Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)

Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)
Menyukainya


__ADS_3

Namanya Aldo. Pegawai toko ku yang paling tekun dan rajin bekerja, akhir-akhir ini aku selalu memperhatikannya.


Aku juga sangat menyukai caranya bicara, sangat ramah dan sopan. Pernah suatu hari aku melihatnya memberikan bekal makannya kepada seorang pemulung di jalan. Ah…. Hatiku sangat tersentuh melihat sikap baik dan suka menolongnya. Aku kagum padanya.


Namun lama-kelamaan rasa kagum ini berubah menjadi rasa suka padanya. Ingin sekali aku mengatakan kalau aku menyukainya, tapi bagaimana cara mengatakannya. Aku sadar aku adalah seorang wanita, bagaimana bisa aku mengakui perasaan duluan. Jujur aku gengsi.


Hari ini aku memanggilnya masuk kedalam ruangan kerja ku di toko. Terlihat Aldo tampak bingung, mungkin dia bingung karena berfikir kenapa aku memanggilnya kesini.


"Aldo, saya memanggil kamu kesini untuk memberikan kamu tugas. Tolong kamu beli peralatan yang saya tulis di kertas ini."


Tapi bohong….


Aku memanggilnya keruangan ku hanya ingin melihatnya dari dekat. Sebenarnya peralatan elektronik yang kutulis ini sudah aku beli kemarin, dan aku hanya membuat alasan agar bisa ngobrol dan melihatnya dari dekat.


"Baik, bu."


Hah, aku merasa sangat tua saat dia memanggilku dengan sebutan "Bu". Apakah aku terlihat tua dimatanya.


Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak mungkinkan memaksanya untuk memanggil dengan menyebut nama aku saja.


"Yasudah kamu boleh keluar." Kata ku sok berbicara dengan elegan.


"Tapi, bu."


"Tapi kenapa?"


Dia malah terlihat mengusap tekuknya. "Eeemmm, Ibu belum memberikan uangnya pada saya." Katanya dengan sedikit gugup.


"Oh, ini uangnya." Aku langsung saja memberikan uangnya.


Pesona mu itu membuat aku menjadi tidak fokus tau, aku jadi malu sekarang.


"Saya permisi, bu." Dia pun berlalu keluar dari ruangan ku.


Huaaa…. Rasanya aku ingin menceburkan diriku ke lautan dalam, bagaimana bisa aku menjadi tidak fokus begini saat ada didekatnya. Padahal aku kan bosnya, seharusnya dia yang gugup saat bertemu dengan ku, bukan malah sebaliknya.


Hari sudah mulai sore, aku pun mulai membereskan ruang kerja ku. Aku bersiap untuk pulang.


Namun saat akan keluar dari toko, aku melihat Aldo sedang melayani pembeli. Lihatlah aura ketampanannya itu, benar-benar sangat terpancar.


Lama aku melamun seperti ini, hingga aku tersadar saat pegawai lain mengapa ku. "Sore, nyonya."


"Oh iya. Eeemmm, Andin tolong kamu kirimkan laporan keuangan toko. Kamu kirim lewat email saja ya, saya mau hari ini kamu mengirim laporannya."


"Siap, nyonya. Kalau begitu saya permisi." Berlalu pergi.


Setelah bicara dengan pegawai ku, aku langsung mengarahkan pandangan ku pada Aldo yang masih melayani pembeli.


Saat pembeli itu pergi dengan membawa barang yang dia beli, aku pun langsung menghampiri Aldo.

__ADS_1


"Aldo." Panggil ku.


"Iya, bu." Menunduk sopan.


"Tolong jangan panggil aku bu, karena aku masih muda. Kamu bisa memanggilku nyonya seperti pegawai lain."


"Oh, baik nyonya." Menunduk sopan lagi.


"Bagaimana dengan barang-barang yang saya suruh beli?"


"Saya sudah membeli bu, eh maksudnya nyonya. Dan barang-barangnya pun sudah datang sejam yang lalu." Jelasnya.


"Bagus. Kalau begitu saya pulang duluan, ya. Kalau pekerjaan mu sudah selesai hari ini, langsung saja tutup tokonya."


"Siap, nyonya."


Aku langsung menuju ke parkiran untuk mengambil mobil ku. Tapi tiba-tiba aku dihadang oleh seseorang. Dan ternyata orang itu adalah sahabat baikku Kanaya.


"Hayo, mau kemana bos cantik." Serunya sambil tertawa.


"Kamu ini mengagetkan aku saja. Tentu saja aku mau mengambil mobil ku."


"Besok kita jalan, yuk." Ajaknya.


"Memangnya mau jalan kemana?"


Aku jadi sedih mendengar kalau sahabat ku ini akan pergi lama ke luar kota, jadi aku dan dia akan lama tidak bertemu.


"Benarkah? Aku pasti akan sangat merindukanmu Kanaya."


"Ya sudahlah, jangan sedih sekarang dulu. Kan dua hari lagi aku akan perginya, sedihnya nanti-nanti saja." Tertawa.


Sahabatku ini memang humoris, dan pandai sekali mencairkan suasana.


"Oh iya, kamu mau apa kemari? Apa hanya ingin menyampaikan ini saja?"


"Iya aku hanya ingin menyampaikan ini saja, sebenarnya aku sudah mengirim mu pesan. Tapi hp mu itu tidak aktif ya?" Katanya.


"Iya aku lupa, hp ku dari siang lowbat dan aku lupa membawa charger hp ku."


Kanaya menggelengkan kepalanya. " Kamu ini benar-benar ceroboh. Bagaimana kalau nanti ada kepentingan mendadak saat hp mu sedang lowbat." Omelnya.


"Iya iya, maaf ya. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Hehehe."


"Yasudah, aku pamit pulang dulu." Memelukku.


"Ok, aku juga mau pulang."


***

__ADS_1


Di rumah, setelah selesai mandi dan berganti pakaian. Aku langsung masuk keruang kerja ku, lalu memeriksa email dari pegawai ku.


Selesai memeriksa hasil laporan dari pegawai ku, aku langsung menghidupkan hp ku yang sedang di charger. Saat ku periksa banyak sekali pesan masuk dan panggilan tak terjawab, mulai dari klien, teman-teman, Kanaya, dan orang tuaku.


Aku langsung menghubungi kembali orang tuaku.


"Halo." Suara Ibu diseberang sana.


"Halo, Ibu." Balas ku.


"Nak, kamu ini kemana saja Ibu hubungi gak bisa-bisa?" Tanya Ibu dengan khawatir.


Ini adalah suara yang paling aku rindukan, Ibu ku tercinta yang sangat-sangat berjasa dalam apa yang aku raih sekarang.


"Maaf ya, bu. Seharian hp Lia mati, jadi gak tau kalo Ibu menghubungi Lia."


"Duh Gusti, kamu ini bikin khawatir saja. Kamu ini kapan pulang ke kampung, nak. Ibu sama Bapak sudah kangen kepingin ketemu sekali sama kamu."


"Mudah-mudahan bulan ini Lia tidak terlalu sibuk ya, bu. Agar bisa menemui Ibu dan Bapak di kampung."


"Dari dulu kamu selalu bilang begitu kalau Ibu suruh pulang kampung, dan sibuk selalu jadi alasan kamu untuk tidak pulang kampung."


Aku langsung tertegun saat mendengar perkataan Ibu, memang akhir-akhir ini aku sangat sibuk sehingga tidak dapat menemui Ibu dan Bapak di kampung. Aku juga sebenarnya sangat rindu kepada mereka.


"Akan Lia usahakan bulan ini pulang kampung bertemu Ibu dan Bapak."


"Benar ya, nak. Kamu harus usahakan bulan ini pulang kampung, Ibu sama Bapak udah kangen sekali sama kamu."


"Iya, bu. Akan Lia usahakan. Ibu dan Bapak mau hadiah apa saat Lia pulang kampung?"


"Ibu sama Bapak tidak mengharapkan hadiah apa-apa dari kamu, cukup kamu pulang kesini saja kita sudah bahagia, nak." Sekarang Bapak yang bicara.


"Iya siap, pak."


"Yasudah, kamu baik-baik di sana ya. Jangan terlalu lelah bekerja, makan dan istirahat yang teratur ya sayang."


"Iya, pak."


Bapak pun langsung memutuskan teleponnya.


Aku menghela nafas panjang, bagaimana caranya aku bisa pulang kampung. Sedangkan pekerjaan ku benar-benar sangat banyak akhir-akhir ini.


Sungguh aku sangat bingung sekarang. Aku tidak mungkinkan mengandalkan pegawai-pegawai ku untuk semua pekerjaan ini.


Tapi aku juga sangat merindukan orang tuaku di kampung.


***


Jangan lupa like, rate, komen, vote dan beri hadiah ya💞

__ADS_1


__ADS_2