Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)

Dilema (Antara Sahabat Dan Kasih)
Kasih sayang sepanjang masa


__ADS_3

Sampai dirumah, aku langsung mandi dan ganti pakaian. Lalu membantu Ibu memotong buah-buahan di dapur. Semenjak kejadian tadi sore aku jadi selalu ingin tersenyum. Aku benar-benar sangat bahagia.


Sungguh aku tidak menyangka akan mendapatkan hati Aldo, orang yang selalu membuat ku terkesan.


"Nak, kamu kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri, Ibu jadi takut." Tegur Ibu.


Aduh Ibu, aku kan jadi malu karena ketahuan senyum-senyum. "Tidak apa-apa, Bu."


"Beneran? Soalnya gak biasanya loh kamu senyum-senyum sendiri seperti itu. Kecuali…."


"Kecuali apa, Bu?"


"Kecuali kalau kamu sedang jatuh cinta."


Aku terkejut mendengar perkataan Ibu, bagaimana Ibu bisa tau kalau aku sedang jatuh cinta.


"Ibu kok tau saja." Aku langsung tersipu malu.


"Ya tau lah, Ibu kan juga pernah muda. Pernah merasakan rasanya jatuh cinta. Memangnya anak Ibu ini sedang jatuh cinta sama siapa sih?"


Aku mendekati Ibu yang sedang mengupas dan memotong buah apel. Aku langsung mendekatkan bibir ku ke telinga Ibu. "Aldo." Bisik ku.


"Aldo. Pegawai kamu itu?" Tanya Ibu yang tampak terkejut.


Melihat wajah Ibu yang terkejut seperti itu aku jadi takut Ibu tidak merestui hubungan ku dengan Aldo. Aku pun mengangguk lemah.


"Kamu memangnya cinta sama Aldo?" Aku mengangguk. "Apa Aldo juga cinta sama kamu?" Mengangguk lagi. "Apakah Aldo sudah menjadi kekasih mu?" Lagi-lagi aku hanya mengangguk.


Tiba-tiba Ibu tersenyum. "Jadi kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?"


Ucapan Ibu membuat aku sangat terkejut, melihat wajah terkejut ku Ibu malah tertawa.


"Ibu setuju kalau Aldo menjadi kekasih ku?"


"Setuju, Aldo itu kelihatan anaknya baik. Dia juga rajin, dan yang paling penting dia anaknya sopan dan ramah. Ya Ibu setuju-setuju saja."

__ADS_1


"Beneran, bu?" Tanya ku memastikan.


"Iya, Ibu setuju. Asalkan anak Ibu ini bahagia."


Aku langsung memeluk Ibu dengan erat. "Terimakasih, bu. Lia sangat sayang sama Ibu."


"Yasudah, bantu Ibu bawa semua buah-buahan yang sudah dikupas dan dipotong-potong ini ke ruang tengah."


Ibu dan Aku membawa semua buah-buahan yang telah di kupas dan di potong-potong ke ruang tengah.


Di ruang tengah sudah ada Bapak dan Aldo yang sedang mengobrol.


"Wah, itu dia mereka sudah datang. Lama sekali datangnya, bu." Protes Bapak.


"Lah, ya sabar pak. Mengupas sama motong buah sebanyak ini emangnya dikira gak pegel, Bapak enak tinggal makan." Balas Ibu.


"Kalau melayani suami itu yang ikhlas dong, bu. Biar dapat pahala."


"Orang Bapaknya ngeselin."


Aku tertawa melihat pertengkaran Ibu dan Bapak yang menurut ku lucu. Ibu yang cerewet, dan Bapak yang pembawaannya lucu.


Terlihat Ibu dan Bapak terkejut dengan penjelasan ku itu.


"Ibu setuju kalau kamu ingin membuka toko buku di kampung ini, tapi kenapa toko itu harus atas nama Ibu. Itu kan punya kamu."


"Ibu, toko itu punya Ibu bukan punya Lia. Karena apa? Karena Ibu telah banyak berjasa untuk Lia, toko buku itu untuk Ibu yang telah banyak berjuang dan sangat berjasa untuk Lia. Walau Lia tau itu tidak akan cukup untuk membalas semua jasa-jasa Ibu, bahkan kalau Lia bangun ribuan juta toko di dunia ini tetap tidak akan bisa membayar jasa-jasa Ibu untuk Lia."


Ibu tampak terharu mendengar perkataan ku, begitu juga dengan Bapak. Dan aku melihat senyum bangga dari Aldo untuk ku.


"Dan untuk Bapak, Lia sudah pesankan empat puluh lima ekor kambing untuk Bapak. Lia sesuaikan jumlah kambing itu dengan usia Bapak sekarang." Kata ku sambil tertawa.


Dan lagi-lagi aku melihat wajah terkejut Ibu dan Bapak, tapi juga aku melihat sorot bahagia dan bangga di mata mereka untuk ku.


"Masya Allah, Lia. Sudah begitu banyak kebahagiaan yang kamu berikan kepada kami nak, kami bangga sama kamu." Lirih Bapak.

__ADS_1


Setelah bertahun-tahun aku baru melihat Bapak meneteskan air mata, dan beruntungnya aku karena air mata itu adalah air mata kebahagiaan dan bukan air mata kesedihan.


"Terimakasih, nak." Ucap Bapak.


"Bapak tidak usah bilang terimakasih kepada Lia, semua ini bukan apa-apa dibandingkan dengan apa yang Bapak dan Ibu berikan kepada Lia. Kasih sayang, cinta, didikan, perjuangan dan masih banyak lagi jasa Bapak dan Ibu yang begitu besar diberikan untuk Lia. Dan semua itu sangat berharga untuk Lia, tidak dapat dibayar atau tergantikan oleh apapun. Lia bangga memiliki orang tua seperti Bapak dan Ibu, yang telah dengan tulus merawat dan berjuang untuk Lia. Terimakasih banyak."


Kasih sayang yang orang tua kita berikan kepada kita itu sangatlah berharga, tidak dapat dibayar dan tergantikan oleh apapun. Mereka begitu dengan ikhlas, tulus, dan sabar merawat dan berjuang untuk kita. Kasih sayangnya begitu tulus mengalir untuk kita, meski kita telah memiliki pendamping sekalipun tapi aliran kasih sayang orang tua kita tidak akan pernah berhenti. Kasih sayang orang tua sepanjang masa.


***


Esoknya aku dibantu oleh Bapak, Ibu, dan Aldo sedang membereskan dan membersihkan toko buku yang akan di buka hari ini. Aku sangat bahagia melihat Ibu yang dengan semangat menyusun semua buku-buku itu ke rak buku. Sedangkan Bapak dan Aldo sedang memotong rumput-rumput dan tanaman liar yang ada di depan toko.


Saat kami sedang sibuk membereskan dan membersihkan toko, tiba-tiba ada tiga mobil truk berhenti di depan toko. Aldo diperintahkan Bapak untuk menemui salah satu sopir truk Itu.


"Maaf, mencari siapa ya pak?" Aldo sedikit berteriak karena takut suaranya tidak terdengar oleh deru mesin mobil.


"Ini, pak. Kami sedang mencari rumah pak Ahmad, kata warga arah ke rumahnya lewat jalan sini." Kata sopir itu.


"Kebetulan, itu pak Ahmad nya pak. Sedang memotong rumput." Tunjuk Aldo kepada Bapak.


Sopir truk itu turun dari mobil dan menghampiri Bapak. "Dengan pak Ahmad?"


"Iya saya, ada apa?" Tanya Bapak bingung.


"Ini, pak. Kami membawa empat puluh lima ekor kambing yang di pesan untuk Bapak, dan semuanya sudah dibayar lunas. Bapak tinggal tanda tangan disini?" Sopir truk itu menyodorkan sebuah map untuk ditandatangani oleh Bapak.


Bapak langsung melihat ke arah ku dengan tatapan bahagia dan terharu. Aku langsung mengangguk sambil tersenyum, kemudian Bapak Menandatangani map itu.


"Untuk kambing-kambingnya diturunkan disini atau Bapak punya kandang?" Tanya sopir itu.


"Saya punya kandang untuk kambing, mari saya antar ke kandang kambing saya."


Bapak langsung menaiki mobil truk yang melaju menuju ke tempat kandang itu berada.


Sangat bahagia rasanya melihat kedua orang tua ku bahagia, aku berjanji akan menjaga senyum-senyum ini.

__ADS_1


***


Jangan lupa dukungan dengan cara like, komen, rate, vote dan Favorit 💞


__ADS_2