![Diary My Sekolah [S1-S2]](https://asset.asean.biz.id/diary-my-sekolah--s1-s2-.webp)
" Kamu membisik kan apa sama Putra?".
" Mau tahu aja atau mau tahu banget?".
" Ya sudah kalau gak mau kasih tahu !!".
Heru menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang gelap dengan kondisi mobil masih menyala. " Kenapa berhenti?" Aku melihat Heru dan ikut melihat ku dengan dekat semakin dekat. Dia memiringkan kepalanya dan melihat bibirku.
" Aku akan menjadikan Ayu milikku karena kesalahan mu sendiri". Heru membisikan nya padaku.
" Hah? Apanya ?".Ucapku gagap masih di pandangi Heru.
" Itu !".
" Apa?". Kata ku pelan.
" Itu". Melihat bibirku.
" Em... ". Ku tutup cepat bibirku dengan tanganku.
#Tekkkkkk
Heru menjitak jidat ku lalu kembali ke posisinya. " Uewkkkk😝". Heru.
Membuang muka ku dan melihat ponsel yang tadi ku rasa berbunyi. Ternyata notif dari foto yang ditandai Heru. Banyak yang komen dan di sukai hanya senyum memandang foto tersebut.
" Heru !". Panggil ku.
" Iya kenapa?".
" Kapan lagi kamu balik ke sini?".
" Aku gak tahu. Kenapa?".
" Gak papa. Nanti aja kalau sudah balik lagi".
" Begitu terus. Kalau aku di ambil orang gimana?".
" Ya sudah itu sudah jalannya kan". Ucapku santai.
" Jahat !!!".
" Hehehe biarlah. Kan 1 sama". Ejekku padanya. Aku sudah sampai rumah. Dan pamit pada Heru.
******
Esoknya setelah aku mengajar dan kembali ke ruangan ku. Raka Reifansyah, staff TU duduk di ruangan ku.
" Ada apa Pak?". Tanyaku.
" Foto itu sama siapa?".
" Foto apa?".
" Yang tadi malam baju hitam sama cowok tinggi".
" Ohhhh. Heru". Aku meletakkan buku ku dimeja dan duduk.
" Siapa Heru?".
" Bapak ni kepo. Heru itu sahabat saya waktu SMK".
" Dia kerja apa?".
" Pilot ".
" Hah?". Kagetnya.
" Kenapa?".
" Aku mundur kalau begitu. Saingan saya berat". Ucapnya lesu.
" Apa sih Bapak ini. Kembali kerja sana, nanti di marah lohhhhh !!".
Jam 12 siang aku mendapat lagi laporan Gery merokok dan bolos pelajaran. Aku langsung membawanya ke ruangan ku dan memberikan Surat Peringatan 2 padanya.
" Ini surat kasih ke orang tua atau wali mu". Ucapku.
" Iya Bu".
" Kalau tidak datang. Kamu mendapat SP 3 dan di keluarkan". Ucapku tegas. " Ya sudah pergi ke kelasmu".
Istirahat kedua di mulai. Aku baru ingin keluar ruangan ku. Elli, adek ku tiba-tiba masuk.
" Kak ".
" Ade !!!!! Bikin kaget aja ".
" Kak Em Anu- Ibu.. aku mau curhat ".
" Lah kan bisa di rumah. Masalahnya Kakak lapar ".
" Maka dari itu. Ade bawa mangkuk soto buat kakak ".
" Wahhhh.... Oke lanjut". Elli meletakkan soto di meja pas di depanku. Sudah di beri sambal dan teman lainnya.
" Gini kak ".
" Ya apa? Jangan lama-lama nanti waktu istirahat selesai".
" Seperti nya Elli menyukai seseorang ".
" Iya siapa?".
" Kakak gak marah?".
" Gak. Biasa aja. Kakak dulu juga seumuran Ade sudah menyukai cowok. Tapi cowoknya gitu... ". Jelasku sambil makan.
" Namanya Gery Mahesa kak ".
" Hah? Kenapa dia? Kakak kira Naka ".
" Kalau Naka pernah nembak Ade, cuma Ade malas sama dia. Dekatin Ade cuma mau info tentang kakak ".
" ihhh serius?". Jawabku.
" Iya. Kalau Gery beda. Tapi dia nakal sih kak. Gimana dong?".
" Gini. Kan Ade tahu kakak dulu dekat sama Heru dan Put-Putra. Dan yang kakak suka tu-".
" Putra ".
" ihhh nyambung aja. Putra itu nakal sangat-sangat nakal di sekolah ini. Tapi karena nakalnya itu lah kakak bisa dekat sama dia. Menjinakkan dia lalu jadi sahabat".
" Emmmmmm....".
" Nangkep gak penjelasan kakak?".
" Tangkep kak". Dengan wajah lugu.
******
__ADS_1
" Bu Stella Ayu Wijaya tolong ke ruang piket bersama Gery Mahesa "
" Ike sini !". Aku memanggil siswa di kelas ku mengajar.
" Ya Bu"
" Catat ini ya sampai waktu habis. Di situlah kamu stop nyatat nya". ( Semasa sekolah, begitu perintah yang diberikan padaku ).
" Baik Bu !". Balasnya.
" Ibu tinggal ya. Jangan nakal". Ucapku lalu keluar kelas. Sampainya aku di ruang piket aku bertemu Gery dan......
" Ayu?".
" Loh. Kamu siapanya Gery ?". Tanyaku.
" Bu ini. Mami saya". Jawab Gery.
" Hah? Em... Kita ke ruangan saja ya Bu". Ucapku. Sampai lah aku di ruangan ku. Dan mereka duduk di hadapanku.
" Apa anak ini buat masalah lagi?".
" Iya. Dia merokok, bolos dan berkelahi ".
" Ayu. Anak ini memang sudah nakal dari dulu. Susah untuk nurut !!". Gerutunya
" Bu Reina, saya cuma ingin Ibu lebih mengawasi Gery di rumah. Tugas saya hanya di sekolah".
" Iya tahu. Tapi masalah nya aku gak ada waktu ngurusin dia".
" Tapi Ibu kan orang tua kandung nya".
" Sudah lah, aku permisi dulu masih banyak kerjaan". Reina pun pergi meninggalkan Gery bersama ku di ruangan.
" Gery. Itu Mami mu kan?". Tanyaku.
" Iya. Semenjak pisah sama Papi. Mami berubah apalagi saat aku punya orang tua baru. Mami tidak lagi mengurus ku ".
" Jadi sebab itu kamu mencari perhatian Mami mu?".
" Iya Bu. Tapi gak ada gunanya juga".
" Kamu tahu. Ayah baru mu itu teman Ibu SMK. Sifatnya persis sama seperti mu. Nakal di sekolah ".
" Serius Bu?".
" Iya. Coba aja tanya sama orang tua Ayah mu. Mereka pasti akan cerita ".
Setelah berbincang-bincang dan Gery pergi kembali ke kelas. Aku termenung kembali mengingat kejadian Reina dan Putra di benakku. Masih saja sakit. Telepon ku kembali berbunyi.
Aku: Hallo
Mami Putra : Ayu. Apa kabar?
Aku: Baik Mi
Mami Putra : Syukurlah. Kok gak pernah kerumah.
Aku: Maaf Mi. Ayu gak sempat.
Mami Putra : Iya gak papa.
Aku: Mi. Mami kenapa? Ayu kek mendengar Mami nangis.
Mami Putra: Gak papa sayang
Aku: Mi. Jujur sama Ayu.
Aku: Mami sama siapa dirumah? Papi mana?.
Mami Putra : Papi ke luar kota.
Aku: Mi. Kalau sendirian di rumah. Ke rumah Ayu aja.
Mami Putra: Ayu yang jemput ya ?
Aku: Iya. Mami mau kapan?
Mami Putra : Sek-
" Ehhh ibu-ibu tua. Kamu mau melapor kah?". Suara dari telepon Mami.
Aku : Mi-
" Kok di matikan. Kenapa perasaan ku gak enak ya?". Ucapku sendiri. Lalu cepat menelepon Ibu.
Aku: Assalamualaikum Bu
Ibu: Walaikumsalam.
Aku: Ibu. Kalau di rumah coba lihat Mami Putra. Ayu punya firasat buruk.
Ibu: Hah? Ya sudah Ibu coba ke sana sama Ayah ya.
Aku: Cepat ya Bu.
Ibu: Ya. Kakak kerja lah dulu ya !.
Aku: Iya Bu. Wassalamu'alaikum Bu.
Ibu: Walaikumsalam.
Jam pulang, dengan cepat kerumah karena kabar dari Ibu belum ada. Aku bersama Elli, sesampai nya aku di rumah mobil ayah sudah ada di halaman rumah.
" Assalamualaikum Bu". Ucapku masuk rumah di susul Elli. Tidak ada orang di ruang tamu atau di ruang keluarga.
" Kakak". Panggil Elli melambaiku. Lalu berjalan ke arah nya.
" Mami?".Kagetku.
" Ayu ".
" Ada apa Bu. Ayah?".Tanyaku melihat mereka berkumpul di kamar tamu.
" Kak seperti nya Mami Putra di perlakukan tidak baik di rumah itu ".
" Sama siapa?". Tanyaku.
" Reina kak ".
" Ya sudah. Mami di sini dulu sementara. Tunggu Papi balik biar ayu berunding sama Papi gimana baiknya ".
" Kak-". Ayah.
" Yah. Masalahnya kakak juga ingin menegur Reina. Masalahnya anaknya Gery butuh kasih sayang, butuh perhatian. Dia bahkan tidak peduli anaknya berbuat masalah". Jelasku
" Gery, itu anak baik. Cuma dia butuh Reina sebagai Mami yang menyayangi nya". Jelas Mami Putra.
" Kak !!!! Ada Ger-". Elli masuk ke kamar dengan buru-buru, kami memperhatikan nya.
" Nenek......". Gery tiba-tiba sudah di depan pintu dan masuk memeluk Mami.
__ADS_1
" Tahu dari mana nenek di sini?".
" Dari pelayan rumah. Kenapa nenek di sini. Ayok pulang". Ucapnya.
" Gery. Sementara di sini dulu ya. Di rumah gak ada yang jagain". Ucap Ibu.
" Aku yang jaga nenek di rumah". Balasnya
Aku baru tahu, Gery Mahesa anak pertama dari Reina Matsushima. Wanita indo keturunan Jepang. Barangkali, dia pernah menikah sebelum bersama Putra. Seperti nya betul kata Mami, dia anak yang baik dan nurut hanya nyari-nyari perhatian orang tua nya saja. Tapi mereka begitu sibuk dengan kerjaan masing-masing.
Akhirnya, kami dapat membujuk Gery untuk tetap membiarkan Mami di rumah ku. Tidak ada cerita tentang kelakuan Mami nya terhadap Nenek nya sendiri. Gery juga di bolehkan untuk berkunjung ke rumah ku.
Gery di rumahku hingga malam hari di kamar neneknya, kami juga makan bersama. Dasar si Elli, di depan Gery super jaim dan gak berkutik sedikit pun. Hingga pukul 9 malam aku mengantar Gery ke rumahnya. Di perjalanan anak itu hanya diam melamun di dalam mobil. Entah apa yang dia pikirkan. Tak lama sampai lah kami di rumah nya. Banyak sekali mobil di halaman rumah Putra.
" Assalamualaikum". Ucapku .
Pintu tidak tertutup rapat lalu aku membukanya. Gery berada di belakang ku. Tiba-tiba Gery menerobos ku untuk masuk ke dalam. Ku ikuti kaki nya seperti nya dia marah-marah. Ku ikuti lagi langkahnya, sampailah kami ke taman belakang rumah Putra yang cukup luas. Entah apa yang terjadi di rumah ini. Sosok Papi yang tegas jarang di rumah membuat mereka berfoya-foya dan berpesta.
Kumpulan wanita seksi dan kumpulan pria yang tidak memakai baju? Apa maksudnya ini. Gery melihatnya langsung pergi ke kamar dan tidak peduli. Aku ingin menghentikan ini. Aku mencoba memasuki pesta mereka mencari Putra. Kiri kanan aku melihat seperti nya sulit mencari dia. Tak lama, sampailah aku di depan Putra dengan di kelilingi wanita berpakaian bikini? Apa maksud nya? Bukannya dia sudah beristri.
Aku benggong melihat dia begitu beraksi bersama mereka. Ku lihat terus hingga dia pun melihat ku. Aku semakin sedih melihat kondisi nya yang tidak waras. Putra langsung menarikku ke luar pesta.
" Gapain ke sini?".
" A-A-A-A aku cuma mengantarkan Gery?".
" Gery? Siapa?". Ucapnya. Kami sudah berada di luar pesta.
" Anak mu. Anak Reina ? Masa kamu gak tahu?".
" Hah. Sejak kapan Reina punya anak?".
Apa ini? Apa Reina tidak menceritakan nya. Kataku dalam hati. " Tanya sendiri sama istri kamu. Kamu kenapa makin tidak waras Put?".
" Aku pusing pengen refreshing otakku". Jawabnya santai.
" Ohhhh.... Aku mau pu-". Putra tiba-tiba mencium ku. Spontan ku mundur dari nya. Aku ke ingat jadian waktu itu kondisi dia lagi di bawah pengaruh obat.
" Kenapa menghindar? Bukannya kamu menyukai ku?".
" Gak. Aku gak suka laki-laki seperti mu".
" Makin suka aku melihat mu begini". Putra mendekatiku semakin dekat. Aku pun mundur menjauhinya. Berjalan mundur lalu berlari ke lantai atas. Memasuki kamar yang tak jelas kamar siapa lalu ku kunci. Putra masih saja mendobrak nya. Dengan cepat aku menelepon Heru.
" Ku mohon angkat". Kataku panik dan terduduk di depan pintu.
Heru: Ayu ke-
Aku: Ke rumah Putra sekarang. Aku takut Ru.
Heru : Kenapa sa-?
Aku: Tolong aku
#BRAKKKKKKK
Pintu kamar terbuka.
Putra mendekat dan mulai membuka baju nya di depanku. Aku berteriak ketakutan berjalan mundur hingga sampai di jendela kamar. Ku lirik jendela itu cukup tinggi, di bawahnya banyak semak-semak mengarah ke taman samping kiri. Putra semakin dekat padaku.
Posisi jendela itu terbuka dan kamar yang ku datangi tidak begitu gelap sehingga aku bisa melihat wajah Putra yang begitu gila. Aku takut, ku mencoba menendang nya sedikitpun dia tidak tumbang. Dia sudah memelukku aku terus berusaha melarikan diri. Sungguh kuat pelukannya. Ku melawannya hingga baju ku kembali koyak. Dia mencoba mengecup leherku terus menerus.
Tanpa sadar aku seperti ingin diperkosa nya. Dengan beberapa langkahku aku berdiri pas di belakang jendela yang besar. Putra melirikku dan melepaskan ku. Sebelum dia melakukan lagi dengan ku, aku berpikir pendek melompat ke jendela kamar. Dan mendarat cukup menyakitkan untuk ku. Untung ponsel dan perlengkapan lain masih di tasku. Aku terbaring di semak-semak, mata ku masih sedikit sadar.
" Ya Allah Ayu ".
" Heru. Kam-kamu da-datang?". Ucapku masih terbaring menahan perihnya luka-luka.
" Kita ke RS sekarang". Heru menggendong menuju ke mobil.
" Her-Heru... Aku ingin se-sesuatu". Ucapku
" Apa sayang?". Sudah berada di mobil.
" Ak-".
*******
Ahhhhhhh.....
Nyamannya aku di alam ini. Tidak ada yang menggangu ku. Tidak ada yang menyakiti ku. Di temani bunga yang indah dan aku melihat sosok perempuan di dalam taman Bunga berbaju putih bersama 2 anak. Aku mencoba mendekati mereka yang terus melambai ku.
" Silvi?". Ucapku.
" Hai apa kabar?". Sapa nya mengandeng 2 anak kembar.
" Silvi. Mereka si kembar?". Tanya ku melihat sosok anak kecil cewek dan cowok.
" Iya. Kenapa kakak ada di sini?". Tanyanya padaku.
" Silvi. Maafin aku tidak bisa menjaga Putra dengan baik untuk mu ". Silvi lalu meminta ku untuk duduk. Dan kami mengobrol bersama . Dan anak-anak nya bermain di taman bunga
" Ini bukan salah kakak. Dari awal kalau aku tidak merusak hubungan kakak. Putra tidak akan begini ".
" Itu bukan salah mu Silvi ".
" Aku berdoa dari sini. Agar kak Putra cepat sadar sebelum terlambat ".
" Silvi. Kamu lihat kan tingkah Putra sekarang makin berubah. Aku binggung menyadarkannya ".
" Yakin. Nanti dia akan menyesali nya kak. Setelah semua pergi dari nya, kak Putra pasti akan sadar kok ".
" Pergi? Siapa?".
" Entahlah kak. Kakak ingin menyerah atau kembali ?". Tanyanya.
" Silvi. Bawa aku ke tempat yang tenang dan nyaman. Aku lelah sama kehidupan ku". Keluhku.
" Bisa kak. Ayok kita pergi bersama". Ucap Silvi berdiri. Aku mengikuti nya dan di ikuti kedua anaknya yang sangat imut.
" Kita kemana ?". Tanyaku.
" Ke tempat yang buat kakak tenang". Jawab Silvi tersenyum. Ku balas senyum itu lalu kami bergandeng tangan bersama berjalan .
" Ayu. Jangan pergi dari ku !!".
" Vi, apa kamu dengar ada yang memanggilku?". Tanyaku pada Silvi.
" Gak ada kak. Dikit lagi kita sampai kak". Kami berjalan lagi.
" Ayu aku mohon !!!!!". Aku mendengar nya langsung berhenti dan berbalik badan. Terlihat jelas itu Heru.
" Kenapa kok berhenti?". Tanya Silvi.
" Vi, itu Heru ".
" Iya kak. Terus kenapa?".
" Dia menangis seperti tidak ingin aku jauh dari nya". Jelasku melihat Silvi.
" Kak. Jadi pilihan kakak apa?". Ku lepas gandengan ku pada Silvi dan berlari ke arah Heru dengan memeluknya. Sahabat terbaik ku hanya dia.
__ADS_1