Diary My Sekolah [S1-S2]

Diary My Sekolah [S1-S2]
31. Dua Pulau Tiga


__ADS_3

" Ahhhh..... Lelahnya juga hari ini". Ucapku mengeluh di kamar dan membaringkan tubuhku di atas kasur yang masih menggunakan baju kerja. Dentingan ponsel berbunyi nyaring, membuyarkan lelahku.


Eshi : AYUUUUU !!!!!!


Aku : Aduhhh, pelan-pelan. Telinga ku bisa saja rusak !


Eshi : Hehe sengaja !!


Aku : Kenapa Eshi?


Eshi : Jam 8 ketemu Cafe biasa ya


Aku : Capek ah, baru juga mau tiduran.


Eshi : Gak banyak alasan. Harus oke kami tunggu


Aku : Kami? Eh si-


Eshi : Dahhhh


" Aku tu capek. Malas banget jalan. Pengen mager dikamar, guling-gulingan di atas kasur !!". Berbicara sama ponsel sendiri. Maklum lah, jiwaku penat.


Malamnya dengan terpaksa aku bersiap sudah tampil rapi, memasuki mobil lalu tancap gas ke Cafe biasa kami berkumpul. Sesampainya di sana. Aku memasuki cafe tapi kata pelayannya di ruang VIP.


" Sejak kapan mereka mau ke ruang VIP, biasa juga nongkrong biasa". Kataku sendiri sambil berjalan ke arah ruangan tertutup . Ku buka pintu, sayangnya ruangan itu gelap.


" SURPRISE !!!!!". Lampu seketika menyala dan aku di sambut dengan wajah para sahabat ku bersama Elli juga Naka.


Wajahku terharu dan kaget. Aku lupa hari ini usiaku sudah 23 tahun. Karena kesibukan yang padat, akhir-akhir ini aku sibuk menyiapkan ulangan semester untuk murid-murid disekolah.


Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk ku, meskipun terdengar urakan dan false namun hati ku terharu saja. Elli berada di tengah memegang kue, sedangkan Naka merekam aksi kami. Aku meniup lilin berangka 23 .


Selesai itu, kue ku potong-potong berukuran sedang untuk di makan bersama. Lumayan juga, aku mendapat beberapa kado sebagai hadiah usia ku bertambah. Kami mengobrol dan makan-makan bersama. Di umur segini, aku masih saja belum menemukan pujaan hati. Sedangkan sahabat-sahabat ku sudah ada yang bertunangan.


Selesai acara sederhana itu aku pulang bersama Elli. Aku beristirahat di kamar. Oiya, Elli mendaftar kuliah di jurusan dokter padahal bisa saja dia melanjutkan pendidikan sesuai jurusan SMK yang dia ambil. Entah kenapa malah beralih pada dunia kesehatan.


****


Beberapa hari setelah itu. Aku baru saja pulang dari sekolah. Lampu merah bertanda berhenti. Aku melirik ke sebelah kanan ku seperti ada sosok laki-laki yang ku kenal.


" Heru ?". Ucapku menelisik wajah rupawan itu.


Aku melihat Heru Pramono Anwar teman semasa SMK dan semasa kecil dulu. Dia terlihat di pinggir jalan dengan berpakaian rapi, entah menunggu siapa. Seorang wanita menghampiri nya begitu manja padanya. Wanita berambut hitam sebahu, seperti wajahnya tidak asing untukku.


Ku coba mengingat memori lamaku . Ku kumpul semua file-file di kepala ku. Aku baru ingat, itu Sulfa. Mantan Kekasih Heru dulu waktu SMK. Ternyata mereka kembali menjalin hubungan. Lampu kembali hijau, ku lajukan mobilku menuju rumah. Aksi tadi mulai ku tepis, rasanya tidak perlu aku mengingat kejadian itukan?. Sesampai di rumah. Aku istirahat.


" Kalau sudah begini. Lebih baik dari awal tidak kenal . Kalau ujung-ujungnya menjauh". Ujarku kesal, menghempaskan tubuh berbaring di kasur.


Malam aku mendapat kabar dari Papi kalau Reina sakit dan dirawat di RS. Dia di vonis terkena penyakit kanker yang menyerang sekitar Rahimnya. Dan Putra entah kemana perginya. Reina ditanya bahkan tidak mengetahui keberadaan Putra. Aku berencana menjenguk esok hari, karena badanku rasanya tidak enak.


" Putra menghilang sedangkan Heru . Emm. " Aku tertidur usai mengucap kedua nama temanku. Keduanya membingungkan dan labil.


******


Pagi sarapan bersama Ibu, Ayah ku masih saja kerja di luar kota. Elli kuliah sangat jauh. Hanya liburan semester saja terkadang dia pulang ke rumah. Setelah itu aku ke sekolah untuk mempersiapkan ulangan semester. Masih di ruangan guru untuk menyusun kertas ulangan tiap kelas bersama Guru lainnya.


Aku juga terkadang menemani Mami menjaga Reina sakit. Hingga beberapa hari sakitnya semakin parah meskipun Orang tuanya Reina membawa berobat jauh. Papi dan Mami Putra kebingungan, Putra menghilang. Papi sangat menyesal mengusir Putra saat itu. Setelah Reina dibawa berobat di rumah sakit luar negeri, akhirnya Reina di pulangkan ke Indonesia dengan kondisi sudah meninggal dunia.


Keluarga Reina dan Putra kembali kehilangan. Dulu Gery sekarang Reina, ibu dari Gery Mahesa. Keluarga Putra semakin tidak menentu, Mami sakit-sakitan sedangkan Papi terus menjaga Mami yang sakit hingga kerjaan di luar terus di serahkan pada Asisten nya.


Singkat cerita~


Liburan di mulai. Aku ijin pada Ibu dan Ayah pergi jalan-jalan ke tempat Elli. Di karenakan Ibu sudah ke tempat Ayah, tersisa aku sendiri di rumah. Aku sudah mengemas barang ku dan pergi ke bandara menggunakan taksi.


Aku duduk masih menunggu pesawat sambil memainkan hp ku. Ada panggilan masuk dari Heru. Dalam hati, ngapain menelepon aku. Bukannya aku tidak di butuh lagi? Namun hatiku tidak menentu, tanganku malah mengangkat nya.


Aku : Hal-


Heru : Lihat ke atas


Aku : Apanya ?


Heru : Cepat


Ku lirik mata ku ke atas. Bandara di tempatku berlantai 2. Tampak di atas kosong saja, tidak ada orang. Beberapa detik, mataku seolah terbuka makin besar dan kaget bukan main. Entah itu kertas atau baliho besar yang turun meluncur ke bawah memanjang. Bertulis ' Maafkan aku'


Aku: Maaf apa?


Heru : Belum selesai . Lihat lagi


Lagi muncul lagi tulisan di sebelahnya 'Mau kah kamu menikah dengan ku?'


Aku : Apa maksudnya ini Heru. Kamu dimana?


Heru : Aku serius


Aku : Tapi aku melihatmu bersama Sulfa bermesraan


" Aku memang sengaja menjauh dari mu". Gumam Heru dari arah belakang ku.


" Kenapa?". Aku membalikkan tubuh, menghadapnya.


" Kalau aku jauh, pasti kamu ngerasa kehilangan !!". Balas Heru balik.


" Em". Aku mengangguk.


" Maaf ya aku sudah menjauh". Timpalnya lagi pada ku.


" Em". Sesingkat itu jawaban dari ku, cukup mewakili semuanya.


" Jadi mau kan?". Tanya Heru padaku.


" Heru ! Bukannya aku menolak tapi beri aku waktu untuk belajar dulu menerima rasa mu ke aku".


" Em". Balasnya balik.


" Maaf, tapi selagi kamu ingin serius. Tetaplah setia. Itu juga penilaian ku ke kamu ke depannya, bisa saja aku menerima lamaran mu kan?". Kataku sembari senyum.


" Jadi kita pacaran dulu?".


" Em bisa di bilang begitu". Terkadang mulut sama hati kurang sinkron.


Dengan wajah kegirangan, ketawa senyum sendiri tidak karuan. Efek itu Heru hampir saja memelukku tapi aku berjalan mundur untuk menjauh. Hanya balas dengan senyuman di bibir. Ini lebih baik dari pada aku terus mengharapkan Putra yang tak kunjung jelas, kataku dalam hati. Terkadang aku harus move on dan melangkah ke depan, membuka hati untuk orang lain yang begitu menyayangi ku.

__ADS_1


" Jadi mulai hari ini kita pacaran ya ?". Ungkapnya masih menebar senyum manis.


" Iya pacar !!" Jawabku mengejek. Terasa geli ditelinga ku sendiri.


Aku pun pamit pada Heru untuk pergi ke tempat Elli sekalian pergi liburan sambil melihat adik tersayang.


" Jangan nakal ya Pacar". Kata Heru bernasehat.


" Iya pacar. Dah". Aku melambai pada jauh padanya.


*****


Sesampainya aku di tempat Elli. Aku tidur di rumah kontrakan tempat Elli tinggal bersama sahabat nya dari SMK si mungil Sisil . Aku sangat lelah dan tergeletak di ruang keluarga. Baru beberapa hari di sini di tempat Elli, aku belum juga jalan-jalan aku terus berada di rumah sendirian. Aku menunggu Elli untuk libur kuliah tapi hari ke hari dia semakin sibuk.


Aku pun dengan berani berjalan keliling kota sendirian mengandalkan peta dari Gugel mep. Saat ingin mengunjungi tempat aku mengunakan ojek online. Aku sukses menemukan tempat yang indah . Akhirnya bisa menikmati tempat-tempat menarik dan berfoto. Hingga sore, kesialan terjadi aku tidak dapat memesan ojek online lagi di karenakan baterai ponsel ku habis mendadak.


Aku berjalan mencari angkutan umum atau ojek. Meskipun dapat, aku lupa alamat rumah Elli di mana. Aku tidak tahu harus bagimana. Aku duduk di tempat pemberhentian bus bersama calon penumpang lainnya. Sampai malam aku masih duduk, untung saja di sekitarku tidak sepi. Aku juga tidak hafal nomor-nomor orang di ponsel ku, bagaimana aku mau menghubungi mereka?


Selesai isya aku kelaparan, uang yang ku bawa tersisa 25 ribu. Ya sudah aku putuskan untuk membeli makanan saja. Ku berjalan mencari warung makan, tepatnya di pinggir jalan. Alhasil, aku sudah duduk di warung bakso dan makan dengan lahapnya.


" Ayu kan?". Seseorang menghampiri ku.


" Siapa?". Kataku melihatnya.


" Masa gak kenal? Bimo !!". Jawabnya.


" Bimo teman Rehan kah?"


" Iya. Kamu gapain di sini ?". Melontarkan pertanyaan sambil duduk dihadapan ku.


" Aku liburan tapi aku tidak tahu jalan pulang". Jawabku lesu. Rindu rumah ingin tidur, itu saja dalam pikiranku kali ini.


" Emangnya alamat mu dimana?".


" Aku gak tahu, aku lupa. Baterai hpku habis". Menunjukan ponsel didepannya.


" Pake hp ku aja hubungi keluarga mu". Mengacukan ponsel pintarnya padaku.


" Aku gak hafal Bim". Wajah kesekian kalinya ku tekuk.


" Kalau kamu mau habis makan ikut aku. Cas hp mu baru kamu telfon mereka". Jelas Bimo.


" Gak papa kah?". Mengulang dan memastikan kembali.


" Iya gak papa kok".


" Makasih ya. Untung bisa ketemu kamu disini kalau gak . Aku gak bisa pulang-pulang". Tukasku pada sang penyelamat.


Sesudahnya aku makan bersama Bimo. Aku memasuki mobilnya dan menuju hotel tempat dia menginap. Ternyata dia juga ke sini untuk jalan-jalan. Katanya sih, melepas setres akibat Anggi kembali rujuk pada Rehan. Sesampai nya di hotel, aku menumpang cas hp ku di kamarnya. Sambil menyalakan ponsel dan menghubungi Elli.


" Aduh gak di angkat. Gak khawatir kah kakak nya tersesat". Ucapku khawatir tidak bisa pulang.


Saat itu Bimo lagi di kamar mandi. Aku mencoba menelpon Elli lagi dan lagi . Tetap saja tidak di angkatnya. Apa mungkin dia kuliah?. Aku menelpon Silvi. Hasilnya sama saja.


" Kalau ku telfon Heru. Gak mungkin dia angkat pas-". Aku berbicara melihat ponsel ku dan kebetulan panggilan masuk dari Heru.


Aku : Ha-


Aku : Aku tersesat di sini


Heru : Kok bisa. Sekarang di mana?


Aku : Di hotel, ada Bimo di sini bantuin aku.


Heru : Jadi berduaan sama Bimo. Hotel apa?


Aku: Hotel Plaza no-


Heru : Jaga diri mu . Aku takut Bimo ada mau nya dibelakang mu.


Aku: Tapi Ru di-


" Ya Allah di matikan. Padahal mau minta bantu telepon kan Elli". Kataku sendiri berdecak kesal.


" Kenapa ?". Tanya Bimo keluar dari kamar mandi.


Ku lirik Bimo di belakangku " AGHHHHHH". Spontan aku berteriak melihat dia hanya menggunakan handuk.


" Kenapa teriak ?".Tanya nya lagi bernada santai.


" Gak papa. Pake baju sana !".


" Kamu gak mandi?". Tanyanya


" Gak nanti aja kalau sudah pulang".


" Tenang aku gak aneh-aneh. Sana mandi lah . Baju nya sudah aku siapin di depan meja kamar mandi". Jelas Bimo.


" Hah i-iya". Aku menuju kamar mandi. Ku ambil baju yang di berikan Bimo. Baju dress putih di atas lutut seperti nya baju tidur. Aku mandi dengan mengunci kamar mandi rapat-rapat. Tak lama selesai, dan keluar dari kamar mandi dengan terus menggering kan rambutku menggunakan handuk kecil.


" Apa ada yang menelepon ku ?" Kataku pada Bimo


" Gak a-". Wajahnya berpaling melihatku. Seketika itu suara mulai hening.


" Kenapa?". Aku binggung dia menatap ku benggong.


" Gak papa. Tadi Heru menelepon ponselmu "


Aku berjalan mendekati hp ku yang masih di colok cas dan berdiri di sisi Bimo . Aku segera menelepon Heru kembali.


Aku : Ha-


Heru : Kamu di mana sayang?


Aku : Masih di hotel tadi selesai mandi


Heru : Cepat pergi dari sana


Aku : Mak-


" AGHHH !!!". Bimo memelukku dari belakang. Merangkul pinggang ku erat. Rasanya begitu risih.


" Aku ke ingat Anggi memakai baju ini". Pelukannya begitu erat.

__ADS_1


" Bim. Lepasin aku !!". Kataku memegang ponsel dengan panggilan masih terhubung pada Heru.


Heru : Halo.


Aku : Her-


" Aku rindu kamu Anggi !!". Ucap Bimo padaku. Dia mengganggap aku adalah Anggi.


Aku tidak lagi menghiraukan ponselku. Aku berusaha melepaskan pelukan Bimo yang erat dan berusaha terus meskipun tenaga ku tidak sebanding dengannya. Beberapa menit sudah aku mencoba. Pintu kamar Bimo terbuka secara tiba-tiba.


" Heru !!". Kataku melihatnya yang mendobrak habis pintu hotel tersebut.


" Gapain Lo ke sini. Ganggu aja". Ucap Bimo masih memeluk ku.


Heru tidak menjawab. Dia terus berjalan ke arah kami. Heru memukul Bimo, akhirnya pelukan sudah di lepasnya. Aku mencabut ponsel ku dan di tarik oleh Heru keluar dari kamar. Aku kira dia sungguh ingin membantu ku terbayang sifatnya tidak pantas.


" Bisa-bisa nya kamu berduaan sama dia di hotel !". Heru mulai memarahi ku.


" Aku sudah jelasin kan. Dia membantuku ak-". Penjelasan ku terpotong.


" Diam !!!!". Bentak Heru menyeret ku masuk mobil yang entah itu mobil siapa.


Aku mengumpat dalam hati, kenapa bisa dia semarah ini sih?. Heru lagi fokus menyetir mobil. Tak lama sampailah aku di depan rumah kontrakan Elli dan Sisil. Aku membuka pintu mobil namun tidak memandang pria di sisi ku sekarang. Wajahnya dingin seperti tidak mau ku dekatin.


" Tunggu !!". Seru Heru.


" Hemmm". Menoleh ke arahnya. Wajah Heru mendekat semakin dekat lagi padaku.


" Kamu mau gpa-". Tangannya sudah tepat dibelakang leherku. Entah kenapa, aku spontan memejamkan mataku.


" Kenapa matamu tertutup begitu?". Ucap Heru. Mendengar ucapan Heru, ku membuka mataku, terlihat dia sudah berada di posisi semula.


" Hah ?". Memasang wajah binggung.


" Mau aku cium ?". Pertanyaan Heru rasanya membuat jiwa ku malu.


" Gak !!".


" Itu kalung tanda kamu sudah jadi milikku. Aku hanya tinggal melamar mu nanti".


Ternyata Heru memberikan ku sebuah kalung. Aku pikir tadi dia? Ah, kacau rasanya kalau terlalu dekat begini.


" Em makasih !!".


" Masuk sana. Besok kalau mau jalan-jalan sama aku aja". Sekarang suaranya tidak terdengar dingin lagi.


" Kamu gak kerja?". Tanya ku.


Memandangku." Sayang, aku mencoba mengikuti kemauan mu waktu itu. Sekalian aku bisa juga menjaga mu".


" Serius? Makasih ya. Hati-hati di jalan".


*****


Hari ke hari aku menghabiskan liburan ku bersama Heru. Kalau aku terus-menerus menunggu Elli. Yang ada aku terus di rumah menjadi Ibu rumah tangga mereka. Ku nikmati waktu tanpa kerjaan dan memikirkan masalah hati yang tidak jelas.


Semakin ke sini, hati ku semakin kacau saat di dekat Heru. Terkadang aku tidak sanggup dengan tatapan mata nya ke arahku. Masa aku secepat ini menyukai nya apa aku yang terlalu kebawa perasaan aja? Kataku dalam hati. Dasar hati ! Sudah Segede ini, masih saja labil.


" Kok melamun?". Heru menegurku ketika tak sadar aku sedang melamun.


" Em. Gak papa kok !!". Kembali memperhatikan dirinya di hadapanku.


" Mikirin aku ya?". Godanya.


" Pede abisss!!!". Ketusku


" Hahahaha". Suara tawa yang bergema. Lucu juga gak !


" Gak lucu. Oiya, kamu tahu kabar Reina sudah meninggal kah?".


" Em. Bunda cerita kok. Cuma aku gak bisa datang karena kerjaan". Jelasnya santai.


" Saat Gery juga tidak ada. Kamu dimana?". Aku membuka pertanyaan yang selama ini ku simpan.


" Aku kerja sayang". Dia membalas senyum padaku.


" Jadi apa kamu tahu, Putra di mana? Papi dan Mami hampir putus asa kehilangan semuanya". Kataku


" Kalau masalah Putra aku masih belum menemukan petunjuk apa-apa".


" Serius? Kamu gak nyembunyiin apa-apa di belakang ku kan?". Topik pembicaraan mulai serius.


" Ya gak lah. Aku gak bohong sayang". Ujarnya lembut seraya terus senyum.


" Awas bohong. Aku gak tegur kamu !!". Itu ancaman yang ampuh.


Sudah hampir seminggu aku di tempat Elli. Hari ini jadwalku pulang. Sampai detik ini pun Elli masih sibuk. Aku hanya bertemu dia saat malam mau tidur saja. Itu pun dia sibuk mengerjakan tugas nya. Menjadi seorang Dokter memang super sibuk.


Aku pulang bersama Heru. Di dalam pesawat pun aku duduk bersebelahan dengan dia. Kami saling merangkul dan kami foto bersama, untuk mengabadikan momen. Lalu dengan iseng aku meng-upload foto tadi dengan Caption 'Mbeb Kuy'  ku tandai Heru di sosial media nya.


" Ciee". Heru melihat Hp nya . Seperti nya aku mengerti maksud itu.


" Apaan ?". Kataku pura-pura tidak tahu. Gengsi ditambah malu.


Dia mengelus puncak kepalaku. " Gak papa".


Duh, aku merasa aneh saat-saat seperti ini. Dag Dig Dug didalam tubuhku. Kacau tapi nyaman. Apa ini karena Heru terus berada di dekatku saat aku butuh? Bagaimana dengan rasaku pada Putra? Apa sudah menghilang karena Putra juga entah kemana pergi nya?


Aku terus memikirkan kondisi hatiku. Hingga aku tertidur di dekat Heru. Sekitar 3 jam lebih perjalanan pulang . Dengan berdoa di dalam hati, berharap sampai dengan selamat.


" Sayang, kita sudah sampai !". Heru membangunkan ku.


" Oiya? Em. Tas ku mana?". Kataku lalu berdiri.


" Hahahahaha". Tawa Heru memecah seantero pesawat.


Aku lihat sekeliling ku orang-orang memandang ku dan masih di posisi duduk sedangkan Heru malah tertawa tidak jelas ke arahku. Seperti nya ini anak mengerjai ku. Ku duduk kembali dengan aman meskipun di barengi rasa malu, spontan saja aku jewer telinga Heru sekuat mungkin.


" Gak lucu !!!".Ucapku marah.


" Adddddduhhhhhhhhh sa-sakit !!!". Menggaung kesakitan.


" Gak peduli !!!". Ujar ku judes. Sumpah malu, dasar Heru tukang jahil.

__ADS_1


__ADS_2