![Diary My Sekolah [S1-S2]](https://asset.asean.biz.id/diary-my-sekolah--s1-s2-.webp)
" Tunggu . Diam !!!!". Kata Heru, aku lalu diam. Heru berjalan ke lapangan. Cuaca pun lagi mendung. Aku diam didepan kelas. Dia melambai ke arah kelas Penjualan.
" Putra !!". Teriakan nya.
Aku lalu berjalan ke arah Heru. Entah apa yang ingin dia obrolkan di lapangan kemudian membisikkan aku kalimat panjang yang isinya tentang perilaku Ayu yang mulai jaim pada cowok lain.
Aku dan Heru dengan serentak melihat ke arahnya didepan sana. Dia pun balas memandangi kami berdua dengan wajah cemberut. Ujung kertas bagian kanan di pegang Heru dan ujung sebelahnya lagi kini ku pegang, ada secercah emosi saat tahu gadis itu mulai caper pada orang lain, sampai hitungan ketiga kami menyobeknya bersama.
*********
Malam hari aku telah menyusun rencana hebat dengan teman-teman ku, percayalah aku punya banyak teman di luar lingkungan sekolah. Maksudnya sebuah kata teman dengan arti numpang status saja dan pastinya hanya meminta keuntungan berupa uang dari ku.
Uang untuk mereka segalanya dan segalanya itu aku bisa membeli nya hanya sekali gesek. Tanpa mereka pun rencana ku mungkin presentase nya kecil untuk menang meraih gelar penguasa. Tempat ku berkumpul bukan kaleng-kaleng, aku telah menyewa penuh sebuah cafe tongkrongan anak muda. Tidak sia-sia uangku keluar ternyata jumlah mereka pun banyak. Dengan begini aku sudah siap menantang mantan temanku sendiri.
Sepulang sekolah, anggota-anggota ku datang menjemput kemudian motor yang ku kendarai berada di garis depan layaknya menunjukkan arah jalan markas si target. Pulang sekolah adalah waktu tepat untuk kami berburu mangsa, melewati pintu belakang sekolah orang kini satu persatu telah melompat dan berjajar di belakangku begitu rapi.
Tak butuh lama, beberapa anggota geng Rehan juga Bimo telah kami dapati. Wajah mereka babak belur, kalah telak dengan pasukan yang ku bawa. Karena tidak terima penyerangan hari ini, Rehan dan Bimo sungguh-sungguh datang ke TKP.
" Nyali mu besar juga !". Pekik ku gampang emosi. Kepalan tangan telah menyatu kuat rasanya sudah tidak sabar membuat mereka berdua masuk rumah sakit.
" Ada apa denganmu, Put? Masalah kita jangan dibawa ke sekolah lain". Rehan memberi nasehat namun Putra malah meliriknya tajam namun seperti jijik.
Jarinya telah dekat dan menunjuk wajah pucat Rehan. Aku memang tidak pernah berkelahi dengan temanku, namun untuk kali ini aku sangat-sangat kecewa. Belum ada aku memikirkan cara menyakiti hati Ayu seperti ini.
Ku cebik kan bibir ku begitu tipis, menelisik tajam tiap garis wajah dua buaya di depanku. " Jangan sok menasehati ku, dirimu saja belum tentu benar !". Jawab ku balik, kata-kata pedas keluar bersama emosi ini.
Menit terlewatkan begitu saja hanya saling menatap dan hanyut dalam pikiran masing-masing. Aba-aba telah di keluarkan dan penyerangan pun mulai terjadi. Baju sekolah masih melekat di setiap siswa yang telah berkelahi.
Benda-benda tumpul sudah ku siapkan karena aku berpikir kesempatan untuk menindas mereka habis-habisan demi membayar perlakuan nya terhadap gadis yang ku sayangi. Rasa kecewa juga malu tidak sebanding dengan posisi Anggi yang sempurnanya menampar Ayu didepan orang banyak.
Entah berapa lama kami saling adu kekuatan di arena sekolah entah siapa yang menang juga kalah yang terpenting sang pemimpin tidak boleh jatuh ke bawah meskipun lebam juga darah mulai bercucuran, pantang menyerah untukku membalas semuanya.
Satu persatu lawan dan sang penantang berjatuhan karena kalah bahkan Bimo telah ku buat wajahnya berantakan. Suara tawa psikopat ku begitu menyemangati hari ini akan segera usai. Tersisa aku dan Rehan masih bertahan.
" Berhenti !!!". Sorak seseorang dari arah lain, ku lirik kesana kemari ternyata pria berseragam satpam mulai mendekati kami.
Sebelum mendekat, aku membantu anggota ku berdiri dan bergegas lari dari tempat itu bahkan Rehan yang masih bisa berdiri membantu Bimo untuk melarikan diri memanjat pagar sekolah.
" Mau kemana lu !!!!". Seru ku menunjuk arah kedua makhluk tersebut, langkah ku awut-awutan karena kelelahan adu jongos.
" Ini perbuatan mu, tanggung jawab sendiri". Ucap Rehan membalas nya, sekarang dia telah berhasil keluar hingga menatapku begitu lekat dengan sorot matanya yang tajam dan sudah membengkak.
" Diam kamu ". Perintahnya padaku, dia menangkap ku bagaikan seorang maling jahat yang sudah mencuri barang orang. Padahal yang aku lakukan memang pantas untuk pecundang seperti mereka.
" Baiklah". Ujar ku pasrah serta melipat tangan ke belakang, pak satpam sekolah itu membawa ku entah kemana bersama anak-anak yang telah terjatuh tadi.
Jangan meminta ku menjabarkan hadiah apa yang ku peroleh di sekolah ini, makian sampai hinaan serta nada-nada suara seorang guru begitu meninggi hanya untuk memarahi ku? Apa pantas seorang guru begitu? Bukankah tugasnya mendidik murid-muridnya nya dengan benar.
Telinga ku panas mungkin saja mulut guru itu sudah berbuih karena matang dan mendidih. Mereka begitu ngotot untuk meminta orang tua ku menjemput ku. Meskipun nomor itu aktif tetap tidak akan di angkat Papi dan Mami, pekerjaan nomor satu dari pada anak sendiri.
" Sudah di bilang masih saja ngeyel. Orang tua saya sibuk, paling tidak kalau di angkat penyelesaian nya singkat. Tidak ada pertemuan adanya penyuapan". Cerocos ku spontan dan begitu santai, kenapa harus takut? Dia bukan siapa-siapa ku !
" Kamu ya !!". Ucapnya sangat geram, mungkin ku prediksi dia ingin menikam ku. Entahlah, ekspresi nya terlihat kesal setengah hidup. " Pergilah pulang, kami akan melaporkan kejadian hari ini ke sekolahmu ". Kata guru tersebut mengancam ku.
Di ancam apapun aku tidak akan takut dengan gaya santai namun wajah penuh luka kini aku keluar dari sekolah tersebut. Ku hitung-hitung sekitar dua jam lebih aku di dalam kantor guru.
" Hem ". Ku Hela nafas lega ku. Balas dendam telah berjalan sesuai rencana walaupun berujung sidang di ruang guru tidak akan masalah. Aku sudah terbiasa dengan rentetan kata yang mengindahkan itu.
Pagi hari tidak ada yang berubah, bangun dengan wajah lebam dan memar, Bibi dirumah ku telah membantu mengobati nya. Tentu aku memintanya tutup mulut atas kejadian kemarin.
Sarapan sedikit, meskipun terlihat enak tetap aku merasakan kekurangan di ruang makan yaitu kehadiran kedua orang tua ku. Entah aku harus bertanya kemana yang pastinya, mereka sama-sama lembur.
" Sisa nya bibi habiskan saja, saya mau berangkat". Ucapku menenteng tas dan beranjak dari ruang makan besar tersebut.
Dalam perjalanan keluar rumah seperti nya dugaan ku salah, sang supir Papi saat ini menghadang jalanku. Wajahnya tertunduk sopan tapi kelakuan nya menghambat ku ke sekolah.
" Tuan, ijinkan saya mengantar Tuan ke sekolah hari ini saja". Pintanya memohon padaku.
" Aku mau naik motor". Jawabku sambil menatap tubuhnya yang mungkin tak jauh dari usia orang tuaku.
Tertunduk dalam. " Saya mohon, kalau saya tidak mengantarkan Tuan . Saya akan dipecat". Sahutnya membuat ku tak enak.
" Ya sudah, cepatlah". Suruh ku mengikuti langkah kaki dengan cepat, dia pun mengekor di belakang kemudian membuka pintu mobil tersebut.
Di sekolah aku menghabiskan waktu seperti biasa, entah kenapa juga aku menunggu seseorang menjemput ku dan mengajak ku ke ruang BK. Kelas ku masih tidak ada yang mengajar alias jam kosong. Aku juga tidak bisa merokok bukan karena tobat tapi memang rokok sudah habis.
" Alif mana?". Tanya Bobi menoleh pada ku.
" Masih ijin katanya, kapan kalian mau jenguk dia?". Usul ku membesarkan suara ku. Beberapa cowok di kelas pun melirik, anak itu butuh teman-teman untuk menghibur nya.
" Sore ini saja, bagaimana?". Isa memberikan usulan yang membuat teman-teman kelas ku setuju. Selanjutnya kami menyusun rencana keseluruhan untuk sore nanti.
Obrolan di kelas ku terasa singkat karena suara bel berbunyi menandakan para siswa beristirahat sejenak. Namun ritual didalam kelas masih ku laksanakan dari pada gosip menyebar sampai ke telinga Ayu, lebih baik aku mengurung diri di ruangan ini. Kalau lapar, tinggal memberi perintah untuk membeli kan makanan di kantin.
Beberapa saat kemudian aku merasakan sesuatu tak enak membuatku merinding, ada firasat buruk pasti akan terjadi padaku saat ini. Betul juga, ada benda lembut yang sedang menarik daun telingaku detik ini.
" Adddddduhhhhhhhhh !!". Keluhku meringis kesakitan. Lebih sakit dari cubitan guru BK.
" Ikut aku keluar !!". Perintahnya masih belum melepaskan jeweran yang menimbulkan panas di telinga.
" Iya tapi lepas dulu !!". Pintaku begitu lirih, seumur-umur baru kali ini ada cewek berani bersikap begini terhadapku.
" Gak !!". Jawab Ayu masih menarik telingaku hingga berjalan keluar kelas. Teman-teman ku sekilas terlihat penasaran dan akhirnya menyusul kami dibelakang lalu berdiri didepan pintu kelas.
" Sakit !!!!". Oceh ku menahannya, sudah wajah babak belur ditambah lagi beban berat di telinga yang sebentar lagi ku pastikan akan bengkak.
" Duduk disitu !". Perintahnya. Aku pun duduk dan dia berada di sebelahku.
" Ada apa sih?". Tanyaku seraya menyapu telinga yang mendidih panas.
" Kamu tahu gak? Aku kesel kamu keras kepala ". Jawabnya balik
" Kepala ku lembek kok". Balasku bergurau, tidak mungkin keras toh jatuh dari motor tidak pakai helm pasti terluka.
" Jangan bercanda !!!! Cerita sama aku apa yang kamu lakukan di sekolah lain?". Menimpali pertanyaan lain, ku pikir-pikir sejak kapan dia tahu aku ke sekolah lain?
" Hah maksudnya?". Ujarku tidak mengerti.
" Cerita !!!". Melipat tangan di depan dadanya. Sudah ketebak marahnya. Padahal semua yang aku lakukan untuk dia. " Iya iya, aku kelahi disana karena mereka memukuli temanku, jadi aku balas juga ". Hanya berbohong.
" Gini, ibu mu tadi ke ruang BK nangis-nangis. Apa kamu tega ?". Ucapnya menekan nada di akhir kata.
" Biarkan. Dia juga tidak peduli pada ku ". Jawab ku santai, memang tidak akan peduli kecuali kalau sekolah sudah memanggil mereka.
" Putra, enggak akan ada yang menyukai mu kalau begini. Kasihan ibu mu, coba belajar sungguh-sungguh untuk berubah". Dia menatapku dengan raut wajah seperti memohon meskipun dia tidak mengungkapkan kata mohon.
" Gak mau !!!". Sahutku, aku mau melihat raut wajahnya yang sekarang lagi mengkhawatirkan aku. Ah, senangnya !
" Hah? Berani melawan aku kah?". Ayu berdiri didepannku sambil berkacak pinggang. Dia tahu, teman-teman sedang menertawakan diri aku saat ini. Awas saja kalian !
" A-a-a-a iya iya aku gak nakal lagi ". Ucapku pasrah daripada orang-orang di sana terus menahan tawa melihatku.
" Serius?". Kurang yakin.
__ADS_1
" Iya serius demi kamu !". Jawabku seraya senyam-senyum berharap di balas dengan senyuman manisnya.
" Awas aku mendengar kamu buat onar lagi !!!". Nada Ayu begitu mengancam, satu-satunya perempuan yang berani mengancam ku. Demi apa? Gadis manis itu pun pergi beranjak dari kelas tanpa kata pamit.
Ku lirik seluruh pasang mata yang tak jauh dari ku namun mereka malah menepisnya berpura-pura tidak tahu. Hebat sekali aktingnya ! " Baiklah, kalian belikan aku makanan. Cepat !!!!". Seru ku bernada kesal.
Sore harinya aku telah bersiap-siap untuk menjemput beberapa teman untuk meminimalisir waktu, sesuai rencana di sekolah kami sepakat ke rumah Alif. Tak lupa juga mere membawa bingkisan seperti buah atau makanan kecil.
Kondisi Alif sudah cukup membaik bahkan makannya saja sudah lahap, kami mengobrol seputar kegiatan sekolah dan yang paling tidak ku sukai salah satu dari mereka ternyata bermulut ember ibaratnya air tumpah kemana-mana alhasil informasi mengenai telinga ku ditarik sampai ke ujung kelas sudah terbongkar.
" Tertawa lah sepuas kalian !!!". Gertak ku emosi tetapi tingkah mereka bukannya berhenti malah mengungkit semua hal aneh terjadi.
" Cewek itu benar-benar luar biasa dengan mudahnya mengatur Putra". Alif berdecak kagum dan kalimat itu begitu menyinggung ku.
" Kalau dia jadi guru BK, auto nurut semua". Timpal yang lain sambil di suguhi senyuman dan tawa di kamar sederhana milik Alif.
Sepulang dari kegiatan ku menjenguk sahabat, kini aku sudah menumpahkan diri di ranjang melewati jam makan malam. Pemanggilan orang tua ku tidak ada perubahan, mereka masih mengerjakan kerjaan di kantor.
Rasa-rasanya memang tidak berguna menyeret nama mereka untuk mewakili kelakuan ku. Malam ini aku masih bergelut dalam khayalan ku, jikalau aku menikah dengan Ayu entah bagaimana pun caranya aku harus menyeimbangkan waktu.
Ku tegakkan tubuhku di atas kasur dan duduk menyilang di atasnya. " Aku tidak mau anakku sepertiku, jangan terlalu dominan nakal nya. Setidaknya pintar seperti Ayu". Ujar ku mulai ngelantur.
Karena khayalan asal- asalan itu, aku jadi kepikiran dan rindu sama dia, jeweran nya memang menyakitkan tapi membahagiakan hati. Usai tersenyum karena ulah ku sendiri, kini ku ambil ponsel pintar ku dan segera mengirimkannya pesan.
Bukan Putra namanya kalau tidak bisa mencari nomor satu cewek, semua cewek di sekolah aku bisa dapatkan termasuk guru-guru di kantor. Tapi, itu tidak ada gunanya teman-teman !!!
******
Cuaca pagi masih cerah tapi membuatku malas untuk bangkit dari tempat tidur, tiba-tiba muncul gambaran gadis di kepalaku dan membuat aku lari terbirit-birit ke kamar mandi untuk menyelesaikan ritual ku.
Memasuki kelas seperti biasa dengan gaya keren membuat seluruh mata terpanah, tenang saja cewek yang punya sejuta logika tidak akan menyukai cowok berandalan seperti aku.
Belum juga aku sampai ke kelas ku, aku di sambut seorang adik kelas dengan sifat tidak baik. Percikan liurnya mengenai sepatuku, wajahnya ku pandangi seperti jidatnya tertulis menantang ku !
" Apa maksudmu !". Bentak ku berjalan mendekat.
" Tidak ada !". Sahutnya santai.
Hantaman itu belum mendarat karena Alif telah menghentikan ku. Dia menyeret ku secara paksa menuju ruang kelas, mataku tidak lepas dari pandangan wajahnya yang memang benar-benar menyebalkan. Umpatan dalam hati kini bersorak, aku membenci anak itu entah salahku dimana main mel*dah sembarangan !
Sampailah aku di kelas yang mereka maksud. Dan betul, Putra terlihat menarik kerah baju seorang cowok. Pelajaran berlangsung tapi sakit hati belum padam, tanganku terkepal hingga tak kuasa menahan untuk meremas buku pelajaran ku sendiri.
" Put, diamlah !". Bisik Alif yang duduk di samping ku.
Tindakanku berhenti dan mataku memperhatikan guru didepan yang sedang menjelaskan materi, pelajaran pagi ini sangat tidak ku sukai. Menghitung adalah kelemahan setiap orang namun ada juga beberapa orang pintar dalam urusan matematika contoh kecilnya Guru matematika.
Kelas sudah berseru riang karena jam istirahat di mulai layaknya anak SD saja. Aku merapikan buku ku di dalam laci meja.
" Put, aku ke toilet. Enggak bareng kah?". Tanyanya membuat alis ku menyatu.
" Ngapain?".
" Aku mules, kamu mau ke kantin? Bareng aja !". Ujarnya menawarkan sambil terlihat memegang perut.
Menggeleng. " Tidak, pergilah. Tunggu kamu selesai aja !". Jawabku cuek tanpa melihat aksinya lagi.
Kepergian Alif membuatku menjadi semangat untuk menjajah lokasi ruangan sebelah, jalan dengan langkah cepat dan akhirnya berlari . Mataku membidik si target dengan akurat segeralah tangan penuh dosa ini bertindak.
Aku menyuruhnya meminta maaf, tapi dia mengelak dan tidak mau. Terpaksa aku mengeluarkan jurus ku agar dia kapok ! Seluruh kelas panik dan berteriak histeris, entah berapa lama aku memberikan pelajaran khusus pada cowok itu.
" Putra !!!!". Seseorang memanggil.
Aku berpaling pada arah suara. " Ayu?". Jawabku terheran.
" Sakit ". Ringisku menahannya, memang sungguh-sungguh sakit.
" Kan sudah di nasehatin. Berubah !!!". Ujarnya berkomentar, kami sudah berada di dalam kelas ku. Teman-teman ku hanya benggong melihat kami berdua dengan tingkah yang sama seperti kemarin.
" Maaf aku khilaf !!!". Jawabku balik seraya menunduk.
" Minta maaf sama mereka bukan aku ". Jawabnya emosi. " Harus bagaimana sih agar kamu enggak kelahi Mulu?". Omelan nya bertambah.
Berpikir cepat." Bisa tapi temani aku malam ini jalan?!". Kataku.
" Enggak bisa banyak tugas !!!". Jawaban nya membuatku sakit meskipun jujur.
" Alahhhh.... Anak pintar selalu sibuk sama buku, buku, buku, buku dan buku. Dunia itu luas !!!". Ungkap ku mengeluarkan kata yang seolah keluar dengan sendirinya dan di ujungnya malah binggung sendiri. Luas? Aku hanya tahu yang luas itu langit !
" Putra, guru BK memberikan aku tanggung jawab besar. Menjaga kamu, nasehatin kamu agar berubah karena kamu selalu melawan. Ya sudah kalau enggak mau dengar kata ku. Kita pura-pura saja enggak kenal. PERMISI !!!!". Gerutu nya sudah mulai emosi dan langkah kakinya sudah keluar dari kelas.
Rasanya ingin menahan kepergian nya tapi tidak bisa aku melakukan hal konyol di depan teman-temanku, pasti malu ! Gertakan tadi membuat aku seharian di sekolah jadi menjaga jarak padanya, aku biarkan saja dia beristirahat sejenak untuk tidak bersusah payah mengawasi ku.
Malam hari itu aku duduk di ruang makan sendirian di temani pelayan yang kerjaannya hanya berdiri dan menunduk membuat ku risih.
" Kalian enggak lapar?". Tanyaku menyapu pandangan ke seluruh sudut. " Kita makan bersama di sini, cepatlah ! Aku bosan sendirian !!". Titah ku membuat mereka saling pandang.
" Maaf Tuan, kami tidak pantas duduk di situ". Jawabnya.
" Gitu ya? Ya sudah aku makan dibawah saja kalau kalian minder". Aku membawa piring yang sudah berisi lauk dan duduk di lantai bawah tanpa alas.
" Jangan Tuan, itu-?".
" Kenapa? Kalian mau memecat ku?". Tanyaku, mungkin mereka binggung maksudku. " Kalian berdiri sedangkan aku duduk dibawah. Apa kalian tidak punya sopan santun?". Bentak ku membuat mereka menjadi panik tanpa jawaban mereka mengambil makanan dan duduk makan bersama ku. Enak juga bermain dengan bibi-bibi disini !
Telepon ku berdering membuat seisi ruangan makan itu kaget. Aku menyuruh mereka tetap makan dan sekarang aku membaca nomor yang tidak ku kenali.
" Siapa?". Sapaku.
" Kamu pasti tahu Bimo dan Rehan tidak benar karena mereka pernah berteman denganmu, kenapa sekarang malah Ayu dekat dengan mereka ?".
Aku menimang-nimang suara yang mirip dengan si pembicara. " Aku sudah menghajar mereka dan mengancam mereka ! Kali ini mereka jahat sama Ayu?". Tanyaku balik meninggalkan piring makan malam ku.
" Aku tidak tahu, tapi mereka pasti ada niat jelekkan sama Ayu? Kita harus menjauhi mereka !". Sahut Heru.
*******
Setiap Jumat pagi dengan langit cerah, sekolah pasti mengadakan senam pagi. Membuat barisan sendiri-sendiri asalkan rapi dan sesuai jaraknya.
Aku bersama Heru dalam barisan sama, kami nampak mengobrol tentang perihal Rehan dan Bimo yang akhir-akhir ini terus melakukan pendekatan.
" Kita awasi dulu, aku tidak mau namaku tercatat pertama kalinya di ruang BK". Ucap Heru.
Aku mengembuskan nafas kasar. " BK aja takut, setiap hari di catat sama malaikat kami tidak takut !". Sahut ku membalas.
Senam kami ikuti dengan lancar, mengikuti irama juga gerakkan sang instruktur didepan. Tidak ada hambatan, barisan ku nampak semangat, suara sorak begitu ramai menambah kekuatan !
Aku jadi ingat kalimat yang di lontar kan Ayu padaku saat itu, dia menyuruhku untuk tidak mengenalnya. Bersama Heru, aku menyaksikan tipu muslihat dari mantan temanku tersebut. Tingkah mereka semakin menjadi-jadi meskipun sering ku peringatan secara baik-baik maupun kasar.
Singkat cerita menyebalkan itu tak terasa ulangan segera di adakan. Aku tidak memberi asupan pelajaran pada otak ku malah sibuk memikirkan cara bagaimana Ayu bisa mengetahui rencana busuk mereka.
Sesekali di dalam kamar, aku mendengar suara mobil Papi berhenti di halaman depan namun tidak lama mobil itu kembali lagi beranjak dan entah kemana. Aku tidak bertanya pada siapapun didalam rumah, rasanya enggan peduli.
Esoknya hari Senin tanpa upacara, jam 8 ulangan Agama dimulai . Aku sudah siap duduk di kursiku. Terlihat Ayu duduk masih membaca buku dengan mulut komat-kamit baca mantra. Kertas ulangan pun dibagikan. Setelah aba-aba, ku lirik Ayu mengerjakan dengan fokus tanpa menoleh padaku yang masih saja sibuk dengan Pulpen ku sendiri. Apa mungkin dia masih marah? Astaga segitu banget mata nya padaku !.
__ADS_1
" Kenapa tidak dikerjakan?". Kata Pak Daniel yang saat itu jadi pengawas ruangan ku dan mendekati ku lalu berdiri di samping meja.
" Malas pak !". Jawab ku seraya spontan. Mendengar jawaban itu, semua melihat posisi ku sejenak dan kembali mengerjakan soal mereka masing-masing.
" Nanti nilai mu nol". Ucap Pak Daniel.
" Nilai bukanlah segalanya". Balas ku tegas. Memang bukan segalanya, prestasi yang di dapatkan di sekolah tidak menjamin keberhasilan didunia kerja. Lihatlah buktinya banyak, orang terdekat yang hebat lah berhasil karena campur tangannya.
" Jangan ngebantah Bapak !!".
" Apa sih Pak ini masih Pagi saya tidak mau ribut ". Sahutku membalas.
" Putra kalau kamu begini terus. Kamu di keluarkan !". Ancamnya.
Aku pun berdiri dari kursiku. Aku mulai geram dengan segala macam omelan. Saat jari ini ingin menunjuk batang hidungnya tanganku seolah tertahankan.
" Putra, kerjakan soalmu !!!!". Ayu menatap mataku tajam.
" Oh oke hehehe". Aku duduk dan mengerjakan soalnya dengan tenang. Yang jelas dia masih peduli denganku, semoga memang sekarang marahnya mereda sedikit.
Hari berikutnya aku berangkat ke sekolah seperti biasa tidak ada beban, entah jawaban apa yang ku berikan nanti pada soal-soal yang memberatkan kepala. Aku juga mencoba belajar seperti pelajar pada umumnya di malam sebelum ulangan. Sayangnya, otakku terbatas.
Lagi-lagi aku hanya memperhatikan gadis ku dari jauh, tepat di belakangnya. Aku melihat dia tengah berjalan beriringan bersama Bimo, benar dugaan ku mereka berdua pasti masih melanjutkan rencana sebelumnya.
Ku pandangi terus tanpa hilang arah, kali ini Heru seperti mengusir Bimo dan berbicara padanya. Dari mulut Heru aku bisa memastikan kalau dia memberi peringatan pada Ayu. Namun, ayu memancarkan aura kesal dan dingin.
Setelah kejadian itu usai, aku menghampiri Heru menepuk pundaknya seraya berbicara. " Kali ini kita beri sedikit Ayu pelajaran kalau tidak semua pria tulus perhatian padanya". Ujarku begitu.
Heru kemudian menoleh, memicingkan mata ke arahku. " Sok bijak !". Dia menepis tangan ku dan pergi duduk di kursinya.
Masuk ke ruangan dan duduk di sebelah gadis yang wajahnya masih saja melekat di relung jiwaku. Dia begitu peduli memberikan nasehat pagi padaku untuk mengerjakan soal dengan tenang dan baik. Meskipun menjawab dengan cuek tetap saja hatiku kembang kempis gitu kesenangan.
Sepulang sekolah usai ulangan, aku menahan diri untuk tidak memukul Bimo. Dia terlihat masih bercengkrama ria dengan Ayu. Hatiku semakin terisi dengan benda tajam, perih saat membayangkan ujung nya dia akan menangis kecewa.
" Put, kamu sendiri memberikan nasehat kenapa kamu gegabah?". Tanya Heru menahan aksiku.
" Enggak tahan melihat dia nanti sakit hati". Jawabku dingin.
" Tenanglah, sebentar lagi pasti Ayu tahu. Dia harus belajar sakit hati agar bisa memilih seseorang dengan bijak". Heru bernasehat.
Seketika mataku menatap netra wajahnya. " Kesambet ?!". Imbuhku demikian.
********
Tak terasa waktu semakin berjalan ke depan, classmeeting pun diadakan. Heru dan aku mengikuti futsal lagi. Sedangkan Rehan mengikuti pertandingan Basket bersama Bimo. Maklum lah yang aku tahu jurusan mereka kebanyakan anggota Basket sekolah.
Hari ini aku tidak sengaja menciduk kemesraan mereka berdua entah sedang apa didepan kelas Ayu. Aku mendekati mereka dengan hening. Ternyata mereka menonton serial kartun juga ketawa-ketiwi.
" Siapa dia?". Ucapku mungkin akan mengagetkan nya.
" Hah sejak kapan kamu?". Jawabnya tersentak kaget.
" Ku tanya siapa dia?". Mendekati Ayu, wajahnya nampak masam dan anehnya pandangan nya menyapu sekitar.
" Teman aja Put !!". Jawabnya gugup.
" Ohhh. Jauhi dia !".Perintah ku. Mendengar kata jauh, gadis itu lalu berdiri dan menarik tangan ku secara paksa untuk menjauh dari teman kelasnya.
" Aduhhh jangan bicara itu didekat temanku". Imbuhnya kesal.
"Kenapa?". Tanyaku penuh arti.
" Enggak baik menyebar gosip orang". Bisiknya, itu bukan gosip. Hanya dia yang tidak tahu busuknya lelaki itu, jadi gadis polos benar.
" Kamu gak kenal siapa dia, pokoknya jauhi kalau enggak kamu tahu akibatnya". Sahutku memohon, apa itu tidak jelas? Aku memohon demi kebaikanmu.
" Akibat apa? Apa yang salah dari dia?". Tanya nya lagi.
Aku menghela nafas kasar ku seraya menetralisirkan rasa geram ini." Dia itu jahat ayu !!!!".
" Enggak ada buktinya Put ?!". Jawabnya singkat.
" Jangan sampai nanti kamu membuang air mata mu karena dia". Bentak ku padanya. " Kamu pasti akan sadar di waktu yang terlambat !!".
" Putra kamu jangan menjelekkan orang hanya ingin mendapatkan ku. Apa itu caramu?". Nada nya tertekan seolah dia benar, kalau aku mau memakai cara jahat sudah sejak dulu.
" Terserah mu !!". Aku menyerah berdebat dengannya, perempuan memang hebat dalam berdebat dan tidak pernah salah.
2 hari kemudian. Aku menonton pertandingan Bimo bersama Rehan dari kejauhan. Aku melihat dari depan kelas ku, Ayu begitu antusias untuk menyemangati mereka di antara puluhan cewek-cewek menyebut namanya. Kelas mereka melawan kelas 2 MM. Skor mereka pun unggul dan akan bertanding esok hari melawan kelas 3 MM.
Rehan dan Bimo pun berjalan ke kelasnya. Sudah terbaca sikap Ayu seperti ingin menyusul dan memberikan Bimo sebotol minuman. Terlihat ragu-ragu didepan kelas mereka, namun ada sikap aneh yang tak dapat ku prediksi. Kini dia terdiam kaku menunduk dan menjatuhkan botol tadi, bahkan teman setim Rehan ikutan diam.
" Wah, enggak beres ini !!". Gumam ku beranjak dari depan halaman kelas.
Baru beberapa jarak aku berlari, Heru terlihat begitu peka dan mengambil alih posisiku. Dia nampak mengejar Ayu yang larinya entah kemana.
Aku menghentikan perlahan-lahan kecepatan kaki ku dan kali ini melihat didepan sana yang bayang keduanya telah hilang. Langkah ku memutar dan kembali ke kelas, untuk saat ini hatiku hampa melihat orang lain lebih unggul dariku untuk Ayu.
Malam kembali tiba, aku masih saja merenungkan kejadian di sekolah. Menerka-nerka selanjutnya yang terjadi, mungkin saja mereka akan pacaran atau apa?
Ketukan pintu membuyarkan lamunanku karena aku kedatangan tamu tak terduga. Heru menceritakan seluruh kejadian yang dia dapatkan dari Ayu, hatiku lega kalau keduanya memang tidak seperti pikiran aku beberapa menit yang lalu.
Rencana telah di susun rapi, aku kembali memanggil beberapa teman premanku untuk ikut menyerang kelompok Rehan juga Bimo. Aksi brutal itu sangat energik, kekuatan ku bertambah kala Heru ikut dalam perkelahian tersebut.
Puas aksi memukul anggotanya, kini tinggal sang ketua juga tenan nya itu. Wajah kami belum ternodai dengan lantang aku sudah membuka aksi itu dengan hantaman keras ke wajah Bimo.
Pertikaian berlangsung di bangunan tak terpakai karena markas mereka disana, ini bukan cerita tentang Genki. Tapi ini nyata, kami saling menyerang hingga babak belur. Benda tumpul dan tajam jadi senjata andalan.
Entah berapa lama, Rehan dan Bimo sudah bonyok termasuk anggota mereka sendiri. Markas hancur dan kami pulang dengan rasa gembira. Tenang saja aksi itu tidak ketahuan warga sekitar karena perumahan begitu jauh.
" Kita menang !". Pekikku meninggikan tangan ke udara.
Langkah Heru gontai begitu pula aku. " Aku yang menang !". Serunya ikut-ikutan.
Kesialan kembali datang, siapa bilang perkelahian waktu itu tidak ada yang tahu. Nyatanya teman Heru telah merekam aksi itu secara sembunyi-sembunyi dan melaporkannya pada pihak sekolah ku.
Untuk Heru, dia pertama kalinya masuk ruang BK dan aku jangan ditanya, soalnya sudah puluhan bahkan ratusan aku memasukinya sejak SMP. Usai di ceramahi habis-habisan, kini kami ke kantin untuk mengisi perut. Tak peduli wajah babak belur dan acak-acakan yang penting kenyang.
Makanan baru saja tersaji dan membuat ku ngiler mendadak nafsu makan meningkat, tanganku sudah ditarik paksa oleh seorang gadis serta membawa ku ke area belakang kelas
" Kenapa wajah kalian?". Tanya nya menelusuri wajah-wajah yang lecet dimana-mana. " Cerita sama aku, apa masalah kalian sampai kelahi? Jawab Put, Ru !!!". Bentaknya lagi, bagiku dia guru BK kedua di sekolah ini.
" AGHHHHH !!! Ini karena kami tidak mau melihat mu sedih !". Jawab ku sudah tidak tahan, soto ayam ku sedang menunggu dan aku lapar.
" Kami tahu kamu jadi taruhan antara Rehan sama Bimo. Aku langsung kasih tahu Putra. Pulang sekolah kemarin kami menghajar mereka". Sambung Heru.
" Kenapa kalian terlibat kan diri cuma karena aku. Kenapa? Aku enggak mau kalian masuk ruangan BK terus". Melirik ku seolah kata itu memang tertuju pada ku.
" Maaf yu. Sudahlah kami tidak mau kamu menangis, sedih terus sakit hati ". Jawabku yang membuatnya menjadi diam terpaku menatap ke bawah.
" Karena kami s-". Heru.
" Terima kasih kalian sudah sangat peduli sama aku ". Dia tersenyum pada kami berdua, begitu menghangatkan dan menenangkan. "Kalian teman ku yang sangat-sangat melindungi ku, terima kasih ya !!! ". Dia mencoba mencubit Pipi kami yang notabene nya memang sudah bengkak.
__ADS_1
Hari itu jadi saksi, hubungan kami bertiga sangatlah berarti dan saling peduli. Aku tidak keberatan bersaing dengan teman sendiri asal caranya tidak curang. Setidaknya ada dua cowok yang menjaga dia akan lebih baik agar tidak terulang lagi masalah ini.