Diary My Sekolah [S1-S2]

Diary My Sekolah [S1-S2]
Suara Hati Putra : Kelas 1


__ADS_3

Apa ada yang mengenalku? Maaf aku lama memperkenalkan diri ini pada kalian semua. Aku Putra Setia Agung biasa di panggil Putra. Tidak ada yang menarik dalam hidupku yang harus aku jabarkan di sini. Aku selalu di gambarkan anak nakal, berandalan tapi aku bukan b*gal.


Orang tua ku jauh dari kata tidak mapan, mereka memiliki bisnis dimana-mana dalam bidang kuliner. Karena itulah terkadang mereka sangat sibuk dan jarang pulang. Mungkin mereka akan pulang saat nama mereka di panggil Guru untuk memenuhi undangan sekolah atas sikapku.


Bahkan di saat daftar masuk SMK saja mereka tak ada yang berinisiatif menemani anaknya saat ini. Aku bukan anak manja tapi terkadang aku hanya iri pada mereka yang selalu dekat pada orang tua mereka, entah kenapa aku susah sekali !


Akhirnya aku pergi bersama teman-teman gesrek ku untuk mendaftar kan diri. Usai pendaftaran dan seleksi berkas lainnya, aku akhirnya bisa mengikuti ujian tertulis nanti. Aku memegang kartu peserta ku dengan sedikit bangga meskipun terkendala karena wajah hancur ini. Rasanya ingin ku perlihatkan pada Papi dan Mami, katanya mereka pulang hari ini.


" Pi, aku berhasil melewati seleksi berkas. Nanti aku ikut ujian tertulis !". Ucapku bangga di bumbui rasa senang didepan Papi ku yang baru saja memasuki rumah.


" Baguslah". Berjalan melewati anaknya begitu saja, wajah juga nampak datar. Sang Mami hanya tersenyum. Kemudian keduanya pun masuk ke kamar.


Padahal wajah ku sudah babak belur tetap saja mereka tidak bertanya. Apa pekerjaan begitu penting ya dari pada keluarga? Apa jangan-jangan saat dewasa nanti aku membiarkan istri dan anakku dirumah tanpa aku? Agh ! Jangan sampai. Sudah lah, tidak ada gunanya lebih baik tidur.


________


Hari ini aku berangkat menggunakan motor saja lebih aman dari pada di antar menggunakan supir terasa kesannya bukan diriku pribadi. Namun belum sampai gerbang rumah, aku sudah dihadang sang supir ditengah jalan.


" Ada apa Pak? Saya buru-buru !". Ucap ku  ngerem.


Posisi tegap berani tanpa rasa takut. " Tuan Besar ingin saya mengantarkan Tuan Putra ke sekolah!". Ujarnya dengan ciri khas seorang pelayan profesional.


" Gak usah Pak, naik motor lebih enakan. Sudah, saya mau ke sekolah ". Tambah ku lagi kembali menghidupkan mesin motor.


Masih diposisi menghadang motorku. " Maaf Tuan, saya antar lebih aman. Tuan juga belum memiliki SIM, kalau tidak Tuan Besar akan marah".


Hela nafas berat mungkin terdengar di telinga si Pak supir yang sudah bekerja sejak aku masih kecil, biasanya dia menjadi supir pribadi Papi dan Mami. Entah kenapa hari ini dia malah di rumah.


" Baiklah. Aku letakkan motor disini saja karena kamu bawel !". Ujarku kesal, mengganggu mood di pagi hari. Ku toleh sedikit ke lantai atas dimana jendela kamar itu tetap tertutup rapat. " Pasti ide nya begini ".


Duduk di bangku belakang sambil terus menatap pinggir jalan yang sudah di lalui mobil ini, hening rasanya tak ada pembicaraan apapun didalam mobil. Tak lama, sampailah sudah aku di gerbang sekolah. Mulai tampak ramai, siswa yang memakai seragam putih biru berjalan memasuki gerbang sekolah yang terbuka lebar dan luas.


Yang ku tahu, aku berdiri tepat di kelas khusus jurusan Penjualan. Aku memasukinya dan duduk di bangku paling depan, di saat tas ku letakkan di laci meja aku mendengar suara teriakan dari ambang pintu.


" Woi ! Ngapain? Kelas lu di sebelah. Buruan!!!". Terdengar kasar dan lantang tapi ya sudah, karakter teman-teman ku memang sudah begitu dari lahir.


Berjalan keluar ruangan tadi dan duduk di kursi paling pojok belakang. Tertera sudah identitas pribadi serta pas foto di situ. Baiklah, wajah ini sudah ganteng jadi tidak masalah.


Bel berbunyi bertandakan bahwasanya, ujian tertulis akan di mulai. Sebelum kertas di coret-coret alias mulai mengerjakan. Kartu ujian di minta untuk di keluarkan segera. Ku rogoh isi dalam tasku yang resleting nya sudah terbuka mungkin sejak tadi. " Eh?!". Ujarku mencari selembar kertas. Sampai kepala sendiri mengintip dalam tas yang isinya hanya sebuah buku kosong dan pulpen. " Kemana larinya tu kertas ?!". Celingukan mencari ke laci meja dan lanjut ke sisi meja tempat ku duduk manis.


" Kartu tes kamu mana?". Pak Guru telah berdiri di sisi bibir meja ku.


****** ! Sampai detik ini belum ketemu. " Tadi sih saya bawa cuma gak tahu kenapa sekarang gak ada !".


" Kamu alasan ya?".


" Tidak, saya sudah bawa kartu itu tapi hilang mungkin jatuh !". Tambahku lagi.


" Keluar ! Jangan ikut tes. Kamu banyak alasan". Kata-kata Pak Guru berparas garang itu sangat kasar bagiku.


Pakkkkkkk !!!!!


Aku tidak takut karena aku tidak salah. Kalau hanya alasan, kenapa aku harus capek-capek ke sini?. " Bapak bahkan tidak memberikan saya kesempatan mencari kartu itu. Jangan mentang-mentang Guru, saya harus menghormati anda?". Jari telunjuk ini berani menunjuk wajah orang yang bahkan secuil pun tidak ku takuti.


Keributan itu mulai menjadi-jadi, biarlah kalau ngajak ribut sekalian ribut jangan setengah-setengah. Seluruh Guru pun terlihat datang ke ruangan ku dan memaksakan aku keluar. " Saya bisa keluar sendiri jangan tarik-tarik tangan saya !". Ku tepis sentuhan seorang Guru yang tak ku kenali.


Kiri kanan aku didampingi guru laki-laki menuju ruang kepala sekolah. Disana aku di ceramahi, ah ! Telingaku terasa panas. Intinya beri aku kesempatan mencari kartu itu, apa itu berat ? Malah sekarang menyimpang dari topik permasalahan.


" Ya sudah, silahkan kamu pulang. Dengan ini mungkin sekolah masih berpikir untuk menerima kamu". Kata kepala sekolah tersebut padaku.


" Baiklah saya akan pulang ! Kalau hanya masalah wajah dibawa-bawa dalam permasalahan ini, harusnya bapak berpikir bijak ! Saya bukan preman malak duit orang, saya juga seorang pelajar yang punya secuil cita-cita meskipun tak pasti !".


Permasalahan kecil itu tidak berhenti saat aku tiba di rumah. Entah kenapa Papi jadi ikut serta dalam urusanku. Dia ditelepon pihak sekolah untuk aku segera kembali, karena kartu ujian itu telah di temukan. Ah, malas banget menjilat ucapan sendiri !


Namun detik ini, seorang Papi yang tengah sibuk dengan kerjaan sudah duduk bertengger disebelah ku. " Kalau begini terus kamu mau jadi apa? Berkelahi sana sini, nama Papi bisa jelek !". Dengan suara khas beratnya membuat bulu kuduk ku merinding.


" Aku tidak berkelahi, mereka mengeroyok ku saat jalan pulang, aku cerita pun tidak akan ada yang percaya !". Ucapku berani membuka suara.


" Diamlah. Gunakan mulutmu untuk diam ! Jangan membantah apapun yang akan Papi lakukan. Karena ini bukan kemauan Mami mu, Papi pasti menyekolahkan mu di sekolah elite !". Kedua mata dingin itu telah ku tatap. Apa itu tatapan seorang Ayah pada anaknya? Aku darah daging nya tapi kenapa begitu dingin layaknya musuh?


Sesampainya aku di ruang kepala sekolah, mereka meminta maaf atas sikap sekolah. Cih ! Ku kira mereka tidak tahu minta maaf karena jabatan sendiri. Kartu ku sudah di temukan, jadi karena Papi yang berbicara siapapun tunduk. Aku bisa sekolah di sini karena campur tangan nya bukan usaha ku sendiri. Menyebalkan !


" Putra, kartu mu sudah kami tukarkan formulir pendaftaran ulang". Menyodorkan kertas bersampul map kuning.


" Siapa yang menemukan kartu saya?". Tanyaku sedikit penasaran.


" Kalau tidak salah calon siswi bernama Stella Ayu Wijaya jurusan administrasi perkantoran, dia menemukan nya dalam laci meja saat usai tes. Silahkan di isi dan dibawa Senin". Kepala sekolah itu berbicara lagi. Ahhh, muak sekali aku dengan ulah Papi. Aku pasti di cap jelek di sekolah ini.


" Ruangan apa?". Masih mengulik informasi lebih dalam.


" Ruangan D".


" Ya sudah terimakasih Pak sudah memberi kesempatan anak saya. Maafkan sikapnya, saya akan terus mengawasinya". Berjabat tangan sembari ulasan senyum.


Mengawasi? Aku jamin itu hanya omongan tak sesuai kenyataan. Saat keluar ruangan ber-AC tersebut. Aku beralasan ijin ke toilet, syukurlah Papi tidak curiga pada tujuan utama ku. Ketika bayangan Papi pergi, aku mengecek ruangan D, mungkin tempat dimana aku duduk awal masuk.


Cekrek !


" Simpan aja dulu, nanti aku akan berterima kasih padanya !". Dapat sudah foto wajah cewek yang baik hati mau memberikan kartu itu pada Guru. Kalau dia melakukan hal sebaliknya seperti membuang kartu ku, pasti aku penggal kepalanya.


___________


Hari ini aku butuh refreshing , mengajak teman mereka malah beralasan sibuk untuk mempersiapkan MOS. Ya sudahlah, pergi sendiri juga tidak masalah !


Saat perut ini kembali memberikan alarm, aku memarkirkan motor di depan warung makan di pinggiran jalan. Seperti nya lidahku makin bergejolak saat melihat sajian untuk pembeli yang di letakkan di atas meja.


" Pesan apa Mas?". Tanya si penjual.


" Pesan seperti itu aja, Bang sama es jeruk". Ku tunjuk dimana orang sebrang sana lagi makan.


" Mie setan level 3 dengan cabai hanya 10 biji?". Kurang yakin.


" Iya sama ayam goreng juga, seperti cewek itu !". Masih menunjuk wajah cewek disebrang sana.


Ketika si Abang penjual beranjak membuat pesanan ku, aku masih menoleh pada sosok cewek yang mungkin tidak asing buatku. Tapi dimana aku mengenalnya? Sementara sampai kini, cewek masih takut dekat padaku !


" Ehhhh !!!". Aku mengingat sesuatu. Pesanan pun tiba, mengambil ponsel disaku mencoba melihat satu-persatu foto di galeri ponselku sambil mulut ini mencicipi mie super pedas buat lidahku pribadi.


Ku lirik sambil memastikan foto di ponsel, ku sandingkan pada wajah cewek itu. " Sama !". Ujarku. Ku letakkan ponsel tadi demi melihat senyum yang seperti terbahak-bahak entah karena apa.


Mata melirik jauh mulut pun tersuap kumpulan cabai yang di ulek. ****** ! Aku segera menyeruput es jeruk namun masih kurang, sial juga teko air putih habis di meja ku.


" Ini punya ku !". Ujarku menahan pedas yang menjadi-jadi di lidah.


" Maaf, teman saya lagi terbakar. Jadi bolehkan saya duluan !". Kata si cewek itu terdengar sopan sekali ditelinga ku.


Aduh, harus balas apa. Lidahku tidak kuat !. " Cari saja yang lain sana. Aku duluan meraih teko ini !". Balasku tapi malah bernada nyolot. Sumpah ! Aku minta maaf, bibir ku juga gerah tahu !


Usai pertemuan tak sengaja itu karena sebuah teko. Aku kembali memperhatikan dia rasanya tidak berpaling darinya entah kenapa rasa hati ini aneh ketika dia membalas tatapan itu. Sayangnya dia malah menepis semua pandangan yang hangat. Kecewa sih. Tapi aku sudah merekam wajahnya begitu lama, yakin saat sekolah nanti aku akan ingat.


Makanan didepan ku sudah aku habiskan entahlah sepertinya aku semangat saja. " Berapa Bang?". Tanyaku ingin membayar makanan ku.


" Sudah di bayarkan Mas, sama Mbak tadi". Si Abang memainkan dagu yang mengarah pada motor didepan sana.


" Cewek baju putih, Mas?". Tanyaku lagi


" Iya Mas ". Jawabnya.

__ADS_1


Eh kenapa dia membayarkan aku makanan? Apa dia mengenalku? Ternyata masih ada cewek yang baik hati padaku, aku kira semua cewek takut melihat wajah abstrak ini ! " Tapi kenapa aku senang? Harusnya cowoklah yang membayar makanan !". Berpikir sejenak dan sekarang duduk di atas motor. " Biarlah, nanti di sekolah aku akan membalas kebaikannya lagi !".


___________


Semester Ganjil terlewatkan begitu cepat, meskipun cap berandalan ku terkenal seantero sekolah bahkan di luar sekolah. Dan aku sudah mengetahui sosok cewek yang baik hati tersebut. Sebenarnya niat untuk mendekati sudah sejak awal, sialnya kenapa aku malu sendiri? Apa karena aku tidak pernah melakukan pendekatan sebelumnya? Aghhh ! Sial sekali. Aku sudah menanamkan niat untuk mendekati dia dengan cara apapun semester depan.


____________


Hari ini kesenangan ku berlipat ganda, karena sesuai jadwal pelajaran pagi ini selama tiga jam hingga istirahat pertama tiba kelas ku belajar Agama Islam di ruang kelas cewek yang begitu ku kejar. Bersama teman-teman, aku sudah memasuki kelas yang berbeda dari kelas kami.


Perbedaan nya terlihat jelas dan nyata dari kursi hingga fasilitas didalamnya, apa karena jurusan ku terisi anak berandalan? Ah entahlah ! Sedikit melirik dimana dia berkumpul mengobrol dengan teman-temannya, senyum itu bagiku sangat menenangkan.


Pelajaran di mulai namun aku masih diam memperhatikan dia didepan sana sedangkan mereka malah ribut, alhasil si Yeti yang terkenal tomboi mulai menegur kami.


" Kerjakan soalnya, ibu mau ke kantor dulu". Kata Ibu Guru didepan lalu membuka pintu kelas yang tertutup tadi dan keluar meninggalkan kelas.


" Huhhhhhhhhhh lanjut !!!!!!". Seru teman-teman ku kegirangan. Karena bagi kami seorang Guru hanya menghambat kesenangan dikelas. Jadi kalau tidak ada Guru, jiwa rusuh kembali menghantui diri dan sanubari.


Masih terus melirik kumpulan cewek-cewek didepan termasuk cewek yang fotonya ada di ponselku. " Suka?". Alif berbisik. Dia adalah teman dekatku.


Aku mengangguk dan mengundangnya menonjol kepalaku, tidak sakit sih namanya juga bercanda biasa. " Sapa disini namanya Ayu?". Teriak ku dan berdiri dari kursi. Ahh, hatiku tidak kuat menahan lebih lama lagi.


" Kita sudah semester 2, masa iya kamu tidak kenal sama nama anak SK ?". Tanya Alif sengaja memancing kehebohan. SK adalah Sekretaris.


Tapi kok dia tidak peduli dengan teriakan ku sih? Berbalik melirik saja tidak. Apa dia malu? Bukankah kita sudah berjumpa di warung makan waktu itu?


" Aku !". Seorang cewek yang tak ku kenali mengangkat jari ke udara, seperti nya itu teman nya.


" Ohhh katanya dia putih kok hitam". Ejek Alif ikut berkomentar, sok tahu sekali ini anak ! Tapi memang betul sih, Ayu yang aku sukai berkulit kuning Langsat bukan sawo matang.


" Biarlah !!!". Dia menjawab dengan nada santai dan melanjutkan aktivitasnya.


" Minta nomor kamu dong A-y-u". Teriak ku lagi. Meskipun aku berani bersorak begitu, sumpah malu ! Karena pertama kalinya. Dua kali aku menyuarakan hati ku tapi tubuhnya tetap tidak berbalik, malah temannya yang terus mengawasi ku.


Aku tanamkan langkah demi langkah untuk mendekati nya, sedikit lagi sudah menjangkau tempat duduk Ayu, malah seorang cowok tidak jelas mendekatinya. Sial ! Awas saja kamu, aku akan balas !


" Sudah gak?". Ibu Nadiroh kembali ke kelas, dia adalah Guru Agama kelas kami.


" Sudah !!!". Jawab serempak anak SK.


" Belum !!!". Jawab serempak anak-anak jurusan Penjualan.


Cowok itu terlihat menarik kursinya kembali ke kumpulan teman-teman nya. Tak lama pelajaran agama usai. Ibu Nadiroh pun keluar ruangan disusul cewek-cewek di kelasku sambil mendorong kursi untuk dikembalikan di ruang Lab. Bahasa.


Dia mendekati tempat ku bertengger, sial ! Aku belum menyiapkan diriku. Aku benggong menatap tiap langkah dan raut wajah tak biasanya dan tepat berdiri di depanku kini.


Bodok ah, pura-pura tidak kenal. Jadi pertemuan ini di anggap tidak biasa. " Siapa?". Tanyanya ku padanya.


" Itu ayu ****** !". Jawab Alif temanku lalu menonjol kepala ku, anak ini selalu saja ikut campur. Aku lagi bersandiwara tahu !


" Aduhhh !!!". Lirihku mengusap ujung kepala." Ohhh boleh minta nomor mu?". Tanya ku kembali, berharap ini pendekatan berjalan lancar.


" Maaf, aku gak punya hp !". Jawabnya seperti judes.


Hei ! Kenapa judes gitu? Salahku apa coba?. " Oke nanti ku minta lagi, tunggu kamu ada hp". Aku akan tunggu, ku tatap sekilas aksinya yang meletakkan tas itu. Kemudian beranjak keluar kelas. Dalam perjalanan aku masih memikirkan usaha apalagi yang harus ku gunakan untuk mendekati nya.


" Serius, lu suka sama tu cewek?". Tanya Alif yang sejak tadi lengannya melingkar di leherku.


Sampai duduk di kantin, barulah aku jawab pertanyaan Alif. " Memangnya kenapa? Jangan-jangan lu suka sama incaran ku?". Melirik tajam. Bocah satu ini bagiku sangat-sangat pandai mempermainkan cewek.


Segera dia melepaskan rangkulan lengannya. " Santai, gak bakal !".


Saat duduk di kantin bersama kumpulan lainnya, aku kembali menoleh pada satu cewek bernama Stella Ayu Wijaya memasuki kawasan kantin bersama temannya.


" Ayu !!". Aku melambai meneriaki namanya. Dan dia terlihat melirik kanan dan kiri. Saat pandangan sudah pas menghadap ku, wajahnya kembali memancarkan tidak suka.


🍍***********🍍


Tak terasa waktu cepat berlalu, aku masih saja bergelut dengan rasa kebencian dari jauh. Ternyata sejak awal aku tidak sadar kalau saingan ku bertambah satu cowok, alias teman sekelasnya. Dia beruntung, karena sekelas sama Ayu !


Ujian semester genap berlangsung, sembari aku terus memperhatikan dari jauh mempelajari tentang keadaan Ayu dan cowok yang sudah ku kantongi namanya, Heru Pramono Anwar.


Ujian ku ikuti dengan baik, meskipun otak ini tidak biasa aku isi dengan kalimat atau angka di buku, karena aku tipe orang yang tidak pandai. Namun, awal sekolah ini aku ikuti saja ceritanya dengan baik.


Ujian selama seminggu sudah berakhir saatnya classmeeting . Kebetulan aku hobi dalam futsal, bersama teman-teman aku sudah mendaftarkan kelas. Hari ini dari depan kelas, aku terus menyaksikan jurusan Administrasi Perkantoran 3 melawan Administrasi Perkantoran 1 di tengah lapangan.


" Kenapa dia begitu peduli dengan Heru? Dia terlihat menyemangati si bocah tak jelas itu?". Umpatan ku mungkin terdengar ditelinga Alif juga yang lain.


" Hmmpppp... Hmpp... Hahahah". Alif tertawa terpingkal-pingkal tak jelas. Ku tatap saja dia masih ketawa tanpa sebab.


" Apaan sih lu, mau di gebukin?". Tanyaku kesal. Sepertinya lagi menyindirku.


Lengannya masih saja menopang di bahu ku, sambil menahan tawa. " Aneh, suka tapi diam-diaman. Bilang sana ! Jadi laki kok malu-malu ! Ntar, nyesal aku gak tanggung !". Ujar Alif menyeka air di pangkal ujung matanya.


" Lagi usaha. Jangan ribet !". Jawabku santai kembali memperhatikan alias menonton keahliannya dalam hobi ku.


Tak terasa, kelas mereka menang juga. Lihat lah keahlian ku dalam bermain besok, akan ku permainkan dirimu yang sudah berani mendekati Ayu, gadis yang telah ku sukai sejak awal.


_____


Beberapa menit berlalu pertandingan futsal kembali berlanjut, aku masih saja memantau tiap pemain di depan sana sambil terus menambah keilmuan ku untuk esok hari melawan si cowok yang hobi nya mendekati incaran ku.


" Kiri !". Titah Alif bernada lumayan tinggi dan melengking di telingaku kini. Padahal, aku tengah asik menyaksikan pertandingan gratis.


" Apaan?". Jawabku santai tanpa menoleh kemana-mana. Masih menatap tegak lurus. Melihat operan bola yang sudah mulai dekat dengan gawang lawan.


Alif terkesan menepuk bahu dan kembali merangkul leherku, penglihatan ini terarah kan sesuai dengan tangannya yang mengapit pada tiap sisi kepalaku. " Nyesel lu kalau gak lihat !". Ujarnya lagi.


Detik ini aku merasa risih yang bergejolak, entah apa maksudnya dengan candaan unfaedah ini ! Namun, sebelah kiri yang di maksud adalah sosok gadis sedang berjalan ke arah ku tiba-tiba saja jiwa ku tidak jadi marah.


Segumpalan bunga sedang meriuk pikuk di sekeliling wajahnya, memancarkan kilauan putih begitu menyejukkan. Lekukan wajah sungguh menawan. Luapan asmara kian menggeliat keluar. Lenggok kan gaya nya seakan lirikan ku tak akan pudar. Ah, itulah yang aku lihat sekarang. Sungguh indah !


" Buruan, sapa !". Senggolan Alif membuat dunia khayal ku hancur. Malah, sekarang yang ku saksikan kepala yang terus menunduk kebawah.


Lirikan nyalang sudah ku arahkan pada Alif. " Apaan sih !". Keluhku. Sapa? Aku menyapanya saja binggung menggunakan kata apa agar dia mau menoleh dan membalasnya ! Tak heran juga, teman ku satu ini begitu geram melihat aksiku yang terdiam kaku tidak bergeming duduk di bangku sekolah.


Ayo, semangat. Aku tidak bisa berdiam terus seperti ini, laki-laki teman sekelasnya itu pasti mengincarnya terlebih dahulu. Aku masih saja asik dengan bayangan semangat yang aku kumpulkan terlebih dahulu. Tapi, aku merasa penolakan dari belakang membuat tubuh ku jadi berdiri tegak.


" Ahhh nembus ke hati". Celetukan itu mendadak keluar begitu saja bahkan aku terheran sendiri, para temanku ikut tertawa lepas.


Sorot matanya terpancar risih. " Minggir !!!". Balas si gadis yang berada didepanku.


Dia ke kiri aku ke kiri dia ke kanan aku ke kanan begitu terus. Sumpah ! Tubuh ini bergerak sendiri meskipun sejak tadi tidak kuat menahan malu. Andai malu ku sudah tercecer kemana-mana ingin segera rasanya aku pungut ! 


"Heiii Ayu !". Sapa cowok dari dalam kelas, ku lirik lekat ternyata Bobi. Dia teman sekelasku.


" Ayuuuu !". Tambah cowok lain lagi, entah kenapa mereka bisa segampang itu menyebut nama nya tanpa rasa getaran gila seperti yang ku rasakan kini.


" Iya !".  Balasnya menjawab sambil tersenyum pada mereka berdua.


Aku tidak suka, dia tidak pernah memperlihatkan senyumnya padaku. Hatiku kok, jadi panas gini ?. " Kamu senyum sama mereka tapi sama aku jutek". Ujarku padanya.


Masih saja memasang tatapan tajam. " Minggir dong aku mau ke kelas !!". Pintanya masih berusaha melewati ku.


Apa salahku sih? Sehingga dia begitu dingin denganku? Apa aku kurang baik? Dia hanya mau membagi senyum pada cowok lain ketimbang aku? Baiklah. Mungkin cara ini tidak baik, atau memang kurang memaksa?


Setelah menimang-nimang pemikiran sendiri, akhirnya aku melepaskan dia pergi bersama sahabatnya. Lumayan kesal, tapi saat di lepas tingkahnya kembali mengundang gemes ku. Apa-apaan dia terlihat senang menjulurkan lidahnya ke arah ku?

__ADS_1


" Awas saja, ntar !". Gumam ku mengembangkan senyum.


" Kenapa di lepas?". Tanya Alif di barengi tubuhku yang sudah duduk disebelahnya.


Aku nyengir sinis layaknya pemeran antagonis di sinetron. " Kali ini aja". Bernada santai.


__________


Esok paginya, aku ke sekolah dengan menggunakan motor ku. Sebenarnya itu ku lakukan secara diam-diaman. Kalau ketahuan orang di rumah, bisa saja ada yang melaporkan. Sesampainya disekolah, seperti biasa tempat paling pertama dikunjungi adalah kelas.


Bergelut dalam cerita yang entah apa, aku tidak ambil pusing membicarakan topik apapun itu, asal asik. Segala perlengkapan futsal sudah aku bawa dari rumah, rasanya tidak sabar melawannya.


" Lu tertarik sama cewek yang kemarin?". Suara cowok memasuki kelas.


" Maksudnya, cewek mana?". Jawabku masih sibuk dengan seperangkat alat futsal yang diletakkan di atas meja.


" Cih, cewek gitu aja sudah banyak di jalan. Cantik aja gak !". Ocehnya terdengar seperti menghina gadis bernama Ayu. Bukankah hanya dia yang aku gangu kemarin?


Benda yang ku genggam mendadak ku buang dan jatuh ke lantai berbahan keramik, membuat seisi ruangan kelas hening. Ku lirik cowok yang entah siapa namanya begitu berani menantang ku. " Lu kalau bicara yang bener !". Kerah baju sekolahnya pun sudah ku tarik kasar, pandangan pun sudah dekat rasanya ingin ku terkam habis-habisan. " Sekali lagi bilang aneh-aneh tentang dia. Lu ku jual !".


" Put, sabar !". Alif beraksi memisahkan ku dengan dia.


Kalau bukan tatapannya yang mengintimidasi serta menghunus tajam ke arahku, mungkin saja kepalan tangan bersama urat-urat ku yang keluar tidak akan mendarat ke wajahnya. Setidaknya itu pantas untuk seorang cowok yang selalu pandai menghina perempuan dari belakang. Dasar sampah !


" PUT !!!!". Teriak Alif. Entah dia panik atau bagaimana, aku sudah puas dengan sekali pukulan yang membekas besar di pipinya.


Suara hantaman keras pun melayang di wajahku, dia bisa membalasnya ? Baiklah aku akan menghabiskan seluruh nafasnya hari ini !


Lama aku bergelut dalam perkelahian masalah menghina tersebut, sampai pada akhirnya aku di seret memasuki ruangan menjadi langganan ku sejak sekolah menengah pertama. Ah, membosankan sekali ruangan sempit ditambah ceramah membikin telinga ku semakin memanas.


Ke sekian menit, ceramah dan ceramah yang diisi langsung dari Guru Bimbingan Konseling. Bukankah wajahku terluka juga jadinya seimbang dong? Kenapa hukuman ku begitu berat dari pada cowok mulut tante-tante ini !?


Lirikan ke kanan rasanya jengah, muak dan menyebalkan. Berapa lama lagi aku menuggu ini selesai, intinya aku tahu kalau aku tidak boleh mengulangi nya lagi kan? To the point  saja bicaranya jangan terlalu berbelit-belit. Membuang waktuku !


" Ayu?!". Kataku terdengar kaget namun sepelan mungkin. Bagaimana tidak, dia ada didepan sana dan tadi seperti sempat melirikku. Sial ! Kalau begini namaku semakin jelek.


" Putra Setia Agung, sekali lagi kamu begini. Hukuman kamu bukan membersihkan toilet. Tapi seluruh kelas di sekolah ini !". Suara pria paruh baya berkomentar, ingat dia adalah guru spesialis BK. " Dengar tidak?!".


" Yaelah, Pak. Saya dengar. Sudah gak ceramahnya? Saya kebelet dari tadi, Bapak mau saya pipis disini?!". Selosor ku semakin ngawur. Didalam hati rasanya geli, ingin tertawa.


Menghela nafas berat. " Iya, ka-".


Terserah, yang penting aku sudah mendengar kata iya sebagai persetujuan aku diperbolehkan keluar. Sekarang waktunya berburu cinta. Oh, semoga hari ini keberuntungan ku !


" Ayu !!!". Pekik ku menutupi jalannya segera mungkin.


" Kenapa ?". Mencebikkan bibir.


" Ayu aku ke toilet bentar ya, oke". Itu ucapan dari temannya, memicingkan mata sebelah dan meninggalkan kami berdua.


" Ehhhhh main pergi aja". Keluhnya pada gadis yang sudah berlari menjauh. Aku berdoa kesejahteraan hidupnya, karena begitu pengertian.


" Atitttt ". Ringisku mencari perhatian dari dia. Bahkan kata itu aku ubah terdengar manja, biar apa sih aku begini? Kalau bukan mengambil hatinya.


" Kamu kelahi lagi?". Mengulik informasi dariku, semoga kalau aku jawab tidak di ceramahi habis-habisan.


" Iya, habis mereka selalu memanasi ku". Balasku atas pertanyaan Ayu. Ya, ya, ya wajahnya terlihat manis. Lebih manis dari permen gulali.


" Saranku ya, baiki sedikit sikapmu ". Sebelum ucapan itu, aku mendengar nafas yang dia hembuskan begitu berat. Layaknya guru BK tadi.


" Iya ". Sahutku terhasut nada ramah. Meskipun intinya sama dengan guru dituangkan tadi, setidaknya ucapan tadi bisa aku turuti asalkan memang terucap darinya


" Ini !!". Ayuu memberikan sebuah permen di tanganku. " Dah aku mau ke kantin ". Ucapan pamit berbarengan lambaian tangan nan gemulai, ditambah lagi senyum. Ah, rasanya tidak ada sesal untuk beralasan kebelet ke guru.


" Akhirnya, jalan ku terbuka !". Celoteh ku masih tak melepas bayangannya yang menghilang.


" Terbuka? Kepala mu yang terbuka !!". Nada nyolot lagi-lagi membuat daun telinga ini mendidih. Suara itu juga terdengar dari arah belakang ku.


" Oh, memangnya kenapa?". Balasku berwajah datar.


" Kamu berniat mendekati nya? Jangan mimpi di siang bolong !". Gerutunya terkesan kasar. Kasar harus dibalas kasar kali, biar jiwanya ku gertak sedikit.


" Diam, gak ada urusan ku sama cacing tanah seperti mu !". Menyenggol dengan sengaja bahunya ketika kaki ku beranjak dari tempat tadi.


" Aku tidak suka namaku memenuhi catatan BK karena ulahmu". Berbalik dan memandangi ku, petir menyambar dari sorot matanya menyatu pada petir ku yang seakan saling berkelahi memperebutkan posisi menang. " Kita lihat di lapangan. Aku menang jangan dekati dia. Kalau kalah, kamu sudah tahu jawabannya kan?". Cowok bernama Heru membalas senggolan ku dengan keras, namun itu bisa aku tahan agar tak terjerembab ke lantai.


" Cih, siapa takut !". Jawabku singkat.


Sekitar pukul setengah 10 kurang. AP 3 vs KP bersiap-siap untuk bertanding. Kami tidak mau kalah, seluruh cewek dan cowok dikelas ku turun ke lapangan untuk menyemangati kami yang sebentar lagi akan bertanding. Bagiku, ini bukan pertandingan antar kelas namun antar cowok, sesuai janji aku bisa mengalahkan dia. Apapun caranya ! Peluit berbunyi tanda nya permainan dimulai.


Babak pertama kami kalah telak . Saat Babak kedua si cacing tanah Heru terjatuh. Aku tersulut emosi karena dirinya begitu jauh untuk ku kejar sekarang. Tapi sialnya dia tetap bermain sampai pertandingan usai. Otakku semakin berbuih panas bagikan air yang sudah matang sudah lama, gadis manis yang ku idamkan bersorak di pinggir lapangan menyemangati Heru.


Apa dia tidak tahu ? Aku sudah ditantangnya dengan kasar. Bahkan bahu yang tadi masih terasa sakit hingga sekarang. Agh ! Aku benci mengakui nya, kelasku kalah. Dan sekarang aku meratapi nasibku !!


Singkat cerita, dengan penuh sesal mendalam kelas AP 3 mendapat juara 2 lomba futsal. Juara 1 yang memegang kelas Multimedia. Akhirnya classmeeting pun selesai. Sejak saat itu, aku tidak lagi menganggu nya. Meskipun dia melewati kelasku atau bahkan didepan ku saja, aku sudah ingat janji itu tidak menggangu nya.


Sebelum hari pembagian raport,


Didalam rumah aku masih memikirkan hal yang sepele namun terasa berat dikepala ketika dipikirkan sendiri. Duduk melamun di ruang makan dengan makanan sudah tersaji.


" Bi, biasanya benda apa yang di sukai cewek ?". Tanyaku nyerocos begitu saja saat ada pelayan di rumahku sedang menyajikan air putih di meja.


" Eh, kenapa Tuan?". Sahutnya tak mengerti.


Ku majukan dudukku. " Benda yang disukai cewek. Bibi pasti tahu kan?". Timpal ku kembali menjelaskan.


Pelayan wanita seumur dengan Mamiku itu masih menunduk untuk berpikir sejenak. " Boneka, Tuan". Jawabnya.


" Boneka?". Aku berpikir kembali. Sebuah boneka tidak bisa dibawa kemanapun hanya bisa dipeluk ketika tidur saja. " Yang lain, Bi". Sahutku lagi.


" Maaf, Tuan. Apa perempuan yang dimaksud masih bersekolah?!". Bertanya seraya membungkuk kan badannya sedikit.


" Ya dong, Bi. Gak mungkin aku menyukai wanita tua". Ceplos ku berkata. " Ayo Bi, bantuin mikir !". Suruhku seolah memaksanya.


" Kalau begitu, Tuan berikan saja gantungan tas yang menggambarkan si perempuan". Ujarnya memberi solusi.


" Menggambarkan?". Pikirku memainkan jari di dagu sendiri. Lama aku berpikir dan akhirnya terlintas sudah. " Bi, makasih ya". Kataku kemudian beralih dari ruang makan.


" Sa-. Tuan, makan malamnya?!". Seru si Bibi.


" Buat Bibi aja, aku makan di luar !". Balasku berkoar.


Pembagian raport pun dimulai~


Jangan tanyakan aku peringkat berapa? Aku tidak bisa berkata apapun tentang prestasi di sekolah. Intinya, jauh tertinggal ! Yang terpenting adalah, bagaimana caraku memberikan hadiah ini pada dia.


Aku mendengar dia mendapat juara ketiga, memang cewek yang ku pilih tidak ada duanya. Begitu bangga aku bisa menyukainya hingga sekarang. Hadiah yang aku beli di toko dan pastinya di bungkus di sana, mana bisa tanganku terampil membungkus kado. Yang ada pasti sobek !


Dan kesialan ku malah lupa menyelipkan ucapan selamat padanya atas kenaikan kelas dan usaha kerasnya belajar. Kertas itu sekarang aku pegang ditangan dan ku ganti saja dengan doa. Menunggu dia lekas ke gerbang sekolah.


" Ini buat mu, aku dengar kamu peringkat 3". Kataku memberikan sebungkus kado yang berukuran sedang padanya dan dia sudah berlari menjauh. Apa-apaan reaksi itu? Bukankah perempuan menyukai sebuah kado lucu? Aku sudah susah payah memikirkannya malah di cuekin !


" Ya sudah lah, setidaknya dia mengambilnya !". Gerutu ku menekukkan wajah.


_________


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2