus menelpon Putra berkali-kali.
Akhirnya aktif. Tapi tidak di angkat . Aku mencoba menelpon sampai dia angkat.
Aku: Put kamu dimana?
Putra: Aku di..
Aku: Besok sudah mau pulang. Bagaimana cara kami balik, kamu tidak ada kabar?
Putra: Hari ini aku balik kok.
Aku: Kamu dimana biar ku susul?
Putra: Gak usah !
Aku: Kenapa? Aku khawatir?
Putra : Gak usah !!!
Aku: Kamu kenapa menghilang. Gery murung terus di kamar.
__ADS_1
Putra: Sudah lah aku mau matikan !
Aku: Pu-
" Ya Allah kenapa lagi sih ni anak?". Ucapku mengomel sendiri di kamar.
Berjam-jam aku menunggu di lantai bawah, betul saja dia pulang tapi jam 12 malam. Baju nya masih baju yang terakhir dia pakai. Dia berjalan masuk tanpa memandang ku. Aku mengejarnya sampai masuk lift.
" Put, kamu kenapa?".
" Gak papa ".
" Kenapa menghilang ?".
" Gak papa ".
" Put, kenapa sih kamu begini?".
" Gak papa ".
" Aku khawatir ".
Dia menjawab tanpa melihat wajahku sedetik pun. Menjawab dengan tenang tanpa ada rasa salah nya. Kecewa sekali sama sikapnya.
" Ayu. Aku tarik ucapan ku !!".
" Ucapan apa ?".
" Menikahi mu !!! ".
" Maksud mu apa?". Balasku.
" Gak papa. Besok pulang lah tanpa aku !!".
Sudah sampai di lantai 8. Lift terbuka, Putra langsung saja meninggalkan ku. Siapa yang tidak sakit di buat begini? Memberi harapan tapi seketika meminta untuk di lupakan? Kalau aku tahu begini, aku tidak akan setuju mengikuti nya sampai ke sini.
Barang-barang sudah di kemas tapi aku tidak akan membawa nya karena pemberian Putra. Aku menahan emosi dan kesedihanku, agar Elli tidak mengetahui nya. Jam segini, Heru terus saja menelpon ku.
Heru: Besok kamu pulang kan?
Aku: Em
Heru: Mau ku jemput ?
Aku: Em
Heru: Kamu kenapa gitu jawabnya?
Aku: Gak papa Ru
Heru: Sampai Putra berbuat aneh-aneh lagi, aku tidak segan berbuat kasar.
Aku: Gak papa
Heru: Besok pagi-pagi aku jemput .
Aku: Aku di Hotel SunMoon lantai 8 no 199
Heru: Oke tunggu saja di sana !
Aku terbangun lagi dari tidurku karena ponsel terus saja berbunyi.
A**ku**: Hallo
Heru: Aku didepan kamar mu.
Aku: Hah?
Ku matikan, terlihat jam di ponsel sekitar jam 5 subuh dan bergegas membuka pintu kamarku.
" Heru !!".
" Pagi betul ".
" Biarin. Kamu habis nangis? Kenapa bengkak gitu matanya ?".
" Gak kok ".
" Putra dimana?".
Pintu kamar di depanku terbuka, keluar lah Putra yang tampak marah-marah sama Gery. Sedangkan Gery terus menahan dia pergi.
" Yah, mau kemana?". Kata Gery di depan Pintu. Putra melihat kami berdua namun pergi begitu saja berjalan menuju lift dan di kejar Heru.
" Ayahmu mau kemana?". Tanyaku.
" Katanya ketempat Mami ".
" Reina?". Kataku.
Heru masih mengejar Putra hingga mereka berdua masuk ke dalam lift. Seperti nya, Putra meninggalkan kami di hotel dan pergi entah kemana. Dia berjanji untuk memulangkan kami kembali, tapi ujung-ujungnya dia pergi lagi.
Aku menenangkan Gery sebentar, sebenarnya dia sosok anak laki-laki yang nurut terkadang manja kalau sudah akrab dengan orang-orang. Aku meminta Gery membereskan barangnya dan kami duduk di lobi hotel sambil menunggu Heru balik. Tak lama Heru balik dan masuk ke hotel, wajah nya terlihat jelas seperti marah.
" Heru kamu dari ma-".
" Sudah siap kah?".
" Sudah kok tadi kam-". Aku.
" Oke, ikuti aku ya". Ucapnya melihat Gery dan Elli duduk berdiam di sofa lobi.
Singkat cerita kami sudah pulang di rumah masing-masing. Sebenarnya aku lelah, tapi tidak bisa menolak Heru untuk mengajakku jalan malam ini. Rasanya malas untuk bertemu. Jam setengah delapan aku sudah siap dan di jemput Heru.
" Kita kemana?". Tanyaku masih duduk di dalam mobil.
" Kita kerumah Putra. Seperti disana ada dia dan Reina ".
" Kamu tahu dari mana?".
" Ayu. Kenapa sih kamu masih mengharapkan dia? Jelas-jelas dia itu sudah ada Reina?".
" Terus kami juga sudah punya pacar".
" Kamu tidak memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan semua nya ".
" Em ".
" Setelah ke tempat Putra kita ke rumahku ".
" Ngapain?".
" Lihat aja nanti.. !!".
Sudah sampai rumah Putra kami pun masuk berdua. Entah kenapa rumah ini menjadi ramai. Aku mencari Mami dan Papi di antara orang-orang, heru terus memegang tanganku berjalan atas arahannya dan bertemu Putra bersama Reina.
" Ru, apa maksudnya ini?".Ku lihat Heru.
" Hei Yu !!!". Sapa Reina.
Ku balas dengan senyum. Putra bahkan tidak melihat wajahku sedikit pun. Heru hanya diam di sisi ku.
" Ini apa?". Tanyaku.
" Aku dan Putra kembali rujuk !!". Jawab Reina santai merangkul Putra suaminya. Kaget, tapi aku harus tetap kuat dan biasa saja.
" Ohh selamat yaa !!".
__ADS_1
" Makasih. Nikmatilah minuman dan makanan di sini ya". Ucap Reina
Aku membawa Heru pergi dari mereka berdua untuk mencari Mami dimana. Syukurlah, aku melihat Mami dan Papi masih sehat dan mengobrol bersama orang tua Reina. Aku menghentikan langkahku untuk menghampiri Mami.
" Ru, apa maksud mu membawa ku ke sini. Kamu mau aku sedih terus?".
" Kamu tahu, aku mengejar Putra saat tadi subuh. Aku bahkan tidak sempat menonjok muka nya. Dia buru-buru menyiapkan ini. Aku tidak tahu alasannya apa". Jelas Heru.
" Em. Kita balik aja". Kataku Lesu menunduk ke bawah.
Heru dengan cepat membawa ku masuk ke mobil. Di perjalanan hanya melamun memikirkan nasib yang tak kunjung bersama Putra. Ingin nangis, tapi aku terus menahan semuanya di dalam. Sampailah kami di rumah Heru.
" Kakak !!!!". Ucap seorang cewek yang sering ku lihat memeluknya.
" Sudah makan gak?". Jawab Heru.
Aku hanya diam melihat tingkah mereka.
" Masuk yuk". Ajak Heru dan Aku masuk ke rumah yang besar, duduk di ruang tamu.
" Ini Feby adik angkat ku". Ucap Heru.
" Hey kak. Aku Feby, kakak Guru di sekolah ku ya? Aku baru pindah ?". Duduk di sampingku.
" Em. Iya. Kamu kelas berapa?".
" Kelas 2 kak. Jurusan Penjualan ".
" Jadi masuk nanti selesai liburan ?". Tanyaku.
" Iya kak. Maaf ya, aku bukan pacar kak Heru. Aku hanya Ade nya yang di angkat ".
Mendengar penjelasan itu, aku meminta maaf pada Heru dan Feby. Kami mengobrol seperti biasa. Sedikit melupakan ku pada masalah Putra, di sambut Bunda dan anak imut kak Yani. Bikin hati ku adem melihat nya. Aku menggendongnya sedikit pun tidak takut padaku.
" Betah tu kalau di gendong". Ucap Heru.
" Biarin. Sama kakak aja yuk. Tinggal sama kakak !!". Kataku pada anak kak Yani.
Heru mendekatiku dan berbisik padaku.
" Pengen punya anak ya? ".
" Hah? Gak !!!". Jawabku spontan kaget dia hanya tertawa tingkahku. Setelah puas main kami mengobrol di ruang keluarga. Tak lama tersisa aku dan Heru di sana.
" Heru !!!".
" Em". Terlihat dia fokus menonton tv.
" Kalau kamu serius padaku. Bisa kah aku minta 1 hal ?".
" Serius. Apa? Cepetan !". Jawabnya semangat melihat ku.
" Em. Aku ingin kamu di sini tidak jauh-jauh".
" Maksudnya, kamu mau aku berhenti jadi pilot?".
" Aku tahu, itu keputusan yang aneh dan egois dari aku. Maaf ya". Wajahku tertunduk.
" Ayu kalau kamu mau begitu. Aku bisa kok ! Tapi apa kamu berkata begini karena kasihan sama aku ?".
" Gak kok ak-".
" Atau aku sebagai pelarian mu, di saat Putra berkali-kali bikin kamu kecewa ?".
" Gak ak-".
" Kalau sekedar begitu. Kamu ngejalani nya tidak serius sama aku tapi terus memikirkan Putra".
" Ru ak-".
" Aku sayang kamu, sejak awal sudah sayang meskipun aku terus menjahili mu. Kalau cuma buat dimainkan perasaan ku aku gak mau !!".
" Oke kalau kamu tidak mau mendengar penjelasan ku. Permisi !!!".
Aku pergi dari rumah itu. Heru juga tidak menahanku, menaiki taksi dan sampailah ke rumah lalu ke kamar. Aku muak dengan semua laki-laki padaku. Tidak pernah konsisten sama omongan sendiri.
*****
Masih liburan sekolah. Aku hanya di rumah menonton anime menjadi sosok NEET seperti pengangguran tak kunjung keluar kamar. Saat aku depresi atau sedih karena masalah, aku melarikan semua ke anime untuk melupakannya.
" Kak !!". Elli mengetuk pintu kamar ku.
" Em". Jawabku masih fokus.
" Ada tamu !!".
" Siapa ?".
" Cowok sama anak kecil !!".
" Hah?".
" Cepat kak !".
Aku membuka pintu kamar ku. Dan Elli masih berada di depan kamar .
" ih kakak bau banget. Sudah berapa hari gak mandi ?"
" Jangan ngejek". Aku menuruni tangga dan tak lama sampailah aku di ruang tamu dengan menggunakan baju tidur, rambut berantakan.
" Baru bangun?".
" Em gak. Kenapa?". Ku duduk di sofa.
" Gak papa. Pengen ke sini aja ".
" Coba kasih tahu dulu. Jadi aku bersiap gitu".
" Sudah di telepon tapi gak di angkat".
" Oh hehehe maaf, aku nonton di kamar ".
" Iya. Oiya, aku ke sini cuma pengen cerita saja ".
" Cerita aja ".
" Aku berhasil rujuk sama Anggi. Mereka berdua hanya pacaran. Jadi aku berhasil membujuk Anggi ".
" Syukurlah Rey, Deifa tidak kesepian lagi ".
" Iya. Nanti kami membuat acara di rumahku pesta biasa aja sih. Datang ya".
" Pasti. Kapan?".
" Ini undangan nya. Datang ya sama Pacarmu".
" Emmm jomblo !!". Ku ambil undangan nya.
" Ya bawa siapa saja biar kamu gak kesepian aja hehehe ".
" Ngejek banget !! ".
Selesai itu, Rehan dan Deifa pamit padaku pulang. Aku membuka undangan nya sambil berjalan ke kamar. Ternyata undangan nya esok malam. Masih bisa aku mencari baju hari ini.
" Aku pergi sendiri aja !!!". Ucapku di tangga menuju kamar.
" Kasihan jomblo !!". Ejek Elli padaku lalu menuruni tangga sambil berlari.
__ADS_1
" Situ juga jomblo !!!". Balasku.