Diary My Sekolah [S1-S2]

Diary My Sekolah [S1-S2]
Suara Hati Putra : Kelas 3 Cha. 2


__ADS_3

______________


Lanjut..


Maaf sedikit membosankan, suka tidak suka insyaAllah akan terus dilanjutkan sampai tamat❤️


______________


"Jadi lu harus ikut kami nongkrong bareng di tempat biasa" ajak Rehan.


Aku belum menyelesaikan makan malam bersama Papi dan Mami, masa aku harus meninggalkan mereka padahal sejak tadi pembicaraan kami tidaklah banyak. Aku kini melirik ke arah mereka masih duduk berduaan.


"Tenanglah, kita ngobrol-ngobrol dulu sama Papi mu setelah itu kita berangkat", laki-laki ini membuat ku mendidih saat meletakkan tangannya di bagian pundak ku "Mereka menunggu mu".


"Jangan sentuh aku !!". Ujar ku menekan intonasi bicaraku.


Dia menjauhkan tangannya sambil memberikan senyum simpul "Baik".


Aku sudah berjalan kembali menuju meja makan dan duduk di antara keduanya lalu kembali mengunyah makanan itu tanpa sisa.


"Apa anak Mami sudah mau pergi sama temannya?" imbuh Mami ku begitu lembut. Orang tua wanita memang beginilah ciri khasnya, lembut dan penyayang.


Pandanganku menegak "Sebentar, aku mau menghabiskan makanan dulu. Kita jarang makan bersama" jawabku.


"Kami mengajakmu makan bersama karena ada hal penting" Papi mulai bersuara. "Usai SMK kamu kuliah dan mengurus perusahaan Mami mu. Jadi bisa mami dirumah menemani mu" jelasnya.


Aku mengerti dan mengangguk tanpa sepatah kata yang keluar, setidaknya dirumah aku tidak sendirian.


"Maaf om, saya lama di toilet" sangkal Rehan seraya menduduki kursi.


Obrolan kami seolah panjang apalagi saat Papi terus menanyakan perihal perusahaan orang tua Rehan dan masa depan juga cita-cita nya. Sekelumit pertanyaan yang tak pernah beliau tanyakan padaku dan meminta ku mengurus perusahaan tanpa tahu cita-cita ku sebenarnya.


Di setiap pembicaraan mereka yang panjangnya tak terkira, aku hanya diam melirik ke sana kemari. Aku juga tidak berniat menanggapinya nya secara serius malah tidak peduli urusan pribadi nya. Toh, aku dan Rehan tidak sedekat dulu. Paling-paling dia pasti seperti ku, diminta mengurus sebagian perusahaan.


"Jam berapa kalian pergi?" tanya Mami menelisik diriku.


"Tunggu pembicaraan kalian selesai" celetuk ku santai.


"Ya sudah, kalian pergilah ! Papi dan Mami ada urusan malam ini" jawab Mami.


Kami berdua pamit undur diri dari hadapan orang tua ku, sekarang bibirku membisu langkahku mengikuti kemana Rehan berjalan. Kini, kami sudah di dalam mobil menuju tempat tongkrongan nya.


Sepanjang jalan, aku tidak membuka suara. kepala ku toleh kan menghadap jendela mobil memerhatikan ruas jalan tol atau kendaraan yang terlewati. Seorang Rehan pasti sedang merencanakan sesuatu yang amat busuk di belakang ku, setibanya aku disana harus ekstra hati-hati.


"Kita seperti sepasang kekasih yang sedang berantem hal sepele, terus saling cuek-cuekan" ucap nya menyindir ku bersamaan suara tertawa kecil yang keluar terdengar begitu jelas.


Tidak peduli ia menyindir ku seperti apapun, aku tidak peduli. Intinya aku datang ke acara gila mereka lalu pulang, setelah itu aku telah selamat dari neraka yang di kantongi oleh Rehan. Anak itu selalu licik sejak dulu, memakai cara apapun untuk membalaskan dendamnya.


Menginjak kaki di ruangan tertutup dan orang yang berhamburan sedang berpesta. Cowok dan cewek campur dalam ruangan serta banyak minuman ha*** yang sempat dulu ku konsumsi.


"Tamu VIP kita sudah datang" pekik Rehan pada teman-temannya.


Di ruangan itu, sofa membentuk suatu lingkaran dan mengelilingi sebuah meja bundar yang telah di hidangkan makanan juga minuman. Aku perhatikan wajah-wajah anak muda disini yang ku hafal adalah mereka semua pernah ku serang saat aku membalaskan dendam ketika tahu Rehan juga Bimo menjadikan Ayu barang taruhan.


Kalau aku melawan sekarang, bisa saja di keroyok tanpa ampun. Ku sandarkan tubuhku pada sofa dan sedikit menjauh, beberapa cewek terlihat sedang duduk di pangku oleh cowok dengan santainya.


"Ah, sayang" gumam cewek itu.


"Hai, put ! Akhirnya kamu datang juga" ucap seseorang di dekatku.


"Sedang apa lu disini ? Ternyata lu sohib nya Rehan juga Bimo?" tunjukku.


"Tenanglah, kami tida sedekat itu. Mau minum apa?" tanya nya melirik ku.


"Aku tidak tertarik dengan alkohol" ucapku ketus kemudian beralih memandang yang lain. Apa-apaan perempuan di sampingku saat ini, baju nya terlalu mini untuk seusia nya.

__ADS_1


"Ya sudah, jus mau enggak?" ia menawarkan ku.


"Terserah".


Pandanganku menyapu seluruh sudut, ku perhatikan Rehan dengan Anggi, Bimo dengan perempuan tak ku kenali dan semua disini memiliki pasangan masing-masing sedang berpesta entah dalam rangka apa.


"Hari ini aku ulang tahun, maka dari itu Rehan membawa kakak ke sini sebagai tamu" jelasnya menyodorkan segelas jus berwarna oren.


"Gitu? Maaf aku tidak bawa kado" cerocos ku lalu meneguk air tadi tapi aku belum mau memandangi nya karena dialah penyebab Ayu melarikan diri pagi tadi.


"Enggak masalah, cukup kamu disini saja itu sudah jadi kado untukku"


Saat perempuan itu berkata yang tidak semestinya, aku meliriknya tajam. Mataku membesar sebagai peringatan untuk tidak menggoda ku namun dia terlihat senyum biasa seperti tidak ada beban.


"Oh, baiklah"


Untuk beberapa saat aku tidak merasakan hal aneh dalam tubuhku, namun sekarang tiba-tiba rasa panas bergejolak sampai ke seluruh badan. Tubuh ini berasa bergerak sendiri, aku tidak bisa mengontrolnya.


Aku mencoba berdiri dari sofa namun rasanya lemah hingga hampir jatuh, tanganku mendarat di atas meja yang sajian nya mulai berjatuhan kebawah.


Perempuan yang melihatku seperti berteriak ketakutan, mataku seolah buram dan kepala ini pusing. "Apa kau meracuni ku" tanyaku berteriak.


"Tidak" jawabnya santai memangku kaki.


"Ini panas" keluhku membuka kemeja dan membuangnya entah dimana. Seperti aku sudah keringatan. "AGHHHH !!!" meja bundar itu ku banting ke sisi lain membuat barang-barang di atasnya seketika tumpah ke bawah.


"Wow, tenang" Rehan mendekat tetapi ku tepis rangkulannya yang seperti ingin membantuku berdiri, sejak tadi aku tidak bisa berdiri kokoh seperti biasanya.


"Kalian pasti merencanakan sesuatu" jari telunjukku mengarah padanya. "Agggh panas" ucapku lagi mengeluh, badanku terasa berapi-api ada sesuatu yang menjalar di setiap organ ku.


Beberapa menit aku masih bisa bertahan tapi sayangnya aku jatuh tepat di sisi perempuan yang tadi sempat menggodaku. Dia mencoba membantu ku berdiri dengan membopongku pelan. Namun, aroma tubuhnya membuatku mulai terhasut. Kini aku mendorongnya hingga jatuh kembali terduduk di sofa.


"Jangan mendekat" titahku.


Ini pertama kalinya bagiku hanyut dalam surga dunia, permainan nya sangat menyenangkan. Seluruh hasrat ku terpuaskan oleh nya. Aku sangat mencintai dirimu, Ayu.


Mataku terbuka saat mendengar suara gedoran dari luar pintu yang cukup keras. Kini aku mengumpulkan seluruh nyawa yang hilang kembali masuk dalam tubuhku, stamina ku juga terasa lemah.


"Hai" sapa suara perempuan disebelah kiri ku.


Pandangan ku pagi ini di suguhkan oleh seorang gadis sedang berbaring di dekatku, dia tersenyum melapisi sebagian tubuhnya dengan selimut.


"A-a?"


Saat ku berpaling untuk melihat diri sendiri, aku pun tak memakai sehelai baju hanya di tutupi selimut yang sama dengan gadis bernama Silvi.


"Ada apa? Bukan kah kamu yang sudah berbuat ini padaku?" ujarnya.


"DIAMM !!!" seru ku bernada lantang hingga dia terkaget dan terdiam.


Aku mencari semua pakaian yang berserakan di atas selimut. Perseta* kalau dia melihat aku begini, aku sudah masuk dalam perangkap permainan Rehan juga Bimo. Tunggu kalian !


"Mau kemana?" tanya nya. "Kakak harus bertanggung jawab kalau aku bisa saja hamil".


"Tidak !!" pekik ku emosi sampai ia harus ku bentak, bibir ku bergetar mendengar kata tersebut. Aku tidak tahu kalau masa depanku terancam menyedihkan seperti ini.


"Aku akan menutut" ancam nya padaku. Silahkan dia berucap aku tidak ingin menjawabnya, lebih baik aku bergegas pulang dan esok hari turun ke sekolah.


********


Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena badanku seluruhnya sakit, memejamkan mata sebentar kemudian ayam berkokok pun terdengar. Segera mandi dan bersiap sekolah, tujuan sekolah hari ini adalah untuk bertemu mereka yang sudah menjebak ku.


Beruntung saat aku pulang larut malam tidak ada Papi juga Mami bertanya perihal ku terlambat pulang, aku jadi bisa leluasa masuk ke kamar. Pagi ini sarapan sedikit saja dan buru-buru berangkat ke sekolah.


Hari demi hari berlalu aku tidak menemukan Rehan juga Bimo di sekolah, entah kemana mereka. Pikiran ku semakin pusing, ku lampiaskan pada orang-orang yang tidak berguna di sekitar ku. Menyiksa nya atau sekedar di suruh-suruh saat ku bosan. Perbuatan ku semakin menjadi mendengar Ayu dekat dengan adik kelas.

__ADS_1


Aku sudah mengejarnya cukup lama sampai saat ini masih sangat menyukainya, sayang nya perasaan itu tak pernah ia balas. Malah sekarang, dia mencari sosok laki-laki lain selain aku di sisi nya.


Mungkin perempuan itu tidak akan menerima ku karena sikapku tidak pernah berubah. Walaupun sudah berjanji namun rasanya rasa suka ini tak pantas dibalas oleh nya. Percuma menyatakan suka tapi aku tidur bersama perempuan lain, tindakan ku memang pantas di campakkan.


"Aku rela" gumamku berseru pelan.


"Kakak harus rela, lebih baik lupakan dia. Pacaran lah denganku" ucap gadis itu.


Aku tidak menyahuti ajakannya.


"Karena aku sudah bilang sama dia kalau kita pernah tidur bareng" ceplos nya lagi.


"Apa kamu sudah setres berbicara begitu? Untuk apa kamu berbuat seperti ini?" tanyaku penuh arti dengan tatapan mengintimidasi.


Senyum sinis. "Tidak ada, aku hanya ingin".


"Menjauhkan dari ku, aku setitik pun tidak menyukai cewek enggak jelas seperti mu" sahutku sewot.


"Dengar kak, kakak tidak pantas bersama dia. Lebih baik bersama ku. Hentikan penantian itu enggak ada gunanya" jelasnya begitu bijak.


"Enggak ada hubungannya sama lu" jawabku tanpa memandang.


Pertemuan ku bersama Silvi terus berlanjut, dia selalu memergoki ku dan mengajakku bicara bahkan berani mengajakku keluar.


Berbulan-bulan itu terjadi dan sampailah pada nyawa yang sebentar lagi akan melayang. Kini aku di kejutkan oleh pesan Silvi menandakan dia positif hamil. Awalnya aku tidak pernah percaya mungkin saja itu tipuan.


"Kak ini serius" rengeknya.


Malam ini aku mengajaknya bertemu di salah satu tempat terbuka mungkin lebih tepatnya seperti taman disertai stand kuliner.


"Kenapa semua jadi begini? Kita masih sekolah, kenapa kau menjebak ku lebih parah?" tanyaku semakin kesal.


"Maafkan aku kak, aku tidak tahu kalau aku ternyata beneran hamil. Maafkan aku kak" ujarnya lembut.


"Aku tidak tahu harus apa lagi kalau Papi sampai tahu aku begini" ucapku ketakutan, menggenggam erat kepalaku ku dengan tangan ini. "Gugurkan saja janin itu".


"Tidak !!!" jawabnya menolak.


"Kenapa, itu akan menyusahkan kita. Buang saja, aku juga tidak pernah menyukai mu".


Matanya berkaca-kaca, buliran bening sedikit demi sedikit terjatuh. "Tidak, dia tidak menyusahkan ku. Aku Ibu nya". dia merengek.


Aku larut dalam pikiran ku sendiri, mencengkera* erat kepala serta memijit pelipisku dengan cepat. Seperti nya wajahku tidak memancarkan kebahagiaan lagi, semuanya telah di renggut. Isi kepalaku terasa berputar-putar tidak menemukan jalan keluarnya.


Jujur menikah, jalan yang ku pikirkan bersama Ayu bukan bersama perempuan lain. Tidak pernah terbesit akan seperti ini, aku sudah berjanji akan menyukai dan mengejarnya sampai dia mau denganku.


Sekarang jikalau aku mengejar cinta dari nya lagi akan terhalang oleh perempuan ini dan juga sesuatu yang ada didalam perutnya. Aku tidak bisa !


"Ku mohon, jangan bunuh anak ini" masih saja menangis di tempat umum.


"Dia mencampakkan seorang gadis" bisikkan dari orang-orang yang lewat didepan kami.


Suasana nya ramai jadi tak pantas rasanya mengobrol di tempat umum begini. Ku lirik wajah sendu Silvi yang ketakutan juga gemetar memohon untuk tidak kejam padanya.


"Silvi, kita bicara di lain saja. Di sini sangat ramai" ajakku.


Usai upacara hari senin aku di panggil pihak BK lagi. Mungkin rahasia yang aku tutupi sudah ketahuan oleh pihak sekolah dan sekarang nyawaku semakin menipis mendengar Papi juga Mami akan datang ke sekolah apalagi orang tua Silvi juga ikut.


Sebelum mereka datang dan Silvi masih dalam tahap panggilan dari ruang piket, aku terlebih dulu mendengar ceramah panas dari seluruh guru yang dan disana. Aku mengaku ini adalah salah ku berbuat tidak senonoh namun ini bukan salahku sepenuhnya, ini perbuatan Rehan juga Bimo serta Silvi bersekongkol dengannya.


Dalam ruangan itu lengkap sudah, aku juga orang tua ku bersama Silvi dan orang tuanya di tambah guru-guru yang tidak berkepentingan. Semuanya aman-aman saja sampai pada saatnya Silvi di minta mengaku hamil didepan semua orang di ruangan.


Tampang Papi yang sudah sangar dan garang kini semakin berlipat-lipat terpancar dari sana, wajah Mami teramat kecewa membuat batin ku tertusuk lebih dalam. Bersama Silvi, aku tak berani memandang siapapun di ruangan itu yang biasanya aku menjawab karena membantah sekarang sudah bungkam membisu bagai patung.


"Baiklah, masalah ini lebih baik dibicarakan lebih lanjut di keluarga bapak. Kami akan merahasiakan dulu identitas mereka dari teman-teman nya" jelas guru BK yang dulu selalu ku lawan.

__ADS_1


__ADS_2