Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)

Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)
Curhatan hati Presdir Zukril


__ADS_3

Pagi ini sebenarnya aku berniat untuk pulang dan langsung mengerjakan pekerjaan di toko, tapi aku urungkan saat aku mendengar kalau nenek jatuh sakit.


Terlihat Presdir Zukril dengan telaten mengompres dahi nenek dengan kain yang sudah dimasukkan ke air hangat. Aku melihat raut kesedihan di wajah Presdir Zukril.


Karena aku tidak jadi pulang dan ke toko, jadi aku memerintahkan Andin untuk menghandle semua pekerjaanku di toko.


"Nenek, apakah nenek ingin makan sesuatu?" Tanya Presdir Zukril dengan lembut.


Nenek menggelengkan kepalanya. "Nenek tidak ingin makan apa-apa, nenek hanya ingin melihat kamu dan Lia menikah segera." Ucap nenek.


Sontak aku langsung terkejut mendengarnya, begitupun juga dengan Presdir Zukril. "Nenek, jangan dulu memikirkan hal itu. Sekarang nenek harus fokus kepada kesehatan nenek dulu saja." Kata Presdir Zukril.


"Memangnya nenek akan sembuh?" Ujar nenek yang membuat tubuh Presdir Zukril bergetar menahan tangis.


Nenek tersenyum lembut melihat reaksi Presdir Zukril, dengan lembut nenek mengusap kepala cucunya itu. "Zu, nenek sudah tau kalau nenek tidak akan sembuh. Jadi nenek minta kepada mu untuk segera menikah dengan Lia. Nenek ingin melihat kalian menikah sebelum nenek pergi selamanya."


"Nenek jangan bicara seperti itu!" Aku menyela perkataan nenek.


Sungguh bukan hanya Presdir Zukril, tapi aku juga akan sangat sedih apabila kehilangan nenek.


Nenek sudah aku anggap sebagai orang tuaku sendiri. Akan sangat menyakitkan apabila aku benar-benar kehilangannya.


"Kemarilah, Lia. Nenek ingin memelukmu."


Tanpa pikir panjang aku langsung menghampiri nenek dan memeluknya. Lalu nenek juga menarik Presdir Zukril kedalam pelukannya, jadilah kami bertiga saling berpelukan.


Kehangatan keluarga yang sangat sempurna. Inilah mengapa Presdir Zukril sangat menyayangi nenek, karena sikap penyayang nenek membuat Presdir Zukril tidak kekurangan kasih sayang sama sekali walau kedua orang tuanya telah tiada.


Setelah membantu nenek minum obat, aku dan Presdir Zukril keluar dari kamar nenek, membiarkan nenek untuk istirahat.


"Talia, aku mohon hari ini kamu jangan dulu pulang ya. Seperti nenek masih sangat ingin kamu berada disini." Pinta Presdir Zukril.


"Baiklah, aku akan tetap disini sampai besok siang."


"Terimakasih."


Tiba-tiba Presdir Zukril terisak. Sungguh aku terkejut melihatnya selemah ini, entah kenapa hatiku tergerak ingin memeluknya. Tapi aku masih bisa untuk menahan diri, aku harus sadar diri apa posisiku dirumah ini.


"Talia."

__ADS_1


"Iya?"


"Apakah kamu mau menemaniku keruangan yang kemarin, tempat saat kita melakukan dinner?"


Aku mengangguk saja yang penting Presdir Zukril senang. Setidaknya dengan aku menurut seperti ini, bisa membuat hatinya jauh lebih baik.


Masuk lagi kedalam ruangan mewah ini, tempat semalam aku melakukan dinner bersama Presdir Zukril. Ya walau bisa dibilang ini adalah dinner yang sama sekali tidak berkesan, memang semua ini salahku karena aku ketiduran.


Ku lihat Presdir Zukril meneguk minuman beralkohol yang telah dia tuangkan didalam gelas. Sebenarnya aku ingin mencegah karena minuman itu sama sekali tidak sehat, tapi mau bagaimana lagi aku bukan siapa-siapa jadi rasanya tidak ada hak untuk mengatur kehidupan Presdir Zukril.


"Kamu sudah terbiasa meminum minuman seperti itu?" Tanyaku.


"Iya, karena minuman ini bisa membuatku lebih tenang."


Aku terus memperhatikan Presdir Zukril yang sudah mulai kehilangan keseimbangan berdiri. Entah sudah habis berapa gelas tadi dia minum?


"Kamu harus tau, Talia. Aku merasa kalau hidupku tidak berarti."


Presdir Zukril mulai meracau karena pengaruh minuman itu. "Aku sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk bisa menyembuhkan nenek, orang yang dengan tulus menjaga dan merawatku selama ini. Bahkan aku tidak mampu untuk bisa memenuhi keinginannya, yaitu menikah. Lagian siapa yang mau menikah dengan ku, hahaha."


"Aku sadar aku tidak sempurna, aku memiliki kekurangan."


"Zukril, sebaiknya kamu jangan terlalu banyak minum. Lihatlah kamu jadi meracau seperti ini." Kataku yang berusaha merebut minuman itu dari tangannya, namun dengan cepat ditepis olehnya.


"Sudahlah, nona manis. Aku memang tidak berguna, bahkan kekasih yang dulu sangat aku percaya dan sanyangi pergi meninggalkan aku dan memilih untuk bersama laki-laki yang baru dia kenal." Tertawa dengan terbahak. "Dia bilang akan setia kepadaku, tapi nyatanya semua itu palsu. Dia tergoda dengan laki-laki lain saat dia bekerja diluar kota. Hahaha."


"Kamu tau hatiku sangat sakit. Disini sakitnya." Dia menarik tanganku dan menempelkannya di dadanya.


Aku merasakan debaran yang tidak meraturan saat dia menempelkan tanganku di dadanya.


Begitu beratkah beban yang dia pikul saat ini? Aku sangat sedih melihatnya. Siapakah yang tega mengkhianati orang sebaik dirimu Presdir Zukril?


"Aku sangat sakit hati, padahal aku rela memberikan segalanya untuknya. Hahaha."


***


Selama hampir dua jam sibuk meluapkan isi hatinya, Presdir Zukril pun tertidur di sofa. Aku tidak tega melihat keadaannya sekarang.


Perlahan aku mengambil mata palsu yang sedari tadi digenggamnya. Aku tiba-tiba ingin sekali menangis.

__ADS_1


Presdir Zukril sekarang ini sedang membutuhkan dukungan dan kasih sayang, dia adalah laki-laki yang sedang bersedih dan patah hati.


Andai saja akulah kekasih Presdir Zukril itu, maka aku tidak akan sebodoh wanita itu yang dengan tega dan bodohnya meninggalkan Presdir Zukril yang sangat penyayang dan baik hati ini.


Walau Presdir Zukril memiliki kekurangan fisik, tapi dia adalah laki-laki yang kuat dan mandiri, juga tidak kalah tampan dengan laki-laki lain di luaran sana.


Bahkan aku mengakui kalau Aldo kekasih ku masih kalah tampan oleh Presdir Zukril.


Presdir Zukril adalah laki-laki yang kuat dan mandiri. Terbukti di usia yang masih terbilang sangat muda, dia mampu melanjutkan perusahaan peninggalan Ayahnya. Bahkan perusahaannya sekarang begitu maju dan usahanya berkembang pesat.


Bahkan perusahaan yang dipegang Presdir Zukril adalah perusahaan terbesar di Ibu kota, dan juga memiliki anak cabang terbanyak di kota-kota besar lainnya.


Dia memang memiliki kekurangan fisik, namun kekurangan itu bisa dia tutupi dengan segudang prestasi.


"Zukril." Aku menepuk bahunya.


Tiba-tiba dia menarik tanganku hingga aku terjatuh kedalam pelukannya. "Aww."


"Talia."


"I-iya?"


"Jangan tinggalkan aku, aku mohon padamu." Gumamnya dengan mata yang masih tertutup, namun dia semakin erat memelukku.


Aku berusaha untuk melepas pelukan dari Presdir Zukril. Namun, semakin aku berusaha keras lepas dari pelukannya, semakin erat pula dia memelukku.


Tangan berototnya begitu kuat memelukku, aku sangat kesulitan untuk melepaskannya.


"Aduh, gimana nih. Tenaganya kuat sekali."


Walau sulit aku masih terus mencoba melepas pelukannya, tapi rasanya percuma saja.


Akhirnya aku menyerah dan pasrah, aku membiarkan Presdir Zukril terus memelukku. Aku berharap dia tertidur tidak akan lama.


Aku mulai menguap, kantukku mulai menyerang. Dan aku pun mulai tertidur dalam pelukan Presdir Zukril yang sebenarnya membuatku sangat nyaman.


Jadilah sekarang aku tidur dalam pelukannya yang hangat dan nyaman.


***

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate, vote dan Favorit. Terimakasih 😊


__ADS_2