![Diary My Sekolah [S1-S2]](https://asset.asean.biz.id/diary-my-sekolah--s1-s2-.webp)
[Bismillahirrahmanirrahim]
“Ayu, sini!” panggil Eshi melambai ke udara. Tatapan mereka tak sengaja bertabrakan saat korban tersiram air es jeruk terpaksa keluar dari gerombolan lautan manusia berbau menyengat.
Dengan langkah gontai dan muka yang ditekuk, Ayu mendekati kedua temannya. Ia melihat Eshi dan Era memegangi minuman dan camilan, andai tidak ada insiden menyebalkan tersebut mungkin—Ayu juga bisa menggenggam sekotak coklat dingin dan—makanan ringan demi mengusir haus dan laparnya.
“Rok mu ada apa?”
“Kenapa?” imbuh Ayu gemas. “Enggak tau, resek banget orang tadi. Habis maaf main pergi aja!”
“Ya udah, nanti kering juga.” Era mencoba menenangkan kekesalan temannya ini.
“Mau tahu cari yang tempat enggak?”
Sontak saja, Era dan Ayu memicingkan mata bersamaan ketika Eshi berucap. Makin ke sini, mereka merasakan aura aneh yang keluar. Tak ada sahutan terdengar hanya suara keramaian kantin memecah keheningan.
“Mau enggak?” Eshi mengulangi. Ia nampak bersemangat hendak membeberkan cara apa yang harus Ayu coba.
“Ra, aku haus ... boleh minta enggak sih?”
Belum terdengar kata setuju dari Era, sebotol minuman yang masih tersegel dirampas kasar tangan Ayu. Ia meneguknya dengan satu tarikan napas, gadis ini terlalu kehausan entah terpengaruh karena rasa kesal atau memang haus. Dua orang di depannya kini hanya bisa menatap dalam aksi Ayu sambil menelan paksa air ludah yang kabarnya tersangkut di tenggorokan. Tak butuh waktu lama, ia menyisakan setengah bagian buat sang pemilik.
“Ah—lega!” lirihnya merasakan ladang tandus telah diguyur hujan salju. “Makasih ya. Yuk, kita ke kelas!”
__ADS_1
Sengaja Ayu mengambil langkah lebih dulu saat keduanya mematung. Sesekali, lirikan matanya merendah menyaksikan kembali rok nya yang basah. Kesan bersih sudah hilang apalagi rapi, setengah hidup ia mempersiapkan hari pertama sekolah dengan sempurna malah di rusak sama orang yang tidak jelas.
“Kecil-kecil, rakus juga,” gumam Eshi takjub.
Kalimat itu mendapat anggukkan kepala dari Era seolah sangat setuju.
Lama Ayu, Era dan Eshi menunggu kabar dari kepala jurusan mereka. Ternyata untuk pembagian kelas 10 Administrasi Perkantoran belum selesai, pasalnya ruang kelas terbatas. Kini sambil menanti, ketiga makhluk berkepribadian berbeda itu sedang duduk santai menikmati angin sepoi-sepoi di bawah pohon rindang.
Era terpaku ketika melihat sekelompok laki-laki berjalan di depannya.
“Ra!”
Eshi memanggil dan orangnya masih fokus.
“Ra!”
“Era Kimberley Anastasya!” jerit Eshi mengundang banyak pasang mata mengarah padanya.
“Hah? Apa?” tanya Era setengah tidak paham. Wajahnya berpaling tapi ekor matanya masih menetap di awal hingga bayang orang itu seiring pergi menghilang. “Apa? Kenapa?”
Baru saja Eshi membuka mulutnya hendak berbicara, seorang siswa membawa selembar kertas tanpa berucap lalu menempelkan benda itu di depan pintu berbahan kayu. Sontak, banyak orang menjadi penasaran kemudian mendekat.
“Keknya pembagian kelas deh, tunggu aku lihat.”
__ADS_1
Dugaan Ayu benar. Akhirnya yang ditunggu-tunggu telah tiba. Betapa girangnya mereka bisa sekelas bersama. 10 Administrasi Perkantoran 3, itu nama ruangan mereka. Tak ada yang spesial jelas tersebut hanya saja kursi-kursinya nampak berbeda dari kelas lainnya. Jika kalian tahu, bangku untuk mahasiswa—itulah dia!
Tak mau berlama-lama, Ayu mengambil tempat duduk tidak jauh dari pintu utama. Di depannya ada Era dan Eshi.
“Akhirnya, punya kelas juga,” rancau Era menyandar dalam-dalam punggungnya.
Lambat-laun, 10 AP 3 kursi-kursinya mulai terisi. Terlihat jelas bukan, wajah-wajah teman sekelas mereka? Jika ditelusuri—siswa laki-laki tidak sebanyak perempuan. Jumlah mereka mungkin bisa dihitung dan itu tidak mencapai 10 orang.
BRAK!
“Aduh!” rintih Ayu. Bagian puncak kepalanya terkena bola pingpong. Bagaimana bisa bola tersebut ada di kelas? Ini bukanlah lapangan.
Sungguh sial ya nasib si Ayu.
Pelaku utama berlari kecil menghampiri korban. “Maaf, maaf, maaf!” sesalnya lalu menjemput benda bulat itu di ujung pijakan kaki Ayu. Ia berjongkok untuk menggapainya.
Ayu merasakan, suara dan nada orang ini sama seperti yang ia jumpai di kantin. Karena laki-laki ini menunduk, Ayu cuma bisa menyaksikan rambutnya saja.
Mencuatkan dendam lama ke ubun-ubun kepala Ayu. Hatinya, firasatnya tidak akan salah bahwasanya laki-laki ini adalah orang yang sama. Dengan mata terbelalak, jemari terkepal kuat—ia mulai beraksi.
Secepat kilat ia menggulung buku tulisnya, lalu melampiaskan kekesalan itu di area kepala sang biang kerok sampai puas.
BRAK!
BRAK!
__ADS_1
BRAK!
“Agh! Agh! Agh!”