Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)

Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)
Bukan kamu yang dulu


__ADS_3

Hari demi hari ku lewati dengan hati sedih dan bingung. Perubahan Aldo yang menyakiti hatiku, yang membuat pikiranku bingung.


Sudah beberapa hari ini Aldo tidak meneleponku, padahal aku rindu kepadanya. Walau sekarang dia telah berubah, tapi aku masih tetap mencintainya.


Secinta itu aku kepadamu Aldo, hingga aku merasa buta dengan sikap kasarmu kepadaku akhir-akhir ini. Bahkan rasa cinta ini sama sekali tidak memudar.


Ku lihat jam yang melingkar di tanganku, sebentar lagi aku akan melaksanakan meeting penting dengan klien ku. Membicarakan tentang produk baru yang akan kami luncurkan.


Aku langsung bersiap-siap. Lalu langsung keluar dari toko dan melajukan mobilku menuju kantor tempat aku melakukan meeting.


Sampai di kantor aku langsung berlari kecil menuju ke ruangan meeting. Tapi tiba-tiba aku malah tidak sengaja menyenggol seseorang, yang membuat aku dan orang yang aku senggol terjatuh.


"Aww." Rintih ku merasakan sakit.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya orang yang tidak sengaja aku senggol itu.


Aku melihat uluran tangannya, lalu ku gapai tangannya. Dan saat aku melihat wajahnya aku langsung terdiam. Laki-laki yang sedang kutatap ini memiliki wajah yang rupawan.


Untuk beberapa saat aku terpaku melihat wajahnya, tapi untung saja aku cepat-cepat sadar akan apa yang aku lakukan.


"Ma-maaf, saya tidak sengaja." Ucapku.


"Tidak apa-apa, memangnya kamu mau kemana? Kamu terlihat sangat buru-buru."


"Saya ada meeting penting disini, saya terburu-buru karena ini adalah meeting yang sangat penting. Meeting ini akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan usaha saya." Jelas ku.


"Oh begitu." Mengangguk-anggukkan kepala.


"Iya, kalau begitu saya permisi." Aku langsung berlari kecil lagi menuju ke ruang meeting.


Saat sampai di ruang meeting aku langsung menghela nafas lega, untung saja dari pihak perusahaan belum ada yang datang ke ruangan meeting. Jadi aku tidak terlambat.


Seharusnya untuk meeting hari ini aku datang berdua bersama Andin, tapi tiba-tiba dia jatuh sakit dan tidak bisa ikut untuk meeting hari ini.

__ADS_1


Tapi semoga saja walaupun tanpa pegawai di sisiku, aku berhasil menjalin kerja sama dengan perusahaan ini. Ku lihat perusahaan yang akan bekerjasama dengan ku ini adalah perusahaan yang sangat besar, jadi aku harus usaha semaksimal mungkin agar bisa bekerjasama dengan perusahaan ini.


Tidak berapa lama datang beberapa laki-laki dan perempuan berjas masuk ke ruang meeting.


Ku perhatikan mereka satu-persatu. Namun, ada salah satu dari mereka yang membuat aku kaget. Orang yang aku senggol tadi ternyata ikut meeting hari ini.


Dan yang paling membuat aku sangat kaget adalah ternyata dia Presdir perusahaan ini.


"Ya Tuhan, apa yang aku lakukan. Itu laki-laki yang tidak sengaja aku senggol tadi, dan ternyata laki-laki itu adalah Presdir perusahaan ini. Bagaimana kalau dia kesal padaku, lalu tidak menerima kontrak kerja dengan ku." Batinku.


"Dengan nyonya Talia?" Tanyanya.


Astaga, tiba-tiba aku sangat gugup dan takut. Dan entah kenapa mulutku terasa kaku dan susah sekali untuk berucap.


"I-iya, saya Talia." Ah, ingin sekali aku memukul diriku sendiri. Bagaimana bisa aku bicara terbata seperti ini didepan semua orang, apalagi di depan Presdir itu.


Matilah aku, tadi aku melihat Presdir itu tersenyum aneh kepadaku. Entah apa arti dari senyumannya itu. Setelah diberi kode aku langsung memulai pembukaan dan memulai mempresentasikan tentang usaha yang aku jalani selama ini.


Selesai presentasi, aku melihat dua pemandangan di ruangan ini. Aku melihat hampir semua orang kagum dan suka dengan presentasi ku, tapi ada satu orang yang ekspresinya tidak bisa aku tebak. Presdir….


Aku yang sedang bingung hanya bisa duduk seperti orang bodoh sambil melihatnya yang sedang tepuk tangan.


"Saya sangat terpukau dengan presentasi anda, saya rasa kita akan menjadi partner kerja yang cocok."


Rasanya aku tidak percaya saat mendengar perkataan dari Presdir itu, sungguh aku sangat bahagia dan bangga kepada diriku sendiri.


Dia langsung menghampiriku dan kami saling menjabat tangan, lalu saling menandatangani surat perjanjian dan kerjasama.


***


Sampai dirumah, aku langsung istirahat karena sangat lelah. Tapi rasanya rasa lelah ini sudah terbayarkan saat aku berhasil bekerja sama dengan perusahaan besar di kota ini.


Sungguh sangat membahagiakan, tapi aku tidak ingin hanya bahagia sendiri. Aku ingin membagi kebahagiaan ini juga kepada Aldo.

__ADS_1


Dengan cepat kuambil hpku yang ada didalam tas, dan langsung menelpon Aldo. Lama ku menunggu Aldo mengangkat telepon dariku, tapi akhirnya dia mengangkatnya.


"Halo?" Suara Aldo.


"Halo sayang, apa kabar?" Aku dengan suara yang sangat riang.


"Aku sangat sibuk."


"Aldo kamu tau, aku berhasil menjalin kerjasama dengan perusahaan X. Perusahaan terbesar di Ibu kota. Aku sangat bahagia."


"Oh, selamat ya."


"Terimakasih sayang. Aku ingin bertanya, kapan kamu menyelesaikan pekerjaanmu diluar kota? Eeem, maksudku kapan selesainya?"


Terdengar Aldo menghela nafas. "Sudah berapa kali aku bilang, pekerjaan ku itu sangat banyak disini. Jadi aku benar-benar sangat sibuk, dan kamu terus saja bertanya kapan aku pulang, kapan aku menyelesaikan pekerjaan ku!"


"Aldo aku hanya bertanya, memangnya aku salah kalau bertanya seperti itu?"


"Memang tidak salah, tapi kamu terlalu sering menanyakan hal itu. Aku bosan mendengarnya!"


"Tapikan aku kekasihmu, Aldo. Tentu saja aku akan selalu menanyakan hal itu, aku sangat rindu kepadamu."


"Iya, kamu memang kekasih ku. Tapi bukan berarti kamu boleh melakukan sesuatu padaku sesuka hatimu. Kamu mengerti!!!" Aldo menutup telponnya.


Aldo kenapa semakin hari kamu semakin kasar kepadaku. Kenapa kamu selalu menyakiti aku dengan kata-kata kasarmu, tolong jangan seperti ini Aldo. Aku mohon.


Aku sangat rindu dan ingin bertemu dengan dirimu, apakah itu salah? Aku cerewet bukan maksud ingin mengganggumu, tapi aku hanya ingin kepastian darimu. Kapan kamu pulang.


Jangan biarkan aku sakit hati dengan tindakan dan perkataan mu, Aldo. Aku takut kalau nantinya aku sudah tidak percaya lagi kepadamu.


Sungguh aku sangat mencintaimu, aku sayang kepadamu. Bukankah kamu juga memiliki perasaan yang sama kepadaku? Tapi kenapa sikapmu sekarang tidak menunjukkan hal itu.


Sekarang kamu malah seperti orang yang tidak menginginkan aku, dan seperti tidak ingin ada aku di hidupmu.

__ADS_1


Kenapa kamu bersikap seperti itu Aldo, padahal aku sudah mengorbankan banyak hal untukmu. Mulai dari tokoku yang telah aku rintis dengan usaha dan perjuangan yang berat, sampai sekarang aku harus membayar hutang yang aku pinjam untuk kemajuan bisnis mu itu.


Aku berharap dengan semua yang aku lakukan itu kamu akan semakin sayang dan mencintai ku, tapi yang aku dapatkan sekarang malah sebaliknya. Kamu semakin jauh dariku, kamu semakin kasar, dan kamu bukan kamu yang aku kenal dulu.


__ADS_2