![Diary My Sekolah [S1-S2]](https://asset.asean.biz.id/diary-my-sekolah--s1-s2-.webp)
[### Bismillahirrahmanirrahim]
[Ada sapi punya Pak Mamat, meskipun sepi BEE tetap semangat]
Tak terasa, hari pertama menyandang sebagai pelajar putih abu-abu di depan mata. Kegiatan masa pengenalan telah usai begitu cepat, kini mereka resmi menjadi bagian SMK Enggang.
Hari senin diawali kenaikan bendera sang merah putih bersamaan dengan penyambutan anak didik baru. Para guru berbaris rapi, mereka terlihat melirik ke arah para siswa yang berseragam putih-putih. Peraturannya, khusus hari senin pakaian yang dikenakan adalah rok atau celana putih dan seragam putih lengkap bersama dasi dan topinya.
Beberapa menit berlalu sangat cepat, barisan upacara pun dibubarkan. Terlihat ketiga gadis saling merangkul dan bercengkrama begitu akrab.
“Liatin lagi apa, Ra?” tanya Eshi lumayan kepo. “Siapa sih?”
“Lagi liatin apaan, Shi,” Ayu membenarkan kalimat Eshi yang berantakan seperti biasanya.
Era ingat betul wajah cowok yang menawarkan bantuan padanya saat dihukum karena terlambat. Ia keluar dari barisan kelas 11 alias kelas 2, berarti cowok tinggi itu adalah kakak kelas Era sendiri.
Ayu, Eshi dan Era masih berdiam di tempat mengikuti arah mata Era yang entah ke mana, keduanya sulit menemukan siapa orangnya karena—terlalu banyak siswa berkeliaran di area lapangan.
“Ayo, Ra. Jangan diliatin terus nanti orang lain yang ge-er diperhatiin malah naksir sama kamu,” gerutu Ayu menarik lengan sahabatnya itu.
__ADS_1
Era mengikuti tanpa berkomentar begitu juga Eshi. Mereka bertiga berjalan beriringan di lorong sekolah, tidak ada yang aneh hanya saja para laki-laki terlalu tertuju pada sosok gadis yang terhimpit Ayu dan Eshi—yaitu Era.
“Gini ya rasanya jadi pusat penantian.”
“Pusat perhatian, Shi,” kata Ayu memelas.
“Ambil tas dulu yuk!” ajak Era saat melihat kelas tadi pagi yang mereka singgah.
Ketika kelas di depan mata, ketiganya masuk bersamaan menjemput tas masing-masing. Sepertinya hari pertama sekolah tidak ada kegiatan belajar alias jam kosong. Jika begini, kantin diprediksi penuh. Dan benar saja, ruang sempit dan berdesakkan seolah lagi rebutan ambil bantuan gratis dadakan.
“Gimana caranya masuk?” tanya Ayu heran.
“Gampang!” sahut Eshi mengundang tatapan aneh dari keduanya. “Era,'kan ada.”
Ayu mengangkat bahunya tatkala Era melirik dirinya, ia butuh penjelasan maksud Eshi. Biasanya cuma Ayu bisa melakukan hal tersebut tapi kini ia malah bungkam bikin Era resah.
“Ayo, kamu duluan!” sela Eshi mencekal lengan Era dan memintanya berdiri di depan. Urutannya, Era, Eshi kemudian Ayu.
“Yakin begini?”
“He'em. Percaya sama aku!”
__ADS_1
“Kalau aku gagal dan keluar dari barisan, aku titip ya,” potong Ayu menggenggam erat kedua sisi pinggang Eshi.
Beberapa saat kemudian, Era tidak menyangka pelan-pelan mereka diberi ruang terbuka oleh gerombolan di depannya. Caranya mungkin bisa ditiru saat keadaan mendesak, Era hanya menepuk-nepuk pundak cowok-cowok lalu melempar senyuman manisnya yang memikat ketika mereka menoleh ke arahnya.
Tak butuh waktu lama, Era dan Eshi berhasil membeli minuman dan camilan. Mereka pun keluar dari kantin, menatap hasil jerih payah Era yang luar biasa sambil tersenyum bangga.
“Gampang,'kan?”
“Tapi ... mana Ayu?”
Dimana Ayu?
Tentu gadis ini tertinggal. Pegangannya tak sengaja terlepas karena seseorang menabrak bahunya hingga ketumpahan es jeruk yang dipegang si penabrak. Bagian rok Ayu jadi kotor deh. Kalau tahu seperti ini, lebih baik nitip saja sama Era.
“Maaf, maaf, maaf!”
“Hem, enggak papa,” jawab Ayu tanpa minat memandangi orang tersebut. Ia mengambil tisu dari atas meja lalu membersihkan area roknya.
“Oke.”
“Hah?”
__ADS_1
Pendengaran Ayu tidak salahkan? Segampang itu, sesingkat itu? Setidaknya harus bertanggung jawab dulu.
Saat pandangan Ayu mulai meninggi, tak ada siapapun yang mencurigakan di depannya. Suara cowok tadi menghilang bersama wujudnya. Demi apapun, Ayu meruntuki orang itu. Siapapun!