Diary My Sekolah [S1-S2]

Diary My Sekolah [S1-S2]
Suara Hati Putra: Suprise untuk Ayu


__ADS_3

Usai sudah dunia kerja ku,kini aku kembali pada media tulis juga laptop layaknya belajar di sekolah. Tentu selesai masa PKL wajib menyelesaikan seluruh laporan untuk menunjang nilai akhir penentuan.


"Bagaimana ini, aku baru menyelesaikan bab 1 selebihnya binggung". Gumamku sendiri didalam kamar.


Aku memijit pelipis ku secara pelan agar semua jalan keluar terbesit sedikit saja, justru hasilnya nihil meskipun jidatku memerah. Sekarang, aku masih menatap lemas layar laptop yang isi nya entah apa nanti.


Sekejap ku menoleh pada ponsel yang sedang di abaikan seharian, aku meraihnya siapa tahu aku menemukan solusi penyelesaian laporan ini.


Putra Setia Agung : Eh, bagaimana laporan mu? Sudah kelar belum?


Boby : Sudah, tinggal di asistensi sekali lagi. Nah lu bagaimana?


Putra Setia Agung : Idih, cepat banget. Aku baru bab 1. Belum lagi presentasi nya aku buat di Powerpoint


Boby : Aku sudah duga, pasti lu belum kelar. Tenang ada solusi nya ?!


Putra Setia Agung : Apaan? Lu mau kerjakan punya ku?


( Penulis tidak biasa menggunakan elo atau gue untuk sebuah panggilan, karena daerah penulis biasa menggunakan kau. Takut di baca nya kasar, jadi pakai kamu, lu atau aku saja )


Boby : Enak aja ! Aku kerjakan laporan ku butuh usaha keras, aku harus lari-larian main kejar-kejaran terus aku nyungsep dan-


Putra Setia Agung : Buruan, jangan kebanyakan cingcong !


Boby : File nya aku kirim Bab dua sama contoh bab selanjutnya lihat Gugel. Kalau lu enggak bisa juga. Berhenti sekolah !


Putra Setia Agung : Kurang ajar lu, Bob. Buruan kirim aku tunggu.


Ku putuskan panggilan telepon tadi dan tak lama file yang dia kirim telah sampai padaku. Segera aku membukanya, membaca seluruh isi dengan baik dan benar walaupun seluruhnya tak nyangkut di otakku.


"Em, gitu ya". Aku bergumam melihat ponselku dan sekarang aku mengerti.


Mumpung kepala ku telah connect pada pelajaran aku segera mengerjakannya mumpung belum menghilang. Cukup lama aku menyelesaikan bab demi bab ku dan mengabaikan makanan di depan mata


"Tuan, ada tamu di depan". Seorang berbicara didepan pintu.


Aku mendongak. "Siapa?". Seru ku teriak.


"Teman tuan". Jawabnya.


Jawaban tidak pasti membuatku harus membuang tenaga berjalan, memangkas jarak untuk membuka pintu.


"Siapa?". Tanyaku kembali berdiri dihadapannya.


Pelayan yang berdiri kini menyampingkan langkahnya dan sekarang terlihatlah sudah siapa yang tiba bertamu ke rumahku tanpa pemberitahuan dahulu.


"Lu?". Aku memang kaget melihat kedua tokoh ini masih hidup.


"Hai? Apa kabar?". Ujarnya menanyakan sambil tersenyum.


Bagiku senyuman itu tidak bisa mempengaruhi ku untuk berbaikan dengannya. "Ada perlu apa? Aku sibuk". Jawabku singkat dengan bibir mencebik.


"Tenanglah, kami ke sini hanya ingin tahu kabarmu doang". Selorohnya santai tanpa merasa bersalah ataupun malu.


Aku berdecih didalam hati, jengah sekali melihat tampang bocah-bocah sin**ng ini. "Sudahkan kamu melihat aku?". Ucapku. "Pulanglah, aku sibuk".


Rehan mendekatiku, dia berusaha merangkul tubuhku seperti dulu. Dulu dan sekarang itu berbeda, aku menepisnya kasar dia hanya tersenyum tidak jelas.


"Tenanglah, santai ! Kami ke sini ingin tahu bagaimana cara mengerjakan laporan PKL mu, soalnya untuk pembelajaran nanti".


"Jangan banyak alasan, mau kalian apa?". Tanyaku memanas hingga berani menunjuk batang hidung mereka.


"Gampang, lu tinggal ngikutin pertemuan kita nanti dan". Rehan menjeda omongan nya sampai ia mencoba membisikkan sesuatu. "Sebelum kami membongkar masa lalu mu pada orang tua mu".


Spontan saja aku mendorong tubuh Rehan ke belakang dan jatuh pada Bimo. Untung saja bukan tonjokan, aku sudah berusaha menahan emosiku sejak tadi. Makhluk ini memang pantas di basmi bukan?


"Ada apa ini?". Mendengar suara dari arah kanan ku.


"Papi?".


"Kalian sedang apa?". Ia mendekati kami. "Rehan sama Bimo apa kabar?". Sapanya pada mereka.


Aku tahu sekarang, kemenangan dari wajah Rehan terpancar menyilaukan. Kini dia nyengir sinis melirikku. "Baik Om".


"Kalian sudah mau pulang? Ayo kita makan bersama". Beliau mengajak mereka membuat aku sedikit kaget, orang lain di ajak aku anaknya sendiri di cuekin.


"Kami baru selesai berkunjung". Senyum Bimo. "Kami pulang ya Om". Kedua nya melakukan adegan mencium tangan Papiku didepan mataku yang sudah memanas.


"Hati-hati". Balasnya.


"Kami pulang, Put". Ujar mereka pamit padaku, terserah aku tidak peduli ! Sungguh pandai mencari muka didepan kelemahan ku.

__ADS_1


Kendati demikian, usai mereka pamit undur diri aku menutup pintu kamar tanpa menyapa Papi yang baru saja pulang. Aku tidak ada waktu melakukan hal konyol itu, lebih baik menyelesaikan laporan.


Hari berlalu begitu cepat tetapi aku telah menyelesaikan laporan ku dengan baik sesuai arahan dari contoh laporan milik Bobi. Tinggal menunggu lembar pengesahan dari KaJur juga kepala sekolah.


Pagi adalah jadwal presentasi, karena guru yang bersangkutan punya kesibukan di pagi hari alhasil jadwal di ubah siang hari. Udara panas menyengat, lumayan juga membakar lemak di tubuh.


Aku tahu, di saat begini Heru dan Ayu pasti dekat. Dia beruntung sekali karena satu jurusan dengannya, andai ku tahu sejak awal jurusan Sekretaris ada laki-laki pasti aku sudah mendaftarkan diri. Dari kejauhan saja mereka nampak akrab dan melupakan ku.


"Woi !!!". Mengerang keras tepat di telinga ku.


"Apaan sih teriak-teriak ?!". Ucapku tidak terima.


"Bagaimana laporannya sama presentasi lu, sudah kelar ?". Tanya Bobi.


"Sudah, terimakasih kalau enggak ada lu ngapain aku ke sini. Buang-buang waktu". Jelasku jutek.


"Aku dengar-dengar dari teman Ayu, tadi malam mereka membuat acara party ultah buat Ayu. Lu di undang enggak?". Tanya Bobi kembali.


Aku mendongak kasar ke arah Bobi. "Enggak ! Siapa yang membuat acara itu?". Tanyaku penuh arti.


"Lah aku kira kamu tahu, katanyaa Heru yang membuat suprise besar-besaran untuk dia". Jelas Bobi.


Sial, karena itu penyebab Ayu juga Heru disana sedang hangat-hangatnya dekat. Aku tidak melupakan ulang tahun nya hanya saja aku terlalu fokus pada laporan ku sehingga aku tidak tahu desas-desus acara itu.


"Seperti apa acaranya, semeriah apa?". Tanyaku lagi, bukan lagi sedikit tapi seluruh organ hatiku mendidih kepanasan.


"Sabar, jangan emosi dulu". Sangkal Bobi. Ia menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan video yang terjadi selama acara itu berlangsung.


Sabar ku tidak ada, ini sungguh keterlaluan. Hubungan kami adalah teman, kenapa aku tidak ia ajak bersama. Apa aku sejenis parasit dalam pertemanan?


Melihat Ayu bahagia dalam video itu membuat ku sangat-sangat murka. Ternyata beginilah cara perang dari seorang Heru di belakang ku. Aku tidak habis pikir, bagai dia menculik Ayu dari ku dan membawanya bersenang-senang.


"Put, tenang lah ! Kekerasan tidak selalu memenangkan hati cewek !". Ucapnya menepuk bahu ku pelan. "Aku ada cara lain agar dia memandangmu". Kata Bobi membuatku tidak jadi melangkah menghampiri kelas Heru. Apalagi kalau bukan membuat keributan?


Mendengar penjelasan Bobi aku sedikit mendapat cela menaklukkan perhatian Ayu. Bersama itu, aku sedikit lega dan akan membuktikan nanti.


Kelas presentasi di mulai dengan urutan nama yang di panggil, saat aku maju dan menjelaskan memang tak ada rasa gugup berkecamuk. Hanya sedikit semangat memaparkan seluruh kegiatanku pada saat itu.


Usai di ujung presentasi ku, aku mendapat tepuk tangan meriah dari teman-teman sekelas. Entah apa maksud mereka, kalau mengejek ku pasti akan ku beri pelajaran semuanya.


Selesai sudah beban hidupku, kini aku fokus kepada rencana Bobi. Dengan mengandalkan teman-temannya Ayu untuk ia mau ke acara nanti tanpa ada rasa curiga.


Tersisa waktu untuk merencanakannya dengan matang, melatih diri alias suara yang sudah lama tidak ku pergunakan dengan baik. Bersama teman-teman aku melatih diri hingga hari dimana kami melakukannya.


Bobi melirik. "Yakin, percaya deh". Gerutunya.


"Lagu apaan?". Isa ikut bagian mulai berkomentar.


"Terserah, kalian bisa nya apaan?". Tanyaku menoleh pada mereka satu persatu.


"Bisanya potong bebek angsa". Timpal Bobi.


"Oke, itu saja". Gumamku bernada rendah. "Itu saja cukup membuat kalian bonyok !!!". Sindirku tajam.


Perdebatan tentang judul lagu yang akan dibawakan terus terjadi, satu persatu aku coba menyanyikannya sampai nada yang pas.


*********


Esoknya,


Aku janjian sama Bobi juga Isa jam 7 malam. Kami pun bertemu dan berbincang sedikit kemudian mengulang lagi latihan tadi. Malam itu cafe sedang ada live music Akustik. Orang-orang aku jamin malam ini sangat ramai.


Dipertengahan latihan, Isa mendadak gemetar dan gugup membuatnya tidak konsen bermain. Ditambah lagi Bobi demam panggung karena saat ini seluruh orang sibuk memperhatikan kami walaupun acara musik nya belum di mulai.


"Kalian aneh banget, ngatain aku gugup. Kalian sendiri lebih parah". Keluhku menarik mereka ke belakang panggung.


"Ma-maaf. Aku ti-tidak tahu !". Jeda. "Kalau pacarku ikutan nonton disana". Jawab Isa masih dengan tubuh bergetar berat.


"So-sorry, Put. Aku enggak tahu kalau aku cemen begini". Timpal Bobi.


"Ah, bagaimana dong? Mereka pasti sudah dalam perjalanan". Kataku mulai panik, aku takut semua usahaku gagal total.


"Maju tanpa kami, lu harus bisa". Ujar Isa yang ku lihat gemetar nya hilang.


"Ini waktunya lu tunjukkan ketulusan mu pada Ayu". Bobi terlihat baik-baik saja.


Aku menatap curiga raut wajah mereka. "Kalian bohong ya? Kok sekarang terlihat baik-baik saja?". Sindirku curiga.


Tubuh keduanya kembali berguncang saat ku telusuri dengan teliti. Pandai juga mereka akting, padahal latihan bersama malah menyuruhku tampil sendirian di atas panggung.


"Hai, Put !". Sapa orang yang ku cari asal suaranya.

__ADS_1


"Ngapain lu?". Ungkap ku masih kesal.


"Bagaimana acara suprise nya? Gagal?". Oceh Bimo menyindirku.


"Jangan ngasal ya kalau ngomong".Ucapku ketus.


"Kalau gagalkan lebih baik lu nyerah saja. Toh, Heru sudah ada untuk menjaga Ayu". Rehan menimpali.


Aku tidak ingin semua yang ku bayangkan gagal karena mereka memancing emosi ku sesaat. Aku meninggalkan mereka dan berjalan menjauh, saat hendak duduk di kursi pengunjung untuk sekedar memesan air aku di kagetkan oleh sosok Ayu dan teman-teman nya yang telah tiba.


Aku menengok jam tanganku yang sudah menandakan acara telah di mulai beberapa detik lagi. Apa ini? aku gugup bukan main, degupan didalam dada tidak berhenti berdebar kencang. Ini tidak seperti prestasi tadi siang, aku di tonton orang asing dan Ayu juga.


"Nyerah saja". Rehan melewati ku.


"Dasar anak setres !". Gumamku mengepal tangan dari arah belakangnya dan menahan tonjokkan ku.


"Aku sarankan lu tetap nampil,Put". Bobi bersuara.


"Betul, buktikan pada mereka kalau kamu tidak segampang itu menyerah". Isa ikut-ikutan.


"Diam kalian !!! Kalian mengajakku latihan malah sekarang aku yang maju sendirian". Gerutu ku sedikit kesal tapi ya sudahlah, aku tidak menyalahkan gugup mereka.


Tak lama, nama band asal-asalan kami disebut untuk segera tampil. Namun hanya aku sendirian yang maju. Dari atas panggung ini, aku bisa memperhatikan wajah gadis ku yang begitu manis, sejak dulu wajahnya selalu bisa membuat ku jatuh cinta.


Dia mungkin terlihat kaget ketika aku duduk sebagai vokalis didepan ini. Alunan musik menyala, kini aku menyanyikan lagu untuknya. Aku harap suara ku menembus sampai organ hatinya dan membuatnya bisa berdegup kencang seperti apa yang ku rasa saat ini.


Aku mengamati bibirnya yang terlihat seperti mengikuti lirik lagu yang ku nyanyikan, entah bagaimana suaranya bernyanyi rasanya aku ingin berduet malam ini dengan dia. Di setiap penampilan aku selalu senyum dan tak bisa melepas pandangan ku ke arahnya. Bahkan hingga akhir lirik lagu aku memberi dia senyuman. Dan terlihat dari sini sahabat-sahabat nya malah menggoda dia membuat pipi nya merona.


" Aku menyukai seseorang cewek, tapi cewek itu selalu menganggap aku sahabat nya. Dia cewek yang sangat penting membuat aku berubah seperti ini. Meskipun sahabatan, enggak masalah. Asal hubungan ini tidak pernah putus saja aku bersyukur". Kata ku di atas panggung dengan terus menatapnya.


Malu sangat malu tapi entah kenapa rasanya senang bahagia saja. Semua orang bertepuk tangan pada ku mungkin karena penampilan ku atau masalah mementingkan ikatan sahabat dari pada pacar. Sungguh, bagiku ini hadiah paling berkesan yang pernah aku berikan pada perempuan.


Malam semakin larut, Bobi dan Isa telah meninggal kan aku sendirian malam ini. Kejutan ku belumlah selesai, kini aku melihat Ayu sendirian di area parkiran dan langsung saja aku mendekatinya.


" Tunggu !!!".


" Em". Ayu berbalik badan.


" Tunggu". Ucapku begitu.


" Ad-?". Ucapannya belum selesai kini aku memeluknya.


" Aku rindu ". Gumamku berbisik.


" Putra ini tempat umum !!!". Sela Ayu mungkin dia malu padaku.


" Hehehe maaf !!". Aku melepaskan pelukan tadi seraya senyum.


" Aku juga rindu. Uwekkkkk". Dia menjulurkan lidahnya pada ku, membuatku sedikit merinding.


" Bohong !!! Ini kado nya ". Aku memberikan sebuah bingkisan yang telah terbungkus rapi


" Makasih My Put". Bungkusan kado itu memang cukup besar untuk dia pegang.


" Sama -sama My Sauw". Senyumku mewakili suasana hatiku sendiri.


" Kenapa enggak hubungi aku lagi?". Tanyanya masih di atas motor.


" Aku sibuk. Maaf. Kangen ya ?". Ucapku menggoda nya.


" Enggak !!!!". Sangkal gadis itu tegas.


" Serius?". Melirik memainkan mata seraya bergurau.


" Bagaimana presentasi mu?". Tanya Ayu lagi.


" Sudah kelar kok ". Jawabku, memang sudah kelar semuanya.


" Syukurlah. Semoga lulus ya. Ingat kelas 3 jangan bandel lagi ". Ayu bernasehat layaknya guru BK namun yang ini versi idaman.


" Iya bos !!!". Jawabku demikian.


" Ya sud-".


" Beneran kah ada yang mau melamar mu?". Tanya ku, karena sebuah kalimat itu mengganggu aku setiap detiknya.


" Oh kak Ari sih bilang begitu, nanti pada saat aku lulus tapi kek nya itu enggak serius". Tutur Ayu nimbang.


" Enggak mungkin enggak kan, apalagi Heru cerita dia nangis di depan kamu kan?". Ucapku lagi.


" Udah ah jangan bahas itu. Aku mau pulang dulu ya ". Ujarnya berpamitan

__ADS_1


Aku melemas, rasanya ingin ku tahan tapi ini sudah malam." Ya sudah. Hati-hati ". Jawabku masih melukiskan senyuman milikku.


__ADS_2