![Diary My Sekolah [S1-S2]](https://asset.asean.biz.id/diary-my-sekolah--s1-s2-.webp)
Lanjut°~
.
.
" Cincin ?".
" Itu untukmu". Putra bertekuk lutut di depanku secara tiba-tiba.
" Ka-".
" Aku gak mau lama-lama lagi. Aku takut kita di pisahkan !!". Ucapnya terdengar tulus.
" Put-".
" Mau kan?".
Menganggukkan kepalaku berkali-kali tanda menyetujui nya. Tentu iya, rasaku memang belum pudar untuk dia. Cincin itu dia pakaikan ke jari ku. Sempat geer karena tadi, tapi ini beneran terjadi padaku malam ini di saksikan pengunjung yang sedang makan atau sekedar nongkrong di Cafe. Raut wajah kaget dan terharu. Akhirnya, aku bisa juga bersama laki-laki yang ku harapkan dari dulu.
Usai itu, kami makan bersama lalu berbincang mengenai hal ke depannya. Jujur, belum siap untuk menjadi seorang Istri. Belum kepikiran hingga ke sana, tapi kalaupun ada laki-laki yang serius sama aku. Kenapa tidak? Aku pasti mempertimbangkan nya.
" Habis ini kita kemana?". Tanyaku.
" Ke rumahku dulu yuk , ada yang ketinggalan". Ucapnya
" Apaan ?" .
" Dokumen penting ". Jelas Putra.
" Masih soal kerjaan?".Tanyaku
" Iya !".
Sampai sudah aku di rumah Putra. Keluar dari mobil dan kagetnya bukan kepalang. Seisi ruang tamu, hadirlah seluruh sahabat dan teman-teman Putra. Ada Heru bersama wanita itu. Kedua orang tua ku dan orang tua Putra. Semua lengkap berkumpul mengejutkan ku, saat ku masuk ke dalam rumah.
" Apaan ini?" . Melihat Putra berdiri di sisiku.
" Sebagai perayaan kalau lamaran ku di terima sama kamu". Ujarnya merangkul ku.
" Tapi kamu kan belum melamar resmi ke Ayah?" . Ucapku.
" Sudah jauh-jauh hari aku sudah bicara sama orang tua mu My Sauw ". Senyumnya padaku.
Entah mimpi apa aku kemarin, kenapa malam ini terasa berharga dan semanis ini. Aku tidak ingin cepat berakhir. Aku terus melihat wajah Putra yang rupawan itu dengan senyum manis nya . Masih menatapnya, Putra memegang tanganku dengan erat dia genggam.
" Selamat ya". Heru berada di depan kami. Mengulurkan tangannya.
" Em". Putra membalas dengan mengangkat tangan kami yang saling bergandengan. Apa tanda tidak ingin di sentuh? Entahlah. Lucu saja aksi itu.
" Hehehe. Oke oke . Kalian sudah bahagia". Ucap Heru.
Kami saling membalas senyum bertiga. Lalu wanita yang bersama Heru berjalan mengarah ku.
" Selamat ya Ayu". Ucapnya.
" Iya ".
Acara sederhana malam itu di rumah Putra . Makan bersama, rasanya bahagia sekali . Akhirnya, semua cobaan sudah ku lewati untuk menanti dia. Meskipun aku berkata move on, tetap saja hatiku mengharapkan Putra terus. Aku mendapat ucapan dari sahabat ku semua. Mengabadikan moment yang banyak malam ini.
****
Beberapa hari berlalu pulang dari sekolah, aku mengendarai mobil menuju jalan rumah. Jalan menuju rumah ternyata di tutup karena ada perbaikan. Terpaksa aku memutar jalan untuk pulang. Sudah di perjalanan, sial nya aku ban mobil bocor. Ku coba mencari bengkel di dekat situ, tapi tidak ada.
Aku hanya menemukan warung biasa dan rumah orang. Aku mencoba menelpon Putra tapi tidak di angkat. Mungkin sibuk kerja atau apalah. Menelpon Ayah juga percuma, ayah di luar kota. Kak Yani tidak di angkat. Hingga sore aku tetap duduk di dalam mobil, menelpon Putra terus.Orang pun jarang lewat. Susah untukku minta tolong. Aku keluar untuk mencari pertolongan. Sebuah mobil berhenti di depanku dan keluar lah laki-laki.
" Ayu !!".
" Hey " sapa ku
" Mogok kah?". Tanyanya
" Ban nya kempes "
" Aku telpon orang bengkel langganan ku ya, mobilmu biar di sini. Ditunggu pasti lama". Dia menelepon
" Em " ucapku
" Sudah aku telpon, nanti dia ke sini 15 menit lagi karena ada kerjaan nya. Kalau sudah, nanti dia antar ke alamat mu ".
" Iya. Makasih !" Ucapku pada Bimo
Bimo mengantarkan aku pulang. Di perjalanan aku menanyakan kabar Rehan dan Anggi. Tapi, dia bahkan tidak tahu lagi kabar mereka. Sudah jam 6 lewat aku masih heran, kenapa belum juga sampai di rumahku. Jalannya sudah benar, tapi aneh kenapa tidak sampai-sampai.
" Bimo. Kita kemana?"
" Pulang kan?" . Jawabnya melirikku
" Kok gak sampai-sampai ?"
" Sampai kok !!"
Selagi Bimo fokus menyetir mobil, aku mencoba SMS Putra. Semoga dia baca SMS ku. Perasaan ku semakin tidak enak.
Aku : Put, mobil ku mogok di Jln. Bulungan . Sekarang aku di bawa Bimo pulang tapi gak sampai-sampai.
Terkirim tapi belum dibaca nya Putra. Aku lihat ke jalan entah kenapa Melawati hutan. Rumahku saja tidak ada jalan melewati hutan.
" Bim. Kamu mau ngapain sih?".
" Jalan sama kamu ".
" Kalau mau jalan kan. Kita bisa pulang dulu, aku mandi ganti baju".
" Gak mungkin kamu mau jalan sama aku ".
Hari semakin malam. Mobil tak kunjung berhenti. Perasaan ku, aku semakin jauh dari rumah. Panik juga khawatir. Jalanan sepi. Aku ingin keluar, tapi mobil ini dia kunci.
" Turunkan aku !!", Bentakku
" Gak !!"
Aku mencoba membuka kunci mobil tapi tetap tidak bisa, terbuka malah di kunci kembali sama Bimo. Bimo hanya tertawa tidak jelas padaku. Tak lama, di jalanan aku melihat rumah-rumah penduduk yang entah dimana.
" Turunkan aku". Ucapku.
" Iya tunggu ya". Ujar Bimo.
Aku mencoba SMS putra tanpa ketahuan Bimo.
Aku :Sayang, tolong aku. Aku dibawa Bimo jauh dari rumah. Melewati hutan . Tolong baca SMS ku !
" Bentar juga sampai kok !!" .
Betul saja, mobil berhenti di hutan gelap di pinggir jalan. Aku buka pintu mobil, malah Bimo menendang ku dengan kasar ke luar. Aku jatuh tersungkur di tanah . Bimo tertawa dan langsung pergi. Kalau di tempat gelap begini aku sangat-sangat takut. Aku terus menangis tidak karuan, entah kemana aku harus jalan seluruh nya gelap.
__ADS_1
" Ya Allah aku takut !!". Sambil ku lihat hp. Tidak ada signal di sini . Hati pasrah dan perutku sudah mulai lapar, aku harap ada mobil lewat malam ini. Agar aku bisa menumpang.
Sudah jam 9 malam. Aku semakin merinding pikiran kacau dan ketakutan. Dalam hati hanya berdoa minta pertolongan dari Allah, semoga aku di lindungi.
" Dek !!"
" AGHH !!" aku terkejut ada orang di belakang ku membawa lampu.
" Kenapa malam-malam di sini. "
" Saya di buang sama orang Bu. " Tampangnya serem tapi entah manusia atau hantu. Aku terus membaca doa dalam hati dan mulut terus komat-kamit
" Tenang, Ibu manusia. Coba pegang !"
Memberanikan diri untuk menyentuh tangan Ibu itu. Syukurlah dia beneran manusia. Aku bisa menyentuhnya.
" Iya Bu". Kata ku
" Ikut ke rumah Ibu gak, Ibu punya anak seumuran seperti kamu , kalau di sini nanti kamu kenapa-kenapa ".
Aku mengangguk dan mengikuti langkah Ibu itu. Jalan masuk hutan. Emangnya ada rumah di dalam hutan, mungkin saja pondok pikirku. Sampai sudah dirumah cukup besar di dalam hutan . Ada cahaya jadi takut mulai pudar, masuk ke rumah Ibu tadi.
" Ini rumah Ibu " .
" Ya Bu !"
" Sudah makan gak ?"
" Saya gak lapar Bu . Bu apa di sini ada signal hp?" Tanyaku
" Coba aja telepon !!"
Ku ambil hp di tasku dan ku lihat signal di sini Full. Aneh masa ada signal ada di dalam hutan. Aku tidak mau memikirkan nya terlalu panjang agar tidak takut. Panggilan 70x dan 90 SMS masuk entah siapa. Panggilan masuk dari Putra, aku langsung mengangkat nya.
Aku : Ha-
Putra: Kamu dimana sekarang
Aku: Aku gak tahu dimana. Aku di hutan
Putra: Aku masih nyari kamu, Bimo bawa kamu lewat mana
Aku: Jalanan antara kota sebelah lewat perbatasan gak jauh dari situ dia menendang ku keluar
" Bilang saja sama calon suami mu. Kamu di kilo 99". Ucap Ibu itu tiba-tiba.
Aku : Aku di kilo 99. Di sini ada Ibu-ibu yang menolongku membawanya ke rumah
Putra :Hah? Sayang kamu tenang di sana. Turuti aja kata orang itu, sambil baca doa terus ya
Aku: Kenapa?
Putra: Tidak ada orang atau pun rumah di sana
Mendengar itu aku langsung kembali takut dan merinding melihat wajah Ibu itu dengan rambut terurai .
Aku: Putra cepatlah. Aku takut
Putra: Ya tenanglah aku akan sampai ya
Telepon sudah mati. Dan signal kembali tidak ada. Rasa semakin kacau. Aku melirik Ibu dengan senyum. Ku harap aku selamat .
" Dek. Kamu mau istirahat dulu kah?"
" Gak Bu. Saya duduk di sini saja " ucapku
****
Mataku terhalang silau nya sinar, ku buka sedikit demi sedikit mataku. Kenapa aku bisa terbaring di atas tanah yang berada di pinggiran jalan. Bukannya aku ada di rumah Ibu itu, kataku dalam hati. Ternyata, hari sudah pagi. Ku lihat jam tanganku, jam 6 pagi. Tubuhku mulai bangun dan coba mencari hp di tas. Putra belum ada kabar.
" Sayang ". Putra keluar dari mobil yang berhenti di sisi kanan ku.
Aku berjalan ke arahnya lalu memeluknya, hati ku sudah lega.
" Kamu gak papa?".
" Em . Tapi Ibu-ibu itu dimana ya ?". Tanyaku sama Putra
" Kamu tahu dimana rumahnya?".
Aku menunjukkan jalan ke rumahnya yang masih ku ingat, memasuki hutan. Sudah betul jalan yang ku arahkan. Tapi tidak ada satu pun rumah terlihat .
" Mana sayang?" Tanya Putra di belakangku.
" Sayang serius tadi malam itu di sini. Kenapa jadi ku-".Aku melihat ke arah Putra lalu terdiam sejenak berpikir.
" Gak ada kok " .
" Sayang ! Gendong aku takut " ucapku merengek pada Putra.
Dia mengendong ku di belakang nya. Membawa ku kembali ke mobil. Aku hanya mengucapkan terima kasih di dalam hatiku meskipun Ibu itu nyata atau tidak. Mobil pun melaju .
" Mobil ada di rumah kah?" Tanyaku
" Ada sayang. Untung saja Bimo tidak aneh-aneh. "
" Iya, tapi apa tadi malam aku tidur di jagain sama hantu ya. ihhh kenapa ceritanya jadi serem ya". Ucapku
" Yang penting kamu baik-baik aja". Putra senyum padaku .
Aku ijin hari ini untuk istirahat di rumah. Ibu dan Ayah khawatir padaku, untungnya aku pulang dengan selamat. Tapi, aku merasa tidak enak badan saat sudah berada di kamar ku.
Malamnya aku mencoba periksa ke dokter. Ternyata aku hanya maag, kemarin belum makan seharian. Hingga malam aku gak nafsu untuk makan. Hanya berdiam di kamar sambil menonton anime kesukaan ku.
" Kakak !!" Teriak Ibu di depan pintu kamar ku
" Ya Bu !"
" Makan dulu "
" Gak nafsu makan Bu "
" Nanti kambuh maag nya. Gak ingat kata dokter tadi kalau parah bisa di bawa ke Rumah Sakit kak "
" Gak kok Bu !"
Beberapa detik suara Ibu sudah tidak terdengar lagi. Masih fokus nonton di kamar. Tugas untuk mengajar sudah aku selesaikan. Malam ini sama sekali tidak makan hanya minum air biasa. Mata mulai mengantuk dan aku tertidur .
Pagi nya rasa tubuhku sulit untuk bangun dari tempat tidur. Perut ku sangat sakit saat aku gerakan sedikit saja. Aku mencoba menahan sakit di perutku. Menuju kamar mandi. Bukannya mandi malah aku mual dan sialnya muntah ada darah nya.
Lagi, aku tidak masuk sekolah untuk memeriksa kesehatan ku. Sudah di periksa ternyata aku masih maag dan sudah parah. Aku di anjurkan makan tidak menahan lapar berlebihan. Aku di beri macam-macam obat. Kalau aku masih saja bandel, bisa saja aku di operasi !
Pukul 9 aku mencoba menelpon Putra. Tidak di angkat. Aku kirim foto obatku dan berada di rumah sakit ke wa nya. Beberapa menit sudah terkirim langsung dia baca dan tiba-tiba menelpon ku
Putra: Kamu dimana
__ADS_1
Aku; Di RS
Putra: Ngapain
Aku: Periksa kandungan
Putra: Maksudnya kamu hamil?
Aku; Iya
Putra: Anak siapa. Aku bahkan tidak menyentuh mu sayang
Aku: Hehehehe canda. Aku maag aku belum makan dari kemarin gak mood
Putra: Hah? Makan aja susah. Aku lagi ada rapat jangan buat khawatir
Aku: Jadi penting rapat dari pada aku yang sekarat
Putra: Kan salah lagi
Aku: Ya sudah sana
Putra : Ya sudah ke sinilah tunggu aku ya baru kita makan sama-sama
Aku: Beneran ya . Oke otw
Putra: Ya My Sauw.
Singkat cerita aku sudah berada di kantor Putra dan masih menunggu dia selesai rapat. Sudah hampir siang dia tak kunjung selesai. Menunggu itu tidak enak. Aku semakin bete, aku pun langsung keluar dari kantor nya dan mencari makan sendiri. Memesan makanan banyak lalu makan sendirian . Terserah di bilang apaan, yang penting makan aja .
" Lapar apa rakus ?".
" Em. Kesel !!".
" Duduk sini ya "
" Em ". Kataku sambil makan . Rehan duduk sudah di depanku.
" Kabarmu gimana?" .Tanyanya.
" Baik. Anggi bagaimana sama Deifa?".
" Sehat. Anggi sekarang hamil lagi "
" Syukurlah !! Semoga kalian sehat terus ya".
" Kamu kesel kenapa? Pasti cowok lagi "
" Ya aku di cuekin karena kerjaan ". Ceplos ku.
" Em ".
Rehan pun terdiam. Aku masih makan. Rehan seperti risih tidak tenang.
" Kenapa?" .Tanyaku.
" Aku permisi ya !" .Rehan lalu pergi
" Apaan sih, mungkin risih duduk sama aku yang rakus gini". Ucapku sendirian masih lahap dengan makanan yang tersaji banyak.
" Baru juga di tinggal sebentar sudah mulai selingkuh " . Ucap Putra di telingaku.
" Em !!".
" Gitu aja balasnya?". Putra lalu duduk
" Em !". Masih makan
" Marah sama aku?".
" Em ". Akhirnya makanan ku sudah habis dan bersih. Perutku sudah kenyang lalu berdiri dari kursi meninggalkan Putra
" Eh enak aja main tinggal !!". Putra lalu menggendong ku tiba-tiba. Orang yang makan pun tertuju pada kami
" Turuni aku !".
" Gak !!". Balasnya masih membawa ku sampai keluar . Malu tapi senang sedikit.
" Turuni !".
" Gak akan. Sampai marah mu hilang "
" Udah hilang My Put ". Akhirnya Putra menurunkan ku di dekat mobilku yang terparkir.
" Mana kunci ?".
" Em ". Ku berikan kunci mobil lalu dia masuk ke dalam.
" Mau ngapain? ". Tanyaku yang mengikuti nya masuk ke dalam mobil
" Mau jalan ".
" Gak makan? Gak sibuk?" .Tanyaku
" Diem !" .Bentaknya padaku . Aku diam, mobil sudah menyala.
" Mau ke-."
Sekilas dengan cepat banget dia mencium ku. Lalu kembali ke posisinya .
" Ak-".
" Kenapa kaku gitu . Bukannya dulu aku pernah mencium kamu?".
" Em ".
" Mau lagi ?"
" Hah??? Gak gak mau !" Spontan ku menjawab
Mobil pun tidak jalan-jalan dari tadi.
" Kita nikah aja yuk !".
" Hah kok men-men-mendadak gini ". Kataku kaget.
" Aku gak mau begini terus. Aku mau cepat punya anak". Bisiknya.
" Hah ? ih mesum !!!!". Ku pukul Putra
" Hehehehe ".
" Malah ketawa !" .Masih memukulnya.
" Mau kan?". Pukulan ku berhenti saat di memegang tanganku dan melihat ku dengan pandangan tajam
__ADS_1
" Em. Mau !". Selesai berkata itu. Putra pun memelukku. Entahlah rasanya hatiku bahagia melebihi segalanya.