Diary My Sekolah [S1-S2]

Diary My Sekolah [S1-S2]
36. Ayu dan Heru : Bagian 2


__ADS_3

Belajar adalah tujuan ku saat ini untuk mendapatkan hasil yang nanti memuaskan. Pelajaran yang paling ku sukai adalah bahasa Indonesia dan yang paling ku benci adalah matematika. Entah bagaimana usaha ku mempelajari rumus dan contoh soal tetap saja pasti akan susah.


Terkadang aku hanya jawab sembarangan, mengikut kancing baju atau bisa juga menghitung jari sendiri. Itu ku lakukan ketika kepala ku sudah sulit untuk berpikir.


Malam ini hingga esok kegiatan ku adalah belajar dan belajar, mengingat saingan di jurusan ku begitu banyak jadi pasti seleksi nya ketat. Mengerjakan contoh soal lalu membaca pembahasan jawabannya dengan baik. ( Dulu tidak ada apk belajar online, kalau mau belajar ya dari buku yang di belikan Ayah seperti Prediksi soal-soal UN ).


Ketika hari ujian tertulis di mulai jam 8 pagi, aku sudah bersiap dengan segala kelengkapan didalam tasku. Baju putih biru sudah rapi lengkap dengan dasi yang melingkar di kerah baju ku. Rok span sejajar dengan lutut dan tak lupa kartu peserta ujian, kalau tidak ku bawa bisa-bisa tidak bisa ikut ujian.


Usai sarapan, Ayah sudah mengantarkan aku ke SMK sekitar jam setengah 8, mencium tangan Beliau juga meminta doa agar semua yang ku jalani hari ini lancar dan memuaskan. Kaki ku melangkah memasuki gerbang sekolah dan berjalan mencari ruangan yang tertera di kartu ujian ku.


Ruang D no 382, aku sudah melewati urutan abjad A sampai C dan akhirnya ketemu ruangan D. Di jam segini, siswa sudah mulai berdatangan mencari posisi meja dan kursi mereka. Syukurlah setelah aku mencari ternyata meja berada paling depan.


Duduk perlahan sambil meletakkan tas di atas meja, mulai menunggu menit demi menit. Ku perhatikan daerah sekitar ku, sangat disesali tak ada satupun yang ku kenali di ruangan D ini. Seperti nya hanya aku dari SMP Puncak. Kembali menoleh pada meja di sebelah ku, terlihat nomor dan nama juga pas foto yang terpampang di sudut atas kanan meja.


Seperti tak asing buat ku tetap saja aku tidak kenal sih ! Jam 8 di mulai, ruangan ku sudah terisi penuh dan seorang Guru memasuki kelas membawa kertas-kertas ujian.


Beliau duduk di meja Guru. " Sebelum ujian di mulai, mari kita panjatkan doa sesuai keyakinan masing-masing. Berdoa di mulai". Perintahnya.


Semua orang menunduk membaca doa didalam hati, setelah aba-aba selesai aku kembali memperhatikan ke depan. Tak lama kertas ujian di bagikan, ku baca dengan seksama hingga ke lembar paling belakang. Mataku terbelalak soal matematika nya parah abis !


" Permisi Pak !". Suara dari cowok di sebelahku. " Boleh saya mencari pulpen di tas saya?". Pintanya. Memang saat ujian tas di taruh di depan kelas dan hanya alat tulis yang boleh di keluarkan.


" Silahkan !". Ujar Beliau. Aku perhatikan langkah dan aksinya, seperti nya cowok itu mencari pulpen tapi tidak ketemu. Terlihat raut wajahnya seperti kesal. Masih sedikit melirik ke samping, dia hanya diam tidak ada alat tulis di atas meja nya.


Aku hela nafas panjang dan tersenyum. Menyodorkan kotak pensil ku padanya tanpa bersuara bahkan melirik. Mendorong kotak pensil ku sambil mengerjakan soal.


" Terima kasih !". Ujarnya begitu pelan. Syukurlah dia tidak menolak pertolongan ku.


Di pertengahan jam saat suasana ujian begitu hening mulai terdengar suara bising yang amat-amat rusuh seperti nya dari ruangan sebelah. Sekian menit konsentrasi kami terganggu, hingga Guru yang mengawas di ruangan ku memeriksa keadaan sebelah.


" Jangan ribut. Kerjakan soal kalian !". Ucapnya lantang lalu keluar dari ruangan.


Entah siapa yang terlibat dalam keributan di sebelah, aku akan meminta Era cerita padaku nanti karena dia berada di ruangan sebelah. Setelah beberapa menit keributan mulai padam, terlihat sekilas sosok orang yang lewat didepan ruangan. Baju putih biru dan dua orang Guru laki-laki. Mungkin si biang onar.


Saat pengawas kembali masuk kelas, suasana kembali hening setelah ada suara bisik-bisik terdengar jelas di telingaku. Sejak tadi masih fokus pada soal di depan mata. Sampailah aku pada pelajaran Matematika, ku hitung didalam kepala berharap seluruh jawaban ku benar meskipun sembarangan.

__ADS_1


_________


Aku menemui Era yang sudah keluar lebih dulu dari ku. Berlari mengarah padanya. "Bagaimana, gampang gak?". Tanyaku.


" Gampang, hitung kancing baju aja apa susahnya !". Gurau Era padaku, anak itu memang santai-santai saja berbeda dengan aku setengah hidup memenuhi otak.


Ku lihat pengawas di kelas sudah keluar, aku pamit pada Era untuk kembali ke ruangan sebentar. Aku duduk di sebelah meja sambil menunggu sosok teman sebangku sehari ku membereskan barangnya.


Tanganku sudah ku ulurkan. " Pulpen !". Ucapku.


" Eh?". Jawabnya kebingungan.


" Kalau tidak ku tagih pasti gak di kembalikan. Mana?". Masih tetap mengulurkan tangan didepannya.


Mencari benda tersebut didalam tasnya. "Ini, makasih !". Ujarnya lalu pergi begitu saja.


Aku mengangguk dan meletakan pulpen itu kedalam kotak pensil ku. Tak sengaja juga sih tangan ku meraba laci meja tempat dimana aku duduk. Ku ambil yang mengganjal buatku. " Eh?!". Ucapku kaget.


Aku berlari mendekati Era. Ku tanyai juga masalah bising-bising di ruangan nya tadi. Kata Era ada cowok lupa dimana dia meletakkan kartu ujiannya. Malah Guru bilang dia beralasan. Terjadi cekcok antara si calon siswa dan Guru, begitulah inti dari masalahnya.


" Apa orangnya seperti ini?". Ku tunjukkan kartu tes tadi pada Era untuk memastikan wajah dari orang tersebut sama.


Setelah beberapa menit berbicara pada pengawas, sayangnya yang bersangkutan tidak berada di sekolah. Dia sudah pulang ke rumah. Tapi kartu ujian itu sudah aku berikan pada Guru.


Sebelum pulang seluruh calon siswa di umumkan untuk tidak menghilangkan kartu tes karena itu akan di gunakan untuk menukar formulir selanjutnya jika lulus tes tertulis. Pengumuman hasil tes akan di adakan seminggu lagi dan wajib menggunakan baju sekolah semasa SMP.


" Semoga kita lulus !". Sahut Era.


" Aamiin !". Jawabku.


" Sampai bertemu nanti ya !". Era melambai padaku sebelum melajukan motornya dari arah parkiran. Aku membalas lambaian itu sambil menunggu Ayah menjemput ku.


Dentingan ponsel tidak ku dengar malah getaran di saku rok ku mulai menggangu.


Ayu : Halo, Ayah dimana?

__ADS_1


Ayah : Sebentar ya Kak, Ayah masih ngantri di pom bensin.


Ayu : Iya gak papa yah. Nanti kalau sudah sampai disekolah, Ayah telepon kakak ya.


Menunggu itu membosankan untuk sebagian manusia termasuk aku. Aku harus ngapain dalam rentang waktu yang tak jelas begini. Mau jalan keliling sekolah sendirian seperti orang bodoh saja.


Entah apa yang didepan mataku, mobil yang mengkilap berhenti di parkiran dan keluar lah pria paruh baya dengan stelan rapi bersama seorang anak berbaju putih biru. Anak itu terlihat menunduk mungkin malu. Wajahnya tak sepenuhnya aku lihat, mereka memasuki sekolah bersama entah keperluan apa. Apa itu penting buatku? Ah sudah lah. Aku harus konsentrasi menunggu Ayah.


Ayah lama sekali, 10 menit berasa 5 jam. Sejak tadi menunggu tidak tahu sudah berapa uang yang ku jajan kan pada pendagang pinggiran jalan.


" Eh si Pulpen?". Sapa seorang dari depanku saat ku asik menjejali makanan di tanganku.


" Em !". Jawabku singkat.


" Ngapain disini? Gak pulang ntar di culik loh. SMK sudah mulai sepi juga !". Ujarnya padaku, aku tidak begitu peduli pada ocehannya. Aku masih fokus makan dan kembali membeli gorengan pada orang yang biasa daerah ku sebut Paklek'.


Setelah gorengan terakhir ku ambil lalu ku bayar. Banyak juga sudah ku lahap, kembali duduk menunggu Ayah dan cowok itu masih saja duduk di atas motornya menyantap gorengan. Dia terlihat jelas senyam-senyum sendiri ketika melirik ku.


" Kenapa?!". Kataku singkat bernada judes.


" Gak papa. Lucu aja, belepotan gitu sausnya !". Ungkapnya masih tertawa.


" Ni tisunya loh, Non ". Abang gorengan ikutan berkomentar, menyodorkan sepaket tisu padaku.


" Gak papa Paklek, saya pake tangan saja !". Jawabku gengsi malah mengundang suara tawa dari cowok itu. Ah, menjengkelkan.


" Haha, wajah kamu makin belepotan, sausnya dimana-mana !". Tunjuknya.


Bodok amat deh ! Aku menghabiskan makanan ku lalu ku ambil cermin kecil didalam tas sambil terus mengunyah makanan dengan cepat. Kaget sih, kenapa bisa saja sampai ke pipi kanan dan kiri ku.


Ku lirik si cowok iseng itu dengan tajam lalu mengarah pada Abang penjual gorengan seperti pentolan, tempe goreng dan semacamnya yang di tusuk pakai tusukan sate. " Paklek, sepertinya saya perlu tisu !". Ucapku malu-malu padanya. Si Paklek hanya senyum kecil.



(Seperti itulah tatapan tak suka dari ku buat dia). Pict : Sakura Chiyo

__ADS_1


Ku buang wajahku tidak mau menatap dia yang iseng tak jelas. Tapi, kalau tidak ada dia pasti sepanjang jalan aku ditertawakan orang, haruskah aku mengucap terima kasih? Ogah kalau caranya ngasih tahu aku dengan tertawa terbahak-bahak begitu !


" Sudah ya aku pulang saja. Kalau kelamaan bisa mules perutku ketawa !". Ucapnya lalu melakukan motornya ke jalan raya. ( Awal bertemu memang raut wajahnya sudah keseringan ketawa ).


__ADS_2