Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)

Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)
Dinner part 2


__ADS_3

Malam ini nenek membantuku bersiap-siap untuk acara dinner ku bersama Presdir Zukril, dan nenek yang telah mengantur semua ini.


Aku sangat terkejut mendengar kalau aku akan dinner bersama Presdir Zukril. Aduh aku sangat bingung bagaimana akan bersikap nanti saat didepan Presdir Zukril, entahlah.


"Nah, sudah selesai. Wah, Lia ternyata sangat cantik sekali." Kata nenek yang telah selesai memakaikan ku sebuah pakaian yang sangat indah ini.


"Wah, pakaian ini sangat bagus sekali."


"Iya, ini adalah pakaian almarhumah Ibu Zu. Nenek juga dulu sangat suka sekali saat Ibu Zu memakainya. Dan sekarang pakaian ini adalah milikmu."


Aku langsung melihat kearah nenek. Pakaian seindah ini akan diberikan kepadaku, siapa aku? Aku merasa tidak pantas mendapatkannya.


"Tapi, nek. Aku rasa ini terlalu bagus untukku, dan aku yakin pakaian ini sangat berharga untuk nenek dan juga Zukril."


"Karena gaun ini sangat berharga untuk nenek dan Zu, maka dari itu gaun ini nenek serahkan kepadamu. Karena kenapa? Karena kamu juga berharga, dan kamu adalah bagian dari keluarga ini mulai sekarang."


"Nenek." Aku langsung memeluk nenek dengan erat.


Aku benar-benar sangat bahagia, aku juga merasa sangat berharga karena nenek memperlakukan ku dengan sangat baik. Nenek aku sangat sayang kepadamu.


"Yasudah, sekarang kamu temui Zu sana. Pasti dia sudah menunggu."


"Nenek tidak ikut?" Tanya ku.


"Ini acara dinner kalian, bagaimana nenek bisa ikut?"


"Tapi aku sangat gugup apabila hanya berdua saja dengan Zukril."


Nenek tersenyum lembut. "Nikmatilah waktu kebersamaan kalian ini, nenek tidak akan menganggu." Katanya. "Susi." Seru nenek.


"Iya, nyonya besar?" Sahut Bi Susi.


"Tolong antar menantuku ini, ya. Zu pasti sudah menunggu."


"Baik, nyonya besar. Mari nona."


Aku langsung pergi dengan diantar oleh Bi Susi, kami menuju kesebuah tempat yang ternyata masih berada dirumah ini.


"Bi, rumah nenek sangat besar sekali ya." Kataku terpesona dengan isi rumah ini, yang bukan hanya bagus juga sangat luas dan besar.


"Iya, nona. Rumah nenek memang sangat besar dan luas, tapi nenek tidak pernah sombong dengan apa yang beliau miliki ini."


"Nenek memang sangat baik hati, aku sangat sayang kepadanya."


"Iya benar, dan nona adalah termasuk orang yang beruntung karena mendapatkan cinta dan kasih sayang dari nenek." Kata Bi Susi.


Bi Susi benar, aku sangat beruntung karena mendapatkan kasih sayang dari nenek.


Nenek adalah orang yang sangat baik hati, maka dari itu aku sangat sayang kepadanya seperti sayangku kepada orang tuaku.

__ADS_1


"Kita sudah sampai, nona." Kata Bi Susi.


Kami berhenti didepan sebuah pintu kayu besar. "Nona silahkan masuk."


"Kamu tidak masuk?"


"Tentu tidak, nona. Ini adalah acara khusus nona dan Tuan muda kami, bagaimana saya bisa masuk dan menganggu?" Ujar Bi Susi.


"Kalau begitu, terimakasih Bi Susi karena telah mengantar saya kemari."


"Ini sudah menjadi tugas saya, nona. Saya permisi." Mengangguk sopan dan berlalu.


Perlahan ku buka pintu kayu besar itu, setelah terbuka kulangkahkan kaki masuk kedalam.


Didalam terlihat sangat gelap sekali, aku sampai tidak bisa melihat apapun. Apakah Bi Susi salah mengantarkan ku, kenapa ruangan ini sangat gelap? Ditambah sangat sepi, ah aku jadi takut.


Saat aku akan keluar, tiba-tiba lampu menyala dengan terang. "Selamat malam, Lia." Suara Presdir Zukril.


Aku melihat penampilan Presdir Zukril dari bawah sampai atas, malam ini dia benar-benar sempurna. Tampan, elegan, dan sangat berwibawa. Aku sungguh terpesona kepadanya.


Presdir Zukril mendekatiku, lalu menarik tanganku dengan lembut menuju ke sebuah meja yang sudah dihias dengan sangat cantik.


"Silahkan duduk."


Aku pun duduk berhadapan dengannya. Eh, kenapa ini? Tiba-tiba dia memakaikan sebuah cincin ke jari manis ku.


Kenapa aku jadi tidak bisa berkata-kata seperti ini sih? Hah, sungguh aku sangat terpesona kepada Presdir Zukril malam ini.


"Kamu sangat cantik." Ucapnya.


"Kamu juga sangat tampan." Kataku yang tiba-tiba terlontar begitu saja dimulutku.


Presdir Zukril langsung tersenyum lebar, kemudian dia memberiku sebuah bunga.


"Terimakasih." Ucapku dengan sedikit malu-malu menerimanya.


"Ini adalah acara yang disiapkan oleh nenek, awalnya aku tidak tau dan sangat terkejut saat nenek memberitahu ku." Kata Presdir Zukril.


"Iya, aku juga sangat terkejut saat nenek memberitahu ku tentang acara dinner kita ini."


Lalu Presdir Zukril menyodorkan sebuah minuman beralkohol. "Kamu mau minum?"


"Ah, maaf Zukril. Aku tidak minum itu." Kataku menolak minuman itu dengan halus.


"Oh, maafkan aku. Aku sungguh tidak tau. Kalau begitu apakah kamu mau juice?"


"Aku mau juice."


"Juice apa yang kamu mau?"

__ADS_1


"Oranye Juice saja." Kataku.


"Baiklah." Beranjak dari duduknya.


Beberapa saat kemudian dia kembali dengan segelas oranye juice di tangannya. Lalu dia memberikannya kepadaku.


Aku melihat makanan yang tersaji diatas meja, begitu banyak dan semuanya begitu menggiurkan.


"Apa kamu sudah lapar?" Tanya Presdir Zukril.


Aku mengangguk dengan lemah karena malu ketahuan memperhatikan semua makanan ini. Dia tersenyum lagi melihat tingkahku.


"Kalau begitu mari makanlah, aku juga sudah sangat lapar."


Kami berdua pun langsung menyantap makanan yang tersaji diatas meja dengan lahap.


***


Aku menguap sambil dengan agak malas membuka mata. Rasanya aku tidak ingin bangun dulu, ini benar-benar sangat nyaman.


Aku mengeratkan pelukanku lagi. Ah, nyaman sekali. Makanan yang aku makan semalam sangat enak-enak, sampai-sampai aku makan banyak sekali. Dan aku jadi ketiduran.


Menguap lagi, lalu mengeratkan pelukan lagi. Lalu yang kupeluk balas memelukku. Wah, nyaman sekali.


"Tunggu dulu. Apa yang kupeluk ini, kenapa malah balas memelukku?"


Dengan perlahan aku membuka mata dan mulai melepaskan pelukan ku. Aku langsung melihat apa yang aku peluk ini.


Deg.


Presdir Zukril? Jadi aku semalaman tidur sambil memeluknya. Astaga, apa-apaan aku ini. Bagaimana aku bisa ketiduran begini dalam pelukannya.


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, dan nampaknya tidur Presdir Zukril jadi terganggu karena itu.


Terlihat dia membuka matanya dengan malas. "Talia, kamu sudah bangun?" Tanyanya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


"I-iya."


Presdir Zukril tiba-tiba tertawa melihat ku. "Kamu makan terlalu kenyang, ya. Sampai-sampai ketiduran dimeja makan." Katanya yang diiringi oleh tawanya.


Astaga, aku sangat malu sekali. "Maaf ya, Zukril. Aku jadi menggagalkan acara dinner yang telah nenek persiapkan." Kataku. "Dan kenapa aku bisa ketiduran denganmu di sofa begini?"


"Melihat mu tidur membuatku jadi ikutan mengantuk. Aku tidak kuat berjalan lagi karena ngantuk, maka dari itu aku tidur bersamamu di sofa ruangan ini."


Huaaa, sangat memalukan. Lagi-lagi ada orang yang melihatku tidur, padahal tau sendiri kan bagaimana wajahku saat tidur.


***


Jangan lupa like, komen, rate, vote dan Favorit ❤️ terimakasih

__ADS_1


__ADS_2