Diary My Sekolah [S1-S2]

Diary My Sekolah [S1-S2]
S2 Chapter 5 : Rio vs Eshi


__ADS_3

[Bismillahirrahmanirrahim]



“Sabarkan dirimu Ayu, nanti anak orang meninggal!” protes Era mencegah pemukulan bertubi-tubi tersebut.


“Biarin!” tandasnya dengan ekspresi menahan amarah.


Sang pelaku menegakkan badan, ia berdiri sembari mengusap pelan puncak kepalanya. Sorot mata Heru awalnya menggambarkan perasaan kalut, tapi setelah beberapa detik menatap seluruh ruang wajah Ayu—Heru nampaknya bungkam dan mematung ditempat.


Umpatan telah berada di ujung lidah gadis ini, lagi-lagi Era menghentikan niat Ayu tatkala melihat seorang guru berbadan gempal nan pendek memasuki kelas. Beliau menenteng tas hitamnya, kemudian diletakkan di atas meja.


“Ibu minta kalian tenang sebentar.”


Titah beliau mampu menertibkan para siswa 10 AP 3 kembali ke tempat dan duduk dengan tenang sambil menghadap ke depan. Kecuali 2 orang di ruangan tersebut, Ayu dan Heru masih belum tenang. Dendam keduanya tertanam dalam dada masing-masing.


“Perhatian ... untuk jadwal pelajaran paling lambat siang ini selesai. Wali kelas kalian sedang sakit. Sementara, Ibu dulu yang mengantikan. Ada yang mau bertanya?”


“Bu!”


Seseorang mengangkat tangan ke udara. Seluruh pasang mata mengarah pada sosoknya.


“Ibu siapa?” tanyanya tanpa berpikir. Minimal, tanya lebih dulu ke teman sebelah.


“Bego banget kamu, Yo,” gumam Heru menoel pelipis temannya bernama, Rio Gumala.

__ADS_1


“Kenapa?” balas Rio berbisik-bisik, nyaris tak bersuara.


“Cari tahu sendiri! Ibu mau absen kalian dulu!” gerutunya menjemput selembaran kertas di atas meja.


Satu persatu nama lengkap para penghuni kelas dipanggil, dengan sekali mengangkat tangan ke udara—beliau mulai hapal anak didiknya tahun ini. Namun, ketika nama Rio Gumala disebut sangat lantang, laki-laki di samping Heru itu mendadak tersenyum lepas semetara beliau selaku guru memandanginya cukup tajam dan nyaris melotot.


“Khusus jurusan kalian, harus menanamkan nilai-nilai kesopanan dan keanggunan sebagai seorang sekretaris. Mau perempuan ataupun laki-laki!” jelasnya melepas kacamata yang tergantung di leher. “Untuk itu ... ini ada selembar kertas, tolong di foto copy lalu dibagi. Dibaca, dibawa setiap hari dan jangan dilanggar! Rio!”


“Ya, Bu!”


“Ambil ini! Kamu foto copy di koperasi terus bagikan!” perintahnya begitu hafal dengan nama dan wajah itu.


Rio menjemput selembar kertas tadi dari atas meja. Ekor mata Bu Nurjaya enggan berpaling dari punggung belakang Rio hingga siswa itu kembali ke tempat duduknya. Heru yang penasaran mulai mengintip ke samping.


“Terakhir untuk hari ini, sekolah minta Ibu sampaikan yang muslim wajib shalat dhuhur di sekolah. Kita punya musholah. Untuk laki-laki sangat wajib tidak ada alasan, untuk perempuan juga. Kalian bawa mukenah sendiri-sendiri kecuali yang berhalangan. Paham?”


“Bu!” seseorang mengajukan pertanyaan, dia adalah Eshi. “Kalau yang kristen ibadahnya gimana, Bu?”


Kelas semakin hening, memperhatikan pertanyaan Eshi yang rada aneh membuat Era selaku yang bersangkutan jadi tepuk jidat. Entah kenapa, Era mendadak malu gara-gara temannya ini.


Jawaban belum terdengar malah jawaban itu sudah terlihat jelas dari mimik wajah Bu Nurjaya sendiri. Ia memasang kembali kacamata nya yang tergantung demi mengenali wajah siapakah itu!


“Hmp ... hahaha,” suara tawa terdengar sayup-sayup kemudian berhenti cepat. Ia menahannya sekuat tenaga.


“Nama kamu siapa tadi?” tanya beliau sulit mengingat.

__ADS_1


“Eshi, Bu!” ungkapnya santai. Sifat santainya ini akan menjadi ciri khas Eshi untuk kehidupannya kelak.


“Oke!” sahut beliau sambil membuang napas beratnya. “Kamu bantu Rio bagikan kertas itu. Ibu permisi dulu!”


“Bu! Biar saya sendirian aja, Bu. Enggak apa kok!” protes Rio.


“Kenapa?” sela Eshi melirik.


“Berdua aja! Kalau bisa berdua, kenapa harus sendirian!” ucapnya sudah beranjak dari kursi.


“Saya enggak mau sama dia, Bu! Yang lain aja deh, Bu!” komentar Rio makin bertambah.


langkah kaki beliau seketika terhenti tepat di ambang pintu kelas, badannya kembali berbalik menatap Rio penuh emosi yang tertahan sedari tadi.


“Kamu laki-laki pemilih ya! Mau ditemani sama Eshi ... apa Ibu, hah?” nada lantang.


“Ih, Ibu! Suka gitu deh. Rio merasa diperebutkan gini. Ya sudah—kalau Ibu memaksa. Sama Ibu aja deh!” balas Rio cengar-cengir tak karuan. Betisnya mendapat hadiah dari Heru. “Apaan sih?”


“Ibu banyak urusan!” ucapnya sebagai kata terakhir sebelum meninggalkan ruangan itu.


“Perempuan memang sulit dimengerti ya?” gumam Rio menggaruk-garuk kepalanya.


“Kamu tu yang susah dimengerti!” timpal Heru geram. “Ibu-ibu digoda, mana ketua jurusan lagi!”


“Hah?”

__ADS_1


“Eh, Rio!” panggil Eshi menghampirinya. “Maksud kamu apa enggak mau sama aku? Kamu kira aku mau gitu sama kamu?”


“Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?” balas Rio melebih-lebihkan. Bagian tubuh Heru refleks merasa geli luar biasa mendengar ocehan teman anehnya itu.


__ADS_2