Diary My Sekolah [S1-S2]

Diary My Sekolah [S1-S2]
Suara Hati Putra : Kelas 3


__ADS_3

Pagi hari~


Hari pertama masuk kembali ke sekolah, menaiki motor kebanggaan. Sampai ke sekolah, memarkirkan motor kemudian masuk kelas dan mengikuti upacara bendera. Karena hari pertama sekolah, jadwal pelajaran belum di rilis, otomatis jam kosong alias free.


Seperti biasa saat kelas 1 dulu, aku dan teman-teman dikelas berhamburan entah kemana sedangkan aku duduk di depan kelas yang terdapat sebuah bangku panjang sambil mengamati daerah sekitar ku. Tak sengaja pula, bola mataku menyaksikan Ayu bersama temannya berjalan melewati ruang TU sekolah selanjutnya ruang piket dan kelas X Busana Butik dan sekarang telah melewati kelasku.


"Ohta !!". Suara Bobi memanggil sepertinya dari arah dalam kelas.


"Hei Bob !!". Balas Ohta.


"Pagi My Sauw". Aku menyapanya sekaligus menutupi jalannya.


"Sssstttt, jangan panggil aku gitu nanti dikira pacaran !". Bisiknya padaku.


"Biarkan !!!!". Pekik ku begitu bangga, memangnya salah aku menyukai mu dan sangat mengagumi mu?


"Aduhhhh pagi-pagi sudah jadi Tarzan". Sela teman Ayu di samping sana.


"Permisi yaa numpang lewat". Ucap Ayu menarik lengan temannya. Aku membiarkan ia lolos pagi ini dan tidak bertingkah jahil lagi alasannya karena aku tidak mau Ayu terlalu ilfeel padaku. Dari kejauhan, aku hanya melihat punggung belakang nya saja yang lambat lain mengecil.


Aku tidak berhenti mengawasi arah jalan yang ia lalui, namun saat aku terlalu fokus. Ada sesosok perempuan menghalang penglihatan ku dengan tubuhnya ketika aku duduk.


"Hai Kak !". Sapa nya padaku.


Menaikan pandangan. "Ada apa?". Balasku.


"Ingat aku tidak?". Ia cengengesan memandangku, wajah nya memang tak asing tapi siapa peduli !


Sekarang perempuan yang tak jelas itu duduk di sisi ku dengan diamnya. Aku sudah bisa memperhatikan Ayu yang dimana sekarang telah di lempari senyuman-senyuman palsu milik kedua makhluk bumi itu, siapa lagi kalau bukan Rehan dan Bimo.


Kembali melihatku seperti sedang menantang untuk berkelahi. Aku berdecih hebat "Apa mau nya?". Gumam ku geram memukul kepalan tangan ke tangan lain.


"Kak sedang lihat apa?". Perempuan itu masih bertanya.


"Enggak !!!". Jawabku meninggalkan bangku yang masih ia duduki sendirian. Memasuki kedua tangan kedalam saku celana dan berjalan memasuki kelas.


"Put, traktir makan dong. Lapar !". Rengek Bobi pada ku sambil tangannya mengusap perut yang tertutup seragam putih-putih.


"Buruan, yang telat sampai ke kantin harus bayar". Celetukku memasang badan lalu berlari cepat menuju kantin.


Tidak semua anak di kelas ikut aksi berlarian ku, ada yang beberapa percaya ada yang tidak. Hal konyol beginilah membuat kelas kami kompak dan akur meskipun cap berandal dan langganan ruang BK tidak pernah terhapus kan dari sejarah mana pun.


Aku berlari melewati siswa dan siswi lainnya yang sedang memenuhi koridor sekolah. Tawa dan umpatan selalu di selingi bahkan tonjolan tak seberapa, aku lakukan pada Bobi atau Isa yang lebih dulu unggul didepan.


Siapa yang mau marah? Tidak akan ada kecuali garis bawahkan seorang guru Konseling. Siswa lain tidak akan berani dengan kakak kelasnya, di suruh apapun pasti mau. Begitulah hukum sekolah, kelas paling tinggi dialah yang berkuasa.


Tak lama sampailah kami di tempat tujuan, rem ku otomatis ku setting agar tidak keterusan dan menabrak pohon di ujung jalan. Aku telah sampai lebih dulu dengan nafas yang setengah hidup dan debaran jantung berdetak kencang. Duduk dan memesan minum segera.


Beberapa saat setelah meneguk air itu, aku bergegas ke toilet sesegera mungkin karena sudah tidak tahan lagi. Usai dari ritual pribadi tersebut, aku kembali ke kantin untuk mengisi perut. Memicingkan kedua mata menatap lurus ke depan, dimana Heru bersama Ayu. Sudah tak sabar lagi, ku percepat langkahku dengan tergesa-gesa.


"Hai My Sauw !!". Sapa ku seperti biasa, ia tersentak mendengar ucapanku.


"Apaan itu? Sok akrab". Kata Heru, memasang wajah tak bersahabat mengarah ke aku.


"Aku makan jangan ganggu ya !!". Sembur Ayu bernada mengancam.


Saat itu, teman-temannya makan dengan cepat layaknya sedang mengadakan lomba cepat makan dan hebatnya tidak ada yang tersedak. Sejenak aku melupakan sesuatu kalau para temanku entah kemana. Teman Ayu pamit undur diri kembali ke kelas. Kini aku juga Heru duduk di depan gadis manis ini sambil makan.


"Kenapa yu?". Tanya Heru.


"Enggak apa". Sangkalnya yang tak aku mengerti, memangnya ada apa?


"Oh, makanlah !". Balas Heru santai sambil menyuap makanan ke mulutnya.


"Edo mana, kok enggak bareng?".

__ADS_1


"Enggak papa. Dia dikelas". Timpal Heru lagi.


"Alif mana?". Tanyanya sekarang melirik mata pada ku.


"Dia pindah". Jawabku singkat.


"Oh, pantesan enggak pernah lihat". Tutur Ayu bersamaan dengan seorang perempuan


mendekati tempat kami.


"Putra !!". Sapanya kemudian merangkul ku secara mendadak.


"Apaan sih ini sekolah !!". Tepis ku kasar. Perempuan inikan yang tadi menghampiriku mengajakku ngobrol dan sekarang merangkul ku.


"Iihhh sayang jangan gitu". Rengekan nya melayang membuat ku geli dan merinding.


"Sudah deh !". Ucapku mulai risih. Ayu langsung berdiri bergegas membayar makanan dan meninggalkan aku lanjut disusul Heru tanpa sepatah katapun.


Aksi itu membuat Ayu dan Heru pergi dari kantin. Ku tatap lekat wajah perempuan aneh ini yang sejak tadi hanya senyam-senyum membalas ku. Kini ku bayar makanan tadi dan segera mempercepat langkah menuju kelas.


"Cewek si**ing !!!". Umpat ku menyabar.


Sepulang sekolah, aku telah sampai di halaman rumahku. Ketika hendak memarkiran motor, aku mendengar panggilan dari arah belakang. Dengan sigap, aku menoleh pada asal suara yang tak lain adalah si biang keladi mulai bertunas.


"Hai, Put". Sapa nya masih tersenyum melihat ku.


"Pak !!! Kenapa membiarkan sampah-sampah masyarakat ini masuk ke dalam rumah!!!!". Seru ku hingga urat di leher ini terasa mencengkr*m keluar.


Satpam yang berjaga pun begitu panik saat aku berteriak menyindirnya. Dengan langkah gesit nya, ia telah berdiri di antara Bimo juga Rehan dan akan segera di seret keluar pagar.


"Santai ! Kami bukan maling ke tangkap basah !!". Kilah Bimo.


"Kita teman lu !!". Sela Rehan ikut berkomentar.


Aku berdecih dan mengeryitkan alisku. "Teman?". Memastikan ucapan Rehan kembali. "Cepat Pak, seret mereka !!!". Perintahku.


"Put !!! Lu lupa sama janji yang waktu itu?". Seru Rehan. "Janji adalah janji, sebagai laki-laki lu harus menepati nya".


Ancaman seperti apa itu sama sekali tidak mengertakkan jiwa ku, secuil saja tidak ku takuti. Dengan langkah pasti memasuki rumah yang kondisinya tidak pernah berubah. Besar dan mewah namun selalu berlangganan suasana sepi. Para pelayan lah yang rajin menyambutku atau sekedar menyapa kecil.


"Tuan mau makan dulu?". Tanya nya padaku.


Aku berhenti dan menoleh sebentar. "Iya". Jawabku singkat berlalu meninggalkan nya yang mungkin saja menyiapkan makanan di ruang makan.


Didalam bilik kamar, sejenak ku tumpahkan diri ku di atas ranjang menatap langit-langit kamar sambil mengenang memori saat di sekolahan. Semenjak aku di rangkul oleh perempuan lain, aku merasa tidak bisa menampakkan wajahku didepan Ayu.


"Harusnya aku tidak perlu takut karena ini bukan salahku !". Bisik ku begitu.


Entah rasa apa yang bersemayam di dadaku rasanya aneh dan itu tidak karuan. Lamunan ku terus hanyut tanpa ujung hingga pada saat khayalan negatif ku berhenti ketika suara klakson mobil berbunyi di depan rumah.


Tubuhku menegak melihat dari dinding kaca jendela kamarku, yang terlihat adalah mobil milik Papi. Suara ketukan dari luar kamar membuat ku sedikit kaget.


"Tuan, makanannya sudah siap". Kata nya yang sudah pasti itu adalah pelayan rumahku.


"Bentar !!". Jawabku.


Seragam sekolah ku buka dan menggantinya dengan baju sehari-hari ku. Baju kaos juga celana pendek cukup nyaman di gunakan di sekitar rumah. Aku keluar dari kamar dan menuruni anak tangga perlahan sambil melihat layar ponsel milikku.


"Enak benar Alif sekolah di sana". Gumamku sibuk dengan ponsel dan tak terasa telah sampai pada tujuan yaitu ruang makan.


Ku tarik kursi dan menduduki nya, pelayan di rumah sudah tahu kalau aku sibuk begini pasti nasi juga lauknya akan di ambilkan oleh mereka.


"Bi, menu yang biasa mana?". Tanyaku tanpa menoleh.


"Ada Tuan, lengkap kok". Ujarnya membalas pertanyaan ku.

__ADS_1


Ku alihkan pandangan ke bawah alias ke piring dan melihatnya, satu porsi mie goreng instan ditemani ayam kremes serta sambal dan tak lupa makanan lain di piring satunya. Menu itu khusus di belikan untukku dari warung makan pertama aku bertemu Ayu secara langsung.


Untuk mengenang selalu momentum pertemuan unik bagi ku saat melihat wajah Ayu pertama kalinya dan juga aku melatih lidahku mengecap rasa pedas agar terbiasa. Jadi, gadis itu tidak akan meremehkan ku dalam makanan pedas. Bisa jadi, nanti aku akan berlomba makan pedas bersamanya.


"Apa yang kamu makan itu?". Suara berat itu membuat ku memalingkan wajah. "Apa makanan itu sehat? Kamu jajan sembarangan?". Timpal Beliau bertanya kemudian mengarahkan sorot matanya pada bibi si pelayan rumah.


"Maaf,Tuan. Ini saya-".


"Ini bibi yang buatkan karena aku yang minta". Sejenak ku letakkan ponsel di atas meja makan. "Makanan ini lagi viral, jadi aku ingin mencobanya !". Ketus ku menambahinya.


Suasana menjadi senyap dan melanjutkan makanan masing-masing. Aku fokus pada makanan di depanku, rasanya sudah bisa melatih lidah ini tidak terbakar lagi. Menu ini akan tersedia didepan ku dalam seminggu dua kali, kalau di minta setiap hari mungkin aku tidak bisa bersekolah paginya.


"Malam nanti jangan kemana-mana, Kami akan pulang. Kita makan di luar bersama". Ujar Papi menyudahi makan siangnya, membersihkan sekedar mulutnya yang ku lirik tanpa senyuman.


Mata ku mengekor pada gerak Papi berjalan menuju kamarnya lalu kembali memakan makanan dengan lahap serta garis yang tadi tegak lurus sekarang melengkung menghiasi bibirku. Hal sepele tersebut berhasil membuatku senang, tapi tidak baik di lebih-lebihkan nanti ketahuan sama pelayan disini kalau aku sedang bahagia.


Sebelum malam tiba, aku mengistirahatkan tubuh dan terlelap sebentar di atas ranjang. Namun aku sudah memasang alarm untung membangunkan ku untuk bersiap-siap.


Malam sudah tiba, aku sudah bersiap dengan baju kaos dengan luaran kemeja yang tidak ku kancing bersama celana jeans juga sepatu. Menunggu kedua orang tua siap di ruang keluarga, dandan rapi sedikit tidak masalahkan apalagi didepan orang tua yang sama sekali jarang keluar bareng anak.


"Malam, nak". Sapa Mami didepanku yang kehadiran tidak ku sadari. "Ayo kita berangkat". Tuturnya lembut.


Aku tidak menjawab ajakan tersebut secara gamblang, aku mengekor di belakang bayangan mereka bungkam seribu bahasa. Keadaan ini begitu canggung untuk ku padahal mereka adalah orang tua kandungku mungkin saja ini sebab tak ada waktu bersama untuk dihabiskan.


Bahkan didalam mobil aku terdiam duduk di kursi belakang seraya memainkan ponsel, tidak ada yang bisa ku hubungi kecuali scroll menu bolak-balik tak jelas. Sesekali memandang daerah luar dari jendela mobil, melamun entah apa yang sudah ku pikirkan.


"Apa kamu sudah bertemu dengan gadis bernama Stella Ayu?". Tanya Mami secara mendadak.


"Eh?". Gumam ku sebentar mencerna pertanyaan tersebut. "Sudah". Jawabku sedikit terlambat.


"Syukurlah, kalian sudah berteman. Gadis itu sepertinya baik". Sela Mami.


Dari Papi juga aku tidak ada tanggapan, kami berdua masih diam-diaman ditempat duduk masing-masing. Mungkin batin kami sedang menjawabnya, bagiku Ayu memang perempuan baik-baik dan tidak aneh apalagi dia gadis pintar di sekolah.


Tak butuh waktu lama mobil telah sampai di tempat tujuan kami makan malam. Di susul Papi lalu Mami kemudian aku masih menuntun langkah keduanya di belakang.


Suasana santai malam ini dibuka oleh Mami yang selalu menanyakan sekolah ku dan teman-teman ku. Dia nampak semangat meskipun aku menjawabnya seperti biasa. Sorotan matanya terlihat seperti berkata syukur yang dalam.


Makan bersama menu cukup enak dengan tampilan sedikit juga tempat nyaman berbeda dengan cafe-cafe anak muda, disini lebih banyak berkumpul orang dewasa itu sebabnya suasana nampak senyap.


"Makan yang banyak, kamu dalam masa pertumbuhan. Habiskan". Jelas Mami menjangkau pandanganku.


Mengangguk kecil dan melanjutkan makan, sejak di dalam mobil sampai pada saat makan di satu meja Papi masih terdiam sendiri sesekali ia melirikku. Aku tidak tahu isi hati orang tua tersebut padaku, kondisinya selalu berubah-ubah dan susah ditebak.


Di saat sang kepala keluarga berhenti makan dan meletakkan sendok juga garpu di tempat semula itu tandanya makan malam telah usai. Mami dan aku secara bersamaan telah menghentikan aktivitas makan walaupun menu di piring ku masih lengkap.


"Untuk malam ini". Menjeda sebentar. "Makanlah !!!". Titahnya sesingkat itu.


"Eh?".


Mami tersenyum manis. "Makanlah !!". Ucapnya padaku menirukan kata Papi.


Aku pun dengan wajah tak yakin, perlahan menyendok kan sesuatu selanjutnya dirkku melahap lauk tadi. Dengan cemas, yang dikatakannya.


"Malam om dan Tante !".


Mendengar sapaan itu, aku menghentikan aktivitas ku sedangkan Papi dan Mami terdengar membalas sapaannya. Sendok juga garpu yang ku pegang kini terjatuh ke permukaan piring sehingga menimbulkan bunyi yang cukup tinggi.


"Malam, Put !". Ia mencoba menyapaku.


Aku membisu melihat dia duduk bersama di satu meja makan.


"Kamu mau pesan apa, pesan saja". Ujar Papi menawarkan.


Segera ku tegakkan badan dengan kokoh dan pastinya menarik tangan Rehan untuk menjauh dari sana. Tak perlu berpamitan pada mereka, aku langsung saja membawanya mencari jarak aman antara kami dan orang tua ku.

__ADS_1


"Apa mau mu?". Ucapku.


Mencebikkan bibirnya. "Janjimu". Ia menjawab. "Ingat janjimu kalau tidak malam ini akan ku bongkar seluruh kelakuan haram mu pada keluargamu". Tambahnya lagi. "Lihat disana, itu Mami mu nampak senang bagaimana kalau dia tahu anak satu-satunya lebih gila dari pikirannya sendiri?". Berhenti sejenak. "Lebih parah nakal dari di sekolah".


__ADS_2