Diary My Sekolah [S1-S2]

Diary My Sekolah [S1-S2]
S2 Chapter 2 : Masa Orientasi 5mart Girls


__ADS_3

[Bismillahirrahmanirrahim]


[Tekan hatinya biar BEE pasang gigi 10 buat update. Jangan jadi silent reader dong]


___



Bagi SMK Enggang, MOS adalah kegiatan yang wajib untuk para peserta didik baru di tahun ini. Biasanya MOS diadakan selama seminggu yang mana hari terakhir dilaksanakan hingga menjelang petang. Upacara resmi dihadiri seluruh guru dan anak didik dalam rangka penutupan kegiatan MOS. Sekolah memperkenalkan lingkungan mereka sebelum aktif kegiatan belajar, hal-hal positif dan membangun keakraban agar tercapainya satu tujuan.


Usai upacara pembukaan di tengah lapangan, para peserta didik baru dipersilahkan mencari ruangan sendiri dimana nama mereka telah tercantum di atas kertas yang tersemat di permukaan pintu. Ohta, Era, Eshi dan Ayu yang saat ini berpencar ke sana kemari. Kebetulan mereka belum begitu mengenal atau akrab. Masing-masing menyibukkan diri.


Dimana Susi?


Susi adalah siswa yang terdaftar melewati jalur khusus yang membuat dirinya tidak mengikuti MOS tahun ini dan akan melaksanakannya tahun depan dengan status kakak kelas. Ini hal yang lumrah terjadi di daerah tertentu, jalur khusus dibuat untuk beberapa para siswa tidak lulus seleksi di sekolah lain dan mau mendaftar di sekolah yang kebetulan kekurangan siswa. Tidak mudah mendapatkannya, kalian harus bersaing menggunakan uang.


Ayu, Eshi, Era dan Ohta kebetulan satu ruangan. Jika diurutkan siapa yang lebih dulu masuk dan duduk adalah, Eshi, Ayu, Ohta dan yang terakhir Era.



POV Eshi,


Sebelum upacara pembukaan dimulai, aku sudah datang lebih awal dan menyempatkan diri berkeliling, menjelajahi segala sudut sekolah tanpa rasa malu, canggung, apapun itu. Manik mata ku juga tidak sengaja menangkap kertas tertempel di depan pintu, kaki ini jadi tak melanjutkan langkah ke depan dan berdiam di tempat seraya membaca informasi apakah ini?


Yap! Nama ku tertera di sana. Mungkin saja ini akan menjadi ruangan ku kalau belajar. Hari telunjuk masih di atas kertas lalu mulai turun.


"Ayu?" gumam ku.


Stella Ayu Wijaya, nama yang tidak asing lagi. Ia adalah teman sekolah dasar ku, kami berpisah saat masuk SMP.


Tak lama, upacara pembukaan kegiatan pun dilaksanakan. Semua membuat barisan sesuai jurusan yang diambil. Acara yang ku anggap berjemur di tengah terik sinar matahari tersebut memakan waktu kurang lebih 20 menit.


Usai arahan dari pihak panitia pelaksana untuk menuju kelas yang sudah disediakan, aku langsung bergegas. Sejak upacara tadi, tak ada batang hidung Ayu terlihat mungkin saja ia ada dibarisan belakang.


Aku mengambil langkah pasti ke depan, tidak begitu jauh. Selang beberapa menit berlalu, aku lebih dulu sampai di antara siswa lainnya. Sempat berpikir harus duduk di kursi paling depan tapi-sepertinya jebakan apalagi paling belakang. Mungkin lebih aman duduk di barisan ke dua.


"Ah-laus*," ucap ku menjamah sebotol air mineral kemasan dari dalam tas terbuat dari karung.


Laus : haus


Eshi kalau bicara belepotan.


__ADS_1


POV Ayu,


Jangka waktu 5 menit, aku sudah menemukan kelas atas nama ku. Memasuki ruangan yang tidak terlalu ramai dan berisik mengundang debaran dada begitu kuat, mungkin saja ini karena rasa gugup melanda. Awal mula, pandangan ku merendah sebelum akhirnya menemukan sosok gadis berambut hitam nan tebal. Suaranya samar-samar memanggil.


"Ayu!"


Ia melambai ke udara sambil duduk di kursinya.


"Sini!" ajak Eshi agar aku mendekat.


Tanpa jawaban, aku menghampiri Eshi di tempatnya. Ia menawarkan aku duduk di belakangnya karena disamping gadis berkulit sawo matang ini sudah ada yang menempati. Dengan senang hati, aku menerima tawaran tersebut. Mumpung belum terisi dan dekat dengan orang yang aku kenal. Diketahui, Eshi adalah teman masa sekolah dasar dulu. Kami akrab dan sering berkunjung ke rumahnya untuk menyantap semangkuk bakso. Bakso keluarga Eshi memang terkenal enak.


"Sehat?" tanyanya menoleh.


Aku mengangguk pelan, "sehat kok. Gimana orang tua? Kok aku enggak pernah lihat lagi warung bakso mu?"


"Gara-gara kebakaran waktu itu kami terpaksa tutup dan mulai dari no lagi," jelasnya berwajah sendu. "Aku juga sudah pindah."


"Aku dengar kabar kebakaran waktu itu. Kapan-kapan aku mampir lagi deh, kangen sama Ayahmu," ucapku mengalihkan topik agar Eshi tidak mengingat kejadian naas tersebut.


Eshi sempat menjawab, tapi pandangan ku teralih karena suara bising dari arah kanan. Sekelompok laki-laki yang entah membahas apa hingg tertawa terpingkal-pingkal di pojok sana. Lirikan mata ini agaknya tidak fokus, seseorang bersandar di tembok berkulit sawo matang lagi tersenyum lebar mengundang suasana hatiku tenang melihatnya. Laki-laki, entah namanya siapa aku belum mengenal seluruh penghuni kelas ini kecuali Eshi dan Era.


"Lihat apaan sih?" tegur Eshi mengikuti arah bola mata ku.


"Ngaku aja ... pasti cowok,'kan?" Eshi menerkanya.


"Lagi lihat masa suram, sudah jangan dibahas."



POV Ohta,


Dari sekian tempat duduk, kenapa aku harus memilih duduk di sini? Mereka terlalu berisik untuk aku yang suka ketenangan. Ah, sudahlah yang penting ikuti prosedur saja lagian masa ini akan berakhir seminggu. Aku pasti mampu melewati cobaan tersebut.


Posisi ku bisa dibilang kurang beruntung, pasalnya aku berada di belakang kelompok laki-laki di ruangan ini. Mereka berkumpul jadi satu menduduki barisan yang perempuannya hanya aku dan seseorang bernama Lilis.


"Kalian berisik," protes ku tersulut emosi. "Bisa diam enggak sih?"


"Enggak!" jawab Heru cenggengesan. "Gimana kalau kamu aja yang diam biar kami yang ribut?"


"Dasar enggak jelas," cibir ku memalingkan wajah ke arah lain.


"Ih, dibilang enggak jelas. Padahal sudah jelas pake bahasa yang mudah dimengerti," timpal Heru enggan mengalah.

__ADS_1


"Ada suara tapi enggak ada wujud, ih," ungkapku bergidik ngeri.


Ternyata disaat aku membalas ucapnnya tadi, mereka telah fokus pada obrolan yang sempat terputus. Tanpa mereka sadari, mata ku membulat besar pasalnya rasa kesal terlalu meluap-lupa ingin segera dikeluarkan. Untung saja akal sehat di kepala ku masih dominan.


"Sabar Ohta, jangan marah-marah."


"Jangan biarkan setan merasuki mu, cukup mereka aja," sambung Lilis terkekeh pelan.



POV Era,


"Ah, lelah!" lirih ku mengeluarkan napas berat. Peluh keringat membasahi ruang pelipis ku.


Hari pertama malah terlambat karena motor sempat mogok di tengah jalan. Meskipun begitu, guru mana mungkin menerima alasan tersebut. Jika sudah terlambat harus menerima konsekuensinya yaitu hukuman.


Ketika upacara berlangsung, aku sedang berada di luar pagar. Ingin masuk tapi tidak diberi izin, apapun alasannya ini sudah peraturan sekolah. Selain pasrah, apalagi yang harus aku lakukan?


Bahkan ketika seluruh siswa masuk ke ruangan masing-masing, aku masih membersihkan toilet sekolah. Sebenarnya tidak sendirian, ada beberapa peserta MOS yang telat dan kini menjalankan tugas.


"Pasti Ayu sudah di kelas," gumam ku menyesal.


"Kalau kamu mau ke kelas, ya udah. Biar aku yang menyelesaikan kerjaan di sini."


"Seriusan?" aku mengulangi.


"Serius," balasnya sambil melempar senyum tulus. "Lapor aja sama Pak Amin kalau tugas kamu sudah selesai."


"Enggak papa?"


Agaknya aku kurang yakin, takut cowok ini kelelahan kalau pekerjaannya ditambah.


"Iya, sudah sana!"


"Makasih ya, nama aku Era. Kamu?" tanya ku penasaran.


"Aku Elang Mpradipta panggil aja Elang."


"Jurusan?"


"Sudah sana nanti ketinggalan materi," hardik cowok berseragam putih abu-abu, berbeda dengan ku yang masih putih biru? Agak aneh tapi nyata.


"Ya sudah, makasih."

__ADS_1


__ADS_2