Diary My Sekolah [S1-S2]

Diary My Sekolah [S1-S2]
Suara Hati Putra : Kelas 2 Cha. 3


__ADS_3

Sebelum semester genap dimulai, kelas 2 mengadakan pembekalan untuk Praktek Kerja Lapangan. Pembekalan umum untuk semua jurusan, 3 hari pembekalan di sekolah untuk menjelaskan tujuan dan lain-lain yang berkaitan dengan PKL.


Saat pembekalan para siswa kelas 1 dan 3 sedang libur semesteran. Kami berkumpul di Gedung sekolah mendengar kan Pemateri dari Guru-guru sekolah yang bersangkutan.


Untuk pembagian tempat PKL sudah di tentukan di awal. Aku satu tempat bersama Bobi di seputaran kota dan tidak tahu kenapa aku malah magang di salah satu usaha Papi sedangkan Ayu PKL di luar kota, aku pasti akan rindu melihatnya.


Hari terakhir pembekalan. Aku ke sekolah menggunakan motor tanpa diketahui Papi, memakai baju praktek sesuai jurusan masing-masing. Baju penjualan berwarna hitam dengan les warna kuning dan di padu  celana panjang hitam. Membawa tas ransel dan buku-buku kosong yang pastinya hanya untuk mengisi tas saja.


Setelah motor ku parkir. Aku, Heru dan Ayu masuk ke sekolah. Aku berangkat bareng mereka berdua yang masing-masing membawa motor. Setelah itu kami masuk ke gedung sekolah bersama dan duduk sesuai Jurusan yang di ambil.


Setelah semua kursi terisi penuh ,acara pembekalan pun dimulai pas pukul 9 pagi. Pagi ini aku duduk berada di dekat para teman kelas ku. Yang memberikan materi adalah para KaJur, sambil menerangkan aku menyimak tiap-tiap kata nya dengan diam barang kali otakku harus ku beri asupan sebentar.


2 jam berlalu, waktunya istirahat di lanjut sekitar jam 11 siang lalu pulang jam 12 pas. Aku, bersama teman ke luar kelas mencari udara segar. Ketika perut mulai lapar, kami pun makan bersama-sama. Selesai makan kami kembali ke sekolah, namun dalam perjalanan di koridor aku menemukan gadisku yang tengah duduk sendirian. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas seperti ini !


" Heiii". Sapa ku memulai, tadi aku sudah pamit bersama teman-teman dan balasan mereka adalah cie.


"Em ". Balas Ayu memainkan ponselnya.


" Jadi kapan kamu berangkat?". Tanya ku lalu duduk di dekatnya.


" 2 Minggu setelah pembekalan ". Ujarnya tanpa melirikku.


Ku curi pandang untuk menoleh ke samping, lagi-lagi masih fokus sendiri. " Lama ya? ".


" Iya ". Jawabnya balik.


" Ngapain sih ?". Rasa ku mulai kesal hingga kening telah mengkerut menjadi satu.


" Nonton ". Jawaban yang di barengi aksi ku merebut ponselnya." Apaan sih? Balikin !!!".


" Enggak !!!". Tuturku masih tidak suka.


" Oh mau melawan ni?". Gertakan nya membuat nyali ku semakin membara.


" Biar !!". Aku berusaha menghindari tangannya yang terus meninggi.


Heru pun datang." Jangan buat anak orang mewek". Sahut Heru.


" Heru, bantuin !!!". Merengek pada Heru.


"Em-mmmm. Balikin hpnya !". Titah Heru berkumandang.


" Alah lemah lu !!!". Kata ku ke Heru.


" HAHHHHHHHH ? Ngajak ribut kah?". balas Heru meninggikan nada suaranya.


" Gak penting !!!". Aku mengembalikan hp nya lalu pergi disusul Heru. Tahu lah, kami selalu berdebat tidak jelas bahkan di saat jalan dan diperhatikan yang lain.


*******


Malam harinya, 2 hari sebelum pemberangkatan PKL aku berniat mengajak dia jalan tapi aku tidak yakin kalau Ayu akan mau.


Putra Setia Agung : Ayu


Stella Ayu Wijaya : Napa Put?


Putra Setia Agung : Jalan yuk !


Stella Ayu Wijaya : Kemana?


Putra Setia Agung : Ya jalan aja, lagian kan kamu mau berangkat.


Stella Ayu Wijaya: Oke oke. Aku siap-siap dulu yaa.


Putra Setia Agung: Hah? Serius ? Oke kalau sudah siap kasih tahu ya nanti aku jemput.


Stella Ayu Wijaya : Iya bos


Putra Setia Agung :  Yang cantik ya.


Stella Ayu Wijaya : Ya aku tahu selama ini aku jelek.


Putra Setia Agung : Enggak kok, enggak . Kamu itu manis.


" Eh, dimatikan ?!". Ucapku melihat ponsel yang sudah tak ada sahutan nya lagi dari sebrang sana.


Aku keluar dari kamar usai bersiap-siap menuruni tangga dan sampailah ke ruang keluarga. Aku disambut orang-orang yang bekerja di rumah.


" Tuan ?". Sapa salah satu bibi didekatku.


" Ada apa,Bi?". Tanyaku sudah di ujung anak tangga.


" Tuan besar tadi pulang sebentar lalu kembali ". Ujarnya menjabarkan sambil menunduk.


" Ya, sudah. Saya mau jalan dulu, kalian makanlah. Jangan enggak !!". Kataku berkacak pinggang dan menekan nada bicaraku.


" Baik, Tuan". Balas Bibi tadi padaku seraya masih menunduk.


Kini langkah kaki ku telah berada di halaman rumah, menemukan mobil yang telah di siapkan. Ketika baru saja masuk ke dalam mobil, aku jadi melupakan sesuatu.


Aku lupa menyusun rencana harus kemana saja aku membawa Ayu, karena ini pertama kalinya dia mau jalan berdua denganku. Aku termenung memikirkan hal ini begitu dalam entah berapa menit aku diam membisu.


Saat asik melamun, ponselku berbunyi menandakan pesan masuk. Ternyata, gadis yang ku tunggu telah bersiap diri untuk ku jemput. Buyar sudah rencana tadi, begitu sia-sia karena aku sangat gembira malam ini.


Ku nyalakan mesin mobil dan melajukan nya ke badan jalan raya, tingkah ku menjadi aneh. Senyam-senyum tidak karuan sambil bersenandung riang didalam. Aku berharap malam indah ini akan berjalan lancar sesuai ekspektasi ku.


Tak butuh waktu lama, aku sudah sampai didepan gerbang rumah Ayu. Setiap pagi aku biasa berhenti disini dengan motorku tapi tidak segugup kali ini, dengan mengucap basmallah aku melangkah masuk perlahan.


" Assalamualaikum". Aku memberi salam dari depan pintu.


" Walaikumsalam". Jawab Ayu yang terlihat sudah menunggu ku.


" Papi?". Aku terkaget-kaget oleh seorang pria yang duduk di salah satu sofa tersebut.


" Kenapa Put?". Jawab Ayu binggung.


" Enggak papa. Kaget saja ada Papi ku disini". Jawabku masih berdiri, bukankah kata Bibi tadi Papi sedang keluar. Aku mengira kembali kerja.


" Jadi kalian saling kenal?". Tanya Papi ku menunjuk kami.


" Duduk dulu". Ayah Ayu menawarkan.


" Iya om". Jawabku lalu duduk didekat Papi dan Ayu duduk didekat Ayah. Malam ini aku tidak bohong, mata ku tidak akan ku biar kan lepas. Pemandangan didepan ini sungguh indah.


" Kakak kenal sama Putra gimana?". Tanya Ayahnya menoleh.


" Kan pelajaran agama sekelas yah, waktu itu kakak sudah cerita kan sama ayah ".


" Oiya ayah lupa ". Jawab Beliau.


" Jadi yang mami cerita sama Papi waktu itu, kamu ya, Nak. Yang ketemu di sekolah?". Tanya papi ku. Memangnya kenapa? Apa mereka saling mengenal sebelumnya? Rasa-rasa ku aneh.


" Iya om". Jawab Ayu mengangguk.


" Papi sudah wawancara nya. Keburu malam". Ceplos ku pada Papi. Sebenarnya penasaran, tapi waktu terus berjalan. Aku tidak bisa diam duduk disini mendengar seluruh ceritanya.


" Betul juga. Kalian jalan lah dulu ya. Hati-hati". Kata Ayah.


" Ya yah". Ayu cium tangan ayah dan Papi ku dengan sopan . Begitu juga sebaliknya aku. Kami lalu keluar dari rumahku sampai di luar gerbang rumah.


" Put, aku lupa helm. Tunggu aku ambil dulu". Katanya melangkah berbalik.


" Ehhhh enggak usah !". Sela ku.


" Kenapa? Kamu bawa cadangan nya kah?".


" Kita naik mobil saja. Kasihan kamu terkena angin malam nanti sakit". Jawabku mengajaknya jalan mendekati mobil yang sudah bertengger sejak tadi.


" Hah? Kamu pikir aku lemah?". Gumam nya sedikit kesal.


" Sudah jangan berdebat. Masuklah !!! ". Aku membukakan pintu mobil.


" Tapi ini mobil siapa? Papi mu kah?". Ayu sambil masuk lalu duduk di depan mobil.


" Sudah deh jangan banyak tanya. Yang jelas ini bukan milik Papi". Cerocosku membatah kalimat pertanyaan nya.


"Gitu saja ngomel. Kita mau kemana sih?".


" Ya jalan, masa iya masak". Omel ku.


" Apaan sih, Put. Jangan hancurin mood deh". Ucapnya .


Obrolan terhenti sejenak,aku masih fokus membawa kemudi mobil dan memperhatikan tiap jalan yang terlewati. Kalau sudah bete nya muncul, Ayu akan diam sepanjang waktu bahkan kepala di arahkan ke jendela bukan lagi lurus ke depan.


" Ngambek ya? Maaf ya. Kamu cantik deh malam ini ". Goda ku padanya agar mengundang dia untuk tersenyum. "Masih marah ya? Aku mau ngomong serius kok !". Kata ku menjabarkan lagi. " Aku mau melamar mu !!!". Spontan ku yang sudah pasti keluar dengan tidak pakai mikir, bod*h !!!


Perkataan itu membuat nya terlalu kaget, mobil ku hentikan dipinggir jalan. Ayu melihat ku, tatapannya seperti serius dan seolah akan mengintimidasi ku. Dia hanya diam membisu. Hatiku merasakan dag dig dug, badanku mendadak kepanasan padahal AC mobil sudah dinyalakan. Entah kenapa, tubuhku refleks semakin dekat dengan wajahnya. Makin dekat dan dekat, dekat hingga hidung kami saling beradu hingga 1 cm saja .


" Hahahahaha bercanda yu". Kembali ke posisiku dan tancap gas lagi.


" Hah?". Kagetnya, mungkin berasa di permainkan. Maaf, aku hanya bertujuan ingin melihat senyuman nya.


" Kenapa?". Tanyanya sambil memandang lurus. Makin terlihat sangat bete. Padahal kan, aku berniat ingin menghiburnya bukan aneh-aneh. Dia hanya diam sepanjang perjalanan, tak butuh waktu lama kini mobil sudah di tempat parkir. " Kita sudah sampai ini !". Mobil berhenti, aku keluar dan membukakan pintu untuknya. " Hati-hati". Tambah ku memberi nasehat kecil.


" Apaan, aku bukan mau berperang". Balasnya sewot.


" Nah gitu dong. Jangan ngambek kan terus !". Aku semakin gemas melihat tingkahnya jadi aku cubit saja kedua pipinya.

__ADS_1


" Sakit. Iya iya ". Jawabnya pasrah dengan permainan kuu. Kami pun memasuki tempat makan seperti cafe. Suasananya tidak begitu ramai, tapi tempatnya cukup nyaman untuk sekedar mengobrol.


" Mau makan apa?". Tanyaku sambil duduk.


" Enggak tahu. Aku ngikut saja deh". Jawab Ayu.


" Ya sudah. Aku pesankan dulu. Kamu tunggu ya !". Pinta ku kemudian beranjak menuju tempat pemesanan makanan.


Jujur, aku sangat-sangat menantikan momen ini, menghabiskan waktu hanya memperhatikan wajahnya begitu dekat. Mungkin makanan kali ini akan enak karena sudah tidak makan sendirian.


Lama aku berdiri menunggu makanan ku siap, dari balik cermin kecil di meja tersebut aku bisa menebak kalau tatapan Ayu sedang mengarah pada ku. Tanpa membalikkan badan juga sudah terlihat di bayangan cermin. Barangkali sedang terpana melihat ke gantengan paripurna ku.


" Ayu !!! ". Pekikku didepannya.


" Iya, kenapa?". Membuyarkan khayalannya yang entah apa.


" Kenapa melamun?". Tanyaku penuh arti.


" Enggak papa". Jawabnya menggeleng kan kepala berulang kali.


" Ini makanannya". Aku menyodorkan benda-benda tersebut ke atas meja.


" Hah,banyak banget?". Aku meletakkan 4 talam di meja yang berisi junk food semua.


" Enggak papa. Kan ini pertama kali nya kamu mau jalan sama aku". Balasku.


" Makasih ya Putra ku". Ayu pun tidak segan-segan mengambil potongan ayam.


Seketika mendengarnya saja bulu kuduk ku naik." Apa? Coba ulangi ?!".


" Apanya? Udah lah makan dulu sayang enggak di makan". Ucapnya mencari alasan, tidak bertanggung jawab malah menyuruh ku makan.


" Kamu mau bikin aku gendut?". Tanyanya masih terdengar kesal.


Ikut makan. " Apaanya ?".


" Makanannya banyak Put !!". Mengeluarkan titah yang sok perhatian.


" Enggak papa lah, kalau gendut kan makin imut pipinya". Cubit ku kedua kali yang sebelumnya terjadi karena kelakuan membuatku gemes.


"Apaan sih". Keluh Ayu risih.


" Hehehe, habis ini temani aku bentar boleh enggak?". Menatap lekat wajahnya, kini dia asik lahapnya makan bersama ku


" Kemana?". Tanyanya.


" Bentar aku angkat telepon dulu ya". Aku berjalan menjauh dari nya, itu panggilan dari Alif dia menyuruhku untuk segera menyusulnya.


" Siapa?". Tanya Ayu penasaran.


" Mereka Alif ngajak aku nongkrong. Temani ya?". Tawarku, mungkin saja dia tidak mau.


" Kalau semua cowok. Enggak ah. Aku risih". Ungkapnya.


" Ada pacarnya juga kok. Ayo!!!". Kini aku  merengek dan menarik-narik tangannya.


" Oke, bentar saja habis itu aku mau pulang ". Jawabnya lagi.


Setelah beberapa jam di perjalan, kemudian sampai lah kami ke tempat tongkrongan yang dibilang Alif. Terlihat dari jauh saja hampir semua pengunjung cowok. Aku mengarahkan Ayu berjalan dibelakang dan masuk ke dalam, hingga bertemu Alif juga yang lain di satu meja. Sekitar lebih dari 5 orang,ceweknya ada 4 termasuk aku.


" Kenapa?". Tanya ku meliriknya, dari raut wajahnya saja sudah menggambarkan tidak betah.


"Enggak apa". Sambil menggeleng kepala.


" Mau minum enggak?". Tanyaku.


" Kenyang, Put". Lirihnya menyentuh bagian perut.


Aku tersenyum jadinya." Ya sudah, pesan saja enggak enak kita datang enggak pesan". Bisik ku agar tidak didengar orang.


" Iya iya ".


" Ini menunya, pilih saja dulu". Ucapku memberikan daftar menu. Cafe ini sudah menjadi langganan setia, jadi aku tidak perlu melihat buku menu karena hafal.


" Put ". Kata Alif.


" Apa?". Sapaku balik.


" Seperti biasa?". Alis yang jingkrak-jingkrak naik mulai kode padaku.


" Yaelah. Tenang saja . Kalian kan teman terbaik ku". Ucap ku dengan bangga.


" Wihhhh, makasih lah Put ". Kata Alif senang, anak itu memang pandai. Dia yang mengajak dan aku yang bayar.


" Sama-sama Bro !". Sahutku.


" Put, aku ini saja deh !". Menunjuk salah satu menu.


Dari kejauhan dia nampak mengobrol kecil dengan temanku,entah tentang apa aku tidak bisa mendengarnya. Seorang Alif memang buaya, tapi aku yakin dia tidak macam-macam bisa dikatakan hanya untuk mengetes Ayu saja.


Aku menghampiri meja tadi kembali. " Woiiii !!! Nikung kah?". Pekik ku lalu duduk di dekatku kembali.


Aku melihatnya kembali, pandangan ku tidak begitu dia perhatikan. Dia terlalu fokus dengan tingkah orang-orang di sekelilingku. Tipenya penakut sama orang asing, tapi galak sama teman. Ketika tangan mendadak spontan menyentuh ku, ada getaran kecil ku rasakan. Apa yang dia takutkan? Kan aku bersama mu sudah berjanji akan menjaga mu sampai pulang.


" Ada apa?". Tanya ku melirik ke arahnya.


"G-ga-gak apa kok". Jawabnya terkesan terbata-bata.


" Takut?". Pikirku.


Menunduk. " Dikit ".


" Aku pasti menjaga mu sampai pulang dengan selamat kok. Tenang saja, ya !!". Nasehat ku padanya.


" Iya. Makasih. Terus mana minumannya?". Tanya Ayu, katanya kenyang malah nagih.


" Bentar, nah itu datang !". Jawab ku menoleh pada seorang pelayan yang hampir mendekat.


2 gelas minuman diletakkan di depanku dan Ayu. Datang lagi pelayan lain membawa makanan yang telah ku pesan untuk semuanya. Namun, meja sudah penuh dengan piring dan gelas kosong, lalu sekarang sudah dibersihkan dan diganti dengan menu yang baru.


" Put, itu makanan siapa?". Tanyanya dengan berbisik pada ku.


" Kamu enggak, aku enggak jadi itu makanan mereka ". Bisik ku berbalas.


" Banyak banget". Ujarnya terheran-heran.


" Biarlah, itu suka-suka mereka. Kamu mau juga kah?". Toleh ku lagi sambil bertanya.


" Sudah sangat full perutku My Put". Ucapan Ayu membuatku salah tingkah, ternyata dia sudah menyiapkan nya.


" Hehehe". Hanya membalas dengan senyum dan tawa karena tidak tahu harus apa ! Tepat jam 9 malam, kami berpamitan pulang.


" Pulang dulu ya". Ucap ku pamitan.


" Cepat banget. Nanti saja !! ". Balas Alif.


" Minum-minum lagi". Ceplos salah satu temannya ku.


Gawat banget mulut mereka. " Ssssttt !!". Kata ku sambil memberi kode untuk diam dan tidak melanjutkan maksudnya.


" Kenapa Put?". Tanya nya menelisik tajam  ke arah ku.


" Enggak apa". Jawabku menyudahi topik yang sangat pribadi.


" Tapi put, yang tadi ingatkan?". Kata Alif.


" Pastilah, tenang saja kali. Kalian kan teman baik ku". Ucapku berdiri dari tempat duduk.


" Wihhh makasih, Put".


" Iya sama-sama. Pamit ya Bro ". Ayu mengikuti ku membayar di kasir. Saat itu aku tengah mengeluarkan kartu ATM yang terpajang di dompet. Aku tidak begitu perhitungan soal duit, asal mereka setia berteman denganku tidak jadi masalah. Setelah semuanya selesai, kami keluar lalu masuk ke dalam mobil.


" Put, apa yang aku pesan tadi mahal ya ?". Tanyanya ketir.


" Kenapa?". Aku berbalik bertanya.


" Maaf enggak sengaja lihat notanya". Ucapnya.


" Enggak apa yu, itu makanan yang mereka pesan aku yang bayar. Maka nya panjang". Jelasku sambil menyetir.


" Kenapa kamu yang bayar?".


" Sebagai teman kan enggak apa. Tiap kali nongkrong juga aku yang bayar". Cerocos ku begitu.


" Itu kamu bayar pakai uang kamu sendiri kah?". Masih menimpali dengan pertanyaan lain.


" Iya My Sauw ". Goda ku padanya. Memang dia saja punya nama panggilan, lucu ya kata itu keluar sendiri dari mulutku.


" Sauw apaan?".


" Stella Ayu Wijaya !!!". Menebar senyum.


" ihhh enggak nyambung". Balasnya menepuk pundak ku.


*******


Keesokan paginya di hari libur, seperti biasa bangun siang menuruni anak tangga untuk sekedar makan pagi meskipun waktu menunjukkan siang hari.

__ADS_1


Nyawa dan roh yang masih berantakan dan mata yang sayup-sayup karena ada secercah rasa kantuk yang tidak tertahankan olehku. Untung saja anak tangga yang ada dirumah telah ku hafal jumlah juga posisinya jadi tidak akan jatuh atau terpeleset.


Mengikuti naluri untuk duduk di kursi ruang makan karena perut hanya diisi tadi malam bersama Ayu dan hari ini aku sangat-sangat kelaparan.


Menarik kursi kemudian duduk di atasnya, melirik sejumlah sajian di atas meja sekali lagi mata ini masih menahan kantuk yang tersisa tanpa sadar aku disuguhi pemandangan tidak lazim yang membuatku kaget.


" Papi?". Ucapku terperangah.


Kedua orang tua ku mendadak aneh, bukankah ini sudah lewat makan pagi? Kenapa mereka masih duduk di ruang makan? Mereka hanya tersenyum kecil melirikku.


" Pagi Tuan, ini sarapannya". Ucap si Bibi meletakkan sepiring nasi goreng serta lauknya.


" Ada apa?". Papi membuka suara sambil mengunyah roti tawar yang di potong kecil bersama telur ceplok.


" Tidak !". Jawabku balik melanjutkan makan ku, mengusahakan perut tidak berbunyi.


Sejenak seluruh aktivitas di ruang makan terdiam lama, aku melahap semua makanan di atas piring dengan cepat. Entah kenapa nafsu makan ku bertambah banyak hari ini, mungkin saja karena suasana hati.


" Bi, buatkan lagi !". Pekik ku menyuruhnya.


Dia pun bergegas mendekat. " Baik". Ujarnya menjawab lalu mengambil piring kosong ku.


" Besok kamu PKL di supermarket milikmu kan?". Kali ini mami berbicara.


Mataku tertuju padanya. " Itu belum milikku, aku belum pantas masih banyak belajar". Jawabku balik.


" Belajar yang banyak tentang usaha Papi jadi akan mudah nanti kamu mengelolanya". Tuturnya sambil beraktivitas makan.


Aku hanya menggunakan bola mata ini untuk melirik mereka bergantian, ujaran tadi belum bisa aku beri jawabannya.


" Perempuan tadi malam, pacarmu?". Ucap Papi lagi.


" Hubungan kami belum sampai disitu sekarang masih berteman baik". Imbuhku santai.


" Mami yakin dia perempuan yang baik kamu harus menjaganya". Komentar Mami.


Lagi-lagi perkataan mereka tidak aku jawab dengan baik, hanya anggukan kepala cukup mewakili jawabanku. Tak lama, makanan jilid dua telah tiba dihadapan. Segera aku lahap sebelum keadaan nasinya menjadi dingin.


" Makan yang banyak, kami mau istirahat dulu di kamar". Tutur Mami mengelus pundak ku.


Keduanya kini berjalan meninggalkan ruang makan, aku mengira mereka akan pergi karena masih menggunakan baju kerja dan ternyata aku salah. Apa setidaknya tadi aku mengobrol dengan santai saja kenapa aku menjawabnya jutek? Ah, serba salah !


Aku menikmati hari liburku dirumah saja karena lagi malas untuk keluar sekedar bermain bersama teman. Aku berguling-guling di kasur bermain ponsel.


********


Hari pertama PKL~


Apa ya yang bagus dari cerita PKL ku? Sedangkan aku bekerja di supermarket besar dengan berbagai sifat karyawan disana. Mungkin menurutku yang PKL di bagian kantor akan mengikuti upacara Senin setiap paginya, bagiku tidak disini hanya masuk seperti biasa dan briefing sebelum akhirnya mulai bekerja.


Hari ini aku cukup berinteraksi dengan baik di bagian penempatan ku, mereka baik dan juga ramah. Dan sebenarnya namaku telah tertera di surat pemilikan namun entah kenapa mereka tidak mengira itu adalah aku walaupun namanya sama. Setelah dipikir-pikir, lebih baik begini aku bisa berbaur dengan yang lainnya.


Sepulangnya aku benar-benar kelelahan tidak melepas baju seragam putih hitamku dan langsung merebahkan diri di ranjang. Tubuhku rasanya remuk.


Singkat cerita, waktu sudah tiga Minggu aku bekerja berseragam putih hitam. Kini aku berangkat pagi-pagi dengan semangat membara. Sesampainya aku disana, sang manajer baru itu menyuruhku untuk pindah di bagian gudang.


" Baik, Pak !". Jawabku tegas.


Pekerjaan dimulai, bagian gudang hanya satu wanita yang kerjaannya duduk bermain ponsel dengan dihadapkan buku laporan. Sedangkan sebagiannya adalah laki-laki seperti ku.


" Kak, dia lagi apa?". Tanyaku berbisik pada salah satu pegawai.


Melirik. " Kerjaannya cuma mengawas dan melayangkan perintah. Coba saja kamu lihat nanti". Ujarnya berbisik juga.


Dan benar setelah ada pegawai meminta pengambilan barang, perempuan itu mendekati kami dengan gaya nya bagaikan bos.


" Ini daftarnya, kalian bawa ke lantai bawah. Buruan, ada pelanggan yang mencarinya. Stok barang dibawah sudah habis !!". Katanya bernada tinggi.


Salah satu pria dibelakang ku mengambil kertas tersebut dan membacanya. " Oke !". Jawabnya tanpa melirik.


" Buruan !!! Suruh anak PKL itu juga mengangkat nya. Dia di gaji disini jangan berdiam saja". Ungkapnya sewot dengan bola mata berputar dan tubuh pun ikut beranjak.


" Begitulah kerjanya !". Bisik si pria tadi, dia nampak masih muda mungkin sekitar 20an lebih umurnya.


" Apa bos kalian tahu tentang sikap tidak baik begitu?". Tanyaku mengikuti pria mencari stok barang di dalam gudang.


" Itu barangnya ambil yang rasa balado". Memintaku mengambil kardus yang di maksud. " Bos disini tidak pernah terlihat wajahnya. Jadi bagaimana dia tahu? Ini hanya sebagian, kamu belum lihat sifat para staf lainnya".


Aku meletakkan di ujung kakinya. " Yang lain? Memangnya kenapa?". Tanyaku penasaran.


Dia pun mengambil barang didekatnya dan menumpukan nya pada kardus tadi. " Ya gitulah, disini siapapun yang jabatannya tinggi dia akan terus memberi perintah meskipun hal konyol". Jawabnya padaku.


Sambil mengobrol sambil juga kami bekerja dan kini aku telah menuruni tangga menunggu barang muncul di lift barang kemudian mengangkatnya menuju lorong si pengaju tadi.


Begitulah pekerjaan ku sehari-hari. Perintah dilayangkan setiap waktu dan mengangkat barang secara bergantian, memang melelahkan hingga punggung belakang ku terasa sakit.


Ketika jam istirahat di mulai, aku bersama teman-teman gudang yang laki-laki makan bersama disana. Tidak ada percakapan, mereka melahap makanan begitu seleranya. Sekilas memang kasihan, keringat bercucuran tanpa henti dan mungkin tidak sempat di bersihkan.


Ruangan ini tidak ada AC nya, beda dengan lantai bawah maka dari itu mereka kepanasan dan kipas disini pun bisa aku hitung.


" Kakak enggak berniat meminta AC di ruangan ini?". Tanyaku.


" Jangan mimpi". Dia menjeda untuk meneguk air di botol minumnya. " Ini gudang cuma tempat penyimpanan barang, kalau pake AC jadi boros ini bukan kantor". Ujarnya.


" Ya juga sih ". Jawabku menimang-nimang pikiran.


Aku lirik ponselku didalam saku yang telah ku ambil ada rasa rindu kembali menghujani relung hatiku. Fotonya masih saja menjadi wallpaper ponselku, rasanya aku tidak mau menganti nya dengan foto lain agar aku semangat untuk 3 bulan disini tanpa dia.


" Pacarmu?". Tanya laki-laki yang ku panggil kak.


" Bukan !". Jawabku sedikit tersenyum.


" Cinta monyet itu memang indah, tapi coba deh nanti sudah merasakan cinta sungguhan lebih dari kata indah dan juga tanggungjawab yang dipikul semakin besar bukan hanya setia doang". Selanya seperti curhat padaku.


" Curhat !". Celetukku membuatnya tertawa.


Sebelum waktu istirahat habis, aku memencet tombol telepon hijau di nomor Ayu dan meletakkan ponsel dekat dengan telinga ku, nada sambung belum juga terhubung mungkin dia sibuk bekerja.


" Ayok-ayok !!! Kembali bekerja". Seru si perempuan galak tersebut sambil menepuk tangannya agar kami segera bergerak mengakhiri makan siang.


" Tapi, Bu. Ada yang belum menghabiskan makanannya?". Ucapku.


" Ya sudah makanlah sampai habis, sekalian piring nya dimakan". Kata-kata nya begitu menyindir.


" Santai,Bu. Jangan sewot gitu. Biarkan dulu mereka makan, tenaga mereka cukup terkuras sejak pagi". Kataku membela.


Dia berdecih. " Mereka? Bilang saja itu kamu yang mau makan, dasar bocah !! Kerja sana". Sindirnya memberi perintah.


Entah kenapa aku tersulut emosi dengan ucapannya, apakah karena dia menyalahkan jabatan untuk berkuasa di tempat ini? Untung saja dia perempuan kalau tidak aku pasti akan membuatnya babak belur.


" Sudahlah, kami tidak apa !". Ucap laki-laki tadi menahan langkahku.


" Nyali mu berani sekali padaku, akan ku laporkan pada kepala bagian !". Ocehnya meninggalkan kami dengan wajah tidak bersahabat.


" Lapor saja !!! Aku akan memecat mu !!!". Pekik ku berseru keras, sebenarnya sudah tidak tahan dengan tingkah perempuan aneh seperti dia.


" Putra diamlah, kita kembali kerja saja. Jangan di ambil hati, kami sudah biasa seperti itu". Menasehati ku .


Amarahnya tidak sampai disitu, aku betul-betul di siksa perempuan tadi. Entah kenapa aku merasa begitu disiksa dengan perintah nya. Jelas-jelas pekerjaan ku belum selesai, masih saja memberikan tugas yang bertubi-tubi.


Tenang, emosiku masih bisa ditahan dengan baik menahan segala amarah yang kian membara dan mendidih. Jam terus berlanjut dan bergerak semestinya dan aku yang kelelahan masih saja berusaha sanggup menuruti perintahnya.


Pukul makan malam telah tiba, kini bagian ku makan malam dengan berbaris rapi kami mengambil prasmanan di depan, kebetulan barisan ku paling terakhir.


" Eh?". Aku mengerjap kaget melihat makanan didepan. " Daging dan ayamnya?". Tanyaku pada pelayan yang berjaga.


" Maaf sudah habis hanya ada sayur, sambal dan nasi". Jawabnya.


" Kok gitu?". Masih terheran sedangkan yang lain mendapat bagian.


" Maafkan kami". Ujarnya memberikan piringku.


Aku menghela nafas berat. " Baiklah, terima kasih !".


Aku berjalan beberapa langkah sambil melihat lauk yang masih kosong, sebenarnya aku lapar andai ada bibi disini pasti akan memasakkan banyak makanan enak.


" Putra !!". Seru seseorang membuatku mencari keberadaan tersebut. " Kemari ! Kita makan disini saja". Dia melambaikan tangan.


Dengan melukis senyuman, aku berjalan mendekati dan duduk berhadapan dengannya. Kali ini kami tidak makan di gudang dan memang seharusnya makan di ruang makan bukan?


" Duduklah". Titahnya. Aku pun langsung duduk dan melahap makanan. " Ini, anak muda harus makan yang banyak agar bisa mengubah negara ini !". Gerutunya.


Aku menoleh pada sepotong ayam juga daging besar. " Tapi ini punya?".


" Tidak masalah, sejak tadi kamu kerja lebih keras dari kami". Ucapnya sambil tersenyum. " Semoga dewasa nanti kamu jadi orang sukses ". Doanya membuat aktivitas makan ku terhenti.


" Em, apa kakak sudah memiliki keluarga?". Tanyaku.


Dia melirik. " Sudah, anak sudah tiga". Jawabnya.


Mataku terbelalak. " Eh, enggak kelihatan seperti bapak-bapak. Tapi maaf, apa gaji di sini cukup menghidupkan keluarga?".


" Cukup kok, istri juga bekerja disini". Celetuk nya sambil menyuap makanan.


" Siapa?".


" Bagian dibawah".

__ADS_1


" Apa tidak keberatan kerja seperti ini, kenapa enggak minta naik jabatan? Saya dengar kakak sudah lama bekerja disini?". Tanyaku semakin penasaran.


Dia terlihat senyum lagi, seperti tidak ada beban. " Tidak perlu, cukup kerja halal kalau bisa istri saya saja di naikan jabatannya. Setiap malam kalau pulang pasti kelelahan". Ceritanya padaku.


__ADS_2