Diary My Sekolah [S1-S2]

Diary My Sekolah [S1-S2]
39. Ayu dan Heru : Bagian 5


__ADS_3

Eps Spesial MOS~


Usai sarapan, memasuki mobil bareng Ibu dan Elli untuk di antar ke sekolah bersama. Sedangkan Ayah sudah kembali ke luar kota, katanya dia tidak bisa menunda pekerjaan terlalu lama dan akhirnya harus kembali.


Aku datang tepat waktu mengandeng Era jalan memasuki lapangan sekolah. Ketika tanda bel berbunyi, seluruh peserta MOS berkumpul di tengah lapangan. Terlihat sudah warna warni atribut yang di gunakan sesuai warna jurusan yang di ambil.


Sambutan demi sambutan dan sampailah pada topik pembicaraan. " Jadwal kalian mengenal lingkungan sekolah selama seminggu. Jadwal pagi adalah berkumpul terlebih dahulu di lapangan lalu ke ruangan yang sudah tersedia sesuai nama kalian, disana kalian diberi materi dari dewan Guru. Nah, untuk Jumat pagi hingga sore kita mengadakan latihan upacara penutupan untuk hari Sabtu di sekolah. Jadwal akan di bagikan nanti, silahkan kembali ke ruangan kalian masing-masing". Sepertinya yang berbicara didepan adalah sosok Pak Kepala Sekolah.


Seluruh siswa dan siswi pun bubar dan menuju ruangan kelas, namun sebelum masuk satu persatu aku dan Era mencoba mengecek nama kami di ruangan A, B dan C belum juga ketemu. Saat membaca nama di ruang D keadaan mulai ramai dan menjepit kami berdua.


" Bentar aku baca dulu". Ku lepas gandengan kami. Lalu mulai membaca mengunakan jari telunjuk begitu seksama. " Ayu, ayu ayu !". Ujarku mencari nama tanpa melirik kesana kemari. " Yes !!! Kita seruangan, Ra !". Kataku kembali menggenggam erat tangan Era si teman SMP ku. Namun ada satu nama lagi yang tak asing untukku. " Ra, seperti nya di ruangan ini ada teman ku saat SD deh !". Masih fokus melihat lembaran kertas yang menempel pada dinding pintu. Aku bersyukur saat di tempel tidak begitu tinggi.


" Ayu ! Buruan duduk !". Suara dari dalam kelas, saat ku lirik itu Era sudah duduk manis di daerah bangku depan. Lalu tangan siapa dong yang aku pegang sejak tadi ?


Ku lirik perlahan-lahan ke kanan. " Hai, bisa lepasin tangan mu. Aku mau duduk !".


What's !!!!!! . Si cowok hobi tersenyum tertawa, peminjam pulpen, si permen juga orang yang suka mencari pahala di siang hari? Aku memegang tangan nya? Tanpa ucapan sepatah duapatah katapun aku sudah tepis kemudian memasuki ruangan dengan duduk disebelah Era.


" Ada apa? Kok wajahmu kusut?". Tanya Era tak jelas. Kan ini ulahnya main masuk saja tanpa memberitahu ku dahulu. Aku memang seruangan dengan si cowok murah tertawa dan tersenyum itu untung saja dia duduk di pojokan jauh disana bareng teman-teman lakinya.


Hari pertama MOS begitu membosankan, banyak materi-materi yang disampaikan oleh guru-guru didepan kelas. Hari berikutnya sesuai jadwal pagi kami harus berkumpul sebelum memasuki ruangan, kemudian di sambut lagi dengan materi lalu bermain bersama.


" Di ruangan ini apa ada yang ingin menjadi ketuanya?". Ucap seorang Guru usai menjelaskan hal penting.


Tidak ada sih yang mengajukan tangan ke atas terkecuali sosok cowok tinggi dengan badan jangkung berkulit sawo matang di tambah aksen kumis tipis. " Saya Pak !".


" Nama kamu siapa?". Tanya Beliau. Seluruh mata tertuju pada segerombolan cowok yang duduk di ujung belakang.


" Budi, Pak !". Jawabnya.


" Baiklah, tugas kamu layaknya seorang ketua kelas. Loh, kenapa para kamtu tidak berani mengangkat tangan, kalian kan senior ?!".


Sejak awal masuk aku juga sangat penasaran, dimana seluruh peserta berbaju putih biru sedangkan mereka menggunakan baju putih abu-abu tapi lengkap atribut MOS. Setelah ku telusuri lebih lanjut di hari berikutnya ternyata sekolah sengaja membedakan siswa murni lulus tes dan yang mana tidak murni.


Siswa murni lulus tes bisa melanjutkan jadwal MOS sesuai aturan sedangkan siswa lewat belakang di wajibkan ikut MOS saat kenaikan kelas 2 SMK, dimana mereka mengikuti MOS bersama adik-adik kelas. ( Daerah ku menyebutnya sekumpulan kakak kelas saat MOS adalah kamtu atau kambing tua. Siapa tidak mengikuti kegiatan MOS ini dipastikan tidak akan bisa PKL ).


" Tiap pagi di wajibkan untuk bernyanyi yel-yel yang di buat setiap ruangan. Apa kalian sudah membuat Yel-yel? Kelas sebelah sudah loh !". Ujar Ibu Guru berperawakan sedikit gendut dan pendek.


" Belum, Bu !". Sahut kami didalam ruangan.


" Ya sudah kalian buat semenarik mungkin, ketua nya siapa? Koordinasi anak buah mu". Ucap Bu Guru melirik Budi lalu Beliau pergi keluar kelas.


Entah berapa jam kami saling adu argumentasi untuk sebuah yel-yel yang harus tiap pagi kami sorak agar semangat. Tiap barisan meja membuat ide masing-masing. Aku sih ngikut saja idenya seperti apa.


___________


Hari demi hari kami lewatkan dengan berbagai macam lagu yang harus kami hafal. Yel-yel kelas, Mars Sekolah dan satu lagi lagu tentang sekolah. ( Maaf, aku lupa lagu apaan maklum sudah lama banget. Sampai Yel-yel kelas aku mulai susah mengingatnya ).


Saat jam istirahat kegiatan kami diperbolehkan untuk rehat sejenak mengisi perut dan semacamnya. Entah kenapa, Era itu kebiasaan meninggalkan ku sendirian. Dia berlari keluar entah kemana sedangkan aku berjalan sendirian mencari dia yang batang hidungnya saja tidak timbul.


" Era kebiasaan !". Keluh ku kesal luar biasa. Perut ku lapar malah di tinggal.


Beranjak keluar pagar sekolah, pengen makan soto tapi ramai anak-anak lain. Aku lirik lagi warung didepan sekolah sebelah. Malas banget kali ini melangkah ke sana, matahari mulai panas aku berharap mendung sekali-kali.

__ADS_1


" Kalau mau makan bareng aja, kebetulan aku mau cari pahala siang ini. Mau tidak?". Suara itu mulai terdengar lagi ditelinga ku, ku lirik kiri ternyata dia lagi berjalan disisi ku.


" Gak !". Berbalik badan ingin kembali ke sekolah. Tapi perutku berbunyi nyaring membuat langkah ini berhenti dan melirik si cowok murah tertawa itu. Aduh, wajahnya bibirnya kembali tergambar menertawakan aku lagi. Dasar perut ! Tidak bisa melihat kondisi !


Ku tutup wajahku lalu berjalan lurus dengan sedikit menunduk. " ******!". Bisikku sendiri.


" Buruan, nanti sakit !". Cowok itu memang tertawa namun tangannya menarik lenganku. Membawa ku makan bersama. ( Momen makan dalam hidup sok jaim ! ).


Saat pulang kegiatan MOS seluruh ruangan kembali menyoraki yel-yel lalu di perbolehkan pulang. Lengkap dengan atribut masih melekat di di tubuh. Menunggu aba-aba dari Budi si kepala suku.


" Ayo teman-teman kalah kan kelas lainnya!!!". Teriak si Ketua berdiri dari kursinya. " 1- siap. 2- berdiri". Kami pun berdiri. " 3- Mulai !!!".


Lagu J-ROCKS


Meraih Mimpi~


***Mari Belajar  Meraih Mimpi


Menggapai M'sa depan yang Tinggi


Jalani hari dengan Berani


Tegaskan niat di hati.


Kuatkan Diri


Dan janganlah kau Malas


Tak kan ada


Ya Ya ( Cowok ) , Kita kan terus belajar


Ya Ya ( Cewek ) , Tak kan berhenti di kelas


Ya Ya ( All ) , Marilah Meraih Mimpi, Ya


Hingga nafas telah berhenti


( Aku hanya ingat lagu yang di pakai adalah lagu band J-Rock, cuma lupa yang mana saja di ubah ). Diikuti pukulan keras di atas meja sebagai alat musik ala kadarnya, kebetulan sudah berlatih bersama. Makin nyaring suara makin bersemangat. Jadi, ruangan sebelah yang keluar terkadang menoleh dan menonton aksi kami.


__________


Saat pulang ke rumah aku beristirahat untuk menyiapkan esok hari Jumat. Hari dimana dari pagi sampai sore di sekolah, kecuali laki-laki nya wajib shalat Jumat di mushola sekolah.


Aku juga meminta Ibu membuatkan bekal untuk makan siang nanti kalau bisa sampai sore, karena perut ini tiap jam selalu saja lapar entah kenapa. Sebelum tidur aku sudah menyiapkan seluruh peralatan esok, katanya sih tidak ada senam di ganti latihan upacara dengan petugas upacara sudah di pilih dari kemarin-kemarin hari.


Bangun pagi tidak sesuai prediksi, aku terlambat sampai harus buru-buru mengambil perlengkapan di atas meja. Badan ku pun terasa tak enak hari ini. Apa mungkin efek kecapean? Dasar lemah banget sih aku ini !


Aku sampai di sekolah saat upacara di mulai, untung masih latihan kalau ini hari H nya mungkin aku di hukum. Aku di barisan belakang sedangkan Era di depan sana, biarlah aku harus berkonsentrasi mengikuti aliran upacara ini hingga berakhir.


Petugas upacara memang berbadan tinggi, bisa ditebak itu jurusan multimedia karena atribut dikepala warna putih. Matahari makin terik tapi di jam segini masih sehat.


Akhirnya latihan usai, kami pun kembali ke ruangan masing-masing. Bersyukur hari ini tidak ada materi, siswa bebas tapi belum di bolehkan pulang kerumah. Didalam kelas aku menyantap makanan bekalku bersama Era, dia juga membawa bekal.

__ADS_1


" Wih, enak banget menu nya !". Ujar Era melirik menu di kotak bekal ku.


" Lumayan !".


" Tumben biasa selalu bilang enak? Kamu kenapa kok pucat gitu?". Tegur Era yang melihat wajah ini begitu lesu.


" Gak papa. Kurang tidur aja ". Jawabku.


Didalam ruangan itu bisa di hitung berapa saja didalam termasuk aku. Karena Era jenis manusia aktif kesana kemari mencari teman bergurau. Sedangkan aku sejak pagi memang tak semangat sekali. Lebih baik mengumpulkan tenaga dahulu sebelum latihan kedua di jam 3 di mulai.


Memejamkan mata entah berapa lama, kebetulan kelas tak bising kebanyakan dari mereka ikut tidur. Bagaikan kamar saja kelas ini, anak-anak pada rebahan ujung-ujungnya malah tertidur pulas beralaskan tas karung masing-masing.


Bekal ku masih banyak kalau nafsu makan ku naik level, aku mencicipinya sedikit-sedikit. Saat jam shalat Jumat para cowok diwajibkan shalat tapi ada saja yang bolos melanjutkan tidur dengan posisi sembunyi.


" Era !". Panggilku pada teman yang ikut merebahkan kepalanya di atas meja.


" Em". Mengangkat kepalanya memerhatikan ku.


" Bisa pinjam tangan kamu sebentar". Ku raih tangannya untuk dijadikan guling kecil. ( Mau sakit atau tidak, harus ada yang dipeluk meskipun tangan siapapun pasti ku gunakan ).


" Eh, suhu tubuh mu kenapa panas?". Era menyentuh pelipis ku yang menghangat. " Kita UKS ya !". Ajak Era.


Aku menggeleng kan kepala sebagai tanda menolak dan melanjutkan tidurku sebentar sebelum kegiatan di mulai. Aku juga meminta Era menyuapkan sedikit-sedikit makanan ke mulutku. Bersyukur saja ada dia, kalau tidak ada aku minta tolong siapa. Diri ini belum terbiasa dan akrab sama lingkungan baru.


" Udah gede main suap aja !". Celoteh si cowok langganan iseng itu. Tenaga ku tidak ada sekedar memandang nya. Jadi cuekin saja dulu.


" Hush !!!! Diam dasar cacing tanah !". Ujar Era membalas ocehan si teman kelas kami.


Jam 3 di mulailah latihan penutupannya. Era selalu menolak aku ikut tapi aku terus memaksakan diri ikut serta dalam latihan. Aku di barisan paling belakang sedangkan Era posisinya di depanku. Entah berapa kali sang pengibar bendera selalu salah dan mengulangi langkahnya.


Karena itulah banyak korban berjatuhan pingsan karena tak sanggup. Hebatnya aku masih saja kuat. Aku kuat ! Aku kuat ! Itulah semangat dalam diriku kalau tidak aku bisa tumbang menyusul mereka di ruang UKS.


Upacara, istirahat, upacara lagi, istirahat lagi hingga semua lancar. Di pertengahan akhir latihan aku sudah tak kuat. Mata ku seperti melayang ke atas mengikuti kepala ini yang hampir saja jatuh. Saat itu aku memang melepas tangan Era, namun ketika jiwa ini hampir jatuh kebawah ada si cowok  dengan suara tawa tak henti ketika terus mengejekku namanya Heru, dia lah yang menolongku.


" Kamu gak papa?". Tanyanya membawa ku. Aku sedikit sadar dan kembali berdiri tegap.


" Ru, dia sakit tapi di paksa !". Era ikut berkomentar namun berbisik.


" Tandunya di pakai !". Jawab Heru setelah celingak-celinguk keluar barisan. " Gendong aja !". Tanpa persetujuan dia sudah mengendong ku dan di situ diri ini tak sadar . ( Pertama kalinya dalam sejarah aku tidak kuat mengikuti upacara. Baru ngerasain namanya pingsan ).


____________


Sabtu pun tiba, aku sudah kembali sehat dan semangat mengikuti upacara terakhir sebagai siswi SMP. Memasuki sekolah dengan tepat waktu lalu mengikuti upacara bersama Era. Masih menggunakan atribut lengkap.


Di hari ini tidak ada yang pingsan lagi dan petugas menjalankan tugasnya dengan sangat baik tanpa hambatan apapun. Di mimbar itu Kepala sekolah berpidato untuk kami semua, intinya menyampaikan kalau kami seluruhnya lulus dalam menjalankan MOS ini.


Di akhir Upacara kami pun serempak di minta melempar topi kerucut ke atas sembari perayaan kelulusan dan berakhir nya MOS. Aku kegirangan meraih tangan Era bersama. Ah seru ! Masa putih abu-abu akan datang semakin dekat padaku. Semoga aku bisa mengukir prestasi di SMK favorit ini.


" Aku berharap kita sekelas !". Suara cowok  berbisik pada ku. Ku toleh tapi tampangnya tidak terlihat dimana-mana. Jangan-jangan dia jelmaan hantu tak berkepala.


_____________


*S**poiler* : Eps selanjutnya POV Putra dari masuk SMK sampai lamaran dirangkai dalam 1 halaman. Butuh beberapa hari😫karena yg bersangkutan tak enak badan

__ADS_1


______________


__ADS_2