Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)

Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)
Tinggalkan laki-laki itu


__ADS_3

Malam ini aku dipindahkan ke kamar nenek karena nenek bilang ingin tidur bersama denganku. Nenek juga dengan sangat telaten menyuapi ku bubur yang dia buat.


Aku hanya bisa diam sambil merasakan kasih sayang yang begitu tulus dari nenek. Tapi tiba-tiba aku malah jadi teringat si pengkhianat Aldo itu, membuat nafsu makanku seketika menghilang.


"Nenek, aku sudah kenyang." Ujarku.


"Tapi kamu baru makan sedikit, Lia."


"Aku benar-benar sudah kenyang, nek."


Akhirnya nenek menurut saja, karena mungkin nenek dapat merasakan kesedihan yang ada didalam hatiku lewat mimik wajahku.


"Sebenarnya apa yang terjadi, sampai kamu pingsan ditengah jalan?" Tanya Presdir Zukril yang tiba-tiba masuk ke kamar nenek.


Bagaimana cara menjawab pertanyaan Presdir Zukril? Mulutku terasa kaku, hatiku begitu hancur saat teringat pengkhianatan yang dilakukan oleh Aldo, orang yang telah aku cintai dan yang telah aku perjuangkan.


Saat ini aku tidak tau harus melakukan apa, aku sangat mencintai Aldo. Tapi orang yang sangat aku cintai justru malah mengkhianati.


"Maaf, untuk sekarang ini aku tidak bisa menceritakan masalahku kepada siapapun." Kataku.


Presdir Zukril hanya bisa menghela nafas. "Baiklah, tapi aku hanya ingatkan jangan menyimpan masalah besar sendirian. Kalau bisa kamu ceritakan masalahmu itu kepada orang yang kamu percaya."


Siapa orang yang harus aku beritahu masalah ini? Aku tidak mungkin menceritakan masalah ini kepada orang tuaku, aku takut mereka malah akan khawatir padaku.


Aku dulu selalu menceritakan masalahku kepada Kanaya, tapi justru dialah yang menjadi masalahku sekarang. Aku harus bagaimana?


Lalu ku tatap nenek. Ya, nenek lah orang yang tepat untuk aku menceritakan masalah yang aku alami sekarang ini. Aku harap nenek akan mengerti.


"Aku ingin cerita kepada nenek, aku mohon Zukril tinggalkan kami berdua." Kataku.


"Baiklah, aku harap setelah menceritakan semuanya kepada nenek kamu bisa lebih tenang." Lalu Presdir Zukril keluar dari kamar nenek.


Menyisakan aku dan nenek berdua didalam kamar. "Nenek." Ucapku.


"Ceritakanlah masalahmu, ada apa?"


Aku langsung menceritakan semuanya kepada nenek. Mulai dari aku berpura-pura sebagai kekasih Presdir Zukril, sampai pengkhianatan yang dilakukan Aldo kepadaku. Semuanya tak luput aku ceritakan kepada nenek.


"Maafkan aku karena telah membohongi nenek, mungkin apa yang aku alami sekarang ini adalah karma karena telah berbohong kepada nenek."

__ADS_1


Mendengar perkataanku nenek menggeleng. "Tidak sayang. Kamu tidak salah, Zu yang memintamu untuk berpura-pura menjadi kekasihnya di depan nenek. Dan tentang masalahmu dengan Aldo, entah mengapa nenek sudah memiliki firasat tentang hal ini sejak pertama bertemu denganmu. Saat itu nenek merasakan akan ada sesuatu yang terjadi kepadamu, dan sesuatu itu yang akan membuat hatimu merasa sangat hancur."


"Dan aku merasakannya sekarang, nek." Kataku dengan tangis yang pecah.


Nenek memelukku, lalu mengelus kepalaku. "Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya sayang, nenek percaya kamu pasti kuat melewati semua ini. Apakah nenek boleh memberi saran?"


"Saran apa itu, nek?"


"Tinggalkan laki-laki itu, dia tidaklah pantas bersamamu. Kamu pantas mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik darinya, tinggalkan dia."


Semua ini membuat aku kebingungan. Disatu sisi aku sangat mencintai Aldo, tapi disisi lain dia telah mengkhianatiku. Bagaimana ini? Kenapa perasaan ini seperti sengaja menjebakku dalam dilema!


"Semua keputusan ada di tanganmu, Lia. Cobalah pikirkan semua ini matang-matang. Jangan gegabah dalam mengambil sebuah keputusan, apalagi saat dalam keadaan marah atau kecewa. Cobalah ambil keputusan dalam keadaan kepala dingin dan hati tenang, tapi juga jangan menutup telinga untuk mendengar saran dari orang lain." Kata nenek.


Entahlah, aku benar-benar tidak tau harus melakukan apa. Yang aku tau sekarang adalah aku ingin tetap bersama Aldo, tapi aku juga tidak mau menyakiti sahabatku.


***


Pagi ini Presdir Zukril mengantarkan aku pulang, sebenarnya aku bisa pulang sendiri tapi dia memaksa.


"Kalau nanti kamu butuh apa-apa tinggal telpon aku saja ya, aku pasti akan langsung menemui mu." Ujar Presdir Zukril sambil tangannya memegang kemudi.


"Justru aku malah senang kalau direpotkan oleh mu." Ucapnya.


Ini orang kok aneh sekali, malah senang direpotkan.


"Hayo, senang memikirkan apa?" Goda Presdir Zukril, yang melihat aku langsung melamun.


Aku langsung terperanjat saat mendengar perkataan Presdir Zukril. "Aku tidak memikirkan apa-apa." Elak ku.


"Benarkah?" Katanya dengan menyunggingkan senyum aneh.


Lihatlah dia mengeluarkan senyuman mautnya lagi.


"Talia, apapun masalahmu aku harap kamu dapat mengatasinya. Aku yakin kamu adalah wanita yang kuat. Tapi kalau kamu butuh bantuan untuk masalahmu ini, jangan pernah ragu untuk meminta bantuan kepadaku."


Kebingungan begitu membelengguku sekarang ini, mengapa aku harus mengalami semua ini? Hatiku sakit, benar-benar sakit. Orang yang aku cintai menghianati diriku.


Sekarang dia dengan tanpa rasa bersalahnya malah menjalin kasih dengan sahabatku, dia begitu tega. Kenapa semua ini harus terjadi kepadaku? Kenapa!

__ADS_1


"Talia, kenapa kamu menangis?"


Aku kaget mendengarnya perkataan Presdir Zukril. Ternyata tanpa aku sadari air mataku mengalir deras di pipiku.


"Aku mohon ceritakan masalahmu padaku, Talia. Jangan kamu pendam begini, lihatlah sekarang kamu malah terbebani seperti itu."


Apakah aku harus menceritakan masalah ini kepada Presdir Zukril, tapi aku masih ragu.


"Ceritakanlah, jangan ragu padaku." Lalu Presdir Zukril langsung menepikan mobilnya.


Bagaimana ini, apakah aku harus menceritakan masalah ini kepada Presdir Zukril?


Melihat tatapan Presdir Zukril yang begitu lekat menatapku, membuat aku jadi yakin untuk menceritakannya.


Aku menghela nafas panjang, lalu mulai menceritakan semuanya kepada Presdir Zukril. Mulai dari pertemuanku dengan Aldo, saat aku mulai jatuh cinta dan menjalin kasih dengan Aldo. Lalu saat aku memberikan segalanya kepada Aldo, sampai Aldo yang mengkhianati aku dan menjalin kasih dengan sahabat karibku.


Terlihat dari wajahnya, Presdir Zukril tersulut emosi saat mendengar ceritaku. Dia mencengkeram kemudi dengan erat.


"Dasar laki-laki brengsek, tidak tau diri! Akan aku buat hancur usahanya itu."


"Jangan lakukan itu, Zukril." Cegah ku.


"Kenapa?! Laki-laki itu sudah sangat keterlaluan dan tidak tau diri. Kamu sudah melakukan banyak hal untuknya, tapi apa sekarang yang dia lakukan kepadamu?"


"Walau bagaimanapun aku masih mencintainya."


Tiba-tiba Presdir Zukril tertegun saat mendengar perkataanku, mimik wajahnya berubah. Entah apa yang dia pikirkan.


"Sebegitu cintanya kamu kepada laki-laki tidak tau diri itu, bahkan walau dia telah mengkhianati kamu tetap masih menyimpan rasa cinta kepadanya." Kata Presdir Zukril dengan raut wajah datar.


Aku juga sangat bingung dengan hatiku ini Presdir Zukril, entah kenapa aku begitu bodoh. Walau sudah disakiti tapi tetap mencintai.


Aku begitu bingung dan takut. Bingung akan rasa cinta yang tetap ada ini, dan takut apabila akan mengalami rasa sakit dihati yang lebih sakit lagi dari ini.


***


Wah dah lama gak update๐Ÿ˜ท


Terimakasih untuk para pembaca yang masih setia menunggu kelanjutan dari cerita Talia ini, semoga gak pada bosen ya bacanya ๐Ÿ™ salam hangat dari Tarsiah ๐Ÿ˜‡

__ADS_1


__ADS_2