Diary My Sekolah [S1-S2]

Diary My Sekolah [S1-S2]
23. Duka


__ADS_3

Ku persingkat ceritaku~


Ujian Nasional sudah ku laksanakan dengan semaksimal mungkin belajar. Kabar Heru aku tidak tahu dia masih saja sibuk sama Sulfa. Sedangkan kak Ari aku tidak tahu lagi kabarnya semenjak dikabarkan bertunangan sama cewek pilihan nya.


Hari ini hari Silvi di jadwalkan lahiran. Putra dari tadi menelepon ku karena Silvi terus mengalami kontraksi di perutnya. Kata Putra,.Silvi melahirkan secara normal. Aku masih bersiap-siap untuk berkunjung ke Rumah Sakit sedangkan Ibu menyusul sore nanti.


Sampainya aku di RS, aku melihat Papi dan Mami Putra di depan ruang operasi sedangkan Putra di dalam menemani Silvi. Aku menunggu tidak lama, saat mendengar suara teriakan Putra dari dalam semua yang menunggu panik, entah apa yang terjadi. Pintu ruangan belum saja terbuka.


Tak lama keluarlah Dokter dan petugas yang lain. Berbicara pada keluarga Silvi dan Putra. Aku masih sibuk menelelon Heru yang dari tadi bahkan tidak di angkat. Kepanikan bertambah saat melihat Ibu Silvi pingsan.


" Bu, ada apa ?". Tanya ku.


" Ma-....". Entah apa yang terjadi semua pada mengeluarkan air mata. Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana.


" Ayu, gimana keadaan Silvi ?". Heru mendatangi kami.


" Heru, aku gak tahu keadaan berubah sedih begini". Ucapku panik.


" Tenang, aku yang tanyakan ya. Putra mana?".


" Aku gak tahu ".


Kabar duka untuk keluarga besar Putra dan Silvi. Bayi kembar yang diharapkan telah meninggal. Aku tidak begitu paham ucapan dari pihak Dokter. Aku hanya menangkap kata-kata kalau bayi nya sudah tidak bernyawa. Bahkan Silvi mengalami pendarahan yang cukup hebat dan menyusul anaknya ke Surga.


Tangisan pecah saat Putra terus menangis melihat keluarga kecilnya sesaat telah tiada bersamaan. Aku merasa kehilangan meskipun aku pernah kesal pada Silvi, tapi dia baik pada ku.


Saat di antarkan ke liang lahat pun Putra masih terus menangis, orang tua nya lah yang terus menenangkan dia. Aku ikut sedih bahkan Heru terus menenangkan ku.


Semenjak di tinggal Silvi, Putra kembali ke sifat nya yang dulu bahkan makin jadi. Aku sampai tidak bisa lagi melarangnya. Sampai pada akhirnya aku sangat jengkel pada Putra melihat dia kasar pada Mami nya.


#Paaakkkkkkkkk


Ku tampar pipi nya." Kamu lupa? Kamu lahir dari mana?". Ucapku kesal.


" Diem Lo !!!". Balasnya sambil terus menerus minum-minuman keras.


" Kami tahu kau kehilangan keluarga kecil mu. Tapi jangan pernah lupa juga kamu masih ada keluarga Put !". Kata ku.


" Gak usah ikut campur ! Mau juga kah ku tam-". Tangannya melayang ke udara seperti ingin menamparku.


" Jangan kasar sama cewek !!". Heru berdiri di depanku.


" AGHHHH !!! Kalian menganggu saja Sudah lah aku pergi saja !!". Ucapnya sambil jalan sempoyongan. Mami nya mencoba memanggil Putra, namun Putra masih saja tidak peduli.


****


Tak lama, aku kembali ke sekolah untuk mendengarkan pengumuman kelulusan saat sore hari, menggunakan baju putih abu-abu. Sekolahku lulus 100%. Sore itu ramai motor konvoi bahkan dari sekolah lain dan baju penuh di coret-coret. ( Jaman ku dulu, merayakan kelulusan memang sudah begitu sih mungkin sampai sekarang, baju nya juga masih aku simpan sekarang ).


Aku sempat berencana ikutan bareng sahabat ku. Tapi niatku terhenti melihat Heru dan Sulfa bertengkar hebat di area sekolah. Aku tidak tahu permasalahan mereka yang aku lihat Heru seperti nya terpancing emosi, tangan nya hampir saja melayang .


" Heru !!!!". Teriakku lalu berjalan ke arah mereka.


" Ayu?". Kagetnya.


" Kamu mau menampar dia kah? Sekarang kamu berani sama cewek?". Berdiri di sisi Sulfa yang menangis.


" Kamu tidam tahu masalahnya. Dia tu berbohong. Selama ini dia punya pacar di sekolah lain".


" Aku gak peduli itu. Tapi jangan sampai kamu main kasar !!".


" Kak ini semua salahku. Aku pantas di tampar kak". Kata Sulfa padaku.


" Hah? Sejahat-jahatnya cewek gak layak untuk di kasari. Sudah ayok ikut aku saja". Ku bawa Sulfa menjauh dari Heru. Dan menenangkan dia.


Aku membawa Sulfa pulang. Katanya dia ke sekolah di antar temannya. Entah temannya di mana, hanya untuk melihat kelulusan Heru. Tapi dia cerita padaku, kalau pacarnya hampir berkelahi akibat kesalahan nya sendiri. Dan Heru memutuskan Sulfa di moment kelulusan nya.


Malamnya, Ibu meminta ku untuk menjaga Mami nya Putra di rumah. Karena di rumah hanya ada beliau dan pelayan yang lain. Papi Putra masih kerja belum juga kembali. Aku sudah tiba di rumah Putra yang megah, tampak sepi sepertinya Putra belum pulang. Bahkan moment kelulusan saja dia tidak hadir di sekolah.


Jam 8 malam aku menemani Mami nya makan bersama. Tampak wajah cemas dan lesu belum lagi mata yang bengkak mungkin saja menangis. Aku sungguh tak tega melihat kondisi Beliau yang dulu ceria sekarang murung .


" Ayu. Gimana tadi di sekolah? Lulus kah?".


" Lulus kok Mi Ehhh maksudnya Bu". Aku keceplosan.


" Gak papa. Mami aja ya ".


" Iya Mi ".


" Putra lulus gak, tadi dia pakai baju sekolah dari rumah. Tapi gak balik-balik".


" Serius Mi? Tadi seluruh siswa di lapangan pengumuman nya. Ayu gak lihat Putra ".


" Ya Allah itu anak kemana ya ?".


" Mi tenanglah. Putra pasti pulang kok ".


Aku dan Mami terus duduk menunggu di ruang keluarga. Hingga pukul jam 12 malam Mami ketiduran di sofa. Aku meminta pelayan untuk memberikan selimut agar tidak kedinginan. Aku masih saja terjaga menunggu Putra pulang.


Sekitar jam 3 malam aku terbangun di sofa ruang tamu karena mencium bau aneh di dekatku. Kagetnya bukan kepalang. Wajah Putra sangat dekat dengan ku. Seperti nya dia mabuk lagi dan seragam sekolah masih terpasang di badannya.


Spontan ku tendang dia dan Putra pun terlempar. Aku berlari ingin membangun kan Mami tapi sial kaki ku di tahan oleh tangannya. Aku tarik tidak bisa, kekuatan nya begitu kuat. Aku akhirnya terjatuh di lantai . Putra makin mendekati ku, aku jalan duduk dengan arah mundur hingga aku sampai di pojok dinding. Putra duduk di paha ku. Aku ketakutan ini anak di bawah pengaruh minuman keras.


Dia mencium bibir ku. Aku pukul kepalanya dengan benda di dekatku hingga vas itu pecah dan membangun kan Mami. Putra beranjak dari paha ku dan berdiri. Secepatnya aku menelpon Heru. Sedangkan Mami nya terus menahan hasrat Putra yang seperti ingin memperkosa ku.

__ADS_1


" Heru aku mohon angkat !!". Aku panik.


Heru :Hal-


Aku: Heru tolong aku . Aku mau diperkosa Putra. Ku mohon kes-.


"AGHHHHHHHH !!!!". teriakku.


Heru : Ayu.....


Para pelayan mencoba menolong ku tapi mereka terlempar hingga pingsan, entah apa terjadi pada Mami terbaring tanpa sadar. Putra terus menerus mendekati ku. Aku berlari ke arah kamar, namun sial kunci nya tidak ada. Aku hanya mengandalkan tubuhku menahannya.


" Aku mohon Put. Aku ini teman mu !!". Kataku. Putra terus mendobrak pintu kamar. Dan akhirnya terbuka, aku sampai terlempar ke sudut kasur. Putra mendekatiku lagi dan lagi, aku takut panik. Teriak pun tidak akan ada yang mendengar ku. Kali ini putra membaringkan ku dengan paksa di lantai. Aku terus melawan hingga baju ku sudah sobek bagian depan dan rok yang ku gunakan sudah semakin pendek. Terlihat sudah baju dalam ku. Aku sekuat tenaga ku melawannya. Entah apa yang merasuki Putra dia terlihat tak ada berbicara, wajahnya lugu seperti di kendali kan nafsu nya.


" AYUUUUU !!!".


" HER- AGGGGHHHH !!!!! ".


Lagi, Putra mencium bibir ku kali ini bagian leher ku. Aku terus menangis sembari melawannya .


#PAKKKKKKK


Putra terpental terbaring di lantai. " Kamu gak papa?". Tanyanya.


Aku tidak menjawab apa-apa. Aku terus memeluk Heru ketakutan. Heru memberikan jaket yang dia pakai untuk menutupi baju ku yang telah koyak. Emosi Heru seperti memuncak pada Putra yang mulai berdiri sempoyongan. Heru terus memukul Putra hingga wajahnya lebab dan berdarah.


" Heru jangan ku mohon !!". Kataku melerai mereka Putra akhirnya pingsan.


" Ayu kamu gak papa, apa dia sempat berbuat aneh padamu ?".


" Aku gak sampai di apa-apain Putra ".


" Bohong !!! Baju mu sobek gini ".


" Heru, gimana Mami Putra dan yang lain?".


" Tenanglah. Nanti kita bantu mereka. Apa kamu bawa baju ganti?".


" Gak".


" Kamu urus mereka dulu. Aku cari kan kamu baju di dekat sini ya. Jangan nangis lagi ya !!"


Heru berlari meninggalkan ku. Aku masih menggunakan jaket Heru.


Aku berniat berjalan keluar kamar membangun kan Mami dan pelayan lain. Belum juga sampai, lagi-lagi Putra mendorongku hingga aku terjatuh dan jaket Heru terlepas. Aku menyeretkan tubuh ku sejauh yang ku bisa, tetap saja Putra mendekati ku.


" Plis, jangan Put !!! Aku gak mau !!". Kataku.


" Put. JANGAN !!!!". Teriakku dan Mami pun bangun menolongku. Pelayan yang terkapar lalu bangun dan mengambil tali mengikat Putra dari belakang. Tak lama Heru datang.


****


Ku buka mata, ternyata aku di tempat tidur. Aku tidak tahu jam berapa sekarang. Ku beranjak dari tempat tidur, baju ku telah di ganti dengan baju piyama. Entah siapa yang menggantikannya. Ku keluar kamar, mondisi rumah sepi. Heru dan Mami entah kemana. Ku cari hingga ke seluruh rumah tidak ada.


" Bu, mami sama Heru kemana ya?". Tanya ku pada pelayan.


" Maaf Non. Tuan Heru emosi membawa Putra ke kantor polisi. Dan Nyonya besar memohon sampai ikut ke sana. Tapi Tuan Heru tetap gak mau mencabut laporannya".


" Serius Bu?". Kaget ku.


" Iya Non !!".


" Ya ampun. Ini gawat. Bu, lihat ponsel saya gak?".


" Seperti nya di kamar non ".


" Makasih Bu ". Aku berjalan cepat ke kamar dan menelepon Heru. Sayangnya, telepon ku tidak di angkat sama sekali. Jalan pintas aku harus ke kantor polisi menemui Heru.


Sampai lah aku di kantor polisi dan menanyakan tentang laporan ku pada pos polisi. Aku di antarkan ke ruangan terlihat disana ada Heru dan Mami


" Heru Apa-apaan kamu ini !!". Kataku


" Ayu, kenapa ke sini. Kondisi mu ma-".


" Ayu, tolongin Mami. Cabut semua laporan Heru. Kasihan Putra !!". Keluh Mami nya.


Aku permisi sebentar membawa Heru pergi keluar dari ruangan.." Ru, apa kamu tega melihat seorang Ibu memohon begitu ke kamu. Cabut sekarang juga !".


" Tapi, dia sudah jahat sama kamu. Gak akan ku cabut !".


" Aku gak papa Ru. Plis ku mohon". Ku memohon pada Heru.


" Kamu tunggu di sini jangan masuk. Oke".


Tak lama, Heru keluar bersama Mami dan Putra. Aku bersyukur laporan nya di cabut meskipun Putra sudah di tahan sebentar. Akhirnya, Mami membawa pulang Putra yang masih dipengaruhi minuman nya. Aku membawa motorku kembali ke rumah Putra disusul Heru.


****


Malam esok, aku masih saja tidur di tempat Putra. Kali ini, Heru yang menjaga ku. Untuk masalah kemarin malam menjadi rahasia kami. Aku memasuki kamar Putra, ada Heru yang menjaga nya dan terlihat tangannya masih terikat tali .


" Ru. Kamu gak-". Kataku.


" Ayu. Maafin aku !!!". Kata Putra padaku .

__ADS_1


" Hah? Emm ga-gak papa ".


" Aku gak tahu teman-teman ku memberi obat apaan ke dalam gelas ku. Kata nya itu biar aku kuat ".


" Kuat apa?". Tanya ku


" Sudah gak usah di bahas obat-obatan". Sahut Heru.


" Maafin aku. Aku hampir aj-".


" Gak papa. Aku harap kamu menyesali perbuatan mu Put". Kata ku.


" Kalian mau tahu rahasia gak?". Kata Heru duduk termenung di antara aku dan Putra


" Rahasia?". Jawab kami serempak.


" Iya. Tapi jangan kasih tahu siapa-siapa". Kata Heru.


" Oke. Tapi lepasin tali ini dulu !!". Kata Putra. Aku mencoba melepaskan ikatan tadi. Namun, wajahku sangat dekat dengan Putra. Aku ke ingat kejadian dia mencium bibir ku dua kali. Refleks, aku gak jadi membuka dan mundur bersembunyi di dekat Heru yang kala itu berdiri.


" Kenapa?". Tanya Heru padaku.


" Ga-gak papa". Jawabku gagap.


" Maaf kan aku !". Kata Putra. Heru mengantikan ku melepaskan ikatan Putra. Lalu kami duduk bertiga di atas kasur bersama Putra.


" Janji sejanji nya jangan bocor". Kata Heru.


" Oke !".


" Atap kali bocor !!". Sahut Putra.


#pakkkk


Heru memukul kepala Putra. " Ini serius !". Ucap Heru.


" Aduhhh. Iya iya iya". Kata Putra. Heru lalu berbisik sesuatu pada Putra. Putra lalu mengangguk kan kepala dan beranjak dari kasur mengambil benda di laci lemari nya . Dan kembali ke kasur lagi ke posisi semula. Dengan hitungan 1 sampai 3, mereka berdua serempak mengeluarkan foto.


" Ini?". Tanya ku.


" Ayu. Maaf kan aku. Di antara kalian. Hanya aku yang tahu ".


" Maksud Lo?". Kata Putra.


" Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan orang tua kita masing-masing waktu kita masih SMP di rumah ku".


" Em...". Aku.


" Cewek di foto ini ya kamu Ayu. Ada Aku, Putra dan Ari". Heru menjelaskan sambil menunjuk kan wajah-wajah kecil kami.


" Kak Ari?". Kaget ku.


" Singkat saja. Kita dari kecil berteman mungkin kalian pada lupa. Dan dari dulu juga kita sudah di jodohkan. Tergantung kamu, milih siapa ?". Jelas Heru melirikku.


" Hah? Jadi.....". Aku berpikir sejenak.


" Buset.... Aku baru tahu !!!". Jawab Putra.


" Tapi kamu tahu gak, kak Ari bertunangan kenapa?". Tanya Heru.


" Gak tahu "


" Kak Ari itu entah gimana caranya pikirannya berubah cepat. Bahkan tidak kenal dengan orang tua mu. Aku curiga dia di guna-guna sama cewek nya sekarang".


" Kamu tahu dari mana?". Kataku.


" Aku tahu dari Bunda. Coba deh kamu ke sana gak akan dia tahu kamu siapa. Dan lebih lagi tu cewek sifatnya kasar !!".


" Jadi dia sudah bertunangan?". Kata Putra.


" Iya sudah lama". Jawabku.


" Jadi hanya sisa aku dan Putra !". Jelas Heru lagi.


Putra terdiam . Aku melihatnya sedikit mengerti kalau dia mungkin tidak ingin membuka hati lagi setelah kehilangan istri nya dan anak nya." Aku ga-". Putra.


" Em. Aku tahu Put !". Jawabku.


" Maaf yu !!".


" Gak papa. Kamu menjadi teman ku saja . Aku dah cukup senang kok".


" Yaelah Put. Ku iri sama kamu !!". Singgung Heru. Aku melirik Heru agar dia diam sejenak. Dia melihatku, aku sedih karena cinta ku kali ini tidak terbalaskan setelah aku kehilangan dia. Heru senyum padaku membuat ku kuat atas jawaban tersirat Putra.


******


Tak lama dari itu, qku mendapat kabar bahwa aku mendapat beasiswa dari Pak Daniel untuk sekolah di bagian Guru Konseling. Aku sangat senang dan berterima kasih pada Beliau. Ternyata beliau memberiku hadiah yang jauh dari perkiraan ku. Aku kuliah di pulau nan jauh dari tempat tinggal ku.


Sedangkan Heru kuliah di bagian penerbangan karena dari kecil itu lah cita-cita nya . Meskipun orang tuanya lebih ingin Heru meneruskan perusahaan mereka namun Kak Yani dan Suami nya lah yang melanjutkan Perusahaan milik Ayah Heru.


Kalau Putra dia tidak melanjutkan pendidikan nya. Dia lebih serius membantu perusaahan orang tuanya. Pikirnya kalau dia sekolah, dia pasti akan bandel lagi dan terpengaruh lingkungan tidak baik. Demi ingin melihat Mami nya senyum lagi, dia melakukan apapun perintah orang tua nya dengan baik.


Sahabat-sahabat ku pun menjalani pendidikan . Era lulus seleksi Polwan ( its real !!! ), Ohta kuliah bagian Dokter, Eshi kuliah Jurusan Bisnis dan Sushi kuliah di Jurusan Bidan. Kami saling berpisah namun terus saling memberi kabar. Berharap segera bertemu setelah selesai semua.

__ADS_1


__ADS_2