Diary My Sekolah [S1-S2]

Diary My Sekolah [S1-S2]
30. Hilang


__ADS_3

Malamnya aku sudah di dalam mobil menuju rumah Rehan. Sesampainya di sana memasuki pesta seorang diri. Mencicipi makan dan minuman lalu bertemu Anggi dan Rehan. Mengobrol biasa, ku lirik ternyata disini banyak pria ganteng.


Kambuh penyakit saat SMK, yang ganteng saja terus di kejar hasilnya nihil. Aku mencoba mencari orang yang ku kenal dengan membawa segelas minuman. Melewati kerumunan orang.


Terlihat dari jauh di sebelah kanan ku, ada Putra dan Reina . Aku mundur dan berjalan ke sebelah kiri. Dari jauh sudah kelihatan ada Heru di sana berbincang dengan para tamu. Hanya aku yang merasa sendiri. Akhirnya aku pulang sebelum pesta di selesai.


Hari berlalu dan masa liburan sudah selesai. Aku masuk ke sekolah seperti biasa dan mengajar. Hari pertama, aku baru saja duduk di kursi ku selesai mengajar. Siswi lain ke ruangan ku.


" Permisi Bu. Bu Gery memukul anak kelas 2 pienjualan Bu".


" Ya sudah Ibu ke sana ".


Berjalan cepat, sampailah aku di kelas 2 KP . Melihat Gery di sana. Kursi berantakan di mana-mana.


" Gery !!!!". Panggil ku dia pun menghentikan tingkahnya.


" Sial !!!". Ucap Gery melihatku.


" Kalian ke ruang Ibu !!!". Kataku.


Berjalan di susul Gery dan Agil juga siswa kelas 2, Indra bersama temannya Alan. Ku suruh mereka duduk di ruangan ku.


" Jelaskan kenapa kelahi?". Kataku lantang memegang rotan.


" Dia duluan Bu". Ucap Indra menunjuk Gery.


" Bohong mu. Dia duluan". Balas Gery ke Indra.


" Yang betul !!". Ucapku.


" Saya mengejeknya Bu". Ucap Indra tertunduk.


" Dia mengejek saya Bu. Jadi saya tidak terima !!". Gery.


" Kalian itu sudah besar. Sudah tahu kan karena mulut badan binasa ?"m Kataku memarahi mereka berempat.


" Tahu Bu !!!!!".


" Indra !!! Minta maaf sekarang ".


Indra meminta maaf pada Gery dan Agil. Aku menasehati mereka lagi lalu meminta mereka kembali ke kelas masing-masing. Tapi, Gery masih enggan ke kelas nya.


" Gery kamu kenapa?".


" Malas ke kelas Bu ".


" Kenapa? Gak mau belajar lagi?".


" Bukan Bu !!".


" Jadi?".


" Saya terus di bilang anak tidak jelas dan segala macamnya. Sampai bawa-bawa orang tua saya ".


" Em. Begini. Kamu harus kuat, jangan mau terkecoh sama omongan orang. Hidup mu ya hidup mu. Mereka tidak tahu sebenarnya apa yang kamu jalani tiap waktu ".


" Bu. Saya binggung !!! Rasanya pengen tinggal dirumah sendiri tanpa orang tua".


" Kok gitu? Banyak loh di luar sana pengen punya orang tua".


" Tapi mereka tidak layak jadi orang tua !!".


" Bagaimana pun, Reina tetap Ibu yang melahirkan Mu. Dan Putra tetap lah Ayah mu sekarang ".


"......"


" Buktikan dengan sekolah yang benar, setelah dewasa kamu bebas mau tinggal sama siapa. Tapi tetap berbakti sama mereka".


" Bu. Saya ingin menjadi Dokter ".


" Iya. Maka dari itu kamu harus rajin belajar jangan nakal terus ! Masuk Dokter gak gampang ".


" Ya Bu !".


" Semangat ya". Ucapku senyum.


" Baik Bu. Saya ke kelas dulu". Pamitnya meninggalkan ruangan ku.


*****


Beberapa bulan kemudian. Aku mendengar kabar dari guru-guru kalau Gery sudah tidak masuk sekolah. Aku mencoba menanyakan pada Agil, yang dekat dengannya tapi, Agil tidak mengetahui Gery dimana bahkan tidak bisa di hubungi nomornya. Di jam istirahat aku mencoba menelepon Mami, siapa tahu Beliau tahu Gery.


Aku: Assalamualaikum Mi


Mami Putra: Walaikumsalam. Ya kenapa?


Aku: Mami tahu gak Gery dimana. Sudah jarang masuk sekolah.


Mami Putra: Mami sekarang gak di rumah. Tinggal bersama Papi di luar kota.


Aku: Jadi Mami gak tahu ya?

__ADS_1


Mami Putra: Mami gak tahu. Nanti mami coba hubungi rumah ya.


Beberapa menit Mami kembali menelpon ku.


Aku: Ya Mi


Mami Putra: Kata Bibi di rumah, Gery tidak di rumah sudah hampir 3 Minggu?


Aku: Putra dan Reina kemana?


Mami Putra: Mereka kerja.


Aku: Ya lah Mi, nanti ayu coba cari.


Mami Putra: Nanti Mami coba kasih tahu Papi biar bisa bantu kamu.


Aku menceritakan ke Wali kelas Gery Mahesa agar meringankan hukumannya. Aku khawatir kalau dia melarikan diri dari rumah dan tinggal di jalan. Setelah memohon terus ke Wali kelas nya. Akhirnya, Beliau mau menuruti ke inginanku. Pulang kerja aku bergegas mandi dan bersiap-siap.


" kakak mau kemana?".


" Nyari Gery !!".


" Gery kenapa?".


" Dia lari dari rumah ".


" Hah? Adek ikut !!".


" Lah bukannya tadi mau jalan ?".


" Gak jadi. Adek ikut kakak aja !!".


" Ya sudah ayok cepat".


Sore hingga malam masih berkeliling mencari Gery, aku mencoba menghubungi Putra dan Reina tetap tidak bisa. Menelpon rumah yang mengangkat telpon cuma pelayan di rumah. Turun dari mobil, mencoba bertanya pada orang-orang sekitar. Menunjukkan foto Gery , namun tidak ada yang melihat bahkan tidak kenal.


" Kak kemana lagi harus kita cari dia?". Tanya Elli.


" Kakak gak tahu !! Masa kita telepon polisi? Kakak sudah janji tidak membuat nama sekolah tercemar !!". Ucapku pada Elli.


" Coba kita cari di hotel atau penginapan !!".


" Em . Ayok !!".


Masih mencari, keluar masuk hotel atau penginapan sekitar kota. Aku dan Elli berpisah, sudah berjam-jam mencari masih belum ketemu. Hampir jam 10 malam, perut kami terasa sekali laparnya. Aku membawa Elli makan di warung pinggir jalan sambil memikirkan esok mencari Gery. Telepon ku pun berbunyi.


Papi Putra: Bagaimana Gery sudah ketemu?


Papi Putra : Papi lapor polisi aja biar bantu kamu nyari.


Aku: Pi, jangan pake mereka. Nanti kesannya lain. Nama sekolah nanti jelek, saya di marahi.


Papi Putra: Terus kamu mau nyari gimana nak?.


Aku: Masih usaha Pi. Pasti ketemu nanti.


Papi Putra: Papi coba nyuruh orang mencari Gery, sekalian bantu kamu.


Aku: Iya Pi. Tolong ya, ayu hanya di kasih 3 hari mencarinya. Kalau gak Gery di keluarkan dari sekolah.


"HAHHHH !!!". ucap Elli kaget.


"Sssstttt.... ". Kataku pada Elli.


Papi Putra: Ya sudah kalian pulang saja dulu. Sudah malam.


Aku: Iya Pi. Wassalamu'alaikum.


Papi Putra: Walaikumsalam.


Esok pulang kerja, aku kembali bersiap bersama Agil dan Elli. Mereka ingin membantu ku mencari Gery. Papi juga sudah menyuruh orang-orang suruhannya mencari Gery. Sial, hari ini hingga Malam kami tidak menemukan petunjuk apapun. Aku semakin khawatir. Parahnya lagi, Putra dan Reina sama sekali tidak peduli dengan anak mereka .


Aku sudah melewati batas yang diberikan padaku. Sudah hampir seminggu lebih aku tidak menemukan apa-apa. Orang-orang suruhan Papi sudah tidak mau mencari nya. Aku masih tetap masih mencari Gery hingga aku ijin keluar kota tetap tidak ketemu. Kembali ke kota ku mencari Gery, siapa tahu ketemu.


" Ya Allah, Gery kamu di mana". Aku berbicara sendiri di dalam mobil.


Telepon ku berbunyi.


xxxxxx: Hallo


Aku: Ya Hallo.


xxxxx: Dengan Ayu ?


Aku: Iya ini siapa?


xxxx: Gini, saya sudah tahu Gery dimana.


Aku: Dimana Pak. Saya segera ke sana.


xxxx: Saya tunggu di dekat jembatan Biru.

__ADS_1


Pukul 9 malam aku menuju jembatan Biru sendirian membawa mobil, jembatan yang berwarna biru putih menghubungkan antar beberapa desa atau kampung. Jauh dari kota, butuh beberapa menit menuju ke sana. Dengan jalanan yang tidak mulus. Dan penerangan minim.


Tak lama mobilku sudah hampir sampai jembatan, terlihat banyak orang dan tim penyelamat. Aku segera masuk ke kerumunan orang mulai mencari orang yang menelpon ku bahkan nama saja aku tidak tahu. Aku sudah sampai di tepi jembatan seseorang mencolek ku. Aku berbalik, orang itu berkata kalau Gery telah tiada.


Terlihat Baju merah dan tas berisi kartu pelajarnya hanyut ke sungai. Aku tidak percaya hingga aku benar melihat mayatnya di bawa tim ke darat. Aku tidak begitu mengenal mayat tersebut, dikarena kan sudah membusuk dan bagian tubuhnya menggembung. Tak kuasa aku menahan tangisan ku, meskipun dia bukan anakku tapi Gery anak didik ku di sekolah.


Sedih saat mayat itu hendak di bawa ke rumah duka. Aku tak sanggup menemani nya di dalam mobil ambulans. Aku mengendarai mobilku sambil mengikuti arah ambulans ke rumah sakit. Air mata tak henti keluar. Aku mencoba mengirim pesan ke Putra.


Aku: Setega ini kah kamu sebagai ayah sambungnya. Gery sekarang sudah tidak ada lagi.


Putra: Maaf aku sibuk.


" Aku baru menemukan sosok Ayah seperti ini, mementingkan harta dari pada anak". Omelku. Aku menelpon Papi.


Aku: Pi


Papi Putra: Iya. Apa kamu nangis ?


Aku: Em


Papi Putra: Kenapa? Oiya kabar Gery gimana maaf orang yang Papi suruh terlalu ribet.


Aku: Gak papa Pi. Bisakah Papi sama Mami pulang malam ini?.


Papi Putra: Kenapa sayang?


Aku: Putra tidak peduli dengan Gery lagi. Bahkan Gery sudah tidak ada dia masih sibuk kerja.


Papi Putra:  Maksudnya Gery gak ada gimana ?.


Aku: Gery ditemukan hanyut di sungai Pi


Papi Putra : Ya Allah. Kenapa bisa? Papi sama Mami akan ke sana.


Aku: Ya Pi. Mayat nya di bawa ke rumah Papi.


Aku menuju rumah Putra, duduk menunggu Papi tiba entah sudah berapa jam aku terjaga. Akhirnya Papi dan Mami sampai dengan raut wajah sangat terpukul dan sedih. Papi mencoba menghubungi Reina dan Putra tapi tiba-tiba saja nomor mereka tidak aktif lagi.


Karena esok hari aku mengajar, aku di minta pulang untuk istirahat. Sudah pukul 1 malam mataku terjaga. Aku pulang meninggalkan Papi dan Mami di sana. Sampai di rumah kondisi sepi mungkin saja tertidur. Aku masuk ke kamar ku. Ternyata Elli tidur di tempatku.


Kalau dia tahu kabar Gery, bagaimana kah reaksi nya? Pikirku. Aku pun tertidur di sampingnya. Pagi aku menyuruh Elli bersiap ke sekolah. Sarapan lalu turun seperti biasa. Pagi itu aku bertemu wali kelas Gery dan menceritakannya.


Rapat dadakan jam 9 karena menunggu kepala sekolah tiba. Untuk membicarakan siswa nya yang telah hilang dan ditemukan meninggal dunia. Keputusan pun bulat, semua siswa di kumpul kan di lapangan secara tiba-tiba. Di wakilkan Guru Agama memanjatkan doa bersama untuk Gery di alam sana.


Khusyuk nya aku berdoa hingga menangis, apalagi Elli terlihat dia di barisan depan begitu menangis kehilangan Gery. Aku berharap Elli tetap semangat sekolah. Selesai berdoa bersama siswa di kembalikan ke kelas seperti biasa. Aku mendapat telepon dari Papi. Kalau diduga Gery sudah meninggal sekitar seminggu yang lalu dan bunuh diri. Akan dikuburkan sebelum Dzuhur.


Aku meminta ijin kepada wali kelas Gery untuk membawa siswa di kelasnya berkunjung. Aku di ijinkan dan wali kelasnya pun ikut serta. Tampak Agil seperti tidak percaya kalau sahabat nya telah tiada. Kami ke rumah Papi dengan menggunakan 1 mobil dan ada yang menggunakan motor sendiri.


Sesampainya disana, Gery telah terbaring di tengah ruang. Mami dan Papi sangat tegar tetap duduk membacakan doa. Banyak orang berdatangan. Kami duduk dan membaca doa bersama. Tidak ada Reina tidak ada Putra hingga detik ini. Entahlah, aku tidak bisa menghubungi mereka. Andai aku tahu kantornya . Pasti akan ku seret mereka ke sini secara paksa.


Selesai itu sekitar jam 11 siang kami turut mengantar kan Alm. Gery ke liang lahat nya. Disitulah Agil, Mami dan Papi pecah suara tangis mereka. Aku pun tak kuasa menahannya. Anak ini tidak salah apa-apa, kenapa begitu cepat ingin mengakhiri hidupnya.


Selesai sudah acara pemakaman Alm.Gery Mahesa. Aku membawa kembali siswa ke sekolah dan mereka belajar seperti biasa. Aku mencoba berkunjung ke kelas Elli. Tapi Elli tidak ada di sana. Kata temannya dia di UKS, aku melihat kondisinya seperti shock. Aku menasehati nya, aku memberi semangat untuk nya.


******


Beberapa hari kepergian Gery. Aku diminta kerumah malam hari. Ternyata kondisi rumah lagi runyam dan heboh. Terlihat Papi sangat emosi dan menampar Putra dan Reina di depan mataku saat aku baru saja masuk ke dalam rumah.


" Pi. Tenanglah !!". Ucapku.


" Bagaimana mau tenang, Papi tidak pernah mengajarkan kamu sedingin ini dan tidak peduli secuil pun sama anak sendiri!!".


" Pi. Sudah lah tenang !!".


Putra dan Reina berdiri di depan Papi tertunduk diam. Mereka rela di tampar bahkan di marah habis-habisan.


" Mulai detik ini jangan kerja lagi di perusahaan Papi. Pergi jangan bawa fasilitas apa-apa". Usir Papi.


Entah Mami dimana mungkin saja di kamar. Aku terus berusaha menyabarkan Papi tetap saja papi terbawa emosi nya atas kepergian cucunya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, Papi begitu memaksa mereka. Reina pun memohon di kaki Papi.


" Pi. Kami mohon jangan Pi !!".


Putra memberikan ATM, kunci mobil, Rumah dan segala macamnya dan memberikan seluruh isi Tas Reina kepada Papi lalu mereka pergi dari rumah.


" Pi, mereka pergi Pi. Mami nanti sedih". Ucapku.


" Gak usah pedulikan mereka yang tidak punya hati. Kalau kamu tidak terima, silahkan pergi !!!". Kata Papi meninggalkan ku.


Aku pergi dari situ agar Papi tenang. Aku masuk ke mobil dan menuju rumah. Masuk kamar lalu tidur.


" Ini di mana?". Ucapku melihat seluruh alam putih .


Putih kosong tidak ada apa-apa. Ku lirik ke depan nan jauh di sana, melihat sosok seperti Gery Mahesa saat dewasa. Melihat ke arahku dan tersenyum. Memakai baju jas putih, seperti jas seorang Dokter.


Aku teringat dia pernah bilang pada ku, kalau dia sangat ingin menjadi dokter besar nanti. Sekarang dia telah tiada, aku berdoa semoga kamu di sana tenang dan bahagia Gery. Sebentar senyum padaku lalu menghilang entah kemana. Dia bahkan tidak pamit padaku.


" Kak bangun. Sudah pagi !!".


Aku terbangun. " Em ".


" Ayok kak kita ke sekolah !". Ucap Elli yang sudah siap memakai baju seragam sekolah

__ADS_1


" Tunggu. Mandi dulu dek". Kataku buru-buru ke kamar mandi.


__ADS_2