Diary My Sekolah [S1-S2]

Diary My Sekolah [S1-S2]
35. Ayu dan Heru : Bagian 1


__ADS_3

Makan malam sudah di siapkan Ibu di atas meja, kebetulan Ayah hari ini berada di rumah. Makan malam terasa nikmat ketika semua terasa berkumpul di ruang makan begini. Si kecil Elli, adikku pun terlihat lahap dengan makanan yang dihidangkan dengan tangan terus merangkul boneka kesukaan nya.


" Kak, bagaimana kalau lanjut SMK nya di tempat ayah saja?". Ayah ku membuka suara.


Aku berhenti menyuapkan makanan dan melirik ayah. " Em, terserah Ayah. Kakak ngikut aja". Jawabku santai dan melanjutkan makan malam.


" Kok ngikut? Kakak gak ada pengen masuk jurusan apa gitu?". Ibu ikut berkomentar padaku.


Aku hanya menggeleng sambil melirik Elli yang kesusahan mengambil lauk di atas meja.


" Ayah pengen Kakak masuk sekolah Guru di tempat Ayah, meskipun swasta tapi bagus sekalian ada tempat kuliahnya". Tambah Ayah berusaha meyakinkan aku, seyakin apapun aku sih tetap pasrah.


" Em, kakak ikut aja. Lagian di sini kakak binggung mau masuk kemana. Ke SMA masuk nya susah !". Gerutu ku. ( Daerah ku memang susah, ibaratnya SMA terkenal disini hanya orang kaya saja dan lahir dari keluarga penting ).


Ibu tidak mengeluarkan pendapat nya lagi padaku apalagi Ayah karena jawaban pasrah ku yang keluar baginya aman-aman saja. Sedangkan Elli anak itu belum tahu menahu apa yang dibicarakan kami. Dia asik melahap makanan, mungkin nafsu makannya meningkatkan setelah aku memarahi nya.


Aku bersyukur lulus SMP dengan nilai terbaik. Tapi sampai kini, aku belum memikirkan lanjut kemana nanti jenjang pendidikan ku ini ku labuhkan? Masih binggung, masih bimbang. Padahal dulu sekolah dasar aku bercita-cita menjadi Pramugari. Ujung-ujungnya semua meleset dari rencana ku sendiri, akibat keadaan tubuh ini yang tak kunjung tinggi.


Usai makan malam, aku kembali berunding dengan jiwa ku sendiri karena waktu pendaftaran SMA/SMK sudah dibuka beberapa hari yang lalu. Memainkan jari di atas meja sambil menopang wajah sendiri dengan tangan. Berat rasanya mengulang rencana untuk masa depan yang meleset jauh.


Aku sempat kesal kenapa tinggi badan ini tak kunjung ke atas, aku sudah ikut resep dari Gugel untuk meminum susu tiap hari juga lompat-lompat sampai hal di luar nalar aku terapkan. Yang ada tiap bulan hanya bertambah sebanyak milimeter saja.


Asik sekali aku menyesali keadaan diriku sampai tak sadar kalau dentingan ponsel ku melebihi dua kali berbunyi. Ternyata saat ku baca dari Era.


Era : Dimana?


Ayu : Dirumah, masa iya aku di atas pohon.


Era: Kirain di bawah kolong. Aku sudah mengambil formulir pendaftaran di SMK 1.


Ayu : Baguslah. Aku masih belum tahu daftar dimana, lagian Ayah membawaku ke luar kota.


Era : Mampus ! Jangan dong, gak seru. Aku nelepon kamu malah mau ngajak masuk SMK 1 barengan.


Ayu : Gak tahu ni, binggung. Kamu ambil jurusan apaan?


Era : Sekretaris eh maksud ku Administrasi Perkantoran. Ayo dong bareng aja jangan jauh-jauh gitu.


Ayu : Bingung Ra !


Era : Gak usah binggung, daftar aja di SMK 1 terus jurusan kita di samain aja. Ya. Ya. Ya. Plisss !


Era adalah teman ku semasa SMP, susah senang selalu bersama. Dia tidak pernah malu berteman dengan ku yang biasa saja. Rasanya benci aku menceritakan masa SMP ku, dimana aku selalu di ganggu kaum lelaki tidak seberapa, mereka terus mengejekku. Untung Era selalu di sisi ku, dia menjaga ku dengan baik. Hingga orang tua kami sudah saling mengenal.


Aku tak enak hati juga menolak ajakan nya tapi bagaimana dengan Ayah, aku sudah terlanjur berkata ikuti kata Beliau. Ah, jadi ribet juga memilih sekolah yang mana. ( Kenyataan nya memang begitu ).


Ayu : Nanti aku kasih tahu Ayah dulu ya. Kalau sudah disetujui, aku disini aja SMK nya.


Era : Yee !!!! Gitu dong kalau barengan lebih enak kita ketemu terus.


Ayu : Ya sudah sana tidurlah, sudah malam. Nanti aku kabari lagi.

__ADS_1


Era : Ngusir banget, ya sudah dah.


Ponsel sudah kembali ku letakkan, mengambil nafas dalam dan panjang serta berdoa di dalam hati. Rencananya detik ini juga aku harus berbicara pada Ayah. Tubuhku sudah tegap berdiri didepan pintu ruang kerja Ayah namun tangan ku masih enggan membuka handle pintu.


" Kakak lagi apa?". Suara Ibu sudah memecah konsentrasi ku. Ku dekati Beliau dengan langkah kecil.


" Ibu jangan gede-gede suaranya. Nanti Ayah dengar !". Keluhku celingak-celinguk melirik pintu ruang kerja Ayah.


Ibu memasang wajah heran. " Memangnya kenapa?".


Aku membawa Ibu menjauh dari pintu yang masih tetap tertutup. " Bu, Elli mau bicara ini tentang SMK !". Ujarku berbisik.


" Memangnya ada apa, apa Kakak sudah menentukan pilihan? Di sini SMK nya juga bagus-bagus. Ibu itu gak mau anak Ibu jauh-jauh kalau SMK nya !". Jawaban itu sudah aku duga, Ibu pasti tidak mau anak perempuan nya jauh apalagi Ayah begitu sibuk dengan kerjaan nya.


" Era mengajak Kakak masuk SMK 1, tapi kakak harus bilang ke Ayah dulu. Takut Ayah gak mau !". Ucapku merangkul lengan Ibu dengan manja. Pada siapa lagi aku bertingkah seperti ini kalau bukan pada Ibu dan Ayah.


" Kenapa gak mau? Yang penting kan kakak suka ngejalanin nya jadi gak perlu ikutin kemauan Ayah ". Sela Ibu menasehati ku dengan lembut.


Aku menunduk sambil terus menerka-nerka jawaban dari Ayah nantinya. " Takut Ayah kecewa ". Kembali menatap mata Ibu yang terlihat begitu hangat.


Ibu tersenyum lembut. " Tidak, bicaralah pelan-pelan. Pasti Ayah ikuti kemauan kakak kok". Balas Ibu.


" Ya sudah, Ibu doain Kakak ya". Pintaku sedikit bersemangat karena mendapat dukungan penuh dari Ibu.


" Pasti, sana lah temui Ayah. Setelah itu tidur dengan nyenyak". Ibu melambai jauh dan berjalan ke lantai bawah.


Aku kembali berdiri didepan pintu kerja Ayah. Setelah gugup ku hilang barulah ku buka pintu itu dengan pelannya bersama ucapan salam untuk Ayah. Ayah terdengar menjawab salam ku tapi masih fokus mengerjakan kerjaan nya di depan layar laptop serta lembaran kertas dimana-mana.


Aku sudah duduk di kursi menghadap Ayah meskipun terhalang laptop dan alat lainnya, aku masih bisa melihat kepala Ayah juga mata yang terhias kacamata. Aduh, mulutku masih gemetar untuk terbuka apalagi berbicara.


" Kenapa kak? Kok belum tidur?". Mata masih tertuju pada laptop.


" Ayah, em anu ". Kelu nya bibir ini berbicara. Sampai baju sendiri aku remas kuat untuk menghilangkan gugupku.


" Ada apa Kak?". Jawab Ayah masih di posisi sama seperti tadi.


" Tentang Sekolah". Aku berpikir sejenak menghembuskan nafas tanpa tarikan dan ucapan basmalah. " Boleh gak Kakak daftar di SMK 1 jurusan Administrasi Perkantoran tadi Era menelepon ngajak kakak daftar disana". Ucapan pun selesai dengan sekali tarikan saja tanpa titik komanya.


Ketika tangan Ayah berhenti memutar sana-sini mouse nya dan kedua mata melirik ku, aku sudah siap untuk di marahi malam ini juga dan pastinya sudah siap dibawa Ayah ke luar kota.


" Ya sudah. Ayah terserah kakak saja". Jawab Beliau kembali fokus ke layar monitor laptop.


" Eh, Ayah gak marah?". Tanyaku kurang yakin. Segitu mudanya Ayah bilang iya. Padahal sejak tadi aku gugup setengah mati.


" Ya gak, ngapain marah Kak. Itu semua kan yang memutuskan Kakak sendiri. Ayah hanya ngasih arahan". Jelas Ayah lagi.


Aku pun tersenyum puas. " Terimakasih Ayah. Ayah memang the best !!!". Ucapku mengajukan jempol kanan dan kiri ku.


" Ya sudah besok Ayah temani ambil formulir nya. Pergi tidur sana, Ayah ada kerjaan !". Kata Ayah layaknya mengusirku tapi caranya sedikit berbeda.


" Oke Ayah. Selamat malam !". Aku berdiri dari ambang pintu dan segera menutupnya. Wajah berseri-seri, pasti malam ini aku akan tidur dengan nyenyak dan bermimpi yang indah-indah.

__ADS_1


_______________


Hari berganti, aku sudah bangun dari tidurku dan sarapan pagi dengan menu roti bersama selai strawberry di temani secangkir susu dan tak berharap lagi pada susu untuk tinggi. Pendek saja tidak masalah yang penting selalu di bilang awet muda.


Karena mengambil formulir harus menggunakan baju sekolah, aku sudah siap dengan baju putih biru lengkap dengan tas untuk menyimpan formulir pendaftaran nanti. Aku juga sudah menghubungi Era kalau aku setuju sama ajakannya sekolah di SMK bersama.


Bersama Ayah aku menuju bagasi mobil, kebetulan motor Ayah masuk bengkel. Dalam perjalanan Ayah dan aku mengobrol seputar sekolah yang akan aku daftar, dari ucapan Ayah seperti nya aku semakin tertarik pada SMK 1 ini.


Akhirnya mobil sudah sampai di parkiran. Awalnya Ayah tidak ikut dengan ku masuk, namun karena rengekan yang manja Ayah pun ikut masuk.


" Ada yang bisa di bantu, Pak?". Ucap seorang wanita paruh baya yang terlihat layaknya Guru.


Aku menoleh pada Ayah memberi kode agar Ayah yang menjawab ucapan si Ibu didepan kami. " Begini Bu, anak saya mau mendaftar masuk SMK di sini". Jawab Ayah ramah.


Beliau ikut tersenyum pelan. " Bisa Pak. Tapi biaya pendaftaran nya sebesar 20 ribu. Silahkan anaknya memilih jurusan apa, beda warna beda jurusan. Warna putih itu multimedia, kuning itu Penjualan, Biru itu Akuntansi, warna hijau Busana Butik dan warna merah muda jurusan Sekretaris atau Administrasi Perkantoran". Jelas si Ibu begitu jelas.


" Saya ambil sekretaris Bu". Ujarku pelan. Beliau pun memberikan map berwarna merah muda padaku dan Ayah langsung membayar nya. Ketika usai pembayaran, Ayah keluar sebentar mengangkat telepon. Sedangkan aku di minta mengisi identitas di buku pengunjung.


Di saat yang sama seseorang datang dengan tujuan yang sama padaku. Terdengar suaranya seperti cowok. Dia juga mengambil jurusan sama dengan ku. " Namanya siapa?". Ibu itu bertanya pada sosok cowok yang duduk di sebelahku.


" Heru Pramono Anwar, Bu". Jawabnya.


Aku bergegas memberikan buku itu dan menyodorkannya padanya dan berpamit undur diri. " Akhir-akhir ini jurusan sekretaris peminat nya sangat banyak begitu juga multimedia . Semoga kalian berhasil". Gumamnya menyemangati kami berdua.


Aku tersenyum saja lalu beranjak dari sana menemui ayah pasti sudah di dalam mobilnya. Pada saat jiwa ku sudah kembali merebahkan diri di atas kasur, aku mengabari Era tentang pengembalian formulir nanti. Sepakat untuk di kembali esok bersama.


Hingga hari H, Era tak terlihat aku menunggu sendirian di antrian panjang dengan duduk berharap nama ku di panggil segera. Ayah menunggu di parkiran, kesal sih sendirian karena aku tidak kenal sama orang-orang didalam ruangan ini.


Di depanku kini berjajar 5 guru dengan masing-masing disebalahnya tumpukan map sesuai warna jurusan. Terlihat sudah begitu jelas, map warna merah muda semakin menjulang tinggi. Aku bersyukur menemukan tempat duduk, kalau tidak aku bisa lelah berdiri.


Aku tahu di urutan mana letak formulir ku, pasti akan lama namaku di panggil. Mata ku masih terus memperhatikan sekitar, lumayan bising juga disebelah ku. Dari urutannya sih itu adalah jurusan Penjualan karena warna map didepan warna kuning.


" Hei Put, ngapain lu sekolah. Bukannya lu mau berhenti jadi gembel !". Ucap cowok duduk tak jauh dari ku.


" Diam Lu ". Lepukan keras untuk si pembicara pertama. Aku hanya menggeleng kan kepala.


" Stella Ayu Wijaya!!". Suara dari arah depan begitu lantang. Akhirnya namaku di sebut, aku beranjak dari kursi tunggu menuju kursi dihadapan Guru wanita berkacamata.


" Saya Bu". Ucapku singkat.


Berdehem sambil memeriksa kelengkapan formulir ku. " Nilai mu lebih tinggi dari yang lain. Hebat loh kamu yang pertama daftar dengan nilai tinggi". Ungkapnya, meskipun hatiku bangga tetap saja tidak enak didengar orang lain.


" Putra Setia Agung !!". Aku mendengar nama itu sekilas dan mencoba menoleh. Ternyata dia cowok yang amat berisik tadi.


" Makasih Bu". Ucapku seraya menunduk pelan dan tersenyum.


" Kamu masuk jurusan Penjualan? Yakin? Bapak khawatir kamu semakin jadi. Nilai mu memang standar. Coba lihat wajah itu, apa kamu habis berkelahi?". Omongan Pak Guru pun terdengar seantero ruangan. Saat ku telusuri dan mengintip memang iya sih ada lebam yang membiru.


Beliau kemudian mencatat entah apa dan memberikan ku kartu tes untuk ujian mendatang. Aku berjalan keluar dengan sedikit lega. Aku berharap sekali aku lulus saat ujian nanti.


__ADS_1


( Akan ada kisah lanjutannya, sebelum mereka bertemu dan berteman baik. Sebenarnya sudah bertemu namun masih belum sadar )


__ADS_2